Posted in

DIA SELALU BILANG DIA HANYA SEORANG PEKERJA KONSTRUKSI DENGAN UPAH RP195.000 PER HARI… HINGGA SUATU HARI AKU DATANG UNTUK MEMINJAM UANG DEMI MEMBELI SUSU ANAK KAMI, DAN AKU MELIHATNYA MENYERAHKAN SEGEPOK UANG TEBAL KEPADA SEORANG WANITA HAMIL.**

DIA SELALU BILANG DIA HANYA SEORANG PEKERJA KONSTRUKSI DENGAN UPAH RP195.000 PER HARI… HINGGA SUATU HARI AKU DATANG UNTUK MEMINJAM UANG DEMI MEMBELI SUSU ANAK KAMI, DAN AKU MELIHATNYA MENYERAHKAN SEGEPOK UANG TEBAL KEPADA SEORANG WANITA HAMIL.**

BAGIAN 1

Sampai sekarang…

Aku masih tidak bisa melupakan apa yang dikatakan suamiku saat anak bungsu kami lahir.

Sambil tersenyum bangga menatap bayi itu, dia berkata,

“Akhirnya… akan ada yang mewarisi semua yang kita miliki.”

Aku hanya tersenyum pahit.

“Mewarisi?”

“Bahkan tagihan listrik saja kita belum mampu membayarnya.”

Dia langsung terdiam.

Lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan.

Saat itu…

Aku benar-benar percaya bahwa suamiku memang hidup pas-pasan.

Selama delapan tahun pernikahan kami…

Tak pernah sekalipun aku meragukan semua perkataannya.

Di desa kecil kami, di pinggiran **Davao City**…

Marco dikenal sebagai pekerja konstruksi yang sederhana.

Setiap hari dia bekerja di bawah terik matahari.

Menurutnya…

Penghasilannya hanya sekitar **Rp195.000** per hari.

Kadang-kadang bahkan…

Dia harus menunggu berminggu-minggu sebelum menerima upahnya.

Sementara aku…

Hanya berada di rumah.

Mengurus ketiga anak kami.

Malam hari aku menerima jahitan.

Pagi hari aku berjualan makanan kecil di depan rumah.

Namun sekeras apa pun aku berusaha…

Tetap saja tidak cukup.

Anak sulung kami terus memakai seragam sekolah lamanya.

Anak kedua terpaksa berhenti mengikuti kelas seni karena kami sudah tidak mampu membayar.

Dan si bungsu…

Bahkan susu formulanya…

Harus kubeli dengan cara berutang di warung.

Hari itu…

Kaleng susu terakhir sudah habis.

Aku menggenggam kaleng kosong itu sambil berjalan menuju lokasi proyek tempat Marco katanya bekerja.

Yang kupikirkan hanya satu…

Kami harus duduk bersama dan mencari jalan keluar.

Namun…

Saat tiba di belakang proyek…

Duniaku seakan berhenti berputar.

Aku melihat Marco.

Dia tidak mengenakan pakaian kerja.

Tidak sedang mengangkat semen ataupun besi.

Dia berdiri di samping sebuah SUV hitam.

Di depannya…

Berdiri seorang wanita muda yang jelas sedang hamil.

Marco memasukkan tangannya ke dalam saku.

Lalu mengeluarkan segumpal uang tunai yang sangat tebal.

Tanpa ragu…

Dia menyerahkannya kepada wanita itu.

Wanita tersebut tersenyum.

Lalu bercanda,

“Bagaimana kalau istrimu tahu soal ini?”

Marco mengisap rokoknya pelan.

Lalu menjawab dengan santai,

“Dia tidak akan pernah tahu.”

“Dia terlalu mudah percaya.”

“Apa pun yang kukatakan… dia selalu mempercayainya.”

Dia berhenti sejenak.

Kemudian tersenyum tipis.

“Lagi pula…”

“Dia sudah melahirkan tiga anak untukku.”

“Mau ke mana lagi dia?”

Rasanya seperti disiram air es.

Aku sulit bernapas.

