Posted in

GAJIKU RP21 JUTA SEBULAN. AKU MENYERAHKAN KARTU ATM KEPADA IBU KARENA KATANYA ITU DEMI MASA DEPAN KAMI. TAPI SUATU MALAM, SAAT HANYA TAHU DAN KANGKUNG YANG TERHIDANG, ISTRIKU MENANGIS DAN MENGATAKAN ANGKA YANG MEMBUAT SELURUH TUBUHKU MEMBEKU**

GAJIKU RP21 JUTA SEBULAN. AKU MENYERAHKAN KARTU ATM KEPADA IBU KARENA KATANYA ITU DEMI MASA DEPAN KAMI. TAPI SUATU MALAM, SAAT HANYA TAHU DAN KANGKUNG YANG TERHIDANG, ISTRIKU MENANGIS DAN MENGATAKAN ANGKA YANG MEMBUAT SELURUH TUBUHKU MEMBEKU**

**Bagian 1 — Kukira Ibuku Hanya Pandai Mengatur Uang, Sampai Aku Melihat Istriku Menghitung Uang Receh Demi Menyiapkan Makan Malam Kami**

Namaku **Mateo Salazar**.

Usiaku tiga puluh dua tahun, bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan logistik di **Jakarta**, dengan gaji bulanan sebesar **Rp21 juta**.

Di mata saudara-saudaraku di kampung, itu adalah rezeki yang sangat besar.

Di mata ibuku, itu adalah tanggung jawab.

Sedangkan bagiku saat itu, itu adalah uang untuk keluarga.

Jadi ketika Ibu Remedios berkata bahwa sebaiknya dia saja yang memegang kartu ATM-ku, aku tidak berpikir dua kali.

> “Nak, kamu dan Lira masih muda. Godaannya banyak—belanja online, ngopi, jalan-jalan, dan macam-macam. Biar Ibu yang mengatur. Supaya nanti kalian bisa membeli rumah sendiri.”

Itulah yang dia katakan pada bulan pertama setelah kami menikah.

Saat itu kami tinggal di apartemen kontrakan kecil di **Bekasi**.

Di atas meja sudah tersaji bihun goreng, ayam goreng, dan es kelapa muda yang dibawanya sendiri.

Dia bahkan tersenyum kepada Lira, istriku, sambil menggenggam tangannya.

> “Jangan khawatir, Nak. Setiap bulan Ibu akan memberi kamu **Rp10 juta** untuk kebutuhan rumah tangga. Sisanya Ibu tabung untuk uang muka rumah kalian.”

Lira hanya mengangguk pelan.

Aku hampir menangis karena terharu.

Saat itu aku merasa sangat beruntung.

Aku punya ibu yang pandai mengelola uang.

Aku punya istri yang tidak suka membantah, tidak banyak mengeluh, dan tidak hidup bermewah-mewahan.

Kupikir hidup memang sesederhana itu.

Yang tidak kuketahui, sementara aku setiap hari bekerja dengan tenang, ada seseorang yang perlahan-lahan mengorbankan dirinya di rumah.

Suatu malam aku pulang hampir pukul sembilan.

Hujan deras mengguyur jalan.

Ujung celanaku basah karena terkena lumpur saat turun dari angkot.

Begitu masuk ke apartemen, ruang tamu terasa sunyi.

Tidak ada aroma sayur asam.

Tidak ada bau semur.

Tidak ada harum masakan yang ditumis.

Yang tercium hanya aroma kangkung rebus dan tahu goreng.

Lira sudah duduk di meja makan.

Rambutnya diikat sederhana, mengenakan daster lama yang warnanya mulai pudar.

Di depannya hanya ada sepiring kecil tumis kangkung, tahu goreng tanpa banyak bumbu, dan semangkuk kuah bening dengan sedikit telur.

Lagi.

Menu yang sama lagi.

Hampir dua minggu kami makan seperti itu.

Tahu.

Kangkung.

Telur.

Kadang sarden.

Kadang mi instan yang dia tambahkan daun kelor supaya katanya lebih bergizi.

Aku duduk sambil melepas jam tangan.

> “Nggak ada daging lagi?”

Aku tidak mengatakannya dengan marah.

Tetapi aku tahu nada suaraku cukup tajam.

Lira berhenti menyendok nasi.

