DIA MENYELAMATKAN SELINGKUHANNYA DAN MENANGKIS TUSUKAN UNTUKNYA… LALU BERHARAP AKU YANG MEMASAK, MEMBERSIHKAN, DAN MERAWATNYA? MAAF, TAPI MALAM ITU JUGA AKU MEMESAN TIKET PENERBANGAN KE PARIS
Suamiku, **Dr. Ethan Ramirez**, adalah salah satu dokter bedah paling terkenal di seluruh Jakarta.
Malam itu, demi melindungi wanita selingkuhannya, **Bianca Flores**, tanpa ragu dia menghadang sebuah tusukan yang seharusnya mengarah kepada wanita itu.
Dalam sekejap, sayap gawat darurat di rumah sakit dipenuhi teriakan.
Darah mengalir deras dari jas dokter putih yang dikenakannya, menetes ke lantai keramik dan meninggalkan jejak merah panjang di lantai rumah sakit yang dingin.
Bianca berlutut di samping brankar sambil menangis histeris, seolah-olah dialah orang yang paling malang di sana.
“Ethan… tolong jangan tinggalkan aku…” teriaknya berulang kali sambil bahunya gemetar.
Namun, manicure barunya tetap terlihat sempurna.
Tak ada setetes darah pun di tangannya.
Aku hanya berdiri diam di belakang para perawat, menyaksikan mereka mendorong Ethan menuju ruang operasi darurat.
Seorang staf rumah sakit tiba-tiba menghampiriku sambil membawa clipboard.
“Bu, apakah keluarga inti pasien? Kami membutuhkan tanda tangan untuk operasi darurat.”
Aku mengambil pulpen itu tanpa berkata apa-apa.
Lalu, tanpa sedikit pun ekspresi, kutuliskan namaku.
**Sophia Delgado.**
Sesaat sebelum pintu ruang operasi benar-benar tertutup…
tangan Ethan tiba-tiba meraih pergelangan tanganku dengan erat.
Kulitnya terasa dingin karena kehilangan banyak darah.
Namun genggamannya masih sangat kuat.
“Sayang…”
ucapnya pelan sambil terengah-engah.
Tetapi tatapannya…
melewatiku.
Dan berhenti pada Bianca.
“Aku tahu kamu orang yang baik…”
“Kalau nanti aku sadar…”
“tolong rawat aku.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Bianca itu lemah…”
“Dia tidak sanggup menyuapi pasien…”
“membersihkan…”
“mengganti pakaian…”
“dia tidak bisa merawatku…”
Lorong rumah sakit mendadak sunyi.
Semua orang langsung menatap ke arahku.
Dari sudut mataku, kulihat Bianca menundukkan kepala.
Tangisnya mulai mereda.
Namun aku jelas melihat senyum kecil yang berusaha ia sembunyikan.
Aku menatap pria yang sudah enam tahun menjadi suamiku.
Enam tahun.
Dan aku bahkan bisa menghitung dengan jari berapa kali dia memanggilku “Sayang”.
Ironisnya, pada salah satu dari sedikit kesempatan itu…
dia justru menggunakannya untuk menyuruhku merawat dirinya setelah dia mempertaruhkan nyawanya demi wanita lain.
Aku hanya mengangguk.
“Baik.”
Dia langsung mengembuskan napas lega.
Seolah sudah yakin bahwa seperti biasanya…
aku akan kembali mengalah.
Bianca segera mendongak dan berpura-pura merasa bersalah.
“Sophia… maaf…”
“Ini semua salahku…”
“Kalau bukan karena aku…”
“Ethan tidak akan terluka separah ini…”
Aku mengembalikan pulpen kepada perawat dengan tenang.
Lalu menatapnya.
“Kalau memang kamu tahu semua ini terjadi karena kamu…”
“silakan bayar uang muka rumah sakit dulu.”
Tangisnya langsung terhenti.
“Apa?”
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan layar pembayaran.
“Uang muka daruratnya **Rp12.500.000**.”
“Ethan terluka karena menyelamatkanmu.”
“Jadi, kamu yang bayar dulu.”
Wajahnya seketika pucat.
“A-aku…”
“Aku tidak membawa uang sebanyak itu…”
Aku menatapnya lurus.
“Minggu lalu…”
“kamu mengunggah tas Chanel senilai hampir **Rp75.000.000** di Instagram.”
“Caption-nya…”
*Surprise gift from Ethan.*
Aku mendengar dua perawat di belakangku berusaha menahan tawa.
