Posted in

AKU MEMBERI AYAH SEBUAH ROLEX DI PESTA PENSIUNNYA, TAPI DIA TETAP MENYEBUTKU SEBAGAI AIB KELUARGA—KEESOKAN HARINYA, MEREKA BARU TAHU APA YANG DIAM-DIAM KUTARIK ATAS NAMAKU**

AKU MEMBERI AYAH SEBUAH ROLEX DI PESTA PENSIUNNYA, TAPI DIA TETAP MENYEBUTKU SEBAGAI AIB KELUARGA—KEESOKAN HARINYA, MEREKA BARU TAHU APA YANG DIAM-DIAM KUTARIK ATAS NAMAKU**

Aku menghadiahkan Ayah sebuah Rolex senilai hampir **Rp170 juta** tepat di pesta pensiunnya.

Selama tiga detik, semua orang bertepuk tangan.

Lalu Ayah menatap jam itu, menatapku, lalu tersenyum sinis.

*”Kamu tetap saja aib keluarga ini.”*

Seketika suasana halaman rumah menjadi hening.

Bukan benar-benar sunyi. Musik dari speaker tua di samping garasi masih terdengar. Aroma sate, ayam bakar, dan iga bakar masih memenuhi udara. Anak-anak masih berlarian di dekat gerbang. Paman Ben yang sudah agak mabuk tertawa keras karena tidak tahu apakah itu lelucon atau hinaan.

Tapi aku tahu.

Itu bukan lelucon.

Namaku **Marielle Cruz**, 35 tahun, seorang analis keuangan di kawasan bisnis **Jakarta Selatan**, dan anak sulung dari **Rogelio Cruz**, seorang kapten polisi yang baru pensiun dari **Polda Metro Jaya**.

Seumur hidupku, kasih sayang Ayah terasa seperti ruang sidang.

Dia hakimnya.

Kami para terdakwa.

Dan aku selalu dinyatakan bersalah.

Adik bungsuku, **Marco**, adalah anak kesayangannya.

Marco sudah berkali-kali menabrakkan mobil, keluar-masuk pekerjaan, berbulan-bulan menunggak uang kontrakan, dan berkali-kali meminjam uang kepada Ibu sambil berkata, *”Bu, ini yang terakhir, janji.”*

Tapi di mata Ayah, Marco masih *”anak yang punya masa depan,”* padahal usianya sudah 30 tahun.

*”Adikmu itu masih punya potensi,”* begitu kata Ayah setiap kali.

Sedangkan aku?

Aku kuliah dengan beasiswa.

Aku bekerja sambil kuliah.

Aku yang melunasi biaya operasi Ibu di rumah sakit.

Aku diam-diam membayar Pajak Bumi dan Bangunan rumah mereka selama tiga tahun agar tidak terkena denda.

Aku juga yang membayar cicilan mobil pikap Ayah ketika hampir ditarik leasing.

Tetapi di mata Ayah…

Aku tetap aib keluarga.

Karena aku belum menikah.

Karena aku belum punya anak.

Karena aku pindah ke Jakarta Selatan dan tidak lagi hidup di bawah kendalinya.

Karena aku belajar mengatakan **”tidak.”**

Hari Sabtu itu, aku tetap memaksakan diri datang.

Pesta pensiun Ayah.

Tiga puluh delapan tahun mengabdi sebagai polisi.

Seminggu sebelumnya, Ibu meneleponku.

*”Nak,”* katanya, *”cuma sehari saja. Tolong datang. Jangan ungkit pertengkaran lama. Ayahmu sudah tua.”*

Sudah tua, katanya.

Seolah usia bisa menghapus semua luka yang ditinggalkan oleh kata-kata.

Tetapi aku tetap datang.

Aku membeli Rolex yang sudah lama menjadi impiannya.

Stainless steel.

Dial hitam.

Sederhana, berat, elegan.

Jam yang tidak perlu dipamerkan karena semua orang tahu nilainya.

Saat aku menyerahkan kotaknya, aku melihat reaksi pertama Ayah.

Matanya membesar.