Dia tidak langsung menjawab.

Aku mengambil sepotong tahu lalu mencelupkannya ke kecap.

> “Lira, kita kan bukan orang susah. Kenapa kita harus hidup sehemat ini?”

Perlahan dia meletakkan sendok nasi.

Lalu menatapku.

Saat itulah aku melihat matanya.

Merah.

Bukan karena baru menangis.

Melainkan karena sudah terlalu lama menahan tangis.

> “Mateo… boleh aku bertanya sesuatu?”

Aku mengernyit.

> “Apa?”

Dia menelan ludah.

> “Menurutmu… berapa uang yang ibumu berikan kepadaku setiap bulan?”

Aku sempat tertawa kecil karena kukira dia sedang bercanda.

> “Sepuluh juta, kan? Buat makan, kontrakan, listrik, air… semuanya.”

Dia tidak ikut tertawa.

Matanya justru semakin merah.

> “Sepuluh juta?”

Nada suaranya terdengar aneh.

Seolah dia sedang mengulang angka yang bahkan tidak pernah disentuhnya.

> “Iya. Memangnya kenapa?”

Air matanya jatuh.

Satu tetes.

Lalu semakin banyak.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku sadar bahwa istriku bukan hanya diam.

Dia sudah kelelahan.

> “Mateo… ibumu hanya memberiku **Rp350 ribu** setiap bulan.”

Tubuhku langsung membeku.

Suara hujan di luar seolah lenyap.

Dapur terasa sangat jauh.

> “Apa?”

> “Tiga ratus lima puluh ribu.”

Dia menatap piring kangkung di tengah meja.

> “Kadang terlambat. Kadang kurang. Kadang beliau bilang aku harus belajar hidup prihatin. Katanya jangan mentang-mentang punya suami bergaji besar lalu merasa seperti ratu.”

Tanganku mencengkeram meja.

> “Nggak mungkin.”

Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

> “Nggak mungkin itu benar.”

Dia menatapku.

Tatapan yang terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Tatapan orang yang sudah terlalu lelah.

> “Aku tahu kamu akan bilang begitu.”

Aku langsung berdiri.

> “Aku telepon Ibu sekarang.”

Aku meraih ponselku.

Tanganku gemetar saat mencari namanya di daftar kontak.

Namun sebelum sempat menekan tombol panggil, Lira memegang pergelangan tanganku.

Tangannya dingin.

Sangat dingin.

> “Jangan.”

> “Kenapa?”

> “Karena beliau pasti akan bilang aku pembohong.”

Aku hanya menatapnya.

> “Beliau akan bilang aku boros. Tidak bisa mengatur uang. Bahwa aku memfitnah beliau supaya bisa menguasai penghasilanmu.”

Aku terdiam.

Karena aku tahu…

Itu sangat mungkin terjadi.

Dan yang lebih menyakitkan lagi…

Aku sadar, dulu mungkin aku akan lebih percaya kepada Ibu daripada kepada istriku.

Perlahan Lira melepaskan tanganku.

Dia masuk ke kamar.

Aku tetap duduk di meja makan, menatap tahu goreng yang kini terasa seperti batu di tenggorokanku.

Beberapa saat kemudian dia kembali sambil membawa sebuah buku catatan tua berwarna biru.

Sampulnya sudah pudar.

Pinggirannya ditempel lakban.

Dia meletakkannya di depanku.

> “Sudah dua tahun aku menyimpan ini.”

Aku tidak langsung membukanya.

Aku takut melihat isinya.

Tetapi akhirnya kubuka juga.

Halaman pertama.

**”Diterima dari Ibu Remedios: Rp350.000.”**

Di bawahnya tertulis:

Beras 5 kg: Rp85.000.

Tahu: Rp12.000.

Kangkung: Rp8.000.

Enam butir telur: Rp18.000.

Iuran listrik: Rp180.000.

Utang di warung Bu Nena: Rp100.000.

**Sisa: -Rp53.000.**

Leherku langsung berkeringat dingin.

Aku membuka halaman berikutnya.

Sama.

Setiap bulan ada tanggal.

Setiap rupiah ada penjelasannya.

Bahkan ada struk pasar yang ditempel rapi.

Ada sobekan nota dari warung.

Ada daftar utang.