Kaleng susu kosong di tanganku kugenggam semakin erat.

Namun aku tidak keluar.

Aku hanya berdiri diam di balik bayangan.

Mengamati Marco membukakan pintu mobil untuk wanita itu.

Bahkan dia dengan hati-hati menopang pinggang wanita tersebut saat naik ke dalam mobil.

Dan ketika wanita itu mengangkat tangannya…

Sebuah gelang emas mewah berkilau diterpa sinar matahari.

Aku langsung mengenalinya.

Baru seminggu yang lalu…

Aku berdiri lama menatap gelang itu dari balik etalase pusat perbelanjaan.

Aku bahkan tidak berani masuk ke toko perhiasan.

Karena aku tahu…

Kami tidak akan pernah mampu membelinya.

Tetapi ternyata…

Marco sangat mampu membelinya.

Aku pulang tanpa sepatah kata pun.

Setiap langkah menuju rumah…

Terasa begitu berat.

Begitu membuka pintu…

Anak sulung kami langsung berlari menghampiri.

“Ibu…”

“Apa Ibu sudah membeli susu adik?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku memaksakan senyum.

“Sudah.”

Namun saat dia membuka tas yang kubawa…

Tidak ada susu di dalamnya.

Yang ada…

Hanya selembar kuitansi utang yang baru.

Anak kedua kami ikut mendekat.

Diam-diam dia membaca kertas itu.

Usianya baru tujuh tahun…

Tetapi dia sudah mengerti arti kata “utang.”

Dengan suara lirih dia bertanya,

“Ibu…”

“Utang kita bertambah lagi ya?”

Aku memeluk mereka berdua.

Aku sendiri tidak tahu…

Apakah aku sedang menenangkan mereka…

Atau justru diriku sendiri.

Sekitar setengah jam kemudian…

Marco pulang.

Baru saja masuk ke rumah…

Dia menendang sepatunya ke sudut ruangan.

Lalu memandang bubur di atas meja dengan wajah kesal.

“Bubur lagi?”

Kalau dulu…

Aku pasti buru-buru menjelaskan.

Aku akan berkata bahwa harga daging terlalu mahal.

Bahwa sisa uang kami kusimpan untuk kebutuhan anak-anak.

Namun malam ini…

Tidak lagi.

Aku hanya menatapnya lurus.

Lalu berkata dengan dingin,

“Kita tidak punya uang.”

Dia langsung kesal.

“Bukannya sudah kubilang proyek belum membayar kami?”

“Kau pikir hidupku di luar sana mudah?”

Saat dia berbicara…

Tanpa sadar lengan bajunya tersingkap.

Dan di sanalah aku melihatnya.

Sebuah jam tangan baru yang sangat mewah.

Jam tangan yang persis kulihat beberapa hari lalu di pusat perbelanjaan.

Harganya…

Setara dengan hampir **setahun persediaan susu** untuk anak bungsu kami.

Aku tidak mengalihkan pandangan darinya.

Lalu perlahan aku bertanya,

“Marco… dari mana kau mendapatkan jam tangan itu?”

BAGIAN 2 (ENDING)

Mendengar pertanyaanku, gerakan Marco mendadak kaku. Dia buru-buru menarik lengan kemejanya ke bawah, menyembunyikan jam tangan mewah itu dengan rapi. Wajah kesalnya berganti menjadi tawa renyah yang dipaksakan.

“Ah, ini? Ini cuma jam tangan KW, tiruan murah yang kubeli dari teman sesama kuli,” katanya sambil mengibaskan tangan, kembali memasang wajah lelah yang biasa dia tunjukkan selama delapan tahun ini. “Jangan cerewet, Maria. Aku ini lelah baru pulang kerja.”

Aku menatapnya, merasakan kekosongan yang teramat sangat di dalam dadaku. Dulu, kebohongan seperti ini akan dengan mudah kutelan. Namun malam ini, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti racun.