Air mata masih membasahi wajah Bianca.
Namun kini dia sendiri tak tahu harus terus menangis atau berhenti.
“Itu… hadiah dari temanku…”
Aku mengangguk pelan.
“Bagus.”
“Kalau begitu, telepon temanmu itu dan pinjam uang darinya.”
Bibirnya gemetar saat menoleh ke arah ruang operasi.
Jelas sekali dia berharap Ethan segera sadar dan membelanya.
Aku menyelipkan lembar tagihan rumah sakit ke tangannya.
“Jangan lihat ke sana.”
“Orang yang kamu cintai masih berada di dalam.”
“Kalau kamu benar-benar peduli…”
“bayar dulu tagihannya.”
Ia menggenggam kertas itu erat-erat.
“Sophia…”
“Kenapa kamu jadi sedingin ini?”
Aku tersenyum tipis.
“Dingin?”
“Suamiku sedang berada di ruang operasi.”
“Kamu yang menangis di sini.”
“Aku yang menandatangani surat operasi.”
“Aku yang diharapkan merawatnya.”
“Aku juga yang kalian harapkan membayar semuanya.”
“Jadi coba katakan…”
“apa sebenarnya tanggung jawabmu di sini?”
Dia terdiam.
Mulutnya terbuka.
Namun tak satu kata pun keluar.
Saat itu juga kepala perawat datang menghampiri.
Nada suaranya tegas.
“Nona, uang muka harus segera dibayarkan.”
“Kondisi pasien sangat kritis.”
“Operasinya tidak bisa ditunda lagi.”
Bianca akhirnya tak punya pilihan.
Dengan tatapan penuh kebencian kepadaku, ia berjalan menuju kasir.
Aku sama sekali tidak peduli.
Diam-diam kubuka aplikasi perekam suara di ponselku.
Kudengarkan kembali percakapan yang baru saja terekam.
“Sayang… aku tahu kamu orang yang baik…”
“Bianca itu lemah…”
“Dia tidak bisa merawatku…”
Setiap kata.
Terasa seperti pisau yang berulang kali menusuk dadaku.
Tanpa menunggu lama, kukirim rekaman itu kepada pengacaraku, **Miguel Santos**.
Belum sampai satu menit…
balasannya sudah masuk.
> “Kalau dia masih hidup, simpan semua bukti terlebih dahulu.”
> “Kita bisa menyelidiki rekening bank, aset bersama, kepemilikan saham rumah sakit, dan seluruh aset profesionalnya.”
Aku menatap layar ponsel beberapa saat.
Lalu hanya membalas satu kata.
**Selidiki.**
Pukul dua dini hari, operasi akhirnya selesai.
Dokter yang menangani keluar dan mengatakan Ethan berhasil diselamatkan.
Namun luka di bagian perut dan punggung bawahnya sangat parah.
Dia membutuhkan perawat penuh waktu selama berbulan-bulan.
Bianca duduk di lorong rumah sakit sambil memegang segelas kopi Starbucks yang masih hangat.
Matanya merah karena terlalu lama menangis.
Begitu melihatku, ia langsung berdiri.
“Sophia…”
“Kalau Ethan sudah sadar…”
“Kurasa orang pertama yang ingin dia lihat adalah kamu.”
Tatapanku beralih ke gelas kopi di tangannya.
“Kalau kamu?”
“Kamu tidak masuk?”
Ia langsung menunduk.
“Aku…”
“Aku takut melihat darah…”
Aku tertawa pelan.
Pelan.
Namun dingin.
“Kamu takut darah…”
“makanya dia yang berdarah demi kamu.”
“Kamu takut merawat pasien…”
“makanya dia ingin aku yang melakukannya.”
Aku menatap matanya tanpa berkedip.
“Bianca…”
“Sejujurnya…”
“kadang aku iri pada keberuntunganmu.”
Wajahnya langsung memerah.
“Bisakah kamu jangan bicara seperti itu…”
Aku menggeleng.
“Aku tidak sedang menghina.”
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
Setelah mengucapkan itu…
aku berbalik.
Lalu berjalan lurus menuju lift.
Dari awal sampai akhir…
aku tidak pernah menoleh lagi.

Karena sementara mereka mengira aku akan kembali menjadi perawat bagi pria yang mengkhianatiku…
aku…
sudah memesan tiket sekali jalan menuju Paris.