Di salah satu sisi halaman tertulis:

*”Bulan ini tidak beli sampo. Pakai sabun mandi saja.”*

Di halaman lain tintanya meleber.

Seolah pernah terkena air mata.

Di sana tertulis:

*”Ulang tahun Mateo. Beli puding kecil: Rp30.000. Besok tidak makan siang supaya uangnya cukup.”*

Aku tidak bisa bernapas.

Aku pria dengan gaji Rp21 juta sebulan.

Aku pria yang mengeluh karena tidak ada daging.

Aku pria yang mencari kuah yang lebih enak.

Sementara istriku menghemat sampo.

Melewatkan makan siang.

Berutang beras.

Hanya agar aku tidak curiga.

> “Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Begitu kalimat itu keluar, aku langsung menyesal.

Karena sebenarnya…

Aku sudah tahu jawabannya.

Dia menatapku.

> “Aku pernah bilang.”

Aku membeku.

> “Kapan?”

> “Tahun pertama pernikahan kita. Aku bilang uang belanja tidak cukup. Kamu menjawab, ‘Ibu pasti sudah menghitung semuanya. Jangan dipermasalahkan lagi.'”

Pandanganku jatuh ke buku catatan itu.

Aku mulai ingat.

Samar, tetapi ingat.

Saat itu aku sedang sibuk bekerja.

Ada tenggat waktu.

Ada laporan.

Ada telepon dari klien.

Dan istriku sedang meminta pertolongan.

Tetapi aku justru mengabaikannya.

Aku mendorongnya kembali ke dalam kesunyian.

> “Lira…”

> “Setelah itu aku tidak pernah membahasnya lagi.”

Perlahan dia menutup buku itu.

> “Tapi… bukan cuma ini yang harus kamu lihat.”

Aku menatapnya.

Dia mengambil sebuah amplop cokelat kecil dari belakang lemari.

Saat menyerahkannya kepadaku, tangannya gemetar.

> “Apa ini?”

Dia tidak langsung menjawab.

Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu.

Tiga kali berturut-turut.

Lalu terdengar suara ibuku dari luar.

> “Mateo? Nak? Buka pintunya. Lira ada di dalam? Kita harus bicara sekarang juga.”

Aku menoleh ke arah Lira.

Wajahnya pucat.

Dia menggenggam erat amplop itu.

Dengan suara yang nyaris berbisik, dia berkata,

> **”Jangan buka pintu sebelum kamu membaca isi amplop ini. Karena kalau Ibumu berbicara lebih dulu… mungkin aku akan hilang lagi dari pandanganmu.”**

Aku menatap Lira yang kini menggigil, memeluk amplop cokelat itu di depan dadanya seolah benda itu adalah tameng terakhir yang melindunginya dari kehancuran.

Di luar, gedoran pintu kembali terdengar. Kali ini lebih tidak sabar, disusul suara gesekan sandal Ibu Remedios di koridor apartemen yang sunyi.

“Mateo! Buka pintunya, Nak! Ibu tahu kamu di dalam. Motor kamu ada di bawah!” seru Ibu dengan nada menuntut yang selama tiga puluh dua tahun ini selalu kuanggap sebagai bentuk perhatian.

Aku menarik napas panjang, menahan gemuruh di dadaku, lalu menatap Lira. Aku mengambil amplop itu dari tangannya, menuntunnya untuk duduk di tepi tempat tidur, lalu menutup pintu kamar. Aku harus membaca ini sendirian. Aku harus tahu kebenaran tanpa interupsi.

Dengan tangan gemetar, kurobek segel amplop cokelat itu.

Di dalamnya tidak ada uang. Hanya ada tumpukan lembar cetakan rekening koran, beberapa tangkapan layar percakapan WhatsApp yang dicetak rapi, dan sebuah brosur properti mewah.

Aku membuka lembar pertama—rekening koran atas nama ibuku, Ibu Remedios.

Mataku menyipit melihat baris-baris angka yang masuk setiap bulan. Tepat pada tanggal 25, hari di mana gajiku cair, ada transfer otomatis sebesar Rp20.650.000—gajiku setelah dipotong biaya administrasi bank. Kartu ATM-ku memang dipegang Ibu, dan dia memindahkan seluruh isinya tanpa sisa ke rekening pribadinya.

