Aku Menyamar sebagai Pasien untuk Menguji Tunanganku yang Seorang Dokter—Namun Saat Mendengar Suara Gesper Ikat Pinggang Dilepas di Balik Tirai, Aku Sadar Aku Telah Mencintai Orang yang Salah**
Pacarku adalah seorang dokter spesialis kandungan.
Setiap hari, hampir semua pasien yang ia tangani adalah perempuan. Setiap kali membayangkan ia memeriksa mereka di dalam ruang praktik yang tertutup, aku tidak bisa menahan rasa cemburu dan cemas.
Yang membuatku semakin gelisah adalah karena ia selalu sibuk.
Dari satu jadwal jaga ke operasi berikutnya, hampir tak pernah ada waktu untukku. Ada hari-hari ketika aku mengirim pesan sejak pagi, tetapi ia baru membalas saat malam dengan kalimat yang sama:
*”Aku sedang sibuk.”*
Aku tahu pekerjaannya memang berat dan penuh tanggung jawab. Namun, semakin keras aku mencoba memahaminya, semakin aku merasa diabaikan.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mengujinya.
Diam-diam aku menghubungi seorang perawat yang bekerja di departemen yang sama dengannya. Kami baru beberapa kali bertemu, jadi ia sama sekali tidak tahu bahwa aku adalah pacar dokter itu.
Setelah memberinya **Rp850.000** sebagai tanda terima kasih, ia mengatur agar namaku masuk ke daftar pasien yang akan diperiksa oleh pacarku saat jadwal jaga.
Rencanaku sederhana.
Aku akan menyamar sebagai pasien asing, mengubah suaraku, lalu mengamati bagaimana ia memperlakukan pasien perempuan saat tidak ada orang lain yang melihat.
Hari itu, aku mengenakan pakaian longgar, masker, dan topi yang menutupi hampir seluruh wajahku.
Saat pacarku keluar untuk mengambil berkas medis, perawat itu segera membawaku masuk ke ruang pemeriksaan. Ia memintaku berbaring di ranjang pemeriksaan, lalu menutup tirai dengan rapat.
Jantungku berdegup sangat kencang.
Aku gugup, tetapi pada saat yang sama juga merasa bersalah.
Kalau ternyata ia benar-benar profesional, apa yang kulakukan ini akan menjadi penghinaan besar baginya.
Tetapi bagaimana jika ia memang melakukan sesuatu yang tidak pantas kepada pasien-pasiennya?
Aku bahkan tidak sanggup membayangkan jawabannya.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar langkah kaki yang sangat kukenal dari luar ruangan.
Pintu terbuka.
Pacarku masuk.
*”Apa keluhanmu?”*
Suaranya terdengar dingin dan tanpa emosi, sama seperti nada bicaranya saat membahas pekerjaan lewat telepon.
Aku memaksa mengubah dan melembutkan suaraku.
*”Bagian bawah saya… terasa agak gatal.”*
Sebelum sempat bersiap, ia sudah berjalan mendekati ranjang.
Detik berikutnya, aku merasakan celanaku diturunkan.
Gerakannya begitu cepat hingga aku refleks tersentak.
Aku menggigit bibir sekuat tenaga agar suara asliku tidak keluar.
Sebuah pertanyaan mengerikan tiba-tiba muncul di kepalaku.
Apakah ia juga bersikap secepat dan seterbiasa ini saat memeriksa perempuan lain?
Semakin kupikirkan, semakin gelisah aku dibuatnya.
Saat kurasakan ia mulai melakukan pemeriksaan, seluruh tubuhku menegang. Berkali-kali aku mengingatkan diri sendiri bahwa ini hanyalah pemeriksaan medis, tetapi kedua kakiku tetap gemetar karena gugup.
*”Jelaskan lebih jelas.”*
Dengan tenang ia bertanya,
*”Tepatnya bagian mana yang terasa gatal?”*
Aku menjawab dengan terbata-bata,
*”Di… di bagian…”*
Sebelum sempat menyelesaikan kalimatku, ia melanjutkan pemeriksaannya.
Aku terkejut hingga tanpa sadar menarik napas tajam, dan mataku langsung memerah.
Setengah karena rasa malu yang luar biasa.
Setengah lagi karena hatiku terasa begitu sakit.
Aku tak bisa berhenti membayangkan bahwa mungkin beginilah caranya menyentuh semua pasien perempuannya.
Yang lebih sulit kuterima adalah kemungkinan bahwa ia memanfaatkan pekerjaannya untuk melakukan hal-hal yang sudah melewati batas profesional.
*”Kenapa kamu tidak menjawab?”*
Nada suaranya tiba-tiba berubah lebih rendah.
*”Hm?”*
Aku menggigit bibir semakin kuat agar tidak menangis terisak.
Apakah ini masih bisa disebut pemeriksaan?
Mengapa justru terasa seperti ia lebih mirip pria mesum daripada seorang dokter?
Karena aku tetap tidak menjawab, akhirnya ia menghentikan pemeriksaannya.
Aku mengira akhirnya bisa bernapas lega.
Namun tiba-tiba terdengar suara yang asing memecah kesunyian ruangan.
**”Klik…”**
Tubuhku langsung membeku.
Aku sangat mengenali suara itu.
Suara gesper ikat pinggang yang sedang dilepas.
Sesudahnya terdengar bunyi gesekan kain pakaian.
Darahku seakan membeku di seluruh tubuh.
Pada saat itu, bahkan orang yang paling polos pun akan mengerti apa yang tampaknya hendak ia lakukan.
