Posted in

[BAGIAN 1] AKU DINIKAHKAN DENGAN SEORANG BOS BESAR UNTUK MELUNASI UTANG RATUSAN MILIAR RUPIAH KELUARGAKU—NAMUN HANYA SATU HAL YANG KULAKUKAN PADA MALAM PERTAMA KAMI MEMBUATNYA LANGSUNG MEMBISU**

[BAGIAN 1] AKU DINIKAHKAN DENGAN SEORANG BOS BESAR UNTUK MELUNASI UTANG RATUSAN MILIAR RUPIAH KELUARGAKU—NAMUN HANYA SATU HAL YANG KULAKUKAN PADA MALAM PERTAMA KAMI MEMBUATNYA LANGSUNG MEMBISU**

Sejak lahir, aku hampir tidak memiliki kemampuan untuk merasakan emosi yang kuat. Aku tidak terlalu dekat dengan keluargaku, apalagi memahami seperti apa cinta antara seorang pria dan wanita.

Saat usiaku menginjak dua puluh tahun, usaha keluargaku tiba-tiba bangkrut. Orang tuaku terlilit utang hingga **ratusan miliar rupiah**, bahkan sekelompok orang berbahaya datang ke rumah untuk mengancam kami.

Agar seluruh keluarga tetap selamat, hanya ada satu jalan yang tersisa.

Salah satu putri keluarga harus dinikahkan dengan pria yang memimpin sebuah keluarga paling berkuasa.

Orang tuaku menggenggam tanganku dengan mata yang dipenuhi air mata.

“Kamu memang bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Gantikan adikmu dan masuklah ke keluarga pria itu. Kalau kamu menjadi istrinya, dia pasti akan melindungi keluarga kita.”

Cara berpikirku saat itu sangat sederhana.

Bagaimanapun juga, aku hanya akan menjalani hidup di rumah lain bersama seorang pria asing.

Jadi aku langsung mengangguk.

Pernikahan kami berlangsung sangat cepat. Aku bahkan belum sempat mengingat wajah para tamu ketika aku sudah dibawa ke sebuah kamar yang sangat besar untuk malam pertama kami sebagai suami istri.

Malam itu…

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Seorang pria berbaju gelap masuk.

Tubuhnya tinggi, tatapannya dingin, dan auranya cukup untuk membuat siapa pun merasa gentar.

Dialah pria yang dipanggil semua orang dengan sebutan…

**”Bos.”**

Ia berdiri di hadapanku dan bertanya dengan nada dingin,

“Berapa usiamu?”

“Dua puluh tahun.”

“Pernah mencintai seseorang?”

“Belum pernah.”

Sorot matanya sedikit melunak, seolah puas mendengar jawabanku.

Ia memberi isyarat dengan tangannya.

“Kemari.”

Aku pun menurut dan melangkah mendekat.

Ia mengangkat daguku dengan jemarinya, lalu berkata dengan suara penuh wibawa,

“Mulai sekarang kamu adalah istriku. Kamu harus mematuhi semua perkataanku. Mengerti?”

Aku mengangguk dengan sungguh-sungguh.

“Ya, Bos.”

Ia menatap wajahku yang polos dan lugu.

Setelah beberapa saat terdiam, ia memberikan sebuah perintah yang sangat aneh.

Aku hanya menatapnya dengan bingung.

“Saya tidak mengerti.”

Kesabarannya mulai habis. Dengan nada dingin ia menjelaskan,

“Lakukan saja seperti sedang makan es krim.”

Begitu mendengar kata **”es krim”**, mataku langsung berbinar.

“Bos, tunggu sebentar!”

Aku segera berbalik dan berlari keluar dari kamar.

Pria itu tetap berdiri di tempatnya, mungkin mengira aku sudah memahami maksudnya dan sedang bersiap melakukan apa yang ia inginkan.

Beberapa menit kemudian…

Aku berlari kembali ke dalam kamar.

Kedua tanganku kusembunyikan di belakang punggung, sementara wajahku dipenuhi ekspresi antusias.

“Bos, saya sudah siap!”

Salah satu alisnya terangkat.

“Apa yang kamu bawa?”

Dengan gembira aku mengulurkan kedua tanganku ke depan.

Saat ia melihat benda yang kugenggam…

Wajah dinginnya langsung membeku.

Karena benda yang kubawa adalah…

dua buah es krim cone rasa cokelat dan vanila yang hampir meleleh, lengkap dengan sendok plastik kecil di sela-sela jariku.

