Setelah Mabuk, Suamiku Berkata, “Kalau Bukan Karena Anak Kita, Mungkin Aku Bahkan Sudah Lupa Nama Belakangmu.” Tiga Bulan Kemudian, Saat Melihat Wajahku di Sampul Majalah Arsitektur Ternama Indonesia, Dia Bahkan Tak Berani Menatapku.
BAGIAN 1
Larut malam saat Miguel pulang dari acara makan malam perusahaan.
Tubuhnya dipenuhi aroma alkohol.
Putri kami, Lia…
Sudah tertidur pulas.
Aku meletakkan segelas es jeruk nipis di atas meja.
Lalu tiba-tiba bertanya,
“Kalau ada kehidupan kedua…”
“…apa kamu masih akan menikah denganku?”
Miguel tersenyum tipis.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Hidup sendirian lebih tenang.”
“Tidak ada yang menyuruh-nyuruh.”
“Tidak ada yang mengomel.”
Aku ikut tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan Lia?”
Ia terdiam beberapa detik.
Kemudian menatapku lurus.
“Satu-satunya alasan aku masih bertahan di rumah ini…”
“…adalah karena anak kita.”
“Kalau tidak ada Lia…”
“…mungkin aku bahkan sudah lupa nama belakangmu.”
…
Aku tidak menangis.
Aku hanya membawa irisan mangga yang baru saja kusiapkan ke dapur.
Lalu membuang semuanya ke tempat sampah.
Keesokan paginya…
Miguel bangun sambil memegangi kepalanya.
“Apa semalam aku mengatakan sesuatu yang aneh?”
Aku hanya menggeleng.
“Tidak.”
“Syukurlah.”
Ia mengambil kunci mobil.
Lalu berangkat bekerja seperti biasa.
Begitu pintu tertutup…
Tali rambut yang sedang kupakai untuk mengikat rambut Lia tiba-tiba putus.
Barulah kusadari…
Ternyata aku mengikatnya terlalu erat.
Sejak malam itu…
Aku tidak pernah lagi membahas kata-katanya.
Aku tetap memasak.
Tetap mengantar dan menjemput Lia dari sekolah.
Tetap mengingatkannya agar tidak terlalu banyak minum.
Namun perlahan…
Ada sesuatu yang berubah.
Aku tidak lagi menunggu sampai larut malam hanya untuk menyambut kepulangannya.
Aku tidak lagi bertanya apakah dia akan makan malam di rumah.
Aku juga tidak lagi begadang demi membukakan pintu saat dia pulang.
Sebaliknya…
Aku kembali membuka portofolio desainku.
Akun yang sudah lima tahun tidak pernah kusentuh.
Hanya tiga hari kemudian…
Aku mendapatkan proyek freelance pertamaku.
Nilainya memang tidak besar.
Namun…
Itu adalah penghasilan pertama yang kudapat dari bakatku sendiri setelah bertahun-tahun.
Beberapa minggu berlalu…
Proyek-proyek yang lebih besar mulai berdatangan.
Hingga suatu pagi…
Telepon dari mantan dosenku masuk.
“Andrea.”
“Apa kamu tertarik menjadi lead designer untuk proyek restorasi di Kota Tua Jakarta?”
Aku langsung terdiam.
Itu adalah salah satu proyek pelestarian bangunan bersejarah paling bergengsi di Indonesia.

Aku menggenggam ponsel erat-erat.
Lalu tersenyum pelan.
“Pak…”
“Saya menerima tawaran itu.”
BAGIAN 2 (TAMAT)
Proyek restorasi Kota Tua Jakarta bukan sekadar pekerjaan bagiku. Itu adalah tempat di mana aku menemukan kembali diriku yang hilang selama lima tahun menjadi bayang-bayang di rumah sendiri.
Setiap hari aku pulang larut malam dengan pakaian berdebu dan telapak tangan penuh sketsa. Miguel tidak pernah bertanya. Baginya, kesibukanku hanyalah “hobi pengisi waktu luang” agar aku tidak mengomelinya di rumah. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri untuk menyadari bahwa perlahan-lahan, aku sedang membangun dinding pemisah yang kokoh di antara kami.
Tiga bulan berlalu dengan sangat cepat.
Sabtu pagi itu, suasana rumah sangat tenang. Miguel sedang duduk di ruang tengah, menyesap kopi hitamnya sambil membalik-balik halaman koran dan majalah bisnis akhir pekan yang baru saja diantarkan ke rumah.