Jadi semua kecurigaanku selama ini benar.
Pria yang kupercaya, pria yang selalu berkata bahwa ia sibuk menyelamatkan pasien, ternyata sanggup melakukan hal seperti itu di dalam ruang pemeriksaan.
Air mataku langsung mengalir deras.

Aku berbaring di balik tirai sambil mencengkeram seprai dengan kedua tangan. Dadaku terasa begitu sesak hingga aku hampir tidak bisa bernapas.
Sekali lagi aku mendengar bunyi gesper ikat pinggang di dekatku.
Langkah kakinya semakin mendekat.
Tirai pembatas ranjang tiba-tiba tersibak dengan kasar.
Aku langsung memejamkan mata erat-erat, bersiap menghadapi kenyataan paling menjijikkan yang akan menghancurkan seluruh sisa hidupku. Air mata terus mengalir di balik masker yang kukenakan.
Namun, alih-alih sentuhan lancang atau tindakan asusila yang sudah kutakuti, sebuah jaket tebal tiba-tiba dilemparkan ke atas tubuhku, menutupi bagian bawahku yang terekspos.
“Pakai jaket saya dan rapikan pakaianmu,” suara pacarku terdengar, bukan lagi dingin, melainkan sarat akan kemarahan yang tertahan.
Aku membuka mata dengan terkejut. Melalui pandangan yang kabur oleh air mata, aku melihatnya berdiri di samping ranjang. Dia tidak sedang menanggalkan pakaiannya. Ikat pinggangnya memang sudah lepas dari gespernya, tetapi itu karena dia baru saja melepas sabuk kulit itu seluruhnya dari celananya. Di tangan kanannya, dia memegang ikat pinggang tersebut yang dililitkan ke telapak tangannya sendiri, sementara tangan kirinya mencengkeram erat ponselnya yang menyala.
Di layar ponselnya, ada rekaman CCTV live dari koridor depan ruangan praktik.
“Kamu pikir saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di ruangan ini?” katanya dengan nada suara yang bergetar menahan amarah, matanya menatapku tajam dari balik kacamata. “Sejak awal melangkah ke meja administrasi, gerak-gerikmu sudah mencurigakan. Dan perawat yang membawamu masuk? Dia baru saja menerima mutasi karena pelanggaran kode etik, dan hari ini dia sengaja menerima uang darimu untuk menjebak saya.”
Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Aku terpaku, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Dia sengaja menyembunyikan kamera di sudut ruangan ini sebelum kamu masuk,” lanjutnya, menunjuk ke arah pot bunga kecil di atas lemari medis. “Dan kamu… kamu bersedia menjadi umpan dalam rencana kotor ini hanya untuk memuaskan rasa cemburumu?”
Dia melangkah maju, lalu dengan satu gerakan cepat, dia menarik masker dan topi yang menutupi wajahku. Begitu wajah asliku terekspos, matanya yang semula penuh amarah mendadak berubah menjadi syok yang luar biasa.
“Rara…?” bisiknya. Suaranya mendadak parau. Ikat pinggang di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi dentangan keras. “Jadi… pasien misterius yang menyuap perawat saya… itu kamu?”
Keheningan yang menyakitkan kembali menguasai ruangan. Dia melangkah mundur dua kali, menatapku seolah-olah aku adalah orang asing yang paling mengerikan yang pernah ia temui.
“Saya melepas ikat pinggang ini karena saya tahu ada kamera tersembunyi. Saya sengaja membuat suara itu untuk memancing siapa pun yang sedang menonton di luar agar segera masuk dan menghentikan ‘skandal’ buatan ini,” ujarnya dengan senyum getir yang menyayat hati. “Saya sedang menjebak balik orang yang ingin menghancurkan karier saya. Tapi saya tidak pernah menyangka… bahwa dalang di balik semua ini adalah tunangan saya sendiri.”
“Aku… aku bisa jelaskan…” suaraku tercekat, tangisku pecah seketika. Aku mencoba meraih tangannya, tetapi dia dengan cepat menarik tangannya menjauh.
“Jelaskan apa? Bahwa kamu tidak pernah percaya pada saya? Bahwa setiap menit yang saya habiskan di ruang operasi untuk menyelamatkan nyawa orang, di otakmu hanya ada pikiran kotor tentang saya dan pasien-pasien saya?”
Air mata yang tertahan di matanya kini mulai mengalir. Pria yang selalu tampak tegap dan tak tersentuh ini tampak begitu rapuh di hadapanku.
“Kamu bilang kamu mencintai saya, Ra. Tapi cinta macam apa yang tega menghancurkan reputasi dan profesi orang yang kamu sayangi hanya karena rasa insecure-mu?” Dia memungut ikat pinggangnya di lantai, lalu berbalik memunggungiku.
“Keluar,” katanya, suaranya terdengar sangat datar dan dingin—jauh lebih dingin dari saat dia pertama kali masuk ke ruangan ini. “Pernikahan kita batal. Mulai hari ini, carilah pria yang punya banyak waktu luang untuk meyakinkanmu setiap detik bahwa dia tidak sedang berselingkuh.”
Aku duduk di ranjang pemeriksaan dengan tubuh bergetar hebat, memeluk jaketnya yang masih menyisakan aroma parfum yang sangat kukenal. Di dalam ruang praktik yang tertutup ini, aku menyadari satu hal yang terlambat: aku memang telah mencintai orang yang salah. Bukan karena dia pria yang buruk, melainkan karena akulah orang yang salah, yang dengan tanganku sendiri telah menghancurkan hati pria terbaik yang pernah memilikiku.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.