*KEESOKAN PAGINYA, AKU MEMINTA CERAI. TAPI ALASAN YANG SUAMIKU MINTA DITULIS DI SURAT CERAI ITU MEMBUATKU INGIN TENGGELAM KARENA MALU.**
Suamiku tertawa pelan, lalu mendekat ke telingaku dan menjelaskan maksud ucapannya dengan nada menggoda. Seketika wajahku memanas.
Barulah aku sadar bahwa semua perkataannya semalam ternyata memiliki makna yang nakal.
Itu adalah pertama kalinya aku merasa sangat malu hingga tak sanggup menatap wajah siapa pun. Aku mendorong bahunya pelan.
— Kenapa bicaramu selalu seperti itu?
Ia mengangkat alis sambil tersenyum puas.
— Wajahmu merah seperti tomat. Ternyata kamu juga bisa malu?
Aku menatapnya kesal.
— Soalnya cara bicaramu tidak sopan.
Bukannya marah, ia malah langsung menggendongku masuk ke mobil dan mengemudi pulang dengan wajah penuh kegembiraan.
Begitu kami tiba di rumah, ibu mertuaku langsung menyadari perubahan pada ekspresi cerah suamiku.
Beliau menggenggam tanganku dengan hangat lalu berkata,
— Beberapa hari terakhir anak itu lebih sering berada di rumah. Dulu dia selalu keluyuran dan berkelahi. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Mungkin karena kamu, dia mulai berubah.
Aku menatapnya kebingungan.
Padahal aku sama sekali tidak pernah menasihati suamiku.

Sejak kecil aku memang tidak pandai memahami perasaan orang lain. Aku juga tidak tahu harus menjelaskan apa kepada ibu mertua, jadi aku hanya diam.
Beliau menghela napas pelan.
— Usia Ibu sudah tua. Ibu tidak tahu masih bisa hidup berapa lama lagi. Harapan Ibu cuma satu, semoga dia berhenti mencari masalah dan lebih memikirkan keluarganya.
Aku tidak tega melihatnya bersedih.
Walaupun pernikahan kami awalnya hanya demi kepentingan kedua keluarga, di mata semua orang dia tetap suamiku.
Orang tuaku juga berharap keluarga suamiku bisa menjadi tempat yang aman bagiku. Kalau dia terus berkelahi di luar dan terjadi sesuatu, kedua keluarga pasti tidak akan tenang.
Aku menjawab dengan jujur,
— Saya juga tidak ingin dia terus hidup sembarangan. Tapi saya benar-benar tidak tahu apa yang bisa saya lakukan.
Senyum ibu mertuaku langsung merekah.
— Kamu tidak perlu melakukan sesuatu yang sulit. Nanti malam cukup antarkan sepiring tiram ini ke kamarnya, lalu pastikan dia menghabiskannya.
Aku memandangi sepiring tiram itu dengan ragu.
Apa kalau dia menghabiskannya, dia akan lebih betah di rumah?
Meski tidak mengerti, aku tetap mengikuti permintaan ibu mertua.
Saat aku membawa piring itu ke kamar, suamiku sedang berbicara melalui telepon dengan rekan bisnisnya.
Begitu melihatku, ia segera mengakhiri panggilannya. Tatapannya turun ke arah piring tiram, lalu kembali menatap wajahku. Perlahan sudut bibirnya terangkat.
— Gadis kecil, kamu sudah tidak sabar ya?
Aku tidak mengerti maksud pertanyaannya, jadi aku hanya meletakkan piring di depannya.
— Kamu harus menghabiskannya.
Ibu mertuaku sudah bersusah payah menyiapkannya. Kalau tidak dimakan, beliau pasti sedih.
Namun setelah mendengar ucapanku, entah kenapa suamiku malah salah paham.
Ia menopang dagunya sambil menatapku lekat-lekat.
— Kamu juga makan setengahnya. Biar adil.
Aku langsung menggeleng.
— Aku tidak suka makanan laut.
