Posted in

Kupikir Aku Memergoki Suamiku Berselingkuh dengan Sahabat Terbaikku… Tapi Saat Pintu Kamar Rumah Sakit Terbuka, Kenyataan di Dalamnya Jauh Berbeda dari yang Kubayangkan

Kupikir Aku Memergoki Suamiku Berselingkuh dengan Sahabat Terbaikku… Tapi Saat Pintu Kamar Rumah Sakit Terbuka, Kenyataan di Dalamnya Jauh Berbeda dari yang Kubayangkan

Aku melihat mereka di area parkir Rumah Sakit St. Gabriel.

Anton, suamiku, sedang menggenggam tangan Rica.

Rica, sahabat terbaikku yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri.

Mereka berdiri di bawah lampu jalan, wajah keduanya tampak lelah. Anton membawa sebuah amplop cokelat. Rica menangis. Dan saat suamiku memeluknya, rasanya seperti ada sesuatu yang meledak di dalam dadaku.

Aku tidak langsung menghampiri mereka.

Aku hanya berdiri di balik sebuah van yang terparkir, menggenggam ponsel dengan tangan gemetar sambil merekam mereka.

Sudah tiga bulan aku merasa ada yang tidak beres.

Anton tiba-tiba memasang kata sandi di ponselnya.

Dia sering pulang larut malam.

Setiap kali kutanya dari mana dia datang, jawabannya selalu sama.

“Ada urusan yang harus diselesaikan.”

Sementara Rica, yang dulu hampir setiap hari meneleponku, mendadak selalu sibuk. Setiap kali kami bertemu, dia menghindari tatapanku. Begitu aku menyebut nama Anton, dia langsung mengganti topik pembicaraan.

Seharusnya sejak saat itu aku sudah sadar.

Tapi aku tidak mau mempercayainya.

Karena lebih menyakitkan jika dua orang yang paling kaupercaya menusukmu secara bersamaan.

Malam itu, aku mengikuti Anton sepulang dari kantornya. Aku tidak bangga melakukannya. Itu bukan tindakan seorang istri yang tenang dan bermartabat. Itu adalah tindakan seorang istri yang sudah tiga bulan hampir tidak bisa tidur.

Saat dia masuk ke rumah sakit, aku mengikutinya.

Aku melihat Rica menyambutnya di lobi.

Mereka tidak berciuman.

Namun terkadang, rahasia tanpa ciuman justru jauh lebih menakutkan.

Mereka berbicara pelan, lalu bersama-sama masuk ke lift.

Aku mengikuti mereka sampai ke lantai empat.

Kamar 417.

Aku berhenti di ujung lorong.

Kulihat mereka masuk ke dalam kamar itu.

Dan di saat itulah, rasanya seluruh tenagaku menghilang.

Aku menelepon Anton.

Dia tidak menjawab.

Aku menelepon Rica.

Dia langsung mematikan panggilanku.

Aku pun berjalan menuju pintu kamar.

Namun sebelum sempat mengetuk, aku mendengar suara Rica dari dalam.

“Kita sudah tidak bisa lagi menyembunyikan ini dari Lianne.”

Lianne.

Namaku.

Aku langsung terdiam.

Lalu terdengar suara Anton, pelan dan berat.

“Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padanya.”

Aku berpegangan pada dinding.

Aku tidak tahu apakah harus tertawa atau berteriak.

Jadi benar.

Mereka memang menyembunyikan sesuatu dariku.

Aku membuka pintu tanpa mengetuk.

“Katakan sekarang juga.”

Mereka berdua tampak terkejut.

Anton berdiri di samping ranjang.

Rica duduk di sisi lain dengan mata sembab.

Namun ada satu hal yang sama sekali tidak kuduga…

Seorang anak perempuan terbaring di atas tempat tidur rumah sakit.

Usianya sekitar lima tahun.

Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, kepalanya botak, dan sebuah infus terpasang di tangannya.

Di samping tempat tidurnya, dia sedang menggenggam gelang lamaku.

Gelang yang hilang lima tahun lalu.

Aku membeku.

“Lianne,” kata Anton.

Namun aku bahkan tidak sanggup menoleh kepadanya.

Tatapanku hanya terpaku pada anak kecil itu.

Dia pun menatapku.

Dengan suara yang sangat lirih, dia bertanya,

“Apakah… itu Mama?”

Seolah seluruh rumah sakit berhenti berputar.

Aku tidak mengerti.

Atau mungkin… aku memang tidak ingin mengerti.

“Apa… apa yang baru saja dia katakan?”

Suaraku tercekat di tenggorokan. Mataku beralih dari anak perempuan itu, ke arah Rica, lalu terakhir ke arah Anton. Suamiku melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahuku, tapi aku mundur selangkah. Tatapanku menuntut penjelasan yang paling masuk akal di dunia, karena saat ini, kepalaku rasanya ingin pecah.

“Anton… siapa dia? Kenapa dia memanggilku Mama?” tanyaku dengan suara yang bergetar hebat. “Dan kenapa dia memegang gelangku?”

Rica bangkit dari kursinya. Air matanya kembali tumpah. “Lianne, maafkan kami. Kami tidak bermaksud membohongimu… Kami hanya mencari waktu yang tepat, dan kondisi Maya sedang sangat tidak stabil.”

