Posted in

Ketika suamiku mengizinkan adik iparnya yang sedang hamil tinggal di rumah yang kubeli sendiri, mengubah kamarku menjadi ruang pemulihan, bahkan menyuruhku belanja ke pasar, aku hanya menarik koperku dan meninggalkan cicilan KPR yang selama ini mereka kira sekadar hiasan.**

Ketika suamiku mengizinkan adik iparnya yang sedang hamil tinggal di rumah yang kubeli sendiri, mengubah kamarku menjadi ruang pemulihan, bahkan menyuruhku belanja ke pasar, aku hanya menarik koperku dan meninggalkan cicilan KPR yang selama ini mereka kira sekadar hiasan.**

**Bagian 1 — Mereka mengira rumahku hanyalah perpanjangan balai warga, tempat keluarga bebas keluar-masuk, mertua bebas menetap, dan perempuan yang dulu hanya diam bisa disuruh sesuka hati.**

Saat pertama kali mendengar bahwa adik iparku ingin melahirkan dan menjalani masa pemulihan di rumah kami, aku tidak langsung marah.

Bahkan aku sempat tersenyum tipis, karena alasan yang mereka berikan terdengar sangat akrab bagi perempuan Indonesia yang terbiasa menelan kekesalan demi menjaga kedamaian keluarga.

Katanya rumah kami dekat dengan rumah sakit.

Ruang tamunya luas.

Masih ada kamar kosong.

Dan yang paling penting, “ada perempuan di rumah yang pasti mengerti.”

Perempuan itu adalah aku.

Namaku **Lianne**, usia tiga puluh empat tahun. Aku bekerja sebagai **Regional Procurement Manager** di sebuah perusahaan logistik di kawasan bisnis Jakarta.

Rumah yang kutinggali bersama suamiku, **Marco**, adalah sebuah townhouse kecil yang nyaman di **Kota Bekasi**. Bukan rumah mewah. Bukan rumah orang kaya. Tapi rumah itu milikku.

Aku membelinya dua tahun sebelum kami menikah, menggunakan tabungan dari tujuh tahun bekerja, uang lembur, bonus tahunan, dan sebagian uang yang diberikan ibuku setelah menjual sebidang tanah kecil miliknya di **Jawa Barat**.

Saat menikah dengan Marco, aku sendiri yang mengusulkan agar kami tinggal di rumah itu.

Kataku waktu itu, lebih praktis.

Sambil menggenggam tanganku di depan penghulu, Marco berkata,

“Aku akan menjaga rumah ini, karena ini adalah rumah kita.”

Aku mempercayainya.

Ternyata menjadi perempuan yang memiliki rumah sendiri tidaklah mudah. Awalnya mereka bangga padamu. Lama-kelamaan, kepemilikan itu justru dianggap sebagai kesalahanmu.

Semuanya dimulai pada suatu Selasa sore.

Saat itu aku sedang mengikuti rapat Zoom di meja makan ketika ponselku bergetar.

Marco menelepon.

Biasanya dia tidak pernah menelepon saat jam kerjaku, jadi kupikir pasti ada keadaan darurat.

Aku segera mengangkat telepon.

“Sayang, aku mau bilang sesuatu. Jangan langsung bereaksi dulu, ya.”

Kalau suami membuka percakapan seperti itu, biasanya keputusan sudah dibuat tanpa melibatkanmu.

“Ada apa?”

“Rica sebentar lagi melahirkan. Kamu tahu sendiri, Paolo masih bekerja di Kalimantan dan belum bisa pulang.”

Paolo adalah adik Marco. Dia bekerja sebagai mekanik di sebuah pabrik di **Kalimantan Timur**. Orangnya ramah kalau bertemu langsung, tetapi setiap kali ada urusan keluarga, entah bagaimana dia selalu menghilang dan selalu punya alasan.

Sedangkan Rica adalah istrinya, sedang mengandung anak pertama mereka.

“Oh. Bagaimana keadaannya?”

“Baik. Tapi mereka berharap bisa tinggal dulu di rumah kita setelah melahirkan.”

Aku terdiam.

