Posted in

*SEJAK KECIL, AKU TIDAK PERNAH TAHU APA ARTI CINTA.SAAT BERUSIA DUA PULUH TAHUN, KELUARGAKU MEMAKSAKU MENGGANTIKAN ADIKKU UNTUK MENIKAH DENGAN SEORANG BOS YANG SANGAT DITAKUTI.NAMUN PADA MALAM PERTAMA PERNIKAHAN KAMI, SATU UCAPANKU LANGSUNG MEMBUATNYA TERDIAM…

*SEJAK KECIL, AKU TIDAK PERNAH TAHU APA ARTI CINTA.
SAAT BERUSIA DUA PULUH TAHUN, KELUARGAKU MEMAKSAKU MENGGANTIKAN ADIKKU UNTUK MENIKAH DENGAN SEORANG BOS YANG SANGAT DITAKUTI.
NAMUN PADA MALAM PERTAMA PERNIKAHAN KAMI, SATU UCAPANKU LANGSUNG MEMBUATNYA TERDIAM…**

Sejak lahir, perasaanku selalu dingin.

Aku hampir tidak pernah merasakan kasih sayang terhadap keluargaku. Apalagi memahami seperti apa cinta antara seorang pria dan wanita.

Saat usiaku dua puluh tahun, bisnis keluargaku tiba-tiba bangkrut. Karena terlilit utang dalam jumlah sangat besar, kami menjadi target kelompok berbahaya.

Untuk menyelamatkan keluarga, orang tuaku hanya memiliki satu pilihan: menikahkan salah satu putri mereka dengan seorang bos berpengaruh sebagai imbalan atas perlindungannya.

Ayah dan ibuku menatapku dengan mata berkaca-kaca.

— Kamu memang tidak pernah bisa mencintai siapa pun. Maukah kamu menggantikan adikmu? Kalau kamu menjadi istri bos itu, kamu akan aman, dan keluarga kita juga bisa melewati semua masalah ini.

Aku berpikir selama beberapa detik.

Bagaimanapun juga, aku hanya akan pindah rumah dan tinggal bersama pria yang belum pernah kukenal.

Aku tidak merasa takut ataupun menyesal, jadi aku langsung mengangguk setuju.

Pada malam pernikahan kami, pria itu masuk ke kamar.

Tubuhnya tinggi, tatapannya dingin, dan auranya begitu mengintimidasi hingga tak seorang pun berani menatapnya secara langsung.

Ia menyuruhku berlutut di lantai, lalu menatapku dari atas.

— Berapa usiamu?

— Dua puluh tahun.

— Apa kamu pernah punya pria lain sebelumnya?

— Belum pernah.

Mendengar jawabanku, ekspresinya sedikit melunak.

Ia melambaikan tangan.

— Mendekatlah.

Aku merangkak perlahan mendekatinya.

Pria itu mengangkat daguku, lalu berkata dengan nada dingin,

— Mulai sekarang, kamu milikku. Kamu harus tahu cara patuh dan melayaniku. Mengerti?

Aku mengangguk patuh, meskipun sebenarnya aku tidak benar-benar memahami maksudnya.

Ia lalu mendekat dan memberi isyarat agar aku melakukan sesuatu yang sangat aneh.

Aku hanya menatapnya dengan bingung.

— Aku tidak tahu caranya.

Pria itu tampak kesal, lalu mencoba menjelaskan.

— Anggap saja kamu sedang makan es krim.

Mata-ku langsung berbinar.

— Bos, tunggu sebentar!

Aku segera berlari menuju dapur.

Beberapa menit kemudian, aku kembali ke kamar sambil menyembunyikan kedua tanganku di belakang punggung.

Pria itu mengernyit.

— Apa yang kamu bawa?

Aku tersenyum, lalu perlahan mengulurkan tanganku ke hadapannya.

Tatapan dinginnya langsung membeku.

Karena yang kupegang…

adalah **sebuah gunting yang sangat tajam

… adalah sebuah gunting yang sangat tajam dan sebungkus es krim stik yang hampir meleleh.

Pria itu menatapku, lalu menatap gunting dan es krim di tanganku secara bergantian. Ketegangan yang tadinya menyelimuti kamar megah itu mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang luar biasa canggung.

“Apa… yang mau kamu lakukan dengan gunting itu?” tanyanya, suaranya yang tadinya berat dan mengintimidasi kini terdengar sedikit bergetar—mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa terancam oleh seorang gadis berusia dua puluh tahun.

Aku mengerjapkan mata polos, sama sekali tidak menyadari isi pikirannya yang sudah melantur ke arah medis.

“Bos bilang aku harus menganggapnya seperti makan es krim,” kataku jujur sambil mengangkat bungkus es krim tersebut. “Tapi bungkusnya susah dibuka kalau tidak pakai gunting. Aku tidak mau es krimnya jatuh dan mengotori karpet kamar Bos.”

Bos besar yang ditakuti seluruh kota itu terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, kehilangan kata-kata. Auranya yang menyeramkan runtuh seketika. Ia memijat pelipisnya, lalu menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang terdengar seperti perpaduan antara frustrasi, pasrah, dan tawa yang ditahan.

“Kamu… benar-benar tidak mengerti apa-apa, ya?” bisiknya.

Aku menggeleng pelan. “Aku sudah bilang, aku tidak tahu artinya.”

Pria itu merebut gunting dari tanganku dengan hati-hati, meletakkannya jauh-jauh ke atas meja, lalu mengambil es krim yang mulai meleleh itu. Dengan satu sentakan mudah, ia merobek bungkusnya tanpa bantuan alat apa pun, lalu menyodorkannya kembali kepadaku.

“Makanlah,” perintahnya, kembali duduk di tepi ranjang besar.

Aku menerima es krim itu dan mulai memakannya dalam diam. Sementara aku menikmati rasa manis yang dingin, bos itu hanya duduk memperhatikanku. Tatapan matanya yang tadi tajam seperti elang, perlahan-lahan melembut menjadi sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Malam itu, tidak ada hal “aneh” yang terjadi. Bos yang paling ditakuti itu justru menghabiskan sisa malamnya dengan mengajariku hal-hal paling dasar tentang cara hidup di rumahnya, tanpa paksaan, tanpa amarah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku yang dingin, saat aku melihat pria tangguh itu dengan sabar mengelap sisa es krim di sudut bibirku, ada sesuatu yang aneh berdesir di dadaku. Sesuatu yang hangat.

Mungkin aku memang tidak pernah tahu apa arti cinta sejak kecil. Tapi bersamanya, di kamar yang asing ini, aku rasa aku tidak keberatan untuk mulai belajar mengetahuinya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.