Namun, bukan itu yang membuat darahku berhenti mengalir.

Mataku beralih ke kolom pengeluaran di rekening Ibu. Setiap tanggal 27, dua hari setelah gajiku masuk, ada aliran dana tetap sebesar Rp8 juta ke sebuah rekening atas nama Santi Salazar.

Santi adalah adik perempuan berkuliah di salah satu universitas swasta mahal di Jakarta. Aku tahu dia kuliah, tapi Ibu selalu bilang Santi mendapatkan beasiswa penuh dan sisa biaya hidupnya ditanggung oleh hasil jualan kue Ibu di kampung. Kebohongan pertama.

Lalu, ada penarikan tunai sebesar Rp5 juta setiap awal bulan dengan keterangan: “Uang saku bulanan ke bapak.” Bapak dan Ibu sudah bercerai sejak aku SMA, dan Ibu selalu mengutuk Bapak sebagai pria tidak bertanggung jawab yang tidak sudi diajak bicara. Nyatanya? Ibu diam-diam menyuapi mantan suaminya dengan uang keringatku. Kebohongan kedua.

Dan puncaknya berada di lembar ketiga. Sebuah bukti transfer sebesar Rp60 juta sebagai uang muka pembelian satu unit rumah kluster mewah di kawasan Serpong.

Brosur di dalam amplop itu menunjukkan tipe rumahnya. Di pojok atas lembar pemesanan, tertulis nama pembeli: Santi Salazar & Ibu Remedios.

Tidak ada namaku. Tidak ada nama Lira.

Rumah masa depan yang dijanjikan Ibu—alasan mengapa kami harus hidup prihatin, alasan mengapa istriku harus menghemat sampo dan berutang beras—ternyata sedang dibangun untuk adikku. Aku hanyalah sapi perah yang membiayai kemewahan mereka, sementara istriku dipaksa mengemis Rp350 ribu sebulan untuk bertahan hidup di sudut sempit Bekasi.

Tepat di lembar terakhir, ada cetakan percakapan WhatsApp antara Ibu dan Santi.

Santi: “Bu, Kak Mateo nggak bakal curiga kan kalau ATM-nya kita yang pegang? Santi mau beli tas baru nih buat magang.”

Ibu Remedios: “Nggak akan. Mateo itu penurut. Yang penting Lira-nya harus ditekan terus. Jangan sampai dia minta uang macam-macam. Bilang saja uangnya habis buat tabungan rumah mereka. Perempuan kampung seperti Lira itu dikasih makan tahu kangkung saja sudah untung, biar nggak melunjak dan belagu di Jakarta.”

“Perempuan kampung seperti Lira itu dikasih makan tahu kangkung saja sudah untung…”

Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku, berputar bersama bayangan Lira yang duduk lesu dengan daster pudar, menatap piring kangkung rebus dengan mata merah menahan tangis.

Seluruh tubuhku membeku, lalu mendadak rasa panas menjalar dari dada hingga ke ujung jari-jariku. Rahangku mengatup rapat hingga gigiku bergemertak. Rasa bersalah yang teramat besar menghantamku, bercampur dengan amarah yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.

Gedoran di pintu depan berubah menjadi guncangan kasar pada gagang pintu.

“Mateo! Kamu sengaja ya telantarkan Ibu di luar?! Lira! Kamu pasti yang melarang Mateo buka pintu, kan?! Dasar istri tidak tahu diuntung!” Teriakkan Ibu kini melengking, memecah keheningan malam.

Aku melangkah keluar dari kamar. Kutatap Lira sejenak, yang melihatku dengan tatapan cemas sekaligus pasrah. Aku mengangguk pelan padanya, memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku berjalan menuju pintu depan. Kutahan emosiku di balik wajah yang sengaja kubuat sedingin es.

Cklek.

Begitu pintu terbuka, Ibu Remedios berdiri di sana dengan napas terengah-engah, wajahnya ditekuk masam, mengenakan tunik rajut yang tampak mahal—yang sekarang tahu dibeli dengan uangku. Di belakangnya, Santi berdiri sambil sibuk mengetik di ponsel iPhone keluaran terbaru.