Dan saat matahari terbit…
Dan saat matahari terbit…
Aku sudah berada di dalam taksi menuju Bandara Soekarno-Hatta. Di pangkuanku, sebuah map kulit hitam berisi dokumen-dokumen penting yang sempat kuambil dari brankas rumah kami—termasuk paspor dan surat-surat kepemilikan aset yang dibeli atas namaku—terasa begitu kokoh.
Ponselku yang diletakkan di kursi sebelah terus bergetar tanpa henti.
Layar digitalnya menyala, menampilkan nama yang sama berulang kali: Mertua – Ibu.
Aku membiarkannya berdering sampai layarnya mati sendiri, hanya untuk melihat rentetan pesan WhatsApp yang masuk semenit kemudian dari Ibu Ethan.
“Sophia! Kamu di mana?! Bianca menelepon Ibu sambil menangis. Dia bilang kamu meninggalkan Ethan sendirian di rumah sakit setelah operasi! Di mana hati nuranimu sebagai istri? Ethan itu aset keluarga, dia dokter terpandang! Cepat kembali dan urus suamimu!”
Aku menyunggingkan senyum tipis, lalu mengetik balasan singkat.
“Uang muka rumah sakit sudah dibayar oleh Bianca, Bu. Karena dia yang memesan ‘pahlawan’, dialah yang harus menanggung biaya perawatannya. Saya sedang dalam perjalanan untuk menikmati hidup saya sendiri. Jangan cari saya lagi.”
Setelah menekan tombol kirim, aku langsung memblokir nomor itu. Tanpa ragu, aku juga memblokir nomor Ethan dan Bianca. Hubunganku dengan drama melelahkan ini resmi putus di batas kota Jakarta.
Pukul tujuh pagi, aku sudah duduk di lounge keberangkatan internasional, menyesap secangkir black coffee hangat tanpa gula. Pahit, namun terasa jauh lebih jujur daripada enam tahun pernikahanku.
Sebuah notifikasi baru masuk dari Miguel Santos. Bukan pesan biasa, melainkan sebuah dokumen PDF tebal.
“Sophia, ini laporan awal tim auditku. Rekening rahasia Ethan di bank asing, aliran dana bulanan untuk apartemen mewah Bianca di Senopati, hingga pembelian tas Chanel yang kamu sebutkan semalam—semuanya tercatat rahasia menggunakan rekening bisnis kliniknya. Ini lebih dari cukup untuk menggugat cerai dan menuntut harta gono-gini maksimal, termasuk mencabut hak kepemilikan sahamnya di rumah sakit utama.”
Aku membaca setiap baris data itu dengan tenang. Rasa sakit yang semalam sempat menusuk dada, kini menguap digantikan oleh kepuasan yang dingin. Ethan mengira dia bisa menggunakan asisten rumah tangga gratisan berkedok istri, sementara dia menjadi pahlawan cinta bagi wanita lain. Dia lupa bahwa fondasi finansial dan relasi sosial yang membangun nama besarnya sebagai dokter bedah top adalah hasil campur tangan keluargaku.
Aku membalas pesan Miguel:
“Ajukan gugatan cerai minggu depan. Sita apartemen Senopati itu terlebih dahulu. Biarkan mereka berdua tinggal di sana bersama-sama—Ethan yang lumpuh sementara dan Bianca yang ‘lemah’ dan tidak tahu cara mengurus orang sakit. Kita lihat seberapa lama cinta mereka bertahan tanpa uang.”
“Panggilan terakhir untuk penumpang Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-086 tujuan Paris…”
Suara merdu petugas bandara menggema di seluruh aula. Aku berdiri, merapikan blazer hitamku, dan menyampirkan tas tangan ke bahu.
Saat aku melangkah melewati gerbang paking, matahari pagi Jakarta bersinar sangat terik, menembus kaca-kaca besar bandara. Di rumah sakit sana, Ethan mungkin baru saja membuka matanya dari efek anestesi. Dia mungkin akan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari sosok “istri penurut” yang selalu bisa ia andalkan untuk membersihkan kekacauannya.
Namun yang akan ia temukan hanyalah Bianca yang kebingungan, tagihan rumah sakit yang terus membengkak, dan surat gugatan cerai yang akan menghancurkan reputasinya.
Aku melangkah masuk ke dalam garbarata dengan kepala tegak.
Paris menungguku, dan babak baru kehidupanku yang tanpa beban baru saja dimulai.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.