Posted in

SUAMIKU YANG SEORANG DOKTER BEDAH MENANGKIS TUSUKAN PISAU DEMI SELINGKUHANNYA, LALU MEMINTAKU MEMBERSIHKAN PISPOTNYA. MAAF, MALAM ITU JUGA AKU SUDAH TERBANG KE PARIS UNTUK MENINGGALKAN SEMUA PENDERITAAN INI.

SUAMIKU YANG SEORANG DOKTER BEDAH MENANGKIS TUSUKAN PISAU DEMI SELINGKUHANNYA, LALU MEMINTAKU MEMBERSIHKAN PISPOTNYA. MAAF, MALAM ITU JUGA AKU SUDAH TERBANG KE PARIS UNTUK MENINGGALKAN SEMUA PENDERITAAN INI.

Suamiku rela menerima tusukan pisau demi wanita simpanannya.

Lalu dia masih berharap aku yang merawatnya, menyuapinya makan, bahkan membersihkan tubuhnya?

Maaf.

Malam itu juga aku naik pesawat menuju Paris.

Suamiku, Joshua, adalah seorang dokter bedah terkenal.

Malam ketika dia melindungi Nicole dari tusukan pisau, seluruh ruang gawat darurat langsung kacau.

Jas putihnya dipenuhi darah.

Jejak merah panjang membentang di lorong rumah sakit.

Saat berbaring di atas brankar, wajahnya sudah sepucat kertas.

Namun sebelum didorong masuk ke ruang operasi, dia masih menggenggam tanganku erat.

“Istriku…”

Napasnya tersengal-sengal.

“Aku tahu kamu wanita yang baik.”

“Kalau nanti aku sadar, tolong rawat aku, ya?”

“Nicole terlalu lemah. Hal-hal seperti membuang pispot, membersihkan tubuh pasien, merawat orang sakit… dia tidak sanggup melakukannya.”

Aku hanya menjawab satu kata.

“Baik.”

Setelah itu aku berbalik, pulang ke rumah, dan mulai mengemasi barang-barangku.

Keesokan paginya, sahabat dekat Joshua datang ke ruang rawat.

Melihat kursi pendamping kosong, dia tertawa kecil.

“Bro, dengar-dengar Kak Clara tadi malam sudah terbang ke Paris.”

“Sepertinya itu benar.”

Detik berikutnya…

Irama monitor detak jantung Joshua langsung melonjak hingga 180.

\


01

Malam ketika Joshua menerima tusukan demi Nicole, ruang gawat darurat belum pernah sekacau itu.

Darah terus menetes dari ujung pakaiannya.

Membentuk garis merah panjang di lantai rumah sakit.

Nicole berlutut di samping brankar.

Dia menangis sampai suaranya serak.

“Joshua… jangan tinggalkan aku!”

Bahu perempuan itu terus bergetar.

Namun kukunya tetap bersih dan terawat.

Bahkan tidak ada setetes darah pun yang menempel.

Aku berdiri di tengah kerumunan.

Diam memperhatikan para perawat yang mendorong Joshua masuk.

Seorang petugas keamanan menghentikanku.

“Kami membutuhkan tanda tangan dari keluarga.”

Aku mengambil pulpen.

Lalu menandatangani formulir itu.

Clara.

Tepat sebelum pintu ruang operasi tertutup, Joshua tiba-tiba menggenggam tanganku.

Telapak tangannya terasa dingin.

Tetapi cengkeramannya masih sangat kuat.

“Istriku…”

Dia berbicara dengan napas yang berat.

Namun tatapannya justru melewatiku.

Lurus menuju Nicole.

“Aku tahu kamu wanita yang baik.”

“Kalau nanti aku sadar, rawat aku, ya?”

“Nicole terlalu lemah. Mengurus makan, membersihkan tubuh pasien… dia tidak sanggup.”

Lorong rumah sakit mendadak sunyi.

Tatapan para perawat kepadaku berubah.

Nicole menundukkan kepala.

Tangisnya perlahan mereda.

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Aku menatap pria di depanku.

Enam tahun menikah.

Jumlah kali dia memanggilku “istriku” bahkan bisa dihitung dengan jari.

