DIA MEMBERIKAN RUMAH PENGANTIN KAMI KEPADA “CINTA PERTAMA”-NYA — MAKA AKU MENJUAL SELURUH GEDUNG 18 LANTAI MILIK KAMI.**
Saat Marco menelepon, jahitan bekas operasiku baru saja dilepas di rumah sakit.
Di bawah lenganku masih terselip sebuah amplop berisi rekam medis.
Dari seberang telepon terdengar suaranya yang begitu akrab.
“Tala, Patricia sudah kembali ke Indonesia. Dia belum punya tempat tinggal. Penthouse kita di lantai paling atas masih kosong, kan? Biarkan dia tinggal di sana beberapa hari.”
Angin dingin berembus dari luar rumah sakit. Luka operasi di perutku tiba-tiba terasa nyeri.
Aku menunduk menatap sudut amplop yang sudah kusut karena terlalu erat kugenggam.
Seketika ingatanku kembali ke lima belas hari yang lalu.
Saat aku meringkuk kesakitan di ranjang IGD, aku menelepon Marco sebanyak dua puluh tujuh kali.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kesembilan langsung terputus.
Dan pada panggilan terakhir—yang kedua puluh tujuh—baterai ponselku hanya tersisa tiga persen.
Seorang perawat menghampiriku dan bertanya dengan lembut,
“Bu, keluarga Ibu belum datang?”
Karena rasa sakit yang luar biasa, aku bahkan tidak mampu menyusun satu kalimat utuh. Aku hanya memeluk ponselku erat di dada.
Tak lama kemudian, lampu ruang operasi menyala.
Aku mendengar dokter meminta tanda tangan persetujuan operasi. Aku juga mendengar seorang perawat berbisik,
“Suami pasien tidak bisa dihubungi. Karena ini keadaan darurat, kita lanjutkan saja prosedurnya dan catat di rekam medis.”
Malam itu…
Marco berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Terminal 3, dengan wajah penuh senyum menunggu Patricia tiba.
Patricia bahkan sempat mengunggah foto ke Facebook. Di balik kaca bandara, lampu-lampu Jakarta tampak berkilauan. Marco mengenakan jaket abu-abu yang kubelikan sendiri. Ia menunduk sambil membawa koper Patricia.
Caption-nya hanya satu kalimat pendek, namun terasa seperti menusuk jantungku.
*”Setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, akhirnya ada juga seseorang yang menjemputku pulang.”*
Saat itu aku baru sadar dari pengaruh anestesi. Tenggorokanku terasa sangat kering, seolah digosok amplas.
Dan sekarang…
Dengan begitu mudahnya Marco mengucapkan kata “rumah”.
“Dia tidak terbiasa menginap di hotel, Tala. Kondisi tubuhnya lemah. Kamu tahu sendiri, kalau tidur di tempat baru dia mudah sakit kepala.”
Aku bersandar pada tiang di depan rumah sakit sambil perlahan melonggarkan genggaman pada amplopku.
“Dia akan tidur di kamar yang mana?”
Beberapa detik kemudian telepon menjadi hening.
Mungkin Marco tidak menyangka aku akan setenang ini.
“Di kamar tamu saja,” katanya dengan suara yang sedikit melunak. “Jangan berpikir macam-macam, Tala. Ini cuma sementara. Penthouse kita sangat besar. Sayang kalau ada kamar yang kosong.”
Penthouse dua lantai di puncak gedung itu adalah rumah pertama kami setelah menikah.
Saat kami menikah, perusahaan rintisan Marco bangkrut. Ia terlilit utang kepada para pemasok hingga miliaran rupiah.
Aku masih ingat ketika ia duduk di lantai semen penthouse yang belum selesai dibangun, wajahnya tertunduk di antara kedua lututnya.
“Tala… mungkin aku tidak bisa memberimu pernikahan yang layak.”
Aku menyimpan semua sertifikat tanah dan aset warisan dari nenekku. Lalu aku berlutut di depannya, mengusap debu di dahinya.
“Tidak apa-apa,” kataku. “Yang penting kita mulai membangun rumah kita sendiri.”
Bertahun-tahun berlalu…
Rumah itu akhirnya selesai sedikit demi sedikit.
Lampu kristal di ruang tamu kupilih sendiri.
Meja makan kami beli setelah berkeliling ke empat pusat perbelanjaan di seluruh kota.
Tanaman di balkon ditanam sendiri oleh Marco.
Pada tahun pertama tanaman itu tidak berbunga.
Aku masih ingat bagaimana ia berdiri di depan pot bunga sambil bercanda bahwa tanaman itu “tidak tahu berterima kasih.”
