Aku mengadopsi seorang gadis kecil yatim piatu. Pada malam pertamanya di rumahku, dia memanggilku dengan nama panggilan yang dulu hanya diucapkan oleh mendiang suamiku.
“Ayun…”
Sendok yang sedang kupegang jatuh ke lantai.
Aku menoleh perlahan.
Gadis kecil berusia enam tahun itu berdiri di ambang pintu kamar tamu sambil memeluk boneka kelinci lusuh yang kubelikan siang tadi.
Matanya masih sembab.
Hari itu adalah hari pertama Lila tinggal bersamaku setelah proses adopsinya selesai.
Aku memaksakan senyum.
“Kamu panggil apa tadi?”
Dia mengerjapkan mata.
“Ayun.”
Dadaku seperti diremas.
Nama itu…
Tidak pernah ada yang tahu.
Almarhum suamiku, Damar, satu-satunya orang yang memanggilku begitu.
Bukan Ayu.
Bukan Sayang.
Ayun.
Katanya, nama itu terdengar lebih hangat.
Sejak Damar meninggal karena kecelakaan lima tahun lalu, nama itu ikut menghilang.
Tak pernah kuucapkan kepada siapa pun.
Aku berjongkok di depan Lila.
“Siapa yang mengajarimu memanggil Bibi seperti itu?”
Dia menggeleng.
“Nggak ada.”
“Terus?”
“Aku cuma merasa itu nama Bibi.”
Aku tersenyum tipis, meski bulu kudukku meremang.
“Mungkin kamu salah dengar.”
Lila tidak membantah.
Dia hanya memeluk bonekanya lebih erat.
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur.
Bukan karena takut.
Lebih karena bingung.
Aku selalu percaya ada penjelasan untuk segala sesuatu.
Mungkin kebetulan.
Mungkin imajinasi anak kecil.
Aku mencoba melupakannya.
Namun keesokan paginya, saat aku membuat teh, Lila kembali berkata,
“Ayun, jangan lupa gulanya cuma satu sendok.”
Tanganku berhenti.
Damar selalu mengatakan kalimat itu.
Karena aku punya kebiasaan menuang gula terlalu banyak.
Aku menoleh.
“Lila…”
“Iya?”
“Siapa yang bilang begitu?”

Dia berpikir sebentar.
“Aku juga nggak tahu.”
Hari itu aku memutuskan menghubungi Bu Rina, pengasuh panti tempat Lila tinggal.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadaku saat menempelkan ponsel ke telinga. Suara Bu Rina terdengar ramah di seberang sana, namun jawabannya justru membuat teka-teki ini semakin pekat.
“Lila anak yang sangat tenang, Bu Ayu. Tapi sejak dia masuk panti asuhan lima tahun lalu—tepat setelah dia ditemukan selamat dari sebuah kecelakaan mobil yang merenggut kedua orang tua kandungnya—dia sering mengigau. Kami pikir itu trauma.”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Lima tahun lalu. Kecelakaan mobil.
“Bu Rina…” suaraku bergetar. “Apakah Ibu tahu tanggal pasti kecelakaan itu?”
Ketika Bu Rina menyebutkan sebuah tanggal di bulan November lima tahun lalu, ponsel hampir saja terlepas dari genggamanku. Itu adalah hari yang sama, bahkan jam yang hampir sama, saat Damar mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit akibat kecelakaan beruntun di jalan tol.
Aku menutup telepon dengan tangan gemetar. Pikiranku berputar hebat. Apakah ini reinkarnasi? Ataukah ada seikat benang tak kasatmata yang ditinggalkan Damar di dunia ini dan entah bagaimana terikat pada jiwa anak ini?
Aku berbalik dan melihat Lila sedang duduk di karpet ruang tamu. Dia tidak sedang bermain, melainkan menatap lurus ke arah bingkai foto pernikahan di atas bufet—foto yang sengaja kuletakkan agak tersembunyi.
Aku berjalan mendekat, lalu duduk berlutut di sampingnya. Lila menoleh, matanya yang bulat menatapku dengan binar yang teramat akrab.
“Lila,” bisikku, tenggorokanku mendadak tercekat. “Kamu… tahu siapa laki-laki di foto itu?”
Lila menjulurkan tangan kecilnya, menyentuh pipiku lembut. Sentuhan yang anehnya mengirimkan rasa hangat yang luar biasa ke hatiku, rasa hangat yang sudah lima tahun ini hilang.
Dia tersenyum tipis, senyuman yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.
“Dia bilang, dia harus pergi duluan waktu itu,” ucap Lila lirih, suaranya pelan namun terdengar begitu mantap. “Tapi dia janji akan kembali untuk menjaga Ayun. Dia bilang… dia pinjam tubuh anak kecil ini supaya bisa memeluk Ayun lagi.”
Air mataku runtuh seketika. Aku tidak peduli lagi pada logika. Aku tidak peduli apakah ini sebuah keajaiban yang mustahil, misteri alam semesta, atau sekadar cara otakku yang rindu memproses trauma. Yang kutahu, rasa hampa di dadaku mendadak lenyap, tergantikan oleh kehangatan yang utuh.
Aku mendekap Lila erat-erat ke dalam pelukanku. Aroma tubuh anak-anaknya bercampur dengan rasa rindu yang membuncah. Lila membalas pelukanku, menepuk-nepuk punggungku perlahan dengan tangan mungilnya—persis seperti yang selalu Damar lakukan setiap kali aku menangis.
“Terima kasih sudah kembali,” bisikku di sela tangis, entah kutujukan pada Lila, atau pada jiwa di dalam dirinya.
Di luar, hujan bulan Juli mulai turun dengan lembut. Di dalam rumah yang semula sepi ini, aku tahu bahwa aku tidak akan pernah merasa sendirian lagi. Rumah ini kembali hidup, dan cintaku, entah bagaimana caranya, telah pulang.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.