*Wanita Selingkuhan Pacarku Sengaja Menyiramiku dengan Anggur Merah di Depan Semua Orang. Ia Mengantarku Pulang, tetapi Malam Itu Justru Menginap di Rumah Wanita Itu. Keesokan Paginya, Akulah yang Benar-Benar Menghilang dari Hidupnya.**
## BAGIAN 1
“Sayang… maaf banget.”
“Aku memang ceroboh.”
Bersamaan dengan suara manis itu…
Segelas anggur merah tiba-tiba tumpah tepat ke gaun putih yang kukenakan.
Dalam hitungan detik…
Noda merah menyebar ke seluruh kain.
Seluruh ruang makan privat mendadak sunyi.
Perlahan aku mengangkat kepala.
Di hadapanku…
Berdiri Vanessa Cruz.
Wanita yang menjadi selingkuhan pacarku.
Kedua tangannya menempel di dada, berpura-pura panik.
“Maaf ya, Kak.”
“Aku benar-benar nggak sengaja.”
“Aku memang ceroboh.”
Namun sorot matanya…
Penuh dengan ejekan.
Seolah-olah ia sedang menunggu aku marah dan mempermalukan diri sendiri.
Aku mengusap anggur yang mengalir di leherku dengan tenang.
Lalu aku tersenyum.
“Hebat.”
Ia tampak sedikit terkejut.
“Hah?”
Aku meletakkan serbet di atas meja.
Nada suaraku tetap tenang.
“Kamu pintar sekali berakting.”
“Kelihatannya benar-benar seperti tidak sengaja.”
Tiba-tiba beberapa orang di meja tertawa kecil.
Wajah Vanessa langsung memerah.
Namun hanya dalam beberapa detik…
Matanya mulai berkaca-kaca.
Bibirnya bergetar seperti anak kecil yang sedang dizalimi.
“Marco…”
“Aku benar-benar nggak sengaja.”
“Kamu tahu sendiri aku memang ceroboh.”
Aktingnya benar-benar sempurna.
Pria mana pun…
Pasti mudah merasa kasihan.
Pacarku, Marco Villanueva, menoleh ke arahku.
Ia melihat aku sudah tidak ingin berada di sana lagi.
Tanpa berkata apa-apa, ia melepas jasnya.
Lalu menyelimutkannya di bahuku.
“Maaf ya, semuanya.”
“Baju Yna sudah basah.”
“Aku antar dia pulang dulu.”
Semua orang mengangguk.
Bahkan beberapa mengatakan itu memang keputusan yang tepat.
Namun Vanessa…
Mendadak membeku.
Begitu kami keluar dari ruang makan privat…
Ia langsung menangis keras.
“Marco!”
“Kamu benar-benar mau meninggalkan aku di sini?”
Marco berhenti sejenak.
Aku menoleh kepadanya.
Kupikir…
Ia akan menoleh ke belakang.
Tetapi tidak.
Ia justru merangkul bahuku lebih erat.
Lalu berkata pelan,
“Ayo.”
Sepanjang perjalanan pulang…
Ia tidak pernah melepaskan tanganku.
Sesampainya di kondominium…
Ia bahkan menyiapkan air hangat agar aku bisa mandi.
Setelah itu…
Ia mengeringkan rambutku dengan sangat hati-hati.
Begitu lembut.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Seolah aku masih wanita yang paling ia cintai.
Sampai…
Ponselnya terus bergetar tanpa henti.
Hanya satu nama yang terus muncul di layar.
**Vanessa.**
Panggilan pertama.
Tidak diangkat.
Panggilan kedua.
Ia menolaknya.
Panggilan ketiga.
Ia menghela napas panjang.
Saat panggilan kelima masuk…
Ia perlahan memelukku dari belakang.
“Yna…”
“Aku harus kembali sebentar.”
Aku tidak menoleh.
“Untuk apa?”
Ia memejamkan mata.
“Vanessa…”
“Masih duduk di depan restoran.”
“Dia menangis.”
“Dia menolak pulang.”
“Teman-teman kita sudah membujuknya, tapi dia tetap tidak mau.”
Aku menatapnya dalam diam.
Beberapa detik berlalu tanpa satu kata pun.
Lalu aku berkata dengan tenang,
“Marco.”
“Kita putus.”
Ia langsung terdiam.
Lalu memaksakan sebuah senyum.
“Jangan bercanda.”
“Aku cuma sebentar.”
“Nanti juga langsung balik.”
Aku perlahan melepaskan tangannya dari bahuku.
Aku menatapnya cukup lama.
Saat itu…
Aku sudah tidak merasa marah lagi.
Yang tersisa…
Hanya lelah.
“Marco.”
“Aku tidak bercanda.”
“Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu…”
“Jangan pernah kembali lagi.”
Ia mengira…
Aku hanya sedang merajuk.
Karena itu ia menundukkan kepala.
Mencium keningku.
Lalu pergi dengan tergesa-gesa.
Bersamaan dengan pintu yang tertutup…

Layar ponselku tiba-tiba menyala.