Dulu aku benar-benar percaya…
Bahwa penantian kami bersama melihat bunga pertama mekar akan mengikat hati kami seumur hidup.
Terdengar suara batuk pelan dari seberang telepon.
Marco langsung mengecilkan suaranya, seolah takut membangunkan seseorang.
“Patricia sudah ada di sampingku. Perjalanan tadi membuatnya sedikit pusing.”
“Aku akan mengantarnya pulang dulu supaya dia bisa beres-beres. Nanti malam kita bicara. Aku akan menjelaskan semuanya.”
Aku menatap kemacetan di depan rumah sakit.
Sebuah taksi berhenti di depanku.
Sopirnya membuka jendela dan bertanya apakah aku ingin naik.
Aku tidak langsung menjawabnya.
Sebaliknya aku berkata kepada Marco.
“Tala?”
“Iya.”
“Jadi… kamu mengizinkannya?”
Aku mendengar diriku sendiri menjawab dengan suara yang sangat tenang.
“Baiklah.”
Marco menghela napas lega.
“Aku tahu kamu pasti mengerti. Kamu orang paling baik dan paling pengertian yang pernah kukenal.”
Begitu kata-kata *”paling pengertian”* keluar dari mulutnya, luka di perutku kembali berdenyut.
Tidak terlalu sakit…
Tetapi sangat dalam.
Aku menutup telepon dan masuk ke dalam taksi.
“Mau ke mana, Bu?” tanya sopir.
Aku menyebutkan alamatnya.
Melalui kaca spion ia melihat wajahku yang pucat, lalu mengecilkan pendingin udara.
“Ibu habis operasi?”
Aku menunduk dan menutupi tulisan di belakang amplop rekam medisku agar ia tidak membacanya.
**”Catatan Operasi Darurat Obstetri dan Ginekologi.”**
“Hanya kontrol biasa,” jawabku.
Tak lama kemudian ponselku kembali bergetar.
Pesan dari Marco.
*”Barang Patricia tidak banyak. Aku sudah meminta Mbak Rina menyiapkan kamarnya. Jangan bantu dia, ya. Kamu baru sembuh, nanti malah kecapekan.”*
Aku lama menatap kalimat *”kamu baru sembuh.”*
Dia memang tahu aku sakit.
Tetapi yang ia kira hanyalah demam biasa.
Aku tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Karena pada hari ketiga setelah operasiku…
Saat akhirnya Marco pulang, kalimat pertama yang ia ucapkan ketika melihatku berbaring di sofa adalah,
“Tala, maaf ya. Dua hari terakhir aku benar-benar sibuk. Patricia masih belum tahu apa-apa karena baru kembali ke Indonesia.”
Saat itu tubuhku masih demam.
Bekas infus masih menempel di punggung tanganku.
Marco menyentuh dahiku.
“Kenapa badanmu masih panas? Kalau memang sakit, kenapa tidak bilang dari awal?”
Aku menatap matanya yang lelah.
Akhirnya aku hanya tersenyum tipis.
“Aku tidak apa-apa.”
Ia membuatkan segelas air hangat di dapur.
Namun sebelum air itu sempat mendingin…
Teleponnya berdering.
Patricia berkata ia takut sendirian di hotel.
Dan bahkan sebelum air di gelas itu benar-benar dingin…
Marco sudah lebih dulu meninggalkan rumah.
Taksi berhenti di depan gedung kami.
Aku belum turun.
Gedung itu memiliki delapan belas lantai.
Fasadnya berwarna abu-abu, tampak megah dan elegan.
Di lantai paling atas, lampu hangat penthouse kami masih menyala.
Sebelum meninggal, nenek menyerahkan seluruh sertifikat kepemilikan gedung itu kepadaku.
Sambil mengusap rambutku, beliau berkata,
“Tala, harta adalah perlindungan terakhir seorang perempuan.”
“Kamu bisa menggunakannya untuk membangun sebuah rumah…

atau menggunakannya untuk membebaskan dirimu.”
Aku membuka aplikasi pesan dan mengirimkan pesan kepada brokerku.
**”Siapkan semua dokumennya. Aku akan menjual seluruh gedung ini.”**
Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian dari kisah Anda:
02
Pesan balasan dari brokerku, Pak Hendra, masuk kurang dari dua menit kemudian. “Seluruh gedung, Bu Tala? Apakah termasuk penthouse di lantai paling atas?”
Aku menatap ke arah jendela lantai 18 yang lampunya baru saja menyala terang. Itu artinya Marco dan Patricia sudah tiba di atas sana. Di rumah yang kubangun dengan air mata dan warisan nenekku.
