Setelah Operasi, Aku Mengirim Pesan, “Anak Kita Sudah Tiada.” Balasan Suamiku Hanya, “Oke, dicatat.” Namun Unggahannya yang Merayakan Hari ke-1.000 Bersama Wanita Lain Benar-Benar Menghancurkan Hatiku dan Membuatku Memutuskan untuk Mengajukan Perceraian.
BAGIAN 1
Hari aku keluar dari ruang operasi…
Orang pertama yang ingin kuhubungi…
Bukan keluargaku.
Melainkan suamiku.
Aku mengirim sebuah pesan singkat.
“Anak kita sudah tiada. Operasinya sudah selesai.”
Beberapa detik kemudian…
Ponselku bergetar.
Balasannya hanya dua kata.
“Oke, dicatat.”
Aku menatap layar ponsel itu cukup lama.
Lalu…
Aku tertawa pelan.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena balasan itu…
Sudah terlalu sering kulihat.
Tiga bulan yang lalu…
Saat kuberitahu bahwa perusahaan memindahkanku ke kota lain untuk proyek jangka panjang.
Jawabannya juga sama.
“Oke, dicatat.”
Setahun yang lalu…
Ketika kuberi tahu bahwa aku sedang hamil.
Balasannya tetap sama.
“Oke, dicatat.”
Aku menggulir seluruh riwayat percakapan kami.
Ratusan pesan.
Aku mengingatkannya agar makan tepat waktu.
Membayar tagihan.
Mengantar ibunya kontrol kesehatan.
Tidak melupakan hari jadi pernikahan kami.
Namun setiap pesan…
Hanya mendapat satu jawaban.
“Oke, dicatat.”
Kalimat yang sama.
Bahkan tanda bacanya pun tak pernah berubah.
Dulu aku berpikir…
Memang begitulah sifatnya.
Pendiam.
Dingin.
Sampai kecelakaan itu terjadi hampir dua tahun lalu.
Kami baru pulang dari lokasi proyek.
Mobil operasional yang kami tumpangi mengalami kecelakaan hebat.
Aku terjepit di dalam kendaraan.
Sinyal ponsel sangat lemah.
Aku berkali-kali mengirim lebih dari dua ratus pesan.
Meminta pertolongan.
Dan setiap pesan yang berhasil terkirim…
Selalu dibalas dengan kalimat yang sama.
“Oke, dicatat.”
Jarak waktu setiap balasan…
Benar-benar sama.
Seperti dikirim oleh mesin.
Setelah aku berhasil selamat…
Barulah aku mengetahui kenyataannya.
Nomor ponsel suamiku ternyata menggunakan balasan otomatis.
Ia sama sekali tidak pernah membaca pesan-pesanku.
Ia tidak pernah tahu…
Bahwa saat itu aku hampir meninggal.
Dan ia juga tidak tahu…
Bahwa hari ini…
Anak pertama yang kami nantikan…
Telah pergi untuk selamanya.
Aku menutup ruang obrolan itu.
Lalu membuka akun media sosialnya.
Ada unggahan baru.
Baru dipublikasikan lima belas menit yang lalu.
Sebuah tangkapan layar percakapannya dengan seorang wanita.
Di bagian atas tertulis besar:
“Hari ke-1.000 kami saling berkirim pesan.”
Di bawahnya…
Foto mereka berdua.
Senyumnya begitu cerah.
Senyum yang belum pernah kulihat selama pernikahan kami.
Keterangan fotonya berbunyi:
“Hari ke-1.000. Selamat ulang tahun. Terima kasih untuk semuanya.”
Tanpa berkata apa-apa…
Aku menekan tombol Suka.
Lalu meninggalkan sebuah komentar.
“Hari ini memang benar-benar hari yang tak akan terlupakan.”

Yang tidak ia ketahui…
Pada hari yang sama…
Aku juga mengakhiri bagian paling menyakitkan dalam hidupku.
Berikut adalah kelanjutan dan babak akhir (ending) dari cerita drama tersebut, ditulis dengan gaya yang emosional, tajam, dan penuh dengan kepuasan naratif (satisfying revenge):
BAGIAN 2: Akhir dari Catatan
Notifikasi komentar dari akunku langsung meledak di media sosialnya. Namun, aku tidak peduli lagi. Aku mematikan ponsel, mencabut jarum infus dengan tangan yang gemetar, dan berjalan keluar dari rumah sakit sendirian. Angin malam kota terasa begitu dingin menusuk tulang, tetapi tidak sebanding dengan kekosongan di dalam dadaku.
Keesokan harinya, aku tidak pulang ke rumah kami. Aku pergi ke kantor pengacara keluarga.
Di atas meja, sebuah dokumen rapi telah siap. Surat Gugatan Cerai.
Saat aku menandatanganinya, ponselku berdering. Nama “Suamiku” tertera di layar. Ini pertama kalinya dia meneleponku dalam enam bulan terakhir. Aku mengangkatnya, tetapi tidak bersuara.
“Kamu di mana? Apa maksud komentarmu di unggahanku kemarin? Siska sampai menangis karena merasa tidak enak padamu! Hapus komentarmu sekarang, jangan kekanak-kanakan!” Suaranya terdengar begitu panik, namun bukan karena mengkhawatirkanku, melainkan karena menjaga nama baik wanita selingkuhannya.