Ada unggahan baru di Facebook.
Dan orang yang mengunggahnya…
Adalah Vanessa.
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (bagian penutup) dari cerita tersebut:
BAGIAN 2 (TAMAT)
Aku membuka unggahan tersebut dengan tangan yang stabil.
Itu adalah sebuah foto hitam putih. Foto dua cangkir kopi di atas meja sebuah apartemen yang sangat kukenal—apartemen pribadi milik Marco yang jarang ia gunakan. Di bawah foto itu, Vanessa menuliskan takarir:
“Pada akhirnya, pria yang baik akan selalu pulang ke tempat di mana ia merasa paling dibutuhkan. Terima kasih telah selalu ada untukku, bahkan saat seluruh dunia menyalahkanku.”
Aku menatap layar ponselku selama beberapa detik, lalu mengunci layarnya. Tidak ada air mata. Tidak ada dada yang sesak. Peringatanku sebelum ia pergi tadi bukan sebuah ancaman kosong, melainkan sebuah pengumuman resmi bahwa masa berlakunya di hidupku telah habis.
Aku berjalan ke kamar, membuka lemari, dan mengeluarkan sebuah koper besar.
Selama lima tahun mendampingi Marco membangun bisnisnya dari nol, aku selalu menomorduakan diriku sendiri. Kondominium mewah ini dibeli atas namaku, mobil yang ia pakai sehari-hari adalah hadiah ulang tahun dari ayahku, dan 40% saham di perusahaannya secara hukum adalah milikku. Marco terlalu sombong hingga lupa bahwa semua kenyamanan yang ia miliki hari ini bersumber dari wanita yang baru saja ia tinggalkan demi selingkuhannya.
Aku mengemas pakaianku, dokumen-dokumen penting, dan pasporku. Setelah itu, aku menghubungi pengacaraku.
“Halo, Pak pengacara. Tolong proses pengalihan sahamku di Villanueva Corp, cairkan seluruh aset atas namaku, dan kirimkan surat pengosongan kondominium ini besok pagi. Aku ingin semuanya selesai sebelum jam sembilan.”
Keesokan paginya, jam 08.00.
Suara klik pintu terdengar. Marco berjalan masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah namun dipenuhi rasa bersalah. Di tangannya, ia membawa sebuket bunga lili kesukaanku dan sekotak bubur ayam hangat dari tempat langganan kami.
“Yna… maafkan aku,” ucapnya langsung begitu melangkah ke ruang tengah. “Vanessa semalam sempat histeris dan mencoba menyakiti dirinya sendiri, jadi aku terpaksa menemaninya sampai tenang. Aku benar-benar tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, aku bersumpah—”
Kalimat Marco terhenti. Langkahnya memaku di lantai.
Ruang tengah kondominium itu benar-benar kosong. Tidak ada sofa, tidak ada televisi, tidak ada lukisan di dinding. Hanya ada sebuah koper kosong yang sengaja kutinggalkan di tengah ruangan.
Di atas koper itu, terletak sebuah amplop cokelat besar dan sebuah ponsel tua miliknya yang dulu kupakai.
Dengan tangan gemetar, Marco membuka amplop tersebut. Isinya adalah surat perintah pengosongan rumah dalam waktu 24 jam, dokumen penarikan seluruh modal dan sahamku dari perusahaannya, serta surat pembatalan kontrak kerja sama antara perusahaan keluargaku dengan bisnisnya.
Di lembar paling bawah, aku menuliskan secarik pesan singkat:
“Aku sudah memperingatkanmu, Marco. Jika kamu melangkah keluar, jangan pernah kembali. Kini perusahaannmu berada di ambang kebangkrutan, dan tempat tinggal ini bukan lagi milikmu. Selamat menikmati hidup barumu bersama Vanessa.”
Marco langsung panik. Ia merogoh ponselnya, mencoba meneleponku. Namun, nomorku sudah tidak aktif. Ia mencoba menghubungi akun media sosialku, tetapi semua akunku telah dihapus. Ia menelepon teman-teman kami, namun tidak ada satu pun yang tahu keberadaanku.
Hari itu, aku benar-benar lenyap dari hidupnya. Seperti uap yang menguap di udara, tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Dua bulan kemudian, dari jendela sebuah kafe di Paris, aku membaca berita bisnis dari tanah air lewat tabletku. Perusahaan Villanueva Corp dinyatakan pailit setelah ditinggal oleh investor utama, dan aset-aset milik Marco disita untuk melunasi utang.
Kudengar dari seorang teman, Marco kini tinggal di sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota bersama Vanessa, hidup dalam kesulitan finansial yang membuat keduanya setiap hari bertengkar hebat.
Aku menyesap kopi hangatku sambil menatap menara Eiffel di kejauhan. Vanessa mengira ia telah memenangkan segelas anggur merah dan seorang pria. Ia tidak pernah sadar, bahwa dengan mengambil pria itu, ia justru telah menyelamatkanku dari masa depan yang hancur, dan menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam penyesalan seumur hidup.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.