Aku berjalan ke ruang tengah membawa tas kerjaku, bersiap mengantar Lia ke tempat les lukis.
Tiba-tiba, terdengar suara cangkir kopi yang beradu keras dengan meja kaca. Prak!
Aku menoleh. Wajah Miguel pucat pasi. Matanya melotot menatap halaman depan sebuah majalah arsitektur ternama Indonesia—majalah yang menjadi kiblat para profesional dan kolektor seni di negeri ini.
Di sampul depan majalah itu, terpampang foto megah bangunan cagar budaya Kota Tua yang berhasil direstorasi dengan sentuhan modern yang genius. Dan tepat di bagian depan bangunan itu, berdiri seorang wanita dengan setelan blazer formal, tersenyum anggun namun penuh ketegasan.
Itu aku. Andrea Wiradikarta.
Di bawah fotoku, tertulis sebuah judul besar dengan huruf cetak tebal:
“Andrea Wiradikarta: Arsitek Perempuan di Balik Wajah Baru Sejarah Jakarta.”
“An-Andrea…” Suara Miguel bergetar hebat. Nafasnya memburu saat membaca artikel utama di dalam majalah tersebut, yang mengupas tuntas latar belakangku, prestasiku, hingga nama belakang keluargaku yang ternyata merupakan salah satu nama besar di dunia arsitektur yang selama ini sengaja kusembunyikan demi menjaga egonya sebagai suami.
Ia mendongak, mencoba menatapku. Namun, saat manik mata kami bertemu, dia bahkan tak berani menatapku lama. Miguel langsung membuang muka, sorot matanya penuh dengan rasa bersalah, minder, dan ketakutan yang luar biasa.
Kata-katanya tiga bulan lalu saat mabuk kembali menggema di kepalanya, menghantam harga dirinya telak. “Kalau tidak ada Lia, mungkin aku bahkan sudah lupa nama belakangmu.”
Sekarang, seluruh Indonesia justru mengelu-elukan nama belakangku.
“Kamu… kamu yang merancang ini semua? Kenapa kamu tidak pernah bilang?” tanya Miguel dengan suara yang nyaris berbisik, jemarinya gemetar memegangi pinggiran majalah.
Aku membetulkan posisi tas di pundakku, lalu menatapnya dengan senyum tipis—senyuman yang sama yang kuberikan malam itu saat dia mencampakkan perasaanku.
“Untuk apa aku bilang?” kataku dengan nada suara yang sangat tenang, tanpa ada kemarahan sedikit pun. “Toh, bagimu aku hanya ibu dari anakmu. Seseorang yang tidak penting untuk diingat namanya.”
“Mai, maaf… semalam itu aku cuma mabuk, aku tidak bermaksud—”
“Orang mabuk mengatakan apa yang dipikirkan oleh orang sadar, Miguel,” potongku halus. “Dan aku berterima kasih atas ucapanmu malam itu. Karena kalau kamu tidak mengatakannya, aku mungkin masih akan menjadi wanita bodoh yang membuang bakatnya demi mengurus suami yang bahkan tidak menghargaiku.”
Aku berjalan mendekati meja, lalu meletakkan sebuah amplop cokelat besar tepat di atas majalah arsitektur tersebut, menutupi wajahku di sampulnya.
“Lia akan ikut bersamaku mulai hari ini. Semua barang-barangku sudah dipindahkan ke apartemen baruku sejak kemarin sore saat kamu belum pulang kerja.”
Miguel tertegun, menatap amplop itu dengan mata berkaca-kaca. “Apa ini?”
“Surat gugatan cerai,” jawabku mantap. “Kamu bilang satu-satunya alasanmu bertahan adalah karena Lia. Sekarang, aku membebaskanmu. Kamu tidak perlu lagi bertahan di rumah yang tidak tenang ini, dan kamu bebas hidup sendirian tanpa ada yang menyuruh atau mengomelimu lagi.”
Aku berbalik, menggandeng tangan kecil Lia yang sejak tadi menungguku di dekat pintu.
“Ayo sayang, kita berangkat,” ajakku pada putriku.
Sebelum melangkah keluar, aku sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Miguel masih terduduk lemas di sofa, menatap kosong ke arah surat cerai, benar-benar hancur oleh keangkuhannya sendiri.
Aku menutup pintu rumah itu tanpa penyesalan. Di luar, matahari pagi bersinar begitu cerah, menyambut babak baru kehidupanku yang sesungguhnya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.