“Oh, begitu,” jawabku pelan, hampir berupa bisikan. “Kulihat jam tangan tiruan itu sangat pas di pergelangan tanganmu. Sama pasnya dengan gelang emas yang melingkar di tangan wanita hamil di dekat SUV hitam tadi sore.”

Seketika, seluruh warna darah seolah menyusut dari wajah Marco. Matanya membelalak, rokok yang baru hendak disulutnya terlepas dari jemarinya.

“M-Maria… kau…”

“Aku melihatmu, Marco,” kataku, suaraku sangat tenang, bahkan tanpa air mata. “Aku melihat segepok uang tebal yang kau serahkan padanya. Aku mendengar saat kau bilang aku terlalu mudah percaya dan tidak akan bisa pergi ke mana-mana karena sudah melahirkan tiga anak untukmu.”

Kedok yang Terbuka

Melihat rahasianya terbongkar, Marco tidak bersujud memohon ampun seperti yang biasa dilakukan pria bersalah. Perlahan, kepasrahan di wajahnya menghilang, digantikan oleh senyuman sinis yang dingin. Dia menegakkan tubuhnya, menatap rumah petak kami yang sempit dengan pandangan jijik.

“Jadi kau sudah tahu?” Marco terkekeh, lalu duduk di kursi plastik satu-satunya di ruang tamu kami. “Baguslah kalau begitu. Aku juga sudah bosan berpura-pura menjadi kuli miskin di depanmu.”

Dia mengeluarkan sebuah dompet kulit asli—bukan dompet usang yang biasa dia tunjukkan padaku—dan melempar selembar kartu nama ke atas meja makan. Di sana tertulis namanya: Marco Alcantara, Direktur Utama Alcantara Construction & Developer Corp. Salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Davao City.

“Delapan tahun lalu, ayahku memintaku mencari istri yang tulus, bukan wanita kota yang hanya mengincar harta Alcantara,” kata Marco tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Makanya aku menyamar menjadi kuli di desamu, dan kau lulus ujian itu, Maria. Kau adalah istri yang penurut.”

“Lalu wanita hamil itu?” tanyaku, mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku-kukuku memutih.

“Dia adalah kekasihku di kota. Dia berpendidikan, cantik, dan sekarang sedang mengandung anak yang akan menjadi penerus bisnis utamaku,” jawabnya santai, seolah sedang membicarakan cuaca. “Kau dan anak-anak di sini akan tetap mendapatkan rumah ini dan uang jajan bulanan yang cukup. Tapi jangan harap kau bisa menyentuh aset Alcantara yang sebenarnya. Seperti yang kubilang, kau sudah punya tiga anak, kau tidak punya pendidikan, tidak punya modal. Kau mau pergi ke mana jika menceraikanku?”

Dia tersenyum meremehkan, yakin betul bahwa kemiskinan telah memotong sayapku untuk terbang melarikan diri.

Rencana yang Sunyi

Malam itu, aku tidak membuat keributan. Aku membiarkan Marco tidur di kamar utama, sementara aku memeluk ketiga anakku di atas tikar ruang tamu. Kata-katanya yang merendahkan terus terngiang di kepalaku. Kau tidak punya pendidikan, kau tidak punya modal.

Dia lupa satu hal. Sebelum aku merelakan mimpiku demi menikah dengannya delapan tahun lalu, aku adalah lulusan terbaik sarjana akuntansi di kota, yang terpaksa berhenti meniti karier karena dia memintaku menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

Keesokan harinya, saat Marco pergi ke “proyek” dengan pakaian kulinya, aku bergerak cepat. Aku mendatangi kantor pusat Alcantara Construction di pusat kota Davao, bukan sebagai seorang istri yang mengamuk, melainkan sebagai seorang profesional. Selama delapan tahun, Marco sering membawakan berkas “milik mandornya” ke rumah dan memintaku membantu merapikan pembukuannya karena dia “tidak paham angka”.

Ternyata, itu semua adalah laporan keuangan asli perusahaannya. Dan karena aku yang mengerjakannya, aku tahu persis di mana letak celah penggelapan pajak dan pencucian uang yang dilakukan Marco untuk menyembunyikan aset pribadinya dari audit keluarga besarnya.

