Sebelum mereka pergi, mereka meninggalkan secarik catatan yang ditempel di pintu vila kami.**
Tulisan tangan Sofia langsung kukenali. Bahkan ada emoji tersenyum di bagian akhirnya.
*”Begitu keluar dari dermaga, jalan lurus sekitar tiga ratus meter ke kanan. Perahu jam dua sudah menunggumu di sana. Kamu pasti bisa pergi sendiri.”*
Aku mengikuti petunjuknya.
Namun ketika sampai di sisi kanan, yang kulihat hanyalah bebatuan tajam dan ombak yang menghantam pantai.
Tidak ada dermaga.
Tidak ada perahu.
Apalagi seseorang yang menungguku.
Aku segera menelepon mereka.
Begitu panggilanku diangkat, yang pertama kudengar adalah tawa Sofia.
Ia tertawa sampai hampir kehabisan napas.
*”Ya ampun, Mia! Kamu benar-benar pergi ke kanan?”*
*”Harusnya ke kiri! Ke kiri!”*
*”Aku cuma mau menguji apakah kamu sudah benar-benar bisa mencari arah. Sudah bertahun-tahun kita berteman, tapi kamu tetap saja tidak ada kemajuan.”*
Di balik panggilan itu terdengar suara mesin speedboat, deburan ombak, dan tawa para wisatawan.
Lalu terdengar suara Gabriel.
Tenang.
Lembut.
Dan seperti biasa, selalu membela Sofia.
*”Sofia, sudahlah, jangan terus menggodanya.”*
*”Mia pasti sudah panik.”*
*”Nanti begitu dia sampai, kita belikan dia mango shake sebagai permintaan maaf.”*
Sofia kembali tertawa.
Sementara itu, perahu pukul dua siang sudah berangkat.
Petugas loket mengatakan bahwa perahu berikutnya baru berangkat pukul **16.30**.
Aku duduk di tepi dermaga sambil memandang laut.
Angin bertiup sangat kencang.
Namun kenangan yang berembus di kepalaku jauh lebih kuat.
Waktu kami masih SMA, mereka pernah meninggalkanku di **Pasar Tanah Abang** setelah mengatakan bahwa aku harus belajar naik transportasi umum sendirian.
Aku sempat beberapa kali salah naik angkutan sebelum akhirnya dibantu seorang petugas keamanan.
Saat kelas tiga SMA, mereka meninggalkanku di jalur pendakian di **Puncak, Bogor**, karena katanya aku harus belajar menggunakan kompas.
Ketika kuliah, mereka bahkan meninggalkanku di sebuah SPBU di kawasan **Anyer** saat aku ke toilet. Alasannya, mereka ingin tahu apakah aku bisa menggunakan Google Maps.
Setiap kali, alasan mereka selalu sama.
*”Ini demi kebaikanmu.”*
*”Supaya kamu belajar mandiri.”*
Padahal sebenarnya…
Mereka tidak sedang mengajariku.
Mereka hanya sedang mempermainkanku.
Sekitar pukul **16.20**, perahu terakhir tiba.
Aku berdiri.
Namun bukannya menuju dermaga, aku menarik koperku ke kantor pemesanan tiket pesawat kecil di seberang jalan.
*”Satu tiket untuk penerbangan paling dekat ke Jakarta, ya.”*
Aku memang tidak pandai mencari jalan menuju orang-orang yang terus-menerus meninggalkanku.
Tetapi aku masih tahu jalan pulang kepada diriku sendiri.
*”Mia, kamu di mana?”*
Gabriel menelepon saat aku baru keluar dari **Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3**.
*”Kami sudah menunggumu hampir satu jam di dermaga.”*
Tak ada sedikit pun penyesalan dalam suaranya.
Seolah-olah justru aku yang bersalah.
*”Kamu salah arah lagi?”*
Aku tersenyum tipis.
*”Aku tidak naik perahu.”*
Ia terdiam.
Beberapa detik kemudian, tawa Sofia kembali terdengar.
*”Sudah kuduga, Gabriel.”*
*”Jangan-jangan dia sekarang masih menangis sendirian di sudut pulau.”*
*”Harusnya tadi kupasangi GPS di lehernya.”*
Gabriel tertawa kecil.
*”Mia, kirim saja lokasimu. Kami akan menjemputmu.”*
Nada bicaranya tetap lembut.
Seolah-olah akulah anak kecil yang harus dimaafkan.
*”Tidak perlu.”*
*”Aku sudah di rumah.”*
Hening sejenak.
*”Rumah?”*
*”Iya.”*
*”Di apartemen kita di SCBD.”*
Nada suaranya langsung berubah berat.