Aku mengetik balasan dengan jari yang stabil. “Semuanya. Jual utuh satu gedung tanpa sisa. Saya ingin prosesnya selesai dalam tiga hari. Berikan diskon jika ada pembeli korporat yang bisa membayar tunai.”
“Baik, Bu. Kebetulan ada konsorsium hotel butik yang sejak bulan lalu menawar gedung Ibu. Saya akan langsung menghubungi mereka malam ini.”
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu melangkah masuk ke dalam lobi gedung. Resepsionis dan petugas keamanan membungkuk hormat padaku. Mereka semua tahu siapa pemilik sebenarnya dari gedung megah ini. Di atas kertas, Marco hanyalah pria yang menumpang hidup di properti milik istrinya.
Lift membawaku berdengung naik ke lantai paling atas. Begitu pintu lift terbuka langsung di dalam penthouse, pemandangan pertama yang menyambutku adalah sebuah koper besar berwarna merah muda di dekat sofa desainer yang kupilih dengan cermat.
Dari arah dapur, terdengar tawa manja Patricia disusul suara bariton Marco.
“Marco, sup ini terlalu asin. Kamu benar-benar tidak bisa memasak, ya?”
“Maaf, Pat. Dulu Tala yang selalu mengurus dapur. Aku akan memesankan makanan lain dari restoran favoritmu, ya?”
Aku melangkah masuk tanpa suara. Sandal rumahku meredam setiap derap langkah. Begitu melihat bayanganku di lantai marmer, tawa mereka berdua langsung terhenti.
Marco berbalik dengan wajah sedikit gugup, namun segera menguasai diri. Di sampingnya, Patricia berdiri dengan gaun rajut putih yang tampak longgar, memancarkan kesan wanita rapuh yang butuh dilindungi.
“Tala, kamu sudah pulang?” Marco mendekat, mencoba menyentuh bahuku. “Kenapa wajahmu pucat sekali? Oh ya, ini Patricia. Pat, ini Tala, istriku.”
Patricia tersenyum manis, mengulurkan tangannya yang bersih tanpa noda. “Halo, Kak Tala. Maaf ya, aku merepotkan malam-malam begini. Marco bilang kamar tamunya kosong, jadi aku menumpang sebentar sampai mendapat apartemen baru.”
Aku tidak menyambut tangannya. Aku hanya menatap meja makan kayu jati yang dulu kubeli dengan susah payah. Di atasnya, terletak segelas air hangat yang mulai mendingin—pemandangan yang persis sama seperti tiga hari lalu, saat Marco meninggalkanku demi wanita ini.
“Tidak apa-apa,” kataku datar. “Anggap saja seperti rumah sendiri. Nikmati selagi bisa.”
Marco tersenyum lega, mengira ketenanganku adalah tanda ketundukan. “Terima kasih, Tala. Aku tahu kamu memang selalu bisa diandalkan.”
03
Malam itu, aku tidak tidur di kamar utama. Aku memilih tidur di kamar kerja kecilku, mengunci pintu, dan mulai memindahkan seluruh barang berhargaku ke dalam satu koper kecil.
Tidak banyak yang kubawa. Hanya dokumen penting, perhiasan peninggalan nenek, dan amplop rekam medis rumah sakit.
Keesokan paginya, saat Marco dan Patricia sedang sarapan di balkon sambil menikmati angin pagi Jakarta, Pak Hendra datang bersama perwakilan dari konsorsium pembeli. Mereka membawa tiga rangkap dokumen bermeterai.
“Tala? Siapa mereka?” tanya Marco yang keluar ke ruang tamu dengan dahi berkerut, memegang cangkir kopi.
Aku duduk di sofa, menandatangani lembar demi lembar dokumen di depan notaris. Setelah tanda tangan terakhir selesai, aku menatap Marco dengan senyuman paling tulus yang pernah kuberikan padanya selama pernikahan kami.
“Marco, perkenalkan. Ini Pak Anwar, perwakilan dari PT Mulia Jaya. Mulai hari ini, mereka adalah pemilik baru dari gedung 18 lantai ini. Termasuk penthouse ini.”
Cangkir kopi di tangan Marco berdenting keras di atas meja. Wajahnya seketika berubah drastis. “Apa maksudmu, Tala?! Menjual gedung? Ini rumah kita! Kamu tidak bisa menjualnya tanpa persetujuanku!”
Aku berdiri perlahan, menahan rasa perih yang samar di perutku akibat bekas operasi.