Dan saat akhirnya dia mengucapkannya…

Ternyata hanya untuk menyuruhku melayani dirinya.

Dan membereskan kekacauan yang dibuat perempuan lain.

Aku mengangguk pelan.

“Baik.”

Joshua langsung mengembuskan napas lega.

Seolah yakin aku akan tetap bertahan seperti biasanya.

Nicole mengangkat kepalanya memandangku.

Tatapannya dipenuhi kemenangan.

“Kak Clara… maaf.”

“Semua ini salahku.”

“Kalau Joshua tidak menyelamatkanku, dia tidak akan menjadi seperti ini.”

Aku mengembalikan pulpen kepada perawat.

“Kalau memang kamu tahu ini salahmu…”

“Silakan bayar dulu biaya rumah sakitnya.”

Nicole langsung membeku.

“Hah?”

Aku membuka aplikasi pembayaran lalu menunjukkan tagihannya.

“Uang muka IGD.”

Rp50 juta.

“Joshua tertusuk karena menyelamatkanmu.”

“Jadi kamu yang paling pantas membayarnya.”

Wajah Nicole langsung pucat.

“Aku… aku tidak membawa uang sebanyak itu.”

Aku menjawab dengan tenang.

“Tas yang kemarin kamu pamerkan di media sosial harganya Rp260 juta.”

“Caption-nya bahkan tertulis hadiah kejutan dari Joshua.”

Beberapa perawat yang berdiri di dekat kami langsung menunduk sambil menahan tawa.

Air mata masih menggantung di wajah Nicole.

Kini dia bahkan tidak tahu apakah harus terus menangis atau berhenti.

“Itu… hadiah dari temanku.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu pinjam uang kepada temanmu.”

Nicole menggigit bibir.

Berkali-kali menatap ke arah ruang operasi.

Seolah berharap Joshua segera bangun dan membelanya.

Aku menyelipkan lembar tagihan itu ke tangannya.

“Jangan terus melihat ke sana.”

“Orangnya masih di dalam.”

“Kalau memang kamu begitu mengkhawatirkannya, pergi ke kasir sekarang.”

Jari-jarinya mulai gemetar.

“Kak Clara… kenapa Kakak tega sekali?”

Aku tertawa pelan.

“Tega?”

“Orang yang sedang dioperasi adalah suamiku.”

“Yang menangis di luar justru kamu.”

“Kamu ingin aku yang menandatangani persetujuan operasi.”

“Kamu ingin aku yang merawatnya.”

“Kamu juga ingin aku yang membayar semuanya.”

“Menurutmu… siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab?”

Nicole membuka mulut.

Namun tidak satu kata pun keluar.

Tepat saat itu kepala perawat datang menghampiri.

“Silakan segera lakukan pembayaran.”

“Kondisi pasien sangat kritis. Tidak bisa ditunda lagi.”

Nicole tidak punya pilihan.

Dia menggenggam tagihan itu lalu berjalan menuju kasir.

Beberapa langkah kemudian, dia masih sempat menoleh ke arahku.

Tatapannya penuh kebencian.

Aku tidak lagi memedulikannya.

Aku hanya membuka ponselku.

Lalu memutar rekaman suara yang baru saja kurekam.

Suara Joshua terdengar sangat jelas.

“Istriku… aku tahu kamu wanita yang baik.”

“Nicole terlalu lemah. Membuang pispot dan membersihkan tubuh pasien bukan pekerjaan yang sanggup dia lakukan.”

Setiap kalimat.

Setiap kata.

Menusuk hatiku seperti pisau.

Aku langsung mengirim rekaman itu kepada pengacaraku, Pak Santos.

Belum sampai satu menit.

Balasannya datang.

“Selama dia masih hidup, kumpulkan semua bukti.”

“Rekening bank, harta bersama, aset, sampai posisinya di rumah sakit. Semuanya bisa kita telusuri.”

Aku hanya membalas satu kata.

“Selidiki.”

Pukul dua dini hari.

Operasi akhirnya selesai.

Dokter mengumumkan Joshua berhasil melewati masa kritis.

Namun luka di perut dan pinggangnya cukup dalam.

Dia membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Nicole masih duduk di luar ruang operasi dengan mata sembap.

Begitu melihatku datang, dia langsung berdiri.

“Kak Clara… setelah Joshua sadar nanti, aku yakin orang pertama yang ingin dia temui adalah Kakak.”

Aku melirik gelas kopi yang baru dibelinya.

“Kamu tidak masuk?”

Dia menundukkan kepala.

“Aku… takut darah.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu takut darah.”

“Makanya dia yang menumpahkan darah demi menyelamatkanmu.”

“Kamu takut merawat orang sakit.”

“Makanya kamu berharap aku yang melakukannya.”

“Nicole…”

“Hidupmu benar-benar sangat beruntung.”

Wajahnya langsung memerah.

“Jangan bicara seperti itu, Kak.”

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”

Setelah mengucapkan itu, aku berbalik dan masuk ke dalam lift.

Berikut adalah kelanjutan dan babak akhir (cawangan akhir) dari cerita tersebut:

02

Di dalam ruang perawatan intensif, bunyi alarm dari monitor detak jantung Joshua melengking nyaring. Angka 180 berkedip merah secara histeris. Dokter dan perawat berhamburan masuk, sementara sahabat Joshua, Kevin, hanya bisa berdiri terpaku di sudut ruangan.

“Joshua! Tenang, tenangkan dirimu! Jahitanmu bisa robek!” teriak dokter jaga.

Joshua mengabaikan rasa sakit yang membakar di perutnya. Dengan wajah pucat dan napas terengah-engah, dia mencengkeram lengan Kevin. “Clara… tidak mungkin pergi. Dia… dia berjanji akan merawatku! Telepon dia, Kevin! Telepon!”

Kevin menghela napas, lalu menyodorkan ponselnya yang menampilkan pesan singkat dari bandara. “Dia benar-benar sudah pergi, Bro. Dan bukan itu saja…”

Pintu ruang rawat terbuka kasar. Nicole masuk dengan wajah sembap dan rambut kusut. Di tangannya, dia membawa sebuah wadah plastik—pispot rumah sakit yang masih kosong.

“Joshua…” Nicole merengek, air matanya langsung tumpah. “Suster menyuruhku membersihkan tubuhmu dan membuang air kecilmu. Tapi aku… aku tidak bisa. Baunya membuatku mual, dan aku takut menyentuh selang katatermu. Di mana Kak Clara? Kenapa dia membiarkan wanita lemah sepertiku melakukan pekerjaan kotor ini?!”

Mendengar itu, Joshua merasa seolah disiram air es.

Kata-kata yang dia ucapkan kepada Clara tadi malam untuk membela Nicole, kini berbalik menyerangnya. Nicole memang terlalu lemah. Terlalu manja. Dan sekarang, saat dia benar-benar membutuhkan perawatan pasca-operasi yang intensif, wanita yang dia lindungi dengan nyawanya itu justru merasa jijik padanya.

“Nicole…” Joshua berbisik dengan suara serak, tenggorokannya terasa kering. “Tolong… bantu aku dulu…”

Namun, begitu Joshua sedikit bergerak dan aroma obat serta cairan tubuh tercium, Nicole langsung mundur selangkah sambil menutup hidungnya dengan ekspresi mual yang tidak bisa disembunyikan.

Detik itu juga, Joshua menyadari satu hal: dia telah menukar berlian demi sebongkah batu kali.

03

Dua minggu kemudian, kondisi Joshua mulai stabil, namun penderitaannya baru saja dimulai.

Clara tidak pernah bisa dihubungi. Sebaliknya, yang datang ke ruang rawat Joshua adalah Pak Santos, pengacara Clara, didampingi oleh dua orang staf dari firma hukumnya. Mereka membawa beberapa rangkap dokumen tebal.

“Selamat siang, Dokter Joshua,” sapa Pak Santos dengan senyum formal. “Saya di sini mewakili Ibu Clara untuk menyerahkan gugatan cerai, sekaligus tuntutan pembagian harta gono-gini.”

Joshua mencoba duduk tegak, menahan perih di perutnya. “Aku tidak akan menandatanganinya! Aku sedang sakit, dia tidak bisa menceraikanku begitu saja!”

Pak Santos meletakkan sebuah alat perekam di atas meja, lalu memutarnya. Suara Joshua yang memohon agar Clara merawatnya demi Nicole bergema di ruangan itu, disusul dengan setumpuk bukti mutasi rekening.

“Klien saya memiliki bukti otentik penelantaran emosional, perselingkuhan terang-terangan, serta penyalahgunaan aset bersama,” ujar Pak Santos tenang. “Dokter Joshua telah mentransfer total Rp1,2 miliar selama setahun terakhir kepada Saudari Nicole, termasuk pembelian tas mewah seharga Rp260 juta menggunakan kartu kredit tambahan atas nama Ibu Clara.”

“Kami menuntut pengembalian seluruh dana tersebut, kepemilikan penuh atas rumah utama, dan pemblokiran sementara aset Anda hingga sidang selesai. Jika Anda menolak, rekaman ini—beserta bukti perselingkuhan Anda—akan kami serahkan kepada komite etik rumah sakit tempat Anda bekerja. Kita lihat bagaimana reputasi seorang dokter bedah terkenal yang berselingkuh saat bertugas.”

Wajah Joshua seketika berubah dari pucat menjadi abu-abu.

Nicole, yang kebetulan baru masuk membawa kopi mahal, mendengar semua itu. Begitu mendengar kata “pemblokiran aset” dan “tuntutan pengembalian dana Rp1,2 miliar”, langkahnya langsung terhenti.

“U-uang itu kan sudah dibelikan barang… tidak bisa dikembalikan!” jerit Nicole panik.

Pak Santos melirik Nicole dengan tatapan merendahkan. “Kalau begitu, bersiaplah menghadapi gugatan hukum pidana atas pasal penampungan dana gelap hasil perselingkuhan, Nona Nicole.”

04

Satu bulan setelah malam berdarah itu, Joshua akhirnya keluar dari rumah sakit. Namun, dia tidak lagi memiliki rumah mewah untuk pulang. Rumah itu telah disita dan dipasang papan pengumuman penjualan oleh pihak hukum Clara.

Reputasinya di rumah sakit hancur total setelah rekaman suara dan rincian skandalnya bocor ke grup internal staf. Pihak manajemen memutuskan untuk menonaktifkan Joshua dari posisi kepala bedah untuk waktu yang tidak ditentukan.

Yang paling tragis, Nicole—wanita “lemah” yang dulu selalu bermanja-manja di pelukannya—telah menghilang tanpa jejak. Begitu tahu semua rekening Joshua dibekukan dan mobil sport-nya harus dijual untuk membayar pengacara, Nicole langsung mengemas barang-barangnya dan memblokir nomor Joshua. Dia pergi mencari pria kaya lain yang bisa membelikannya tas mewah, meninggalkan Joshua sendirian dengan luka bekas operasi yang belum sepenuhnya sembuh.

Sambil duduk di sebuah apartemen sewaan yang sempit, Joshua menatap pispot plastik yang tergeletak di sudut kamar mandi. Tidak ada lagi Clara yang dengan sabar merawatnya tanpa mengeluh. Tidak ada lagi kehangatan di rumahnya. Yang tersisa hanyalah penyesalan yang terlambat.

05

Sementara itu, ribuan kilometer dari sana.

Musim gugur di Paris sangat indah. Clara duduk di sebuah kafe terbuka di tepi Sungai Seine, menyesap segelas café au lait hangat. Angin dingin berembus sepoi-sepoi, menerbangkan beberapa helai rambutnya.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Pak Santos masuk:

“Ibu Clara, keputusan pengadilan sudah inkrah. Anda memenangkan seluruh aset utama, dan Dokter Joshua telah resmi menandatangani surat cerai tanpa syarat. Hak Anda sudah bersih 100%.”

Clara membaca pesan itu tanpa riak emosi di wajahnya. Dia tidak merasa sedih, pun tidak merasa ingin bersorak menangis puas. Joshua dan segala penderitaan di rumah sakit malam itu terasa seperti kehidupan di masa lalu yang sangat jauh.

Dia mematikan layar ponselnya, lalu menghirup udara Paris yang bersih dan bebas.

Clara tersenyum tipis, mengangkat cangkir kopinya ke arah Menara Eiffel di kejauhan. Kehidupan barunya yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.