Posted in

IBU MERTUAKU TIDAK TAHU BAHWA SEMUA ASET DI RUMAH INI TERDAFTAR ATAS NAMAKU. JADI, DIA BAHKAN MEMBAWA IPAR PEREMPUANKU YANG SEDANG HAMIL UNTUK MENGUSIRKU. AKU HANYA TERSENYUM PAHIT: JANGAN MENYESAL NANTI.**

IBU MERTUAKU TIDAK TAHU BAHWA SEMUA ASET DI RUMAH INI TERDAFTAR ATAS NAMAKU. JADI, DIA BAHKAN MEMBAWA IPAR PEREMPUANKU YANG SEDANG HAMIL UNTUK MENGUSIRKU. AKU HANYA TERSENYUM PAHIT: JANGAN MENYESAL NANTI.**

Sore itu matahari bersinar begitu indah, sampai-sampai aku mengira hari itu akan menjadi hari yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi sambil mengobrol santai.

Aku sedang mengupas buah di dapur ketika ponselku tiba-tiba berdering.

Yang menelepon adalah Pak Chandra, petugas pengelola kompleks perumahan. Suaranya terdengar gugup.

“Bu Theresa, ibu mertua Anda datang. Beliau membawa seorang perempuan yang tampaknya sedang hamil. Mereka kelihatannya sangat marah. Apa perlu kami hentikan mereka di gerbang?”

Aku mengusap tanganku, lalu menjawab dengan tenang,

“Tidak usah. Biarkan mereka masuk.”

Mungkin aku sudah menunggu hari ini selama tiga tahun.

Hari ketika aku tidak perlu lagi bersabar dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Saat bel rumah berbunyi, aku sengaja menunggu sekitar setengah menit sebelum membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, wajah ibu mertuaku, Bu Remedios, langsung muncul di hadapanku.

Di belakangnya berdiri ipar perempuanku, Marites—istri kakak suamiku.

Perutnya sudah terlihat jelas.

Mungkin usia kandungannya sekitar lima atau enam bulan.

Tanpa melepas sepatu, Bu Remedios langsung menginjak lantai kayu alami yang baru saja kupasang.

Lumpur dan kotoran yang menempel di sol sepatunya meninggalkan bekas di lantai abu-abu muda itu.

Pemandangannya benar-benar membuat sesak.

Tatapannya menyapu seluruh ruang tamu.

Di matanya terlihat keserakahan sekaligus ketidakpuasan, seolah-olah sedang memeriksa sesuatu yang menurutnya seharusnya menjadi miliknya, tetapi telah lama dipakai orang lain.

“Theresa, hari ini aku datang karena ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu.”

Bu Remedios langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Itu adalah sofa kulit premium yang senyamannya kursi kelas satu di pesawat.

Setelah duduk, dia bahkan sengaja memantul-mantulkan tubuhnya dua kali, seperti seorang inspektur yang sedang menguji kualitas barang.

Marites berdiri di sampingnya.

Satu tangannya menyangga pinggang, sementara tangan lainnya mengusap perutnya.

Ekspresi bangga terpancar jelas dari wajahnya.

Dia mengenakan gaun hamil berwarna merah menyala.

Warnanya begitu mencolok hingga menyakitkan mata.

Di tengah ruang tamuku, dia tampak seperti lampu lalu lintas berwarna merah.

Aku menuangkan dua gelas air putih dan meletakkannya di atas meja tamu.

Namun Bu Remedios sama sekali tidak menyentuh gelas itu.

Sebaliknya, dia langsung mengeluarkan selembar dokumen dari dalam tasnya lalu melemparkannya ke atas meja.

Selembar kertas ukuran A4.

Penuh dengan tulisan.

Sekilas saja aku sudah mengenali jenis dokumennya.

Di bagian paling atas tertulis jelas tiga kata besar:

**”Perjanjian Perceraian.”**

“Baca. Lalu tanda tangani.”

Nada suaranya penuh wibawa, seolah tidak memberiku ruang untuk menolak.

Aku mengambil dokumen itu dan membacanya perlahan.

Isinya sangat sederhana.

Intinya, mereka menuntut agar aku menceraikan suamiku, Christian.

Aku harus pergi tanpa membawa apa pun.

Rumah, mobil, serta seluruh tabungan akan menjadi milik pihak suami.

Sebagai gantinya, mereka mengizinkanku membawa pakaian dan barang-barang pribadiku.

Bagian yang paling lucu justru berada di halaman terakhir.

Dengan sangat resmi tertulis:

**”Kedua belah pihak telah menyetujui perjanjian ini secara sukarela dan tanpa paksaan.”**

Aku hampir tertawa keras membacanya.

“Bu… apakah ini memang keinginan Christian?”