Di layar laptop, pemasok dari Australia masih berbicara, bibirnya terus bergerak.

Tapi aku sudah tidak mendengar apa pun.

“Tinggal… di rumah kita?”

“Iya. Paling sekitar empat puluh hari. Rumah kita kan lebih dekat ke rumah sakit. Ada AC. Kamar mandinya juga nyaman. Kata Mama, jauh lebih aman daripada kontrakan mereka.”

Aku menarik napas panjang.

“Kamar kosong” yang mereka maksud sebenarnya bukan kamar kosong.

Itu ruang kerjaku.

Di sana ada meja kerja, printer, berkas kontrak, dua lemari arsip, rak buku, treadmill lipat, dan sudut kecil tempatku melakukan yoga setiap dini hari sebelum berangkat bekerja.

Itulah satu-satunya ruang di rumah yang bebas dari kebisingan keluarga Marco.

Ruangan yang selalu mengingatkanku bahwa sebelum menjadi seorang istri, aku adalah manusia yang memiliki hidup sendiri.

“Apakah kalian sudah membicarakan ini sebelumnya?” tanyaku.

Marco terdiam sesaat.

Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Sayang… jangan salah paham. Aku memang tidak bermaksud tidak menghormatimu. Tapi aku sudah bilang ke Mama kalau tidak masalah. Aku sungguh tidak enak hati kalau harus menolak. Mereka keluargaku.”

Aku memejamkan mata.

Dia tidak meminta pendapatku.

Dia hanya memberi tahu.

“Marco, ini rumah. Bukan ruang tunggu.”

“Jangan berlebihan. Rica sedang hamil. Itu keponakan kita.”

“Aku tidak pernah bilang aku tidak mau membantu. Yang kubicarakan adalah kamu tidak pernah bertanya padaku.”

Nada suaranya langsung berubah.

“Apa semua hal memang harus minta izin darimu? Aku ini suamimu. Ini rumah kita.”

Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang menghantam lantai.

“Rumah kita.”

Saat harus membayar cicilan, rumah ini rumahku.

Saat keluarganya ingin masuk dan tinggal, tiba-tiba menjadi rumah kita.

“Kita bicarakan nanti malam,” kataku.

“Sebetulnya Mama juga mau meneleponmu. Tolong jangan bicara ketus sama beliau.”

Lima menit setelah telepon kami berakhir, ibu mertuaku, **Bu Cora**, benar-benar menelepon.

Beliau bahkan tidak mengucapkan salam.

“Lianne, Marco sudah cerita?”

“Sudah, Bu.”

“Bagus. Jangan drama, ya. Kita semua keluarga. Nanti kalau kamu melahirkan, kami juga pasti bantu.”

Aku hampir tertawa.

Kami bahkan belum punya anak.

Setiap kali orang bertanya kapan kami akan punya anak, justru Bu Cora yang paling sering mengatakan bahwa mungkin aku terlalu sibuk mengejar karier.

“Bu, itu bukan masalahnya.”

“Lalu apa masalahnya? Rumah kalian besar. Cuma ditinggali dua orang. Sayang kalau kamarnya kosong. Rica habis melahirkan, dia butuh tempat yang bersih dan nyaman. Dia butuh orang yang bisa diandalkan. Kamu juga tidak akan disuruh macam-macam, cuma meminjamkan ruangan.”

Aku memilih diam.

Kalau berbicara dengan orang yang memang tidak mau mendengar, akhirnya kita sendiri yang dianggap kurang ajar.

“Lagipula,” lanjutnya dengan nada lembut namun menusuk, “kalau memang kamu menantu yang baik, kamu tidak perlu berpikir panjang.”

Kalimat lama itu muncul lagi.

Pisau usang bernama “perempuan baik.”

Kalau melawan, berarti jahat.

Kalau menolak, berarti pelit.

Kalau melindungi diri sendiri, berarti tidak punya hati.

“Mereka datang kapan?” tanyaku.

“Hari Sabtu. Tolong siapkan kamar yang jendelanya menghadap belakang. Udara di sana lebih segar. Treadmill-mu jangan ditaruh di situ lagi, nanti mengganggu bayi.”