Aku menarik napas dalam-dalam, menahan rasa perih di perutku bekas operasi kemarin.
“Aku sedang mengurus perceraian kita,” kataku, datar tanpa emosi. “Surat gugatan akan sampai ke kantormu sore ini.”
Hening sejenak di seberang sana. Lalu, terdengar tawa remehnya. “Cerai? Hanya karena masalah sepele seperti ini? Kamu tahu sendiri Siska itu rekan kerjaku, 1.000 hari itu hanya perayaan pencapaian proyek! Jangan membuat drama, aku sedang sibuk.”
“Anak kita sudah tiada, Andi,” potongku, menyebut namanya untuk pertama kali sejak kami menikah. “Dan bagimu, itu hanya masalah sepele?”
“Apa? Kamu bicara apa—”
Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, aku langsung mematikan sambungan telepon. Aku memblokir nomornya, akun media sosialnya, dan seluruh akses komunikasinya. Aku tidak butuh penjelasannya. Aku tidak butuh kata maafnya.
BAGIAN 3: Kebenaran yang Menghancurkan
Tiga jam setelah surat gugatan cerai dikirimkan oleh pengacaraku, Andi baru menyadari kenyataan yang sesungguhnya. Pengacaraku menyertakan salinan rekam medis rumah sakit: Surat Kematian Janin akibat keguguran trauma pasca-kecelakaan, dan bukti operasi darurat yang kujalani sendirian.
Andi menyerbu rumah orang tuaku, tempat aku menenangkan diri. Wajahnya pucat pasi, matanya merah, dan napasnya memburu. Pria yang biasanya selalu tenang, dingin, dan acuh tak acuh itu kini terlihat hancur berantakan.
Begitu melihatku duduk di ruang tamu dengan pakaian hitam, dia langsung berlutut di hadapanku.
“Risa… maafkan aku… aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak tahu kamu di rumah sakit! Aku tidak tahu tentang anak kita!” suaranya bergetar hebat, air matanya menetes ke lantai. “Ponselku… ponselku memang diatur otomatis untuk membalas pesanmu karena aku terlalu sibuk dengan proyek baru…”
Aku menatapnya dari atas, merasa asing dengan pria yang pernah kucintai setengah mati ini.
“Kamu sibuk, Andi? Sampai-sampai selama dua tahun ini kamu tidak punya waktu sedetik pun untuk membaca pesanku?” tanyaku dengan suara yang teramat tenang, namun menusuk. “Tapi anehnya, kamu punya waktu untuk menghitung setiap hari, setiap detik, hingga mencapai hari ke-1.000 bersama wanita lain. Kamu punya waktu untuk membalas pesannya dengan ketikan manual yang penuh perhatian, sementara untuk istrimu, kamu menyerahkannya pada mesin.”
Andi menggelengkan kepala, mencoba meraih tanganku, namun aku menariknya menjauh.
“Aku tidak berselingkuh fisik dengannya, Risa! Siska hanya…”
“Perselingkuhan emosional jauh lebih membunuh, Andi,” potongku tajam. “Di saat aku bertaruh nyawa di ruang operasi, kehilangan darah, dan kehilangan buah hati yang kita tunggu-tunggu… kamu sedang merayakan ‘cinta’ dengan wanita lain. Kamu mengabaikan jeritan mintatolongku dua tahun lalu saat kecelakaan, dan kamu kembali mengabaikanku di titik terendah hidupku kemarin.”
Aku berdiri, menatapnya untuk terakhir kali.
“Mesin balasan otomatismu itu adalah cerminan dari pernikahan kita. Kosong, dingin, dan mati. Sekarang, pernikahan ini sudah resmi berakhir.”
EPILOG
Tiga bulan kemudian, proses perceraian kami selesai dengan cepat. Andi tidak bisa membela diri di pengadilan. Bukti kelalaiannya sebagai suami dan bukti digital perselingkuhannya dengan Siska membuat hakim memutuskan hak asuh penuh atas diriku sendiri (serta seluruh aset yang memang menjadi hakku) tanpa hambatan.
Karier Andi hancur setelah bukti-bukti tersebut menyebar di lingkungan kerja mereka. Perusahaan tidak bisa menoleransi skandal moral, dan dia dicopot dari posisinya, begitu pula dengan Siska.
Sore itu, aku bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Aku memutuskan untuk mengambil proyek jangka panjang di luar kota yang dulu sempat tertunda. Aku ingin memulai hidup yang baru, menyembuhkan luka, dan menata kembali hatiku demi malaikat kecilku yang sudah di surga.
Sebelum berangkat, ponselku bergetar. Sebuah nomor baru mengirimkan pesan singkat. Aku tahu itu dari Andi.
“Risa, aku menyesal. Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku merindukanmu.”
Aku menatap pesan itu tanpa ada lagi rasa sakit, benci, ataupun dendam. Yang tersisa hanyalah rasa lega yang luar biasa.
Aku tersenyum tipis, lalu mengetikkan dua kata terakhir untuknya sebelum memblokir nomor itu selamanya.
“Oke, dicatat.”
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.