“Saya tadi lihat ada kulkas besar di dapur bawah,” kataku dengan napas sedikit terengah-engah, wajahku murni menunjukkan rasa senang tanpa dosa. “Kata Bos lakukan seperti sedang makan es krim, kan? Tapi kalau tidak ada es krimnya langsung, saya bingung bayanginnya. Jadi saya ambil ini. Bos mau rasa yang mana? Saya rekomendasiin yang cokelat, rasanya lebih kuat!”

Bos besar yang ditakuti ratusan orang di luar sana itu terpaku. Tangannya yang tadinya masih menggantung di udara setelah berniat menyentuhku, perlahan turun. Matanya beralih dari es krim di tanganku, ke wajahku yang menatapnya penuh harap, lalu kembali ke es krim lagi.

Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti kamar megah itu. Keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman keras.

Pria itu membisu. Benar-benar bungkam.

Ekspresi dingin dan berwibawa yang digunakannya untuk mengintimidasi musuh-musuh bisnisnya runtuh seketika, digantikan oleh kilasan rasa syok, tidak percaya, dan… sedikit frustrasi yang tertahan.

“Kamu…” suaranya tertahan di tenggorokan. Dia menatapku seolah-olah aku adalah makhluk asing dari planet lain yang baru pertama kali dia lihat seumur hidupnya. “Kamu benar-benar tidak paham maksud saya?”

Aku mengerjapkan mata, menyodorkan cone rasa cokelat lebih dekat ke arahnya. “Paham, Bos. Makan es krim. Ini es krimnya. Kalau kelamaan nanti meleleh ke lantai kamar Bos yang bagus ini.”

Dia memijat pelipisnya, menghela napas panjang yang terdengar sangat berat—seolah baru saja menyadari bahwa pernikahan politik bernilai ratusan miliar ini tidak akan berjalan sesuai dengan skenario “tuan tanah kejam dan istri penurut” yang ada di kepalanya.

“Taruh es krimnya di meja,” perintahnya akhirnya, suaranya terdengar jauh lebih rendah, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena lelah mental.

“Bos tidak mau?” tanyaku, agak kecewa karena emosiku yang datar ini jarang sekali merasa antusias pada sesuatu selain makanan manis.

“Taruh. Di. Meja.” Dia mengulangi dengan penekanan di setiap kata.

Aku pun menurut, meletakkan kedua es krim itu di atas meja marmer di sudut kamar. Ketika aku berbalik, aku melihat Bos besar itu duduk di tepi ranjang king-size miliknya, melonggarkan dasi hitamnya dengan kasar, dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kemari,” panggilnya lagi.

Aku berjalan mendekat dan berdiri di depannya.

“Kamu benar-benar berusia dua puluh tahun? Bukan sepuluh tahun?” tanyanya menyelidik.

“Dua puluh tahun, Bos. Di KTP saya begitu.”

Dia menatap lekat-lekat mataku. Di sana, dia tidak menemukan ketakutan, tidak ada gairah, tidak ada kelicikan, juga tidak ada kepura-puraan. Hanya ada kekosongan yang polos dan jujur. Detik itu, dia menyadari bahwa wanita yang dinikahinya untuk melunasi utang ratusan miliar ini bukan sekadar gadis lugu biasa, melainkan seseorang yang dunianya berputar dengan cara yang sangat berbeda.

Perlahan, sudut bibir pria yang terkenal kejam itu berkedut kecil, membentuk senyuman tipis yang hampir tak terlihat. Sebuah tawa hambar keluar dari mulutnya.

“Ratusan miliar untuk menyelamatkan keluargamu…” gumamnya pada diri sendiri, lalu menatapku kembali. “Dan malam pertama kita dihancurkan oleh dua buah es krim murah.”

Dia merebahkan tubuhnya di ranjang, lalu menarik selimut hingga sebatas dada.

“Matikan lampunya. Tidur di sisi sebelah sana. Jangan sentuh saya, dan jangan bahas soal es krim lagi sampai besok pagi.”

“Baik, Bos. Selamat malam.”

Aku mematikan saklar lampu, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu tidur, lalu berbaring di sisi ranjang yang jauh darinya. Malam pertama yang ditakuti oleh adikku dan ditangisi oleh orang tuaku, berlalu begitu saja dalam keheningan yang tenang.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari di rumah megah ini. Tapi satu hal yang pasti: malam ini, aku berhasil membuat seorang Bos besar yang paling ditakuti di kota ini, mati kutu hanya dengan modal dua cone es krim.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.