02

Bu Remedios mendengus angkuh, melipat kedua tangannya di dada. “Mau itu keinginan Christian atau bukan, tidak ada bedanya. Dia anakku, dan dia pasti mendengarkan kata-kataku. Lagi pula, dia sudah setuju.”

“Oh, benarkah?” Aku membalik lembar perjanjian itu, menatap kolom tanda tangan pihak kedua yang masih kosong. “Kalau dia setuju, kenapa bukan dia sendiri yang membawakan surat ini kepadaku?”

Marites, ipar perempuanku, maju selangkah sambil membusungkan perut buncitnya. “Halah, Theresa, tidak usah banyak alasan! Christian itu sibuk bekerja mencari uang. Lagipula, kamu harus sadar diri. Tiga tahun menikah, kamu tidak bisa memberikan Christian anak. Rahimmu itu mandul!”

Dia mengusap perutnya dengan gerakan teatrikal. “Sedangkan aku? Aku sedang mengandung cucu laki-laki pertama untuk keluarga ini. Ibu sudah berjanji, anakku harus lahir dan dibesarkan di rumah yang layak. Rumah di kompleks elite seperti ini, bukan di rumah kontrakan sempit tempat aku dan suamiku tinggal sekarang!”

Mendengar itu, aku akhirnya paham.

Akar dari seluruh drama siang ini adalah keserakahan yang dibalut kedok “demi cucu”. Rumah dua lantai di kompleks elite dengan sistem keamanan ketat dan pemandangan taman ini telah lama membuat mata mereka hijau. Selama ini, Christian selalu membual kepada keluarganya bahwa dialah yang membeli rumah ini dari hasil kerja kerasnya sebagai manajer tingkat menengah.

Keluarganya benar-benar percaya bahwa Christian adalah orang kaya baru, sementara aku hanyalah istri beruntung yang menumpang hidup. Mereka tidak tahu bahwa Christian bahkan harus mencicil mobilnya sendiri, sementara semua kemewahan di rumah ini… adalah milikku.

“Jadi, kalian mengusirku karena ingin Marites menempati rumah ini?” tanyaku, memastikan kelancangan mereka hingga ke batas akhir.

“Tepat sekali!” Bu Remedios menepuk lengan sofa kulitku. “Sofa ini, TV besar itu, dan lingkungan ini sangat bagus untuk plasenta cucuku. Kamu, sebagai wanita yang tidak berguna bagi keluarga kami, silakan kemas barang-barangmu sekarang. Aku beri waktu sampai jam lima sore.”

03

Aku menatap jam dinding kristal di ruang tamu. Pukul 16.15.

Aku tidak menangis, tidak juga mengamuk. Alih-alih merasa sedih, aku justru merasa sebuah beban berat yang selama tiga tahun ini mengikatku tiba-tiba runtuh.

“Baik,” kataku sambil tersenyum manis. Sangat manis hingga membuat Bu Remedios dan Marites saling berpandangan dengan bingung.

Aku mengambil pulpen dari laci meja, lalu tanpa ragu menorehkan tanda tanganku di atas kertas perjanjian perceraian tersebut. Theresa.

“Bagus! Ternyata kamu tahu diri!” Bu Remedios menyambar kertas itu dengan mata berbinar-binar. “Sekarang, angkat kakimu dari sini!”

“Tentu. Aku akan pergi,” kataku tenang. “Tapi sebelum aku pergi, ada beberapa hal yang harus kuselesaikan. Ini rumahku, jadi aku berhak membereskannya.”

Aku mengambil ponselku, lalu menelepon Pak Chandra, petugas pengelola kompleks.

“Pak Chandra, tolong bawa lima petugas keamanan dan tiga orang pekerja kasar ke rumah saya sekarang. Ya, bawa peralatan bongkar.”

Hanya butuh waktu lima menit sampai ketukan keras terdengar di pintu. Pak Chandra datang bersama rombongan pria berbadan tegap. Begitu mereka masuk, wajah Bu Remedios langsung memucat. “Theresa! Apa-apaan ini?! Siapa orang-orang ini?!”

Aku mengabaikan jeritan mertuaku. Aku menatap para pekerja kasar itu dan menunjuk ke sekeliling ruangan.

“Tolong bongkar lantai kayu abu-abu ini sekarang. Angkut sofa kulit ini, lampu kristal di langit-langit, TV 85 inci itu, kulkas dua pintu di dapur, dan semua perangkat elektronik. Masukkan semuanya ke dalam truk pindahan yang sudah saya pesan di luar.”

“Theresa! Kamu gila ya?!” Marites menjerit histeris, mencoba menghalangi seorang pekerja yang hendak mengangkat televisi. “Ini barang-barang milik Christian! Ini milik rumah ini! Kamu tidak boleh membawanya!”

04

“Milik Christian?”

Aku membuka tas kerjaku, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam yang berisi tumpukan dokumen tebal. Aku melemparkannya ke atas meja, tepat di depan wajah Bu Remedios yang mulai gemetar.