Telepon pun ditutup.

Aku hanya menatap layar ponselku.

Sementara di laptop, seseorang di rapat bertanya apakah aku mendengar poin terakhir.

Tidak.

Yang kudengar hanyalah pintu rumahku perlahan dibuka untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu cara mengetuk.

Malam harinya Marco pulang sambil membawa sekotak **mango float** dari toko roti favoritku.

Marco memang selalu begitu.

Kalau tahu dirinya bersalah, dia datang membawa makanan penutup.

“Sayang, ini tanda damai,” katanya sambil tersenyum canggung.

Dia meletakkan kotak itu di meja lalu mencoba memelukku dari belakang.

Aku menghindar.

“Aku belum sempat memindahkan semua berkas dari ruang kerjaku,” kataku.

Dia menggaruk tengkuk.

“Besok biar aku yang urus. Nanti semua dipindahkan dulu ke kamar utama. Tinggal sedikit dibereskan.”

“Sedikit?”

“Lianne, cuma sebulan. Jangan dibesar-besarkan. Lagipula kamu juga bukan yang akan merawat Rica. Katanya ibunya juga akan datang.”

“Ibunya juga datang?”

“Iya. Buat membantu.”

“Siapa lagi?”

Dia mengalihkan pandangan.

Saat itulah untuk pertama kalinya aku merasakan dingin yang benar-benar menusuk perutku.

“Marco.”

“Mungkin kakaknya juga ikut. Biar ada yang bergantian membantu.”

Aku tertawa.

Tapi tidak ada sedikit pun rasa lucu.

“Jadi bukan cuma Rica. Ada tiga orang yang akan tinggal di sini.”

“Bukan pindah. Cuma sementara.”

“Kalau mereka datang membawa koper, itu namanya tetap tinggal.”

Dia mulai kesal.

“Kamu ini kenapa keras sekali? Kalau keluargamu yang butuh bantuan, apa aku tidak akan membantu?”

“Faktanya, kamu memang tidak pernah membantu keluargaku kalau tidak terpaksa.”

Dia langsung diam.

Karena itu memang benar.

Saat ayahku dirawat di rumah sakit karena stroke ringan, akulah yang menjaga, membayar perawat pribadi, dan mengurus semua obat.

Marco datang hanya sekali.

Membawa air kelapa.

Lalu pulang tidak lama kemudian karena katanya ada pertandingan basket kantor.

Tapi saat keponakannya mengadakan acara aqiqah, dia bahkan mengambil cuti dua hari hanya untuk mengurus perlengkapan sound system.

Bagian 2 — Saat sebuah istana yang dibangun dari tetesan keringat sendiri, berubah menjadi asrama gratis bagi orang-orang yang tak tahu diri.

Hari Sabtu itu tiba seperti badai yang tak diundang.

Pukul delapan pagi, sebuah mobil travel berhenti tepat di depan pagar townhouse-ku. Pintu bagasi terbuka, dan keluarlah tumpukan barang yang membuatku mengernyitkan dahi: tiga koper besar, empat kardus mie instan, satu stroller bayi yang masih baru, hingga tabung gas elpiji melon.

Ini bukan perlengkapan untuk menginap “sementara”. Ini adalah sebuah invasi.

Ibu mertuaku, Bu Cora, turun pertama kali dengan wajah semringah. Di belakangnya ada Rica, dengan perut buncitnya yang tampak kepayahan, ditemani oleh ibunya—seorang wanita paruh baya berwajah masam bernama Bu Tari—dan kakak perempuan Rica yang membawa anak balita berusia tiga tahun.

“Lianne! Sini, bantu angkat kardus ini!” seru Bu Cora dari teras tanpa beban, seolah-olah dia sedang menyuruh asisten rumah tangga.

Aku berjalan keluar dengan tenang, mengenakan pakaian santai. Aku tidak menyentuh satu pun kardus itu. Aku hanya menatap Marco yang sibuk bolak-balik mengangkut barang-barang mereka seperti kuli panggul yang patuh.