Dia benar-benar senang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa dia kembali melihatku sebagai anaknya.

Tapi itu hanya sesaat.

Begitu kotak dibuka, pandangannya beralih dari jam ke wajahku.

Lalu muncullah senyum sinis yang sudah kukenal sejak kecil.

*”Kamu tetap saja aib keluarga ini.”*

Marco tertawa.

Dialah orang pertama yang tertawa.

Dan itulah yang paling menyakitkan.

Karena tawanya seolah memberi izin kepada semua orang untuk ikut meremehkanku.

Beberapa sepupu langsung mengalihkan pandangan.

Seorang tetangga buru-buru meneguk minumannya.

Mantan rekan Ayah di kepolisian hanya menggaruk kepala dengan canggung.

Ibu hanya berbisik pelan.

*”Rogelio…”*

Pelan.

Ragu.

Tanpa keberanian.

Dia tidak membelaku.

Memang tidak pernah, terutama saat itu benar-benar penting.

Aku tersenyum.

Bukan karena tidak terluka.

Aku tersenyum karena sesuatu di dalam diriku akhirnya berhenti memohon untuk diterima.

Aku melangkah mendekati Ayah.

Kuperlahan mengambil kembali kotak Rolex dari tangannya.

Lalu kututup perlahan.

Wajah Ibu langsung berubah.

*”Marielle,”* katanya dengan mata membelalak. *”Jangan kurang ajar.”*

Aku menatapnya.

*”Aku yang kurang ajar?”*

Wajah Ayah memerah.

*”Itu hadiahku.”*

*”Bukan,”* jawabku tenang. *”Itu tadinya hadiah.”*

Marco berdiri di samping boks pendingin sambil memegang sebotol bir.

*”Dasar drama queen.”*

Aku menoleh kepadanya.

*”Kalau begitu, belikan Ayah satu.”*

Mendadak dia terdiam.

Tidak bisa menjawab.

Bahkan untuk membantu membayar tagihan listrik rumah pun dia selalu menangis minta uang kepada Ibu.

Ayah melangkah mendekat.

*”Kamu mempermalukanku di depan semua orang.”*

Aku tertawa kecil.

*”Aku yang mempermalukan Ayah?”*

Aku memandang para tamu.

Orang-orang yang mendengar semuanya.

Orang-orang yang selama bertahun-tahun menyaksikan keluargaku seperti menonton sinetron, tetapi baru kali ini melihat akhir sebenarnya dari sebuah adegan.

*”Ayah,”* kataku, *”Ayah sendiri yang melakukan itu.”*

Aku mengambil tasku dan berjalan menuju gerbang.

Aku mendengar bisik-bisik di belakangku.

*”Eh, dia benar-benar pergi.”*

*”Sayang sekali jamnya.”*

*”Kata-kata Pak Rogelio tadi keterlaluan.”*

Ibu mengejarku sampai ke tengah halaman.

*”Marielle, kembali sekarang juga.”*

Aku berhenti.

Lalu menoleh kepadanya.

*”Tidak.”*

Matanya membesar.

Seolah baru kali itu dia mendengarku menolak dengan tegas.

*”Aku sudah selesai membayar hanya untuk dihina oleh kalian.”*

Dia membeku.

Dari teras, Ayah berteriak.

*”Bawa saja jammu! Aku tidak membutuhkannya!”*

Aku mengangguk.

*”Ya. Aku tahu.”*

Saat keluar dari gerbang, aku belum menangis.

Belum.

Aku berjalan menuju mobilku, meletakkan kotak Rolex di kursi penumpang, lalu menarik napas panjang.

Keesokan paginya, barulah mereka menyadari bahwa bukan hanya jam itu yang kutarik kembali.

Ibu sedang berada di dapur ketika ponselnya berdering.

Tak lama kemudian Marco berteriak dari ruang tamu.

*”Bu! Kenapa kartu debitku ditolak?”*

Ponsel Ayah ikut berdering.

Ponsel Ayah ikut berdering. Itu adalah panggilan dari pihak leasing mobil pikapnya.