“Lama sekali buka pintunya! Kamu ini sudah jadi anak durhaka ya, membiarkan ibumu kedinginan di luar?” omel Ibu langsung menerobos masuk tanpa permisi. Dia melempar tasnya ke sofa kecil kami, lalu menoleh ke arah dapur dengan tatapan jijik. “Aroma apa ini? Kangkung lagi? Lira! Kamu ini benar-benar tidak becus mengurus suami! Suamimu kerja kantoran gaji besar, tapi kamu kasih makan seperti kambing!”

Santi ikut mencibir, “Iya nih, Kak Mateo makin kurus deh kayaknya semenjak nikah sama Kak Lira.”

Aku berdiri mematung di dekat pintu, memperhatikan sandiwara menjijikkan yang telah berlangsung selama dua tahun ini.

“Ibu ke sini mau ada perlu apa?” tanyaku, suaraku datar, tanpa nada hangat yang biasanya selalu kuberikan.

Ibu Remedios agak terkejut mendengar nadaku, tapi dia segera menguasai diri. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah map dokumen.

“Ini, Ibu mau minta tanda tangan kamu. Ada dokumen dari developer rumah di Serpong. Mereka butuh tanda tangan kamu sebagai penjamin tambahan atas nama Santi, biar proses KPR-nya cepat selesai. Lagipula, tabungan dari uangmu kemarin masih kurang Rp20 juta lagi untuk biaya akad. Besok kan gajimu cair, jadi Ibu mau sekalian ambil tunai di bank.” Ibu berbicara dengan begitu santai, seolah-olah gajiku adalah miliknya yang bisa diambil kapan saja.

Aku berjalan mendekati meja makan. Kuambil buku catatan biru milik Lira yang sudah usang, lalu meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Ibu. Di sampingnya, kuletakkan seluruh isi amplop cokelat—lembar rekening koran dan cetakan obrolan WhatsApp mereka.

“Apa ini?” tanya Ibu, alisnya bertaut.

Santi mendekat, berniat melihat, namun begitu matanya menangkap lembaran kertas putih berisi cetakan chat WhatsApp-nya sendiri, wajah gadis itu mendadak pucat pasi. Dia menyenggol lengan Ibu dengan panik.

“Bu… itu…” bisik Santi bergetar.

Ibu Remedios mengambil kertas-kertas itu. Begitu dia membaca isinya, ekspresi wajahnya berubah drastis dari angkuh menjadi panik, sebelum akhirnya mencoba memasang topeng kemarahan.

“Mateo! Kamu memata-matai Ibumu sendiri?! Ini pasti kerjaan istri kuratmu itu, kan?! Dia yang menghasutmu untuk memfitnah Ibu!” pekik Ibu, jarinya menunjuk kasar ke arah kamar tempat Lira berada.

“Cukup, Bu,” kataku. Suaraku tidak tinggi, tapi getaran dingin di dalamnya membuat Ibu bungkam seketika. “Dua tahun, Bu. Dua tahun aku memercayakan masa depanku dan Lira di tangan Ibu. Aku bekerja belasan jam sehari, menahan mual di angkot, pulang kehujanan, hanya untuk memastikan Ibu punya uang di kampung. Dan apa yang Ibu lakukan?”

Aku membuka buku catatan biru milik Lira ke halaman yang tintanya meleber karena air mata.

“Istriku… wanita yang berjanji kutemani dalam suka dan duka… harus menghitung uang receh setiap hari. Dia melewatkan makan siang, berutang beras di warung, bahkan tidak mampu membeli sampo karena Ibu hanya memberinya Rp350 ribu sebulan!” Air mataku akhirnya runtuh, bukan karena sedih, tapi karena rasa murka dan sesal yang mendalam. “Sementara Ibu dan Santi berbelanja tas bermerek, membelikan baju untuk bapak yang dulu menelantarkan kita, dan membeli rumah mewah atas nama kalian berdua?!”

“Kak, tapi Santi kan butuh rumah itu buat…” Santi mencoba membela diri dengan suara mencicit.

“Diam kamu, Santi!” bentakku, membuat adikku itu tersentak mundur dan mulai menangis. “Iphone yang kamu pakai, kuliah yang kamu banggakan, semuanya dibayar dengan penderitaan kakak iparmu yang kamu sebut ‘perempuan kampung’!”