Aku menyerahkan seluruh salinan dokumen yang diam-diam telah kufotokopi selama bertahun-tahun kepada seorang pengacara handal yang merupakan teman kuliahku dulu, sekaligus mengirimkan bukti-bukti tersebut ke otoritas pajak setempat.

Pesta yang Hancur

Satu bulan kemudian.

Marco mengadakan pesta mewah di sebuah hotel bintang lima di Davao untuk merayakan tujuh bulan kehamilan kekasih pribadinya, sekaligus mengumumkan wanita itu sebagai calon istri barunya setelah dia berencana mendepakku dengan tunjangan minimal.

Seluruh keluarga besar Alcantara hadir, berpakaian megah, bergelimang kemewahan yang selama delapan tahun ini disembunyikan Marco dari anak-anak kandungnya sendiri.

Di tengah-tengah acara, pintu aula ballroom terbuka lebar.

Aku melangkah masuk. Tidak lagi mengenakan daster lusuh yang dipenuhi noda jahitan, melainkan gaun hitam formal yang elegan. Di belakangku, tidak hanya ada pengacara, tetapi juga empat petugas dari Biro Pendapatan Internal (BIR) dan kepolisian setempat.

“Maria?! Apa-apaan kau datang ke sini?! Siapa yang mengizinkan wanita kampung ini masuk?!” teriak Marco, panik melihat kehadiranku di depan relasi bisnisnya. Kekasih hamilnya langsung memegangi lengan Marco dengan wajah ketakutan.

Aku berjalan mendekati panggung utama, lalu meletakkan selembar surat keputusan pengadilan tepat di depan wajahnya.

“Sore, Pak Direktur,” kataku dengan nada tenang namun berwibawa. “Saya datang untuk menyerahkan surat sita jaminan atas seluruh aset Alcantara Construction atas dugaan penggelapan pajak berat dan manipulasi laporan keuangan selama lima tahun terakhir.”

Wajah Marco langsung pucat pasi. “Kau… kau menjebakku?!”

“Bukan menjebak, Marco. Aku hanya merapikan pembukuan yang selama ini kau percayakan kepadaku,” jawabku sambil tersenyum tipis. “Oh, dan satu lagi. Ini surat gugatan cerai atas dasar perzinaan dan penipuan struktural. Aku menuntut hak asuh penuh atas ketiga anak kita, beserta 70% aset yang berhasil kuselamatkan atas nama anak-anak sebelum negara menyita sisanya karena ulahmu.”

Petugas kepolisian maju dan langsung memborgol kedua tangan Marco di depan seluruh tamu undangannya. Kekasihnya menjerit histeris saat melihat gelang emas mewah di tangannya ikut ditarik oleh petugas sebagai barang bukti pencucian uang.

Marco menatapku dengan mata yang memerah penuh amarah dan ketakutan. “Maria! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku yang memberimu makan selama ini!”

Aku maju satu langkah, menatapnya lurus-lurus untuk terakhir kali.

“Kau bilang aku terlalu mudah percaya, Marco. Tapi kau lupa, orang yang paling mudah dibohongi adalah orang yang mengira semua orang bisa dibohongi olehnya. Kau membiarkan anak-anakmu kelaparan demi kemewahan semu ini. Sekarang, nikmati upahmu yang sebenarnya di balik jeruji besi.”

Aku berbalik dan berjalan keluar dari ballroom mewah itu dengan kepala tegak. Di luar hotel, sebuah mobil sewaan telah menunggu. Di dalam sana, ketiga anakku tersenyum cerah mengenakan baju baru yang layak. Di pangkuan anak sulungku, ada dua kaleng besar susu formula terbaik yang kubeli tunai tanpa utang.

Marco benar tentang satu hal malam itu: Akan ada yang mewarisi semua yang kita miliki. Namun yang diwarisi anak-anakku bukanlah harta penuh kebohongan miliknya, melainkan keberanian dan harga diri ibunya yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang sekecil apa pun.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.