“Buka dan baca dengan mata kepala kalian sendiri,” kataku dengan nada dingin.

Bu Remedios dengan tangan gemetar membuka map tersebut. Lembar pertama adalah Sertifikat Hak Milik (SHM) atas tanah dan bangunan rumah ini. Di sana tertulis jelas, pemilik tunggal: Theresa Putri. Rumah ini kubeli tunai menggunakan uang warisan dari mendiang ayahku, setahun sebelum aku mengenal Christian.

Lembar berikutnya adalah bundel nota pembelian tingkat pertama. Sofa kulit premium, lantai kayu, lampu kristal, kitchen set, bahkan keran air di kamar mandi—semuanya dibeli menggunakan kartu debit atas namaku sendiri.

“Christian tidak punya hak sepeser pun atas rumah ini maupun isinya,” ujarku sambil bersendekap. “Di dalam dokumen perceraian yang baru saja kutandatangani, tertulis bahwa seluruh harta akan menjadi milik pihak suami, dan aku pergi hanya membawa pakaian pribadi. Masalahnya adalah… rumah dan seluruh aset di sini bukan harta bersama. Ini adalah harta bawaanku yang sah di mata hukum.”

Wajah Marites seketika berubah dari merah menyala menjadi pucat pasi seputih kertas. Dia melirik Bu Remedios yang kini megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen.

“J-jadi… rumah ini… bukan milik Christian?” bisik Marites, suaranya bergetar hebat.

“Christian hanya menumpang hidup di sini selama tiga tahun, gratis, tanpa membayar sepeser pun uang sewa,” jawabku sinis. “Dan karena hari ini aku sudah resmi bercerai, hak menumpangnya sudah habis.”

Para pekerja mulai bergerak cepat. Suara palu yang membongkar lantai kayu alami terdengar memekakkan telinga. Debu-debu mulai beterbangan. Sofa mewah yang tadi dibanggakan Bu Remedios langsung diangkat keluar oleh empat orang petugas. Dalam waktu singkat, ruang tamu yang megah itu berubah menjadi ruangan semen yang kosong, kotor, dan mengenaskan.

05

Pukul lima sore tepat.

Rumah itu kini benar-benar kosong melompong. Hanya menyisakan dinding plesteran tanpa hiasan dan lantai semen yang berdebu. Pintu-pintu kamar bahkan sudah dilepas.

Saat itulah, Christian baru saja pulang kerja.

Dia berjalan masuk dengan senyum lebar, mengira akan melihat istrinya menangis bersujud di kaki ibunya. Namun, begitu melangkah melewati pintu, senyumnya langsung membeku. Dia menatap rumahnya yang kini mirip bangunan setengah jadi yang terbengkalai.

“Ibu? Marites? Apa yang terjadi di sini?!” teriak Christian panik melihat ibu dan iparnya duduk merana di atas lantai semen yang dingin dan kotor.

Bu Remedios langsung berdiri dan menampar dada Christian. “Kamu pembohong, Christian! Kamu bilang kamu kaya! Kamu bilang rumah ini milikmu! Ternyata kamu hanya menumpang di rumah wanita mandul ini!”

Christian menoleh menatapku yang berdiri di dekat pintu bersama Pak Chandra. “Theresa… apa-apaan ini? Kenapa kamu menguras isi rumah?”

Aku mengangkat lembar surat perceraian yang sudah ditandatangani. “Ibumu yang memintaku pergi, Christian. Aku hanya mengabulkan keinginannya. Aku pergi tanpa membawa apa-apa, seperti perjanjian ini. Aku hanya membawa apa yang memang menjadi hak mutlakku.”

Christian jatuh berlutut di atas lantai semen. Dia tahu betul, dengan gajinya yang sekarang, dia tidak akan pernah mampu membeli rumah di kompleks ini, bahkan tidak akan mampu menyewa apartemen yang layak untuk ibunya dan keluarga kakaknya. Reputasi sebagai ‘pria sukses’ yang selama ini dia bangun di depan keluarganya hancur lebur dalam satu sore.

“Theresa, tolong… jangan seperti ini… aku tidak tahu Ibu akan datang…” Christian mencoba meraih kakiku, menangis memohon.

Aku melangkah mundur, menghindari tangannya dengan jijik.

“Pak Chandra, tolong kunci rumah ini dari luar setelah mereka semua keluar. Rumah ini sudah resmi saya daftarkan ke agen properti untuk dijual besok pagi.”

Aku berbalik, melangkah keluar menuju mobilku yang sudah menunggu di lobi kompleks. Sore itu, matahari terbenam dengan sangat indah di kaca spionku, membakar habis seluruh sisa-sisa masa lalu yang penuh kepalsuan. Aku tersenyum lepas, siap menyambut lembaran baru tanpa parasit di hidupku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.