Begitu masuk ke dalam rumah, Bu Tari langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mengusap permukaan meja makanku yang terbuat dari kayu solid dengan jarinya. “Rumahnya lumayan, tapi agak sempit ya untuk ukuran manajer. Kamarnya di mana? Rica sudah harus istirahat, kakinya bengkak.”

Marco dengan cekatan mengantar mereka ke lantai dua, menuju bekas ruang kerjaku.

Aku mengikuti mereka dari belakang. Ketika pintu dibuka, dadaku rasanya sesak. Meja kerja jatikuku, tempatku menyusun strategi pengadaan logistik bernilai miliaran rupiah, kini digeser paksa ke sudut sempit. Printerku ditumpuk di atas kardus. Treadmill lipat kesayanganku dipindahkan ke balkon, terpapar debu luar. Di tengah ruangan, sebuah kasur busa tambahan telah digelar di lantai.

“Lho, Lianne, kok meja dan lemarinya masih di sini? Kan Mama sudah bilang, dipindahkan semua ke kamar utamamu. Ini sempit, kasihan bayinya nanti kalau lahir kaget lihat barang-barang berantakan begini,” protes Bu Cora sambil berkacak pinggang.

“Ini ruang kerja saya, Bu. Berkas-berkas di dalam lemari itu rahasia perusahaan. Tidak bisa dipindahkan sembarangan,” jawabku datar, menatap lurus ke mata mertuaku.

Bu Tari mendengus pelan. “Halah, kerja kantoran cuma duduk di depan laptop aja kok repot banget. Rica ini mau melahirkan taruhan nyawa, Mbak Lianne. Tolonglah empati sedikit sebagai sesama perempuan.”

Aku menatap Marco, menanti suamiku bersuara untuk membelaku. Namun, pria yang kunikahi itu hanya menunduk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya, Sayang, nanti malam aku bantu pindahkan ke kamar kita ya. Tolonglah, jangan bikin ribut dulu.”

Saat itulah aku sadar. Di dalam rumah yang kubeli dengan air mata dan kerja keras hingga larut malam ini, aku adalah orang asing. Dan mereka adalah penguasa baru yang merasa berhak atas segalanya karena mereka membawa mandat bernama “keluarga”.

Minggu-Minggu yang Mengikis Waras

Tiga minggu berlalu seperti neraka yang perlahan membakar kewarasanku. Rica melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat di rumah sakit dekat rumah. Setelah pulang, rumahku benar-benar berubah menjadi balai warga.

Suara tangis bayi di tengah malam memecah keheningan yang biasa kugunakan untuk beristirahat. Anak balita dari kakak Rica berlarian di ruang tamu, menumpahkan susu di sofa kain yang kubeli mahal dari bonus tahunanku, dan mencoret-coret dinding ruang makan dengan krayon.

Setiap kali aku menegur, Bu Cora akan selalu menukas, “Namanya juga anak-anak, Lianne. Kamu belum punya anak sih, jadi tidak paham rasanya.”

Puncaknya terjadi pada suatu Jumat pagi. Aku memiliki jadwal presentasi krusial dengan direksi global dari Australia pada pukul sepuluh. Sejak subuh, aku sudah bersiap dengan pakaian rapi di kamar utama, menata laptop dan berkas-berkas penting.

Tiba-tiba pintu kamarku digedor dengan kasar. Bu Cora berdiri di sana dengan daster longgarnya, memegang selembar kertas catatan lusuh.

“Lianne, ini daftar belanjaan untuk sore ini. Rica butuh ikan gabus segar untuk penyembuhan luka jahitannya, sayur katuk, dan buah-buahan. Sekalian beli popok bayi di grosiran depan pasar ya,” katanya sambil menyodorkan kertas itu ke dadaku.

Aku menatap jam di tangan. Pukul 08.30.

“Bu, saya ada rapat penting jam sepuluh. Saya tidak bisa ke pasar hari ini. Kenapa tidak minta tolong Marco atau kakak Rica?”