*”Mia, jangan kekanak-kanakan.”*
*”Sofia cuma bercanda.”*
*”Kami hanya ingin membantumu menjadi lebih mandiri.”*
Aku memandang lampu-lampu kota Jakarta dari balik jendela taksi.
Mandiri?
Berapa kali aku ditinggalkan sendirian hanya agar mereka bisa tertawa?
Berapa kali aku meyakinkan diriku bahwa mereka melakukan semua itu karena sayang kepadaku?
Dan berapa kali aku percaya bahwa aku dicintai oleh pria yang selalu mengutamakan perasaan wanita lain dibandingkan perasaanku?
Sesampainya di apartemen, aku tidak menyalakan lampu.
Aku duduk diam di ruang tamu.
Lalu aku menelepon sebuah perusahaan jasa pindahan.
*”Halo.”*
*”Saya ingin memindahkan barang besok pagi.”*
Keesokan harinya aku terbangun karena notifikasi Facebook.
Sofia mengunggah postingan baru.
Sembilan foto.
Foto pertama memperlihatkan dirinya bersama Gabriel di pantai **Labuan Bajo**.
Gabriel memandangnya sambil tersenyum.
Seolah-olah merekalah pemeran utama dalam film romantis.
Caption-nya berbunyi:
**”Liburan ternyata jauh lebih menyenangkan tanpa drama queen yang selalu nyasar.”**
Seseorang bertanya di kolom komentar di mana aku berada.
Sofia langsung membalas.
*”Dia ngambek lalu pulang ke Jakarta. Kami juga tidak bisa mencegahnya.”*
Gabriel memberikan reaksi

pada komentar itu.
Anehnya…
Aku tidak lagi merasa sakit.
Untuk pertama kalinya…
Aku hanya merasa lelah.
Saat sedang mengemas barang-barangku, sebuah kotak kecil jatuh dari dalam lemari.
Di dalamnya ada gantungan kunci berbentuk kompas.
Hadiah dari Gabriel ketika kami kuliah tahun kedua.
Dulu ia berkata,
*”Kalau suatu hari aku tidak ada di sampingmu, kompas ini akan menjadi penunjuk jalanmu.”*
Aku tersenyum.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena akhirnya aku mengerti.
Aku tidak membutuhkan kompas.
Aku tidak pernah tersesat.
Aku hanya terlalu lama memilih mengikuti orang yang salah.
Tepat pukul tiga sore, Gabriel melakukan panggilan video.
Begitu kuangkat, ia langsung berkata,
*”Mia, sudahi dramamu.”*
*”Beli tiket dan kembali ke sini.”*
*”Sofia juga sudah merasa tidak enak.”*
Ia mengarahkan kamera ke pantai.
Di belakangnya…
Sofia sedang bermain air laut sambil tertawa.
Seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.
Aku menarik napas panjang.
Lalu kuputar kameraku.
Kutunjukkan tumpukan kardus.
Barang-barang yang sudah dikemas.
Dan apartemen yang hampir kosong.
Gabriel terdiam.
*”Apa yang sedang kamu lakukan?”*
*”Aku pindah.”*
*”Apa?”*
Aku menatap lurus ke arah kamera.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun…
Tidak ada lagi amarah dalam suaraku.
Tidak ada lagi permohonan.
Tidak ada lagi luka.
Yang tersisa hanyalah ketenangan.
*”Gabriel.”*
*”Aku tidak akan kembali lagi.”*
*”Oh ya…”*
Aku berhenti sejenak sebelum tersenyum.
*”Barusan pihak manajemen apartemen menelepon.”*
*”Ternyata apartemen yang kita tempati selama ini terdaftar atas namaku.”*
*”Dulu aku lupa memberitahumu.”*
*”Kalian berdua punya waktu tiga puluh hari untuk keluar.”*
Mata Gabriel membelalak.
Dan sebelum sempat mengatakan apa pun—
Sofia muncul di belakangnya, tubuhnya masih basah oleh air laut.
*”Apa maksudnya?”*
Gabriel membisu.
Wajahnya perlahan memucat.

Karena untuk pertama kalinya setelah lima tahun…
Dialah yang akhirnya kehilangan arah.
BAGIAN AKHIR: Arah Baru Tanpa Penunjuk Jalan Palsu
Klik.
Aku mematikan panggilan video itu bahkan sebelum Gabriel sempat mengeluarkan satu patah kata pun. Tanpa membuang waktu, aku langsung memblokir nomor telepon Gabriel, nomor Sofia, serta seluruh akun media sosial mereka.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur dengan sangat nyenyak di hotel dekat bandara, sebelum besok pagi terbang menuju tempat baru yang kupilih sendiri. Tanpa rasa cemas, tanpa rasa takut tersesat.