Tatapannya langsung berubah semakin dalam.
— Jadi kamu sengaja menyuruhku menghabiskan semuanya supaya tenagaku lebih banyak malam ini. Ternyata kamu semangat sekali. Aku suka itu.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya.
Sejak kecil aku memang sulit memahami ucapan yang memiliki makna tersembunyi. Jadi aku membiarkannya saja dan duduk di sampingnya sampai ia menghabiskan semua tiram itu.
Begitu melihat piringnya kosong, aku berdiri dengan puas.
— Aku akan mengembalikan piringnya.
Namun sebelum sempat berbalik, ia meraih pergelangan tanganku.
Dalam sekejap aku ditarik hingga duduk di pangkuannya. Napas hangatnya menyapu pipiku hingga aku refleks terkejut.
— Gadis kecil, malam ini sangat berharga. Jangan kita sia-siakan.
Aku buru-buru menahan tangannya yang mulai usil.
— Kamu mau mengerjaiku lagi? Aku tidak mau. Kalau orang lain tahu, mereka pasti menertawakanku.
Dengan tenang ia menjawab,
— Apa yang memalukan dari hubungan suami istri? Mereka justru akan senang karena kamu mendapatkan suami yang baik.
Aku menepuk pelan tangannya.
— Jangan bicara yang aneh-aneh.
Ia menyandarkan dagunya di bahuku, lalu suaranya mendadak melembut.
— Sayang, bantu aku sedikit, ya.
Ia terus membujukku.
Aku teringat pesan ibu mertua. Aku juga takut kalau dia marah lalu berubah pikiran untuk membantu keluargaku melunasi utang yang sangat besar.
Akhirnya, dengan terpaksa aku mengiyakan.
Namun aku sama sekali tidak menyangka malam itu akan berlangsung begitu lama dan sangat melelahkan.
Keesokan paginya, aku terduduk di atas ranjang sambil menangis sampai suaraku serak. Kakiku gemetar dan seluruh tubuhku hampir tidak memiliki tenaga.
Suamiku berdiri di sampingku dengan wajah panik, bahkan hampir berlutut di hadapanku.
— Katakan saja apa salahku. Aku akan berubah. Tolong jangan menangis seperti ini.
Aku mengusap air mata, lalu berkata sambil terisak,
— Aku ingin bercerai.
Senyumnya langsung menghilang.
Ia menatapku seolah baru saja disambar petir.
— Kamu bosan denganku sampai ingin meninggalkanku? Aku sudah menyelamatkan keluargamu dari semua masalah sebelum kita menikah. Aku tidak akan setuju!
Aku takut melihat wajahnya yang begitu serius, tetapi aku tetap bersikeras.
— Tadi malam kamu menyiksaku sampai pagi. Kakiku gemetar dan aku bahkan tidak bisa berjalan dengan benar. Aku tidak keberatan menikah dengan pria miskin, tapi aku tidak bisa hidup bersama pria yang tidak tahu batas!
Wajahnya langsung menggelap.
— Baik. Terus saja mengejekku. Jangan menyesal nanti.
Aku menarik selimut menutupi tubuhku lalu berkata dengan lantang,
— Aku tidak akan menyesal! Tragedi terbesar dalam hidup seorang wanita adalah menikah dengan pria yang kasar dan tidak tahu menahan diri. Keluarkan surat cerainya. Kita tanda tangani sekarang juga!
Ia menatapku dalam diam selama beberapa detik, lalu berbalik dan keluar dari kamar.
Kurang dari lima menit kemudian, ia kembali membawa selembar kertas dan sebuah pulpen, lalu meletakkannya di hadapanku.
Dengan wajah dingin, ia menunjuk setiap bagian formulir dan memintaku mengisinya.
Saat sampai pada kolom **alasan perceraian**, aku mengangkat pulpen sambil berkata,
— Tulis saja “tidak ada kecocokan antara suami dan istri.”
Ia langsung merebut pulpen dari tanganku.