Bu Cora langsung melotot, suaranya naik satu oktav. “Marco itu capek! Dia baru pulang kerja semalam. Kakaknya Rica harus menjaga bayi! Kamu kan cuma kerja dari rumah, cuma main laptop di dalam kamar ber-AC. Apa susahnya sih jalan sebentar ke pasar demi adik iparmu? Kenapa kamu pelit sekali dengan tenagamu?”

Marco, yang baru bangun tidur dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, keluar dari kamar mandi. “Ada apa sih, Ma? Pagi-pagi sudah ribut.”

“Ini istrimu! Disuruh ke pasar sebentar saja alasannya banyak banget! Mentang-mentang jabatannya tinggi, sama mertua dan keluarga suami sudah tidak ada hormat-hormatnya!” adu Bu Cora dengan nada dramatis.

Marco menatapku dengan tatapan lelah, yang lama-kelamaan berubah menjadi kejengkelan. “Lianne, tolonglah. Cuma ke pasar semenit. Kamu bisa bawa laptopmu nanti setelah pulang dari pasar. Jangan egois, ini demi anak Paolo juga.”

“Egois?” Aku mengulang kata itu. Suaraku sangat pelan, namun sanggup membungkam ruang tengah yang tadinya bising.

Aku menatap suamiku. Pria yang selama dua tahun ini menikmati fasilitas rumah gratis tanpa perlu memikirkan biaya perawatan, pajak bumi dan bangunan, atau perbaikan atap yang bocor. Pria yang keluarganya menganggap rumah ini jatuh dari langit.

“Kamu bilang aku egois, Marco?”

“Ya kamu pikir saja sendiri! Sejak Mama dan Rica datang, wajahmu ditekuk terus seperti orang tidak ikhlas. Ini cuma sementara, Lianne! Kenapa kamu harus mempermasalahkan setiap hal kecil?” bentak Marco, akhirnya meluapkan kekesalannya di depan ibunya.

Bu Cora tersenyum penuh kemenangan di belakang punggung Marco, seolah-olah dia baru saja memenangkan sebuah pertempuran besar.

Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Rasa sakit yang selama tiga minggu ini menumpuk di dadaku mendadak hilang, digantikan oleh rasa dingin yang luar biasa bersih. Rasa jernih yang membuatku tahu persis apa yang harus kulakukan.

“Baik,” kataku singkat. “Aku akan pergi.”

Bagian 3 — Tarikan Koper dan Cicilan yang Menagih Tuan

Aku kembali ke dalam kamar utama. Aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

Aku mengabaikan ketukan pintu dari Marco yang mengira aku sedang merajuk. Aku berjalan ke arah lemari pakaian, mengeluarkan koper hitam besar yang biasa kugunakan untuk perjalanan dinas ke luar negeri. Dengan tenang dan sistematis, aku memasukkan pakaian terbaikku, laptop kerja, dokumen-dokumen penting, paspor, dan perhiasan peninggalan ibuku.

Terakhir, aku membuka laci meja rias. Aku mengambil sebuah map biru besar berlogo bank swasta terkemuka. Di dalamnya ada sertifikat asli townhouse ini atas nama Lianne Pramesti, bukti pembayaran uang muka, dan jadwal mutasi rekening koran untuk cicilan KPR selama lima tahun terakhir.

Setiap bulan, uang sebesar Rp8,5 juta otomatis terpotong dari rekening penggajianku. Marco tahu tentang cicilan itu, namun baginya, angka itu hanyalah statistik abstrak. Dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mengencangkan ikat pinggang di awal karier demi memastikan angka itu terbayar tepat waktu.

Aku menarik koperku keluar dari kamar.

Di ruang tengah, Bu Cora, Bu Tari, dan Rica sedang duduk di sofa sambil menonton televisi, dikelilingi oleh mangkuk bekas makanan yang belum dicuci. Begitu melihatku membawa koper besar, tawa mereka terhenti.

Marco yang sedang minum kopi di dapur langsung berlari menghampiriku. “Lianne! Apa-apaan ini? Kamu mau ke mana membawa koper?”

“Aku mau keluar dari rumah ini, Marco,” kataku, suaraku terdengar sangat renyah di tengah keheningan rumah.