Runtuhnya Topeng Kehidupan Mewah
Selama ini, Gabriel selalu bersikap seolah-olah dialah sang penyelamat dalam hidupku. Ia bekerja di bidang finansial dengan gaya hidup tinggi, sementara akulah “gadis kikuk” yang beruntung bisa bersanding dengannya. Namun, kenyataan yang selama ini kusembunyikan demi menjaga harga dirinya akhirnya terungkap:
- Kepemilikan Apartemen: Apartemen mewah di kawasan SCBD itu adalah hadiah kelulusan dari orang tuaku. Selama lima tahun kami bersama, aku membiarkan Gabriel tinggal di sana tanpa membayar sepeser pun sewa, bahkan membiarkannya membayar biaya pemeliharaan bulanan agar ia merasa menjadi “kepala rumah tangga” yang bertanggung jawab.
- Pecahnya Hubungan Gabriel dan Sofia: Tanpa apartemen SCBD sebagai simbol statusnya, kedok Gabriel perlahan runtuh. Tiga minggu setelah kejadian di Labuan Bajo, seorang teman bersama menceritakan bahwa Sofia mulai menjauhinya begitu tahu Gabriel harus mencari kontrakan biasa di pinggiran kota. Sofia, yang selama ini menempel pada Gabriel demi menumpang gaya hidup mewah, tidak sudi hidup susah bersama pria yang kehilangan segalanya.
Tepat pada hari ke-30, tim hukum keluargaku mengirimkan laporan bahwa apartemen telah dikosongkan sepenuhnya. Kunci dikembalikan ke pihak manajemen dengan kondisi beberapa barang rusak—bukti kemarahan kekanak-kanakan yang ditinggalkan Gabriel.
Pertemuan Terakhir
Dua bulan kemudian, aku sedang menikmati kopi di sebuah kafe di daerah Menteng setelah menyelesaikan rapat dengan klien baruku. Saat itulah aku melihatnya.
Gabriel berdiri di dekat meja kasir. Penampilannya tidak lagi serapi dulu. Wajahnya tampak lelah, dan setelan jasnya tidak lagi terlihat se-elegan saat kami masih bersama di SCBD. Begitu matanya menangkap sosokku, ia langsung bergegas menghampiri mejaku.
“Mia,” panggilnya, suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan. “Tolong, dengarkan aku sebentar saja.”
Aku meletakkan cangkir kopiku dengan tenang. Tidak ada debaran jantung yang panik, tidak ada ketakutan. Hanya ada kekosongan.
“Aku salah, Mia. Aku sangat menyesal,” ujarnya sambil mencoba meraih tanganku, namun aku dengan sopan menarik tanganku menjauh. “Sofia… dia menghasutku selama ini. Dia hanya memanfaatkan kita. Aku merindukanmu. Aku merindukan rumah kita. Tolong beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya.”
Aku menatap pria yang dulu sangat kupuja ini. Aku tersenyum tipis—bukan senyuman sinis, melainkan senyuman penuh keikhlasan karena telah melepaskan beban yang begitu berat.
“Gabriel,” kataku pelan namun tegas. “Apartemen itu adalah rumahku, bukan rumah kita. Dan kamu tidak merindukanku. Kamu hanya merindukan fasilitas, kenyamanan, dan rasa superioritas yang kamu rasakan saat membuatku merasa kecil.”
Ia tertegun, mulutnya setengah terbuka namun tak ada kata yang keluar.
“Terima kasih atas lima tahun ini,” lanjutku sambil berdiri dan menyandang tas kerjaku. “Berkat kalian, aku akhirnya tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar tersesat. Aku hanya salah memilih teman perjalanan.”
Menemukan Jalan Pulang
Aku melangkah keluar dari kafe menuju area parkir. Sore itu, rintik hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta yang padat.
Aku masuk ke dalam mobilku, menyalakan mesin, dan memasang aplikasi navigasi di ponsel. Layar menampilkan rute berwarna hijau terang menuju rumah baruku—sebuah rumah kecil dengan taman yang indah di pinggiran kota, yang kubeli dengan hasil keringatku sendiri.
Suara pemandu arah dari ponsel berbunyi: “Lurus dua ratus meter, lalu belok kanan.”
Aku tersenyum lebar dan menginjak pedal gas. Kali ini, aku tahu persis ke mana aku harus melangkah. Aku telah menemukan jalan pulang yang sesungguhnya—kembali ke dalam pelukan diriku sendiri, tempat di mana aku tidak akan pernah ditinggalkan lagi.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.