— Tidak boleh menulis kebohongan.
Aku mendongak menatapnya.
— Kalau begitu, menurutmu harus ditulis apa?
Suamiku menarik kursi lalu duduk tepat di depanku. Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum berbahaya.
Kemudian ia membungkuk mendekat dan mengucapkan dengan perlahan kalimat yang ingin ia tulis sebagai **alasan perceraian kami**.
Begitu mendengarnya…
aku benar-benar membeku.

Kalau surat itu benar-benar diserahkan, bukan hanya petugas yang menerima dokumen itu yang akan mengetahui apa yang terjadi di antara kami semalam.
Kemungkinan besar…
kedua keluarga kami juga akan mengetahui semuanya.
“Tuliskan ini dengan jelas,” bisiknya, suaranya terdengar sangat tenang, namun penuh ancaman yang main-main.
Ia menunjuk kolom alasan perceraian, lalu mendiktekan kalimat itu dengan nada datar, seolah-olah ia sedang membacakan laporan keuangan perusahaan di depan para pemegang saham:
“Alasan Perceraian: Istri merasa keberatan karena suami terlalu perkasa, sehingga ia merasa tersiksa karena tidak diberikan waktu untuk beristirahat sepanjang malam meskipun sudah memohon ampun berkali-kali.”
Detik itu juga, napasku seakan berhenti.
Aku menatapnya dengan mulut ternganga, wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus. Jika aku menuliskan kalimat itu dan menyerahkannya ke kantor urusan hukum—atau lebih buruk lagi, ke tangan pengacara keluarga yang notabene adalah sahabat karib ayah mertuaku—bukan hanya reputasiku yang hancur, tapi seluruh kota akan tahu bahwa aku “tersiksa” karena suamiku terlalu aktif.
“Kenapa diam saja?” tanyanya dengan seringai tipis yang sangat menyebalkan. “Ayo, tulis. Bukankah kamu bilang ingin bercerai? Jangan tanggung-tanggung.”
Aku meletakkan pulpen itu dengan gemetar. Aku tidak sanggup menulisnya. Jangankan menyerahkannya, membayangkannya saja sudah membuatku ingin menghilang dari bumi.
Melihatku yang tidak berdaya, ia mengambil pulpen itu dari tanganku, lalu meletakkannya di atas nakas dengan bunyi klak yang pelan namun tegas. Ia kemudian mendekat, mengurungku di antara kedua lengannya yang kekar di atas ranjang.
“Ternyata kamu tidak benar-benar ingin bercerai, kan?” bisiknya tepat di depan bibirku. “Kamu hanya ingin mencari perhatian karena merasa aku tidak cukup memperhatikanmu.”
“Aku tidak…” protesku pelan, meski suaraku terdengar tidak yakin.
“Sayang,” potongnya lembut, namun tatapannya mengunci mataku dengan intensitas yang membuat lututku kembali lemas. “Jika kamu merasa aku terlalu ‘bersemangat’, kita bisa membuat kesepakatan baru. Kamu tidak perlu menulis alasan konyol itu, dan sebagai gantinya, aku akan belajar untuk… lebih sabar malam ini.”
Ia mengecup keningku singkat, lalu beranjak turun dari tempat tidur sambil mengambil formulir perceraian itu dan merobeknya menjadi dua bagian di depanku.
“Rumah ini, dan aku, tidak akan membiarkanmu pergi ke mana-mana,” ucapnya santai seolah baru saja membuang sampah, bukan merobek surat perjanjian seumur hidup.
Aku hanya bisa terduduk diam, ternganga melihat robekan kertas itu. Sejak kecil, aku memang tidak paham arti cinta. Tapi saat melihatnya membuang surat cerai itu dengan tatapan posesif yang tak terbantahkan, aku mulai curiga: mungkin inilah yang disebut orang-orang sebagai ‘perangkap’ yang paling manis sekaligus mematikan.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ingin melarikan diri lagi.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.