“Jangan gila ya! Cuma karena disuruh ke pasar kamu sampai mau kabur dari rumah? Kamu mau mempermalukan aku di depan keluargaku?!” suara Marco meninggi, wajahnya memerah karena malu dan marah.

Bu Cora ikut bangkit dari sofa. “Biarkan saja, Marco! Biar dia pergi ke rumah orang tuanya. Biar tahu rasa kalau jadi istri pembangkang itu tidak ada gunanya!”

Aku menatap Bu Cora, lalu beralih ke Marco. Aku tersenyum—senyuman paling tulus yang pernah kuberikan kepada mereka dalam sebulan terakhir.

“Ibu salah. Saya tidak akan pergi ke rumah orang tua saya. Dan saya tidak sedang kabur. Saya hanya sedang mengembalikan fungsi rumah ini kepada pemilik aslinya.”

Aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan sebuah amplop putih kecil, lalu meletakkannya di atas meja makan di hadapan Marco.

“Apa ini?” tanya Marco dengan tangan bergetar.

“Itu surat pemberitahuan dari bank. Mulai bulan depan, aku sudah menutup rekening auto-debit untuk cicilan KPR rumah ini. Aku juga sudah mengajukan permohonan penghentian sementara pembayaran ke bank dengan alasan sengketa domestik,” kataku tenang.

Wajah Marco seketika berubah pucat. “Maksudmu apa, Lianne?”

“Selama ini, kamu dan keluargamu mengira rumah ini adalah fasilitas gratis yang disediakan alam semesta untuk kalian kelola sesuka hati. Kamu selalu berteriak ‘ini rumah kita’ setiap kali keluargamu ingin masuk,” aku melangkah mendekati Marco, menatap matanya dalam-dalam.

“Jadi, mari kita buktikan seberapa besar arti kata ‘kita’ itu. Sisa cicilan rumah ini masih ada 13 tahun lagi. Rp8,5 juta per bulan. Ditambah tunggakan biaya IPL dan air yang selama ini aku bayar diam-diam sebesar Rp1,2 juta.”

Aku menoleh ke arah Bu Cora yang mulai tampak bingung.

“Karena Ibu bilang rumah ini besar dan sayang kalau kosong, silakan Ibu, Rica, Paolo, dan seluruh keluarga besar pindah ke sini secara permanen. Tapi tolong ingatkan Marco untuk membayar cicilannya tepat waktu setiap tanggal 5. Jika bulan depan uang itu tidak masuk ke rekening bank, pihak bank akan mengirimkan surat sita, dan dalam waktu tiga bulan, rumah ini akan dilelang oleh negara.”

“Lianne! Kamu tidak bisa melakukan ini! Ini rumahmu! Namamu yang cacat di BI Checking kalau disita!” teriak Marco panik, menyadari bahwa gaji bulanannya yang hanya cukup untuk gaya hidup dan jajan motornya tidak akan pernah sanggup menutup angka itu.

Aku memakai kacamata hitamku, menggenggam erat gagang koperku.

“Nilaiku di mata bank mungkin akan menurun, Marco. Tapi nilai hargadiriku sebagai perempuan jauh lebih mahal daripada sebuah skor kredit. Silakan nikmati ‘rumah kita’ ini sampai surat sita itu datang mengetuk pintu depan.”

Aku berbalik tanpa menoleh lagi. Di belakangku, aku bisa mendengar suara Bu Cora yang mulai panik bertanya kepada Marco tentang apa itu “surat sita”, suara Rica yang mulai menangis, dan teriakan frustrasi Marco yang memanggil namaku berkali-kali.

Aku melangkah keluar dari pagar townhouse, memasukkan koperku ke dalam taksi online yang sudah menunggu di depan. Saat mobil bergerak membelah jalanan Bekasi menuju apartemen baruku yang sudah kusewa di dekat kantor, aku bersandar di kursi belakang dan menarik napas dalam-dalam.

Udara pagi itu terasa sangat segar. Rumah itu mungkin milikku secara hukum, tapi kebebasanku adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka cicil.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.