“Maya?” Aku mengulang nama itu.

Anton menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. Ia membuka amplop cokelat yang dipegangnya sejak di parkiran dan menyerahkannya kepadaku. “Buka, Lianne. Ini alasan kenapa aku menyembunyikan dokumen-dokumen ini, dan kenapa aku membutuhkan Rica selama tiga bulan terakhir.”

Dengan tangan gemetar, aku membuka amplop itu. Di dalamnya ada hasil tes DNA, rekam medis dari St. Gabriel, dan sebuah surat perjanjian lama.

Kebenaran yang Terkubur Lima Tahun Lalu

“Dia anakmu, Lianne. Anak kandungmu,” bisik Anton.

Duniaku rasanya runtuh mendengar kalimat itu. “Apa maksudmu? Anakku meninggal saat dilahirkan lima tahun lalu! Kamu sendiri yang mengatakannya padaku! Kamu yang membawaku pulang dari rumah sakit saat aku histeris!”

“Itu karena ibumu yang memintaku melakukannya,” potong Anton dengan suara parau.

Anton berlutut di depanku, memegang kedua tanganku yang sedingin es.

“Lima tahun lalu, saat kamu melahirkan dalam kondisi koma karena eklamsia, bayimu lahir dengan kelainan jantung bawaan yang kritis. Ibumu… mendiang ibumu, tidak mau melihatmu hancur jika bayi itu meninggal tak lama setelah kamu sadar. Tanpa sepengetahuanku di awal, ibumu membayar pihak rumah sakit untuk menyatakan bayi kita meninggal, lalu menyerahkannya ke panti asuhan Katolik tempat Rica bekerja.”

Aku menatap Rica dengan tidak percaya.

Rica mengangguk pelan. “Lianne, saat itu aku baru bekerja di sana. Aku mengenali gelang yang dipasangkan pada bayi itu—gelang yang kamu jatuhkan di rumahku seminggu sebelum melahirkan, yang ternyata diambil oleh ibumu sebagai penanda. Aku terkejut, tapi ibumu memohon padaku untuk merahasiakannya darimu demi kesehatan mentalmu yang saat itu sangat rapuh setelah kehilangan ibumu juga tak lama kemudian.”

Alasan di Balik Rahasia Tiga Bulan Ini

Selama lima tahun, Rica mengawasi Maya di panti asuhan, memastikan anak itu tumbuh dengan baik secara rahasia. Namun, tiga bulan lalu, kondisi jantung Maya memburuk. Dia didiagnosis menderita leukemia akut dan membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang segera.

“Biaya pengobatannya sangat besar, Lianne,” ujar Anton, air matanya menetes. “Rica menghubungiku tiga bulan lalu karena dia tidak punya pilihan lain. Sebagai ayah kandungnya, hanya aku yang bisa membiayai dan mencari kecocokan donor. Aku mengubah kata sandi ponselku karena aku tidak ingin kamu melihat pesan-pesan dari rumah sakit tentang kondisi kritis Maya sebelum aku memastikan dia bisa diselamatkan. Aku tidak mau memberimu harapan palsu yang bisa menghancurkanmu lagi.”

Amplop cokelat yang dibawa Anton ternyata berisi hasil tes kecocokan donor.

“Aku pulang larut malam karena aku bekerja lembur dan mencari pinjaman ke sana kemari untuk biaya kemoterapi Maya,” lanjut Anton. “Dan malam ini, hasil tes menyatakan bahwa sumsum tulang belakangku tidak cocok menjadi donor untuknya. Donor terbaik… adalah ibu kandungnya. Yaitu kamu, Lianne.”

Ikatan Darah yang Tak Pernah Putus

Mendengar semua itu, rasa cemburu, amarah, dan kecurigaan yang membakarku selama tiga bulan terakhir menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah rasa bersalah yang teramat besar, bercampur dengan kerinduan yang mendalam yang entah mengapa selalu bergejolak di dadaku selama lima tahun ini.

Aku berjalan perlahan mendekati ranjang rumah sakit.

Anak perempuan itu—Maya—menatapku dengan mata bulatnya yang besar. Wajahnya sangat mirip denganku saat masih kecil. Di tangan mungilnya, gelang perakku berkilau terkena lampu bangsal.

Aku duduk di tepi ranjang. Air mataku jatuh tepat di atas punggung tangannya yang tertusuk jarum infus.

“Iya, Sayang…” bisikku, suaraku serak karena tangis. Aku mengelus kepalanya yang tanpa rambut dengan lembut. “Ini Mama. Mama sudah pulang.”

Maya tersenyum lemah, sebuah senyuman tulus yang seolah menyembuhkan semua luka masa laluku. Dia menarik tangan kecilnya dan meletakkan gelang perak itu kembali ke telapak tanganku.

Aku menoleh ke arah Anton dan Rica, lalu mengangguk mantap. Tidak ada lagi waktu untuk menyesali kebohongan masa lalu atau meratapi tiga bulan penuh salah paham ini. Anakku membutuhkannya, dan aku akan melakukan apa pun—mempertaruhkan seluruh hidupku—untuk memastikannya tetap bernapas.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.