Posted in

Pada malam pernikahan kami sendiri, suamiku, Adrian Castillo, masuk ke bridal suite bersama asistennya, Bianca Reyes—wanita yang hampir kehilangan penglihatannya setelah konon menyelamatkan nyawanya dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu.**

Pada malam pernikahan kami sendiri, suamiku, Adrian Castillo, masuk ke bridal suite bersama asistennya, Bianca Reyes—wanita yang hampir kehilangan penglihatannya setelah konon menyelamatkan nyawanya dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu.**

Katanya dia hanya mabuk.

Katanya dia hanya salah orang.

Dia mengira aku adalah Bianca.

Atau mungkin Bianca yang dikiranya adalah aku.

Entahlah. Aku bahkan tidak tahu lagi, kebohongan mana yang lebih menghina.

Bianca hadir dalam kehidupan Adrian setelah perjalanan bisnis mereka ke Cebu tiga tahun lalu. Menurut cerita keluarga Castillo, saat mobil mereka mengalami kecelakaan di South Coastal Road, Bianca rela terkena pecahan kaca demi melindungi Adrian.

Sejak saat itu, Adrian membawanya tinggal di rumah keluarga mereka yang sudah turun-temurun di Quezon City.

Dua perawat.

Satu caregiver.

Penjagaan selama dua puluh empat jam.

Semuanya demi wanita yang konon telah mengorbankan penglihatannya demi pria yang akan menjadi suamiku.

Namun malam ini, dia berdiri di tengah bridal suite kami di Shangri-La Fort, Bonifacio Global City, mengenakan jubah sutra yang kusut, lalu berlutut di hadapanku.

“Bu Sofia…” katanya sambil menangis, bahunya gemetar. “Saya benar-benar tidak sengaja. Saya hampir tidak bisa melihat, jadi saya salah masuk kamar.”

“Pak Adrian sedang mabuk. Dia hanya salah mengira.”

“Kalau Ibu ingin menampar atau mengusir saya, saya akan menerimanya.”

Aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Lalu aku mengucapkan empat kata yang langsung membuat seluruh ruangan terdiam.

**”Kalau begitu, pergilah.”**

Tangisnya langsung terhenti.

Seolah dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Apa…?”

“Pernikahan ini dihadiri oleh setengah dari keluarga terkaya di Metro Manila. Siapa pun yang membuat lelucon memalukan ini, dialah yang harus pergi.”

Wajah Bianca langsung pucat.

Bahkan Adrian tampak sedikit sadar dari pengaruh alkoholnya.

Bianca menggenggam erat jas tuxedo yang menyelimuti bahunya.

Aku langsung mengenalinya.

Akulah yang memilih tuxedo cadangan Adrian untuk hari pernikahan kami.

Di bagian dalam lengannya masih ada bordiran inisial kami.

**S & A.**

Sofia dan Adrian.

Bukan Bianca.

Tidak akan pernah Bianca.

“Ibu benar-benar akan mengusir saya?” tanyanya dengan suara bergetar.

Aku mengangguk.

“Kamu sendiri yang bilang akan menerimanya.”

“Aku tidak akan menyakitimu.”

“Aku bukan wanita seperti itu.”

“Tapi kamu boleh pergi.”

“Karena apa pun alasannya, tidak ada wanita yang masih memiliki harga diri yang rela membiarkan perempuan lain berada di ranjangnya pada malam pertama pernikahannya.”

Tiba-tiba Bianca merangkak ke arahku dan mencoba memegang ujung gaun pengantinku.

Aku langsung mundur.

Gaun itu dibuat dari kain gaun pengantin lama milik ibuku.

Aku tidak ingin gaun itu ternoda.

“Bu Sofia… tolong…” katanya sambil menangis. “Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.”

Aku tersenyum tipis.

“Benarkah?”

“Setahuku, setiap hari kamu selalu ditemani dua perawat dan satu caregiver.”

“Kalau begitu…”

“Di mana mereka malam ini?”

Ruangan kembali sunyi.

Aku menoleh kepada kepala pelayan keluarga Castillo.

“Tolong panggil semua orang yang bertugas menjaga Bianca.”

“Aku ingin tahu bagaimana seorang wanita yang hampir buta bisa berjalan dari guest wing di lantai empat belas sampai ke bridal suite di lantai dua puluh satu.”

“Dan bagaimana dia bisa melewati tiga pos pemeriksaan keamanan hotel.”

Pelayan tua itu tidak bergerak.

Aku berkata pelan,

“Pak Ramirez, Anda sudah bekerja untuk keluarga Castillo selama empat puluh tahun.”

“Jangan bilang untuk menjalankan perintah sesederhana ini pun Anda masih harus berpikir.”

Ia menundukkan kepala.

“Baik, Nyonya.”

Namun sebelum ia sempat pergi, Adrian berdiri dan membantu Bianca bangkit.

Dasi Adrian sudah longgar.

Di kerah bajunya masih terlihat bekas lipstik merah terang.

Musik dari resepsi pernikahan di lantai bawah masih terdengar jelas.

Setiap nadanya terasa seperti tamparan di wajahku.

“Sofia…” katanya pelan.

“Aku minta maaf.”

“Tapi apa tidak berlebihan kalau kamu mengusirnya hanya karena sebuah kesalahan?”

“Dia cuma salah masuk kamar.”

“Kita masih punya seumur hidup di depan kita.”

“Jangan hancurkan malam ini.”

Aku menatapnya.

“Salah kamar?”

“Untuk sampai ke sini dia harus melewati dua lift, satu lorong pribadi, satu presidential lounge, dan empat petugas keamanan.”

“Hebat juga ingatan seseorang yang katanya hampir tidak bisa melihat.”

Bianca kembali menangis semakin keras.

“Saya tahu Ibu merendahkan saya karena saya penyandang disabilitas.”

“Saya tidak pernah ingin merebut posisi Ibu.”

Adrian langsung membelanya.

“Cukup.”

Lalu ia menatapku.

Dan mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup.

“Jangan jadi seperti istri-istri pencemburu lainnya, Sofia.”

Waktu seakan berhenti.

Aku berdiri di sana.

Masih mengenakan gaun pengantinku.

Di depan ranjangku sendiri.

Sementara suamiku membela wanita lain.

Aku mengangguk pelan.

“Kalau begitu…”

“Mari kita panggil semua orang ke sini.”

“Kita lihat siapa sebenarnya yang mempermalukan diri malam ini.”

Wajah Adrian langsung berubah.

“Jangan coba-coba.”

Aku mengambil gelas sampanye di atas meja dan melemparkannya ke arah pintu.

**PRANG!**

Musik di luar langsung berhenti.

Beberapa detik kemudian orang-orang mulai berlarian di lorong.

Orang pertama yang masuk adalah ibu Adrian.

Ia masih mengenakan gaun Filipiniana mahalnya.

Begitu melihat keadaan di dalam kamar, wajahnya langsung mengeras.

“Sofia, apa yang sedang kamu lakukan?”

“Para senator, pengusaha, dan investor masih ada di bawah.”

“Belum cukupkah rasa malu yang kamu berikan kepada keluarga kami?”

Aku menunjuk ke arah Bianca.

“Rasa malu keluarga Anda ada di sana.”

Ia hanya melirik Bianca sekilas, lalu ekspresinya langsung melembut.

“Astaga, Nak. Kamu ketakutan?”

Bianca segera bersembunyi di belakang Adrian.

“Tante… Bu Sofia mau mengusir saya.”

Nada suara wanita itu langsung meninggi.

“Dia tidak boleh melakukan itu!”

“Bianca adalah alasan kