Aku menabung selama tiga bulan untuk membeli tiket pesawat kelas satu ke Paris. Namun, pada malam sebelum keberangkatan, aku menemukan bahwa suamiku telah mengganti namaku dengan nama wanita simpanannya.
Akulah yang membeli tiket pesawat itu, tetapi nama penumpangnya sudah diubah menjadi nama perempuan lain.
Dua tiket kelas satu.
Dari Jakarta menuju Paris.
Aku menabung selama tiga bulan untuk membelinya.
Di aplikasi maskapai, semuanya tertulis jelas hitam di atas putih.
Pelaku perubahan: Zion.
Isi perubahan: nama “Nicole” diganti menjadi “Chloe”.
Ponselnya masih terisi daya di samping bantal.
Layar tiba-tiba menyala.
Sebuah notifikasi dari WeChat muncul.
Nama pengirim hanya berupa emoji hati.
Pesannya hanya terdiri dari empat kata.
“Sudah diganti belum?”
Aku menatap empat kata itu cukup lama.
Lalu pandanganku beralih ke koper miliknya.
Koper itu sudah selesai dikemas.
Di dalamnya ada dua set perlengkapan mandi.
Satu berwarna biru, satu lagi merah muda.
Perlengkapan berwarna merah muda itu masih benar-benar baru.
Label harganya bahkan belum dilepas.
Di balik label itu terselip secarik sticky note.
Tulisan itu bukan tulisan tangan suamiku.
Itu tulisan seorang perempuan.
Huruf-hurufnya bulat, dengan gambar hati kecil di setiap akhir kalimat.
Tertulis:
“Terima kasih, Hub.”
—
### 1
Tulisan di sticky note itu sangat bulat.
Bukan tulisanku.
Tulisan tanganku tipis dan tegas.
Sedangkan tulisan perempuan itu bulat, dan setiap tanda titik selalu diakhiri gambar hati kecil.
Hub.
Dia memanggil suamiku seperti itu.
Aku mengembalikan sticky note ke tempat semula.
Suamiku sedang mandi.
Suara air dari kamar mandi terdengar begitu keras.
Aku duduk di tepi ranjang.
Menggenggam ponselku.
Kubuka kembali aplikasi maskapai.
Kulihat lagi riwayat perubahan tiket.
Waktu perubahan: pukul 14.17 kemarin.
Kemarin pukul dua lewat tujuh belas menit siang, aku sedang mengikuti rapat bulanan di kantor.
Sementara dia berada di rumah.
Menghapus namaku dari daftar penumpang.
Lalu menggantinya dengan Chloe.
Chloe.
Aku mengenal nama itu.
Mantan kekasihnya saat kuliah.
Mereka berpacaran selama dua tahun.
Sebelum kami menikah, dia sendiri yang berkata kepadaku,
“Itu semua sudah lama berakhir. Jangan khawatir.”
Ibuku bahkan pernah bertanya langsung kepadanya.
Dia menepuk dadanya sambil tersenyum.
“Tante, seumur hidup saya hanya akan memilih Nicole.”
Dua tiket itu kubeli menggunakan bonus akhir tahunku.
Masing-masing seharga delapan belas juta rupiah.
Total tiga puluh enam juta rupiah.
Aku menabung selama tiga bulan.
Selama tiga bulan itu, aku tidak membeli pakaian baru.
Aku selalu membawa bekal makan siang ke kantor.
Tidak pernah memesan makanan.
Aku naik transportasi umum setiap hari.
Bahkan jarang naik taksi online.
Saat ulang tahunnya, aku hanya menghadiahinya syal seharga sekitar lima puluh ribu rupiah.
Sedangkan ulang tahunku sendiri bahkan tidak kurayakan.
Semuanya demi menabung untuk membeli tiket itu.
Hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.
Kelas satu.
Paris.
Tujuh hari.
Aku ingin memberinya kejutan.
Malam saat tiket berhasil kupesan, aku mengirimkan itinerary kepadanya.
Dia tersenyum setelah membacanya.
Lalu memelukku erat sambil berkata,
“Menikah denganmu adalah keputusan terbaik dalam hidupku.”
Malam itu dia memelukku saat tidur.
Begitu erat.
Begitu meyakinkan.
Aku benar-benar mempercayainya.
Suara air berhenti.
Dia keluar dari kamar mandi.
Rambutnya masih basah.
Melihatku duduk di tepi ranjang, dia tersenyum.
“Kenapa belum tidur?”
“Aku menunggumu.”
“Besok istirahat yang cukup ya. Lusa kita harus berangkat pagi.”
Lusa.
Dia mengatakannya dengan sangat alami.
Seolah nama di dua tiket itu masih tetap aku dan dia.
“Baik,” jawabku pelan.
Dia berbaring.
Mematikan lampu.
Aku ikut berbaring.
Menutup mata.
Tetapi aku sama sekali tidak tidur.
Aku menunggu sampai napasnya menjadi panjang dan teratur.
Lalu kuambil ponselku.
Kubuka aplikasi pesan makanan miliknya.
Akun kami terhubung dengan nomor telepon yang sama.
Kulihat riwayat pesanannya selama tiga bulan terakhir.
Empat puluh satu pesanan.
Dua puluh sembilan di antaranya dikirim ke alamat yang bukan rumah kami.
Sebuah apartemen yang belum pernah kukunjungi.
Greenwood Residence.
Tower 7.
Unit 1802.
Greenwood Residence.
Aku pernah mendengar nama itu.
Tahun lalu, ibu mertuaku datang ke Jakarta.
Katanya ingin melihat-lihat properti.
Dia mengajakku melihat sebuah rumah.
Lokasinya tepat di sebelah Greenwood Residence.
Saat itu aku sempat heran mengapa beliau begitu mengenal daerah tersebut.
Beliau hanya tersenyum.
“Teman yang merekomendasikan.”
Teman.
Aku kembali melihat riwayat pesanannya.
Dua puluh sembilan kali.
Sarapan.
Makan siang.
Makan sore.
Salah satu pesanan memiliki catatan:
“Esnya sedikit, tambah oat, terima kasih.”
Aku tidak pernah minum kopi dengan oat.
Dia tahu itu.
Pesanan itu jelas bukan untukku.
Aku menutup aplikasi makanan.
Lalu membuka aplikasi peta.
Mencari lokasi Greenwood Residence Tower 7.
Hanya enam menit berjalan kaki dari rumah yang dulu diperlihatkan ibu mertuaku.
Aku meletakkan ponsel.
Menatap langit-langit kamar.
Di sampingku dia bergerak sedikit.
Bergumam pelan dalam tidurnya.
Aku tidak bisa mendengar dengan jelas.
Aku menoleh melihat wajahnya.
Dia tidur sangat nyenyak.
Seperti setiap malam.
Ponselnya masih berada di samping bantal.
Layarnya sudah gelap.
Namun aku tahu notifikasi WeChat itu masih ada.
“Sudah diganti belum?”
Nama pengirimnya hanya emoji hati.
Pesan itu dikirim pukul 17.43.
Aku tiba di rumah tepat pukul 18.00.
Perempuan itu menghubunginya tujuh belas menit lebih dulu daripada aku.
Mungkin bukan hanya tujuh belas menit.
Mungkin selama tiga tahun terakhir.
Dialah yang selalu lebih dulu menghubunginya.
Atau mungkin…
Mereka memang tidak pernah benar-benar putus.
—
### 2
Keesokan paginya.
Zion berangkat bekerja.
Sebelum pergi, dia mencium keningku.
“Sampai ketemu lusa.”
Dia tersenyum.
Masih setampan pria di foto pernikahan kami.
Begitu pintu tertutup.
Aku duduk di sofa.
Menatap ruang tamu.
Foto pernikahan kami tergantung di dinding.
Dia memelukku.
Kami sama-sama tersenyum.
Foto itu diambil tiga tahun lalu.
Aku mengalihkan pandangan.
Mengambil ponsel.
Membuka aplikasi mobile banking.
Kartu rekening tempat gajinya masuk ada padaku.
Setiap bulan dia menerima gaji sekitar Rp12 juta.
Selama ini aku selalu mengeceknya.
Tidak pernah ada yang mencurigakan.
Namun dia masih memiliki satu rekening lain.
Aku tahu rekening itu.
Tahun lalu, saat membantunya mengisi pulsa, muncul notifikasi dari bank di ponselnya.
Empat digit terakhir rekening itu adalah 3371.
Saat itu aku tidak terlalu memikirkannya.
Sekarang aku mencoba menelusurinya.
Untuk menghubungkan rekening diperlukan kode verifikasi melalui SMS.
Kode itu akan dikirim ke ponselnya.
Dan ponselnya sedang dibawa ke kantor.
Namun aku tahu password internet banking miliknya.
Tanggal pernikahan kami.
Dulu dia sendiri yang membuat password itu.
Sambil berkata,
“Supaya aku tidak pernah melupakan hari ini.”
Aku menggunakan nomor identitas dan password itu untuk masuk ke internet banking melalui situs web.
Halamannya berhasil terbuka.
Riwayat transaksi muncul sejak tiga tahun lalu.
Aku memeriksa satu per satu.
Setiap bulan ada transaksi dengan nominal tetap.
Rp5 juta.
Penerima: Chloe.
Kadang kolom keterangan kosong.
Kadang tertulis,
“Untuk biaya hidup.”
Kadang tertulis,

“Sewa apartemen.”
Rp5 juta.
Rp5 juta.
Rp5 juta…
3
Setiap bulan Rp5 juta.
Gaji Zion adalah Rp12 juta. Setelah dipotong untuk selingkuhannya, yang tersisa hanya Rp7 juta. Pantas saja selama tiga tahun ini dia selalu mengeluh tidak punya uang untuk menabung. Setiap kali ada pengeluaran besar, seperti servis mobil atau pajaknya, akulah yang selalu membayar.
Bahkan untuk liburan ke Paris ini, dia berpura-pura tidak mampu membayar setengahnya.
“Uangku habis untuk membayar asuransi Ibu bulan ini, Sayang,” katanya waktu itu dengan wajah penuh rasa bersalah.
Dan aku, dengan bodohnya, memeluknya dan berkata, “Tidak apa-apa, pakai uang bonusku saja.”
Ternyata asuransi yang dimaksud adalah biaya hidup mantan kekasihnya.
Aku memejamkan mata sejenak, mengatur napas agar dadaku tidak terlalu sesak. Rasa sakit itu ada, tetapi anehnya, kepalaku terasa sangat jernih. Aku tidak menangis. Air mataku terlalu berharga untuk dibuang demi pria seperti dia.
Aku segera menghubungi customer service maskapai penerbangan. Sebagai pembeli asli menggunakan kartu kredit dan akun atas namaku, aku memiliki hak penuh atas kode booking tersebut.
“Selamat pagi, saya ingin membatalkan satu tiket atas nama Chloe, dan mengubah satu tiket sisa kembali atas nama saya, Nicole,” kataku dengan suara tenang.
“Baik, Ibu Nicole. Berdasarkan regulasi tiket kelas satu, pembatalan sepihak akan dikenakan potongan 10%. Sisa dana akan dikembalikan ke kartu kredit asal dalam waktu 1×24 jam.”
“Lakukan saja,” jawabku.
Tiket Chloe dibatalkan. Uang Rp18 juta (setelah dipotong penalti) kembali ke rekeningku. Sedangkan tiket Zion? Aku sengaja tidak menyentuhnya. Biarkan nama Zion tetap ada di sana. Aku ingin dia tetap pergi ke bandara besok pagi.
Setelah menutup telepon, aku menelepon pemilik agen properti. Rumah yang kami tinggali saat ini adalah rumah kontrakan yang masa sewanya habis tepat akhir bulan ini. Pemiliknya adalah temanku sendiri.
“Hana, aku tidak akan memperpanjang sewa rumah untuk bulan depan. Tolong siapkan dokumen pemutusannya hari ini.”
“Eh? Bukankah Zion bilang kalian mau memperpanjangnya?” Hana terdengar bingung.
“Tidak. Dia salah dengar. Tolong urus sekarang.”
4
Hari keberangkatan tiba.
Zion bangun sangat pagi dengan wajah berseri-seri. Dia mengenakan kemeja terbaiknya, menyemprotkan parfum mahal yang kubelikan tahun lalu, dan memeriksa kopernya berkali-kali.
“Nicole, kamu benar-benar tidak bisa ikut karena urusan mendadak dari kantor?” tanya Zion, berpura-pura memasang wajah kecewa saat aku mengatakan ada audit mendadak dari pusat.
“Iya. Auditnya sangat penting. Sayang sekali tiketku hangus begitu saja,” jawabku sambil membuatkan kopi untuknya.
Dia memelukku dari belakang, berpura-pura menghibur. “Jangan sedih, ya. Nanti aku akan belikan banyak oleh-oleh dari Paris untukmu. Aku pergi dulu.”
“Hati-hati di jalan, Zion. Nikmati perjalananmu,” kataku sambil tersenyum tipis.
Begitu mobil taksi online yang menjemputnya menghilang di belokan kompleks, senyum di wajahku langsung runtuh. Aku segera masuk ke dalam kamar, mengeluarkan koper besar yang sudah kusiapkan sejak semalam.
Aku tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian penting, dokumen-dokumen berharga, dan semua barang yang kubeli dengan uangku sendiri. Rumah ini seketika terasa kosong.
Pukul sepuluh pagi, aku tiba di kantor pengacara keluarga kami. Aku meletakkan semua bukti mutasi rekening tersembunyi Zion, riwayat pesanan makanan ke Greenwood Residence, dan bukti perubahan nama tiket pesawat di atas meja.
“Pak Baskoro, tolong urus gugatan cerai saya. Pastikan dia tidak mendapatkan sepeser pun dari harta bersama, dan tuntut pengembalian seluruh uang yang dia gunakan untuk membiayai perempuan itu.”
Pengacara tua itu mengangguk tegas. “Serahkan pada saya, Nicole. Buktinya sudah sangat matang. Dia tidak akan bisa mengelak.”
5
Pukul dua siang, ponselku berdering berulang kali.
Nama Zion berkedip di layar. Aku sengaja membiarkannya berdering sampai panggilan kelima sebelum mengangkatnya.
“Nicole!!! Apa-apaan ini?!” Suara Zion terdengar berteriak panik, memecah kesunyian ruang tunggu bandara yang samar-asmar terdengar di latar belakang. “Kenapa nama Chloe tidak ada di sistem? Petugas check-in bilang tiket atas nama Chloe sudah dibatalkan kemarin!”
Aku bersandar di kursi kafe, menyesap jus jerukku dengan santai. “Oh, benarkah?”
“Jangan bercanda, Nicole! Chloe sudah ada di sini, dia sudah membawa semua kopernya! Kami mempermalukan diri kami sendiri di depan konter kelas satu! Petugas bilang tiket itu dibatalkan oleh pemilik akun utama. Kamu yang melakukannya, kan?!”
“Iya, aku yang melakukannya,” jawabku tenang.
Telepon mendadak hening selama beberapa detik. Zion tampaknya syok karena aku mengakuinya begitu saja dengan nada tanpa dosa.
“Kamu… kamu tahu dari mana soal Chloe?” suaranya mendadak mengecil, penuh ketakutan.
“Aku tahu segalanya, Zion. Tentang apartemen di Greenwood Residence, tentang Rp5 juta setiap bulan selama tiga tahun ini, dan tentang sticky note bulat bergambar hati di dalam kopermu.” Aku menarik napas dalam-dalam. “Aku yang menabung selama tiga bulan setengah mati untuk tiket itu. Kamu pikir aku akan membiarkan selingkuhanmu menikmatinya?”
“Nicole, dengarkan aku dulu… ini semua salah paham! Chloe hanya…”
“Sudahlah,” potongku. “Tiketmu sendiri masih aktif, kan? Pergilah ke Paris sendirian. Atau kalau mau, kamu bisa membelikan Chloe tiket baru di konter. Harganya kalau beli mendadak mungkin sekitar Rp40 juta untuk kelas satu. Pakai saja uang tabunganmu… oh, maaf, aku lupa kamu tidak punya tabungan.”
“Nicole! Jangan keterlaluan!” Zion berteriak frustrasi.
“Yang keterlaluan itu kamu, Zion. Saat kamu kembali nanti, jangan pulang ke rumah itu lagi. Masa sewanya sudah kuhentikan, dan semua barangmu sudah kupindahkan ke dalam kardus di pos satpam depan kompleks. Surat cerai dari pengacaraku akan tiba di kantor menteri tempatmu bekerja besok pagi.”
“N-nicole, tunggu! Kita bisa bicarakan ini!” Suaranya bergetar, kini dipenuhi penyesalan dan kepanikan yang luar biasa. Dia tahu betul bahwa reputasinya di kantor akan hancur jika skandal ini meledak.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Selamat berlibur, Zion.”
Aku langsung menutup telepon dan memblokir nomornya.
Dua minggu kemudian, aku berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kali ini, tidak ada Zion, tidak ada pengkhianatan. Menggunakan uang pengembalian tiket dan tabungan baruku, aku membeli satu tiket kelas satu yang baru.
Tujuanku tetap sama: Paris.
Saat pesawat lepas landas dan Jakarta perlahan mengecil di bawah sana, aku tersenyum melihat ke luar jendela. Penderitaan itu telah usai, dan kehidupan baruku yang bebas baru saja dimulai.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.