Suara di seberang telepon terdengar dingin dan formal. “Selamat pagi, Pak Rogelio. Kami mengonfirmasi bahwa permohonan pembatalan auto-debit pelunasan dan pencabutan posisi penjamin atas nama Ibu Marielle Cruz telah diproses subuh tadi. Karena sisa cicilan belum lunas dan penjamin mundur, unit pikap Anda masuk dalam daftar eksekusi penarikan minggu ini.”

Ayah terpaku, wajahnya yang semula memerah karena sisa amarah semalam mendadak pias.

Sebelum dia sempat mencerna ucapan petugas leasing, pintu depan digedor dengan kasar. Marco berlari membukanya, berharap itu adalah kurir makanan yang ia pesan. Namun di balik pintu, dua orang pria berseragam petugas PLN dan satu orang petugas pamong praja berdiri dengan berkas di tangan.

“Ada apa ini?” tanya Ayah, melangkah ke teras dengan sisa-sisa wibawa seorang mantan kapten polisi.

“Selamat pagi, Pak. Kami datang untuk melakukan penyegelan sementara dan pemutusan aliran listrik,” kata petugas PLN tegas. “Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) rumah ini menunggak selama tiga tahun, dan tagihan listrik pascabayar Anda sudah melewati batas toleransi.”

“Mustahil!” bentak Ayah. “Anakku yang bayar! Marielle yang…”

Ayah mendadak menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat.

Ibu berlari keluar dari dapur dengan air mata yang mulai berlinang, memegang ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dariku. Di sampingnya, Marco terus memaki karena saldo di kartu debit yang biasanya otomatis terisi dari rekening tambahanku kini berstatus Rp0.

Ibu menyodorkan ponselnya ke depan wajah Ayah dengan tangan gemetar.

“Ibu, Ayah, dan Marco. Selama lima tahun ini, aku mendaftarkan seluruh aset kalian—mulai dari cicilan mobil, listrik, PBB rumah, hingga uang saku bulanan Marco—di bawah sistem pembayaran otomatis (auto-debit) rekening bisnis atas namaku sebagai penjamin utama. Semalam, aku sadar bahwa ‘aib’ tidak layak memikul beban keluarga yang ‘terhormat’ ini. Pukul 04.00 pagi tadi, aku resmi mencabut namaku dari semua fasilitas tersebut. Mulai hari ini, silakan urus potensi masa depan Marco dan harga diri Ayah dengan uang kalian sendiri. Selamat menikmati masa pensiun.”

Rumah yang semalam penuh tawa riuh para tamu kini mendadak mencekam.

Ayah terduduk lemas di kursi teras. Jam Rolex senilai Rp170 juta yang ia tolak semalam kini terasa seperti remah-remah kecil dibanding total seluruh biaya hidup yang baru saja kuhentikan. Selama ini mereka mengira semua kemudahan itu datang dari langit, atau dari sisa-sisa kejayaan masa lalu Ayah. Mereka lupa bahwa ada “si aib keluarga” yang diam-diam menjadi fondasi agar rumah ini tidak roboh.

Ibu mencoba meneleponku berulang kali, namun hanya suara operator yang menjawab. Marco mulai panik, menyadari bahwa tanpa uangku, dia tidak lebih dari seorang pengangguran tanpa masa depan.

Sementara itu, di sebuah kedai kopi di sudut Jakarta Selatan yang tenang, aku menyesap latte hangatku. Di samping laptopku, kotak Rolex dial hitam itu terbuka, memantulkan cahaya lampu yang elegan.

Aku tidak membuangnya. Aku akan menjualnya kembali atau mungkin memberikannya pada diriku sendiri sebagai hadiah kelulusan. Lulus dari penjara emosional bernama keluarga.

Handphone-ku bergetar, menampilkan belasan panggilan tak terjawab dari Ibu dan Marco. Aku tersenyum tipis, membalikkan layar ponselku ke bawah, lalu kembali menikmati pagiku yang paling damai dalam 35 tahun terakhir.

Mereka menginginkanku menjadi aib. Maka, aku memberikan mereka apa yang mereka minta: ketiadaanku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.