Ibu Remedios mencoba mendekatiku, tangannya berusaha menggapai lenganku dengan wajah melas yang biasa dia gunakan jika ingin meminta sesuatu. “Mateo, dengar Ibu, Nak. Ibu melakukan ini demi kebaikan keluarga kita. Santi itu adikmu, kamu harus membantunya. Nanti kalau rumah itu sudah lunas, kalian juga bisa main ke sana…”

“Keluar,” potongku dingin.

“Mateo…”

“Aku bilang KELUAR!” teriakku, suara yang selama ini selalu terkunci kini menggelegar memenuhi ruangan kecil itu.

Ibu Remedios dan Santi terlonjak kaget. Mereka belum pernah melihatku semarah ini. Selama tiga puluh dua tahun, Mateo adalah anak yang penurut, yang tidak pernah membantah sepatah kata pun.

“Mulai malam ini, jangan pernah datangi rumahku lagi. Dan jangan pernah berharap satu rupiah pun dari keringatku mengalir ke rekening Ibu atau Santi,” kataku sambil berjalan ke arah meja, mengambil ponselku.

Di depan mata mereka, aku membuka aplikasi mobile banking. Aku memasukkan nomor rekeningku, lalu memilih menu “Blokir dan Ganti Kartu ATM” karena alasan hilang. Dalam hitungan detik, kartu ATM yang berada di dalam dompet Ibu Remedios di kampung kini tidak lebih dari sekadar plastik sampah yang tidak berguna.

“Besok pagi, aku akan memindahkan seluruh salgoku ke rekening baru yang hanya diketahui olehku dan Lira. Dan untuk rumah di Serpong…” Aku menatap map dokumen yang dibawa Ibu, lalu merobeknya menjadi dua bagian di depan wajahnya. “…silakan Ibu bayar sendiri cicilannya dengan uang jualan kue Ibu yang sering Ibu banggakan itu.”

Wajah Ibu Remedios berubah menjadi gelap gulita. Rasa panik menguasai dirinya karena dia tahu, tanpa gajiku yang Rp21 juta sebulan, rumah kluster mewah itu akan segera disita oleh developer, dan gaya hidup Santi di kampus akan hancur berantakan.

“Kamu akan jadi anak durhaka, Mateo! Ibu yang melahirkanmu! Ibu kutuk kamu tidak akan selamat hidup di Jakarta ini!” teriak Ibu dengan penuh histeria, wajahnya memerah padam karena harga dirinya hancur.

“Kalau menjadi suami yang melindungi istrinya disebut durhaka oleh Ibu, maka aku menerima kutukan itu,” jawabku tenang, meskipun hatiku perih luar biasa. “Sekarang, keluar dari apartemenku sebelum aku memanggil sekuriti untuk menyeret kalian berdua.”

Melihat kilat ketegasan di mataku, Ibu Remedios menyadari bahwa dia telah kehilangan kendali atas sapi perahnya. Dengan amarah yang meluap-luap, dia menyambar tasnya, menarik lengan Santi dengan kasar, dan melangkah keluar dari apartemen sambil membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan dentuman memekakkan telinga.

Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Hanya menyisakan suara sisa hujan di luar jendela.

Aku berbalik dan mendapati pintu kamar terbuka. Lira berdiri di sana, air matanya mengalir deras, namun kali ini bukan karena ketakutan atau kelelahan. Itu adalah air mata kelegaan.

Aku berjalan mendekatinya, berlutut di depannya, lalu memeluk pinggangnya dengan erat. Tangisku pecah di ceruk lehernya.

“Maafkan aku, Lira… Maafkan aku karena begitu buta… Maafkan aku…” bisikku berulang kali di sela isak tangisku.

Lira mengusap rambutku dengan lembut, tangannya yang dingin perlahan menghangat. “Sudah, Mateo. Semuanya sudah selesai. Kita mulai lagi dari awal, ya?”

Malam itu, di atas meja makan yang sederhana, kami menikmati sisa tumis kangkung dan tahu goreng yang mendingin. Namun, bagi kami berdua, itu adalah makanan termewah yang pernah kami santap. Karena malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua tahun pernikahan, kami memakan hasil jerih payah kami sendiri—tanpa bayang-bayang manipulasi, dan dengan masa depan yang kini benar-benar berada di tangan kami sendiri.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.