“Gedung ini adalah warisan mutlak dari nenekku atas namaku sendiri sebelum kita menikah. Secara hukum, ini bukan harta gono-gini. Aku punya hak penuh untuk membakarnya menjadi abu sekalipun, apalagi hanya menjualnya.”
Patricia keluar dari balkon dengan wajah panik. “Marco… apa yang terjadi? Kita harus pindah?”
“Tala, jangan gila!” suara Marco meninggi, matanya memerah. “Aku baru saja menata kembali perusahaanku. Reputasiku akan hancur kalau rekan bisnisku tahu kita terusir dari gedung ini! Di mana kita akan tinggal?!”
Aku berjalan ke arah koper kecilku yang sudah berdiri di dekat pintu lift.
“Itu bukan urusanku lagi, Marco. Pak Anwar dan timnya memberikan waktu 1×24 jam untuk mengosongkan seluruh tempat ini. Karena mulai besok, renovasi gedung untuk hotel akan dimulai.”
04
“Kenapa kamu menjadi setega ini, Tala?!” teriak Marco, langkahnya memburu ke arahku. Ia mencengkeram lenganku erat, membuatku refleks mendesis kesakitan karena tarikan itu berimbas pada jahitan di perutku.
Aku menyentakkan tangannya dengan sisa tenaga yang kupunya. Lalu, aku membuka tas, mengeluarkan amplop rekam medis yang selama ini kurahasiakan, dan melemparkannya tepat ke dada Marco.
Lembaran kertas itu terjatuh ke lantai. Marco menunduk, membaca tulisan besar di sana: “Catatan Operasi Darurat Obstetri dan Ginekologi — Keguguran Akibat Kehamilan Ektopik (Di Luar Kandungan).”
Di bawahnya tertera tanggal dan jam operasi.
Mata Marco membelalak. Tangannya mulai gemetar saat menyadari garis waktu tersebut. “Ini… lima belas hari yang lalu? Malam ketika… ketika Patricia pulang?”
“Ya,” kataku dengan suara yang sangat dingin hingga sanggup membekukan ruangan itu. “Malam ketika aku meneleponmu 27 kali saat bertaruh nyawa di ruang operasi, kamu sedang sibuk membawakan koper untuk cinta pertamamu yang ‘lemah’ dan ‘mudah sakit kepala’ itu.”
“Tala… aku… aku tidak tahu…” Suara Marco mendadak hilang. Air mata penyesalan mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia maju selangkah, mencoba berlutut di depanku. “Maafkan aku, Tala… Aku bersumpah aku mengira kamu hanya demam biasa… Tolong, jangan tinggalkan aku…”
Patricia di belakangnya menutup mulut dengan wajah pucat, menyadari bahwa ia baru saja menghancurkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.
Aku mundur satu langkah, tepat ke dalam pintu lift yang baru saja terbuka.
“Nenekku pernah berkata, harta adalah perlindungan terakhir seorang perempuan,” ujarku sambil menatap lurus ke dalam mata Marco untuk terakhir kalinya. “Dulu aku menggunakan gedung ini untuk membangun rumah bersamamu. Dan sekarang, aku menggunakannya untuk membeli kebebasanku.”
05
Dua hari kemudian.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Terminal 3. Tempat yang sama di mana Marco menjemput penderitaanku dua minggu lalu.
Aku duduk di ruang tunggu keberangkatan kelas bisnis, menyesap teh chamomile hangat. Di tanganku, sebuah tiket penerbangan satu arah menuju Paris sudah tergenggam erat. Pak Hendra baru saja mengirimkan pesan bahwa seluruh dana penjualan gedung—jumlah yang sangat lebih dari cukup untuk membuatku hidup mewah hingga hari tua—sudah masuk ke rekening pribadiku bersih tanpa potongan.
Marco mengirim puluhan pesan singkat, memohon kesempatan kedua, mengatakan bahwa ia telah mengusir Patricia dan meratapi rumah kami yang kini sudah dieksekusi oleh pemilik baru.
Aku tidak membalasnya. Aku mengeluarkan kartu SIM dari ponselku, mematahkan menjadi dua bagian, lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat.
Saat suara pramugari mengumumkan panggilan masuk untuk pesawatku, aku berdiri dan menarik koper kecilku. Rasa nyeri di perutku sudah sepenuhnya hilang, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa.
Aku melangkah menuju garbarata, meninggalkan Jakarta, meninggalkan Marco, dan meninggalkan seluruh penderitaan itu di belakang. Malam ini, aku terbang ke Paris untuk mulai menulis bab pertama dari kehidupan baruku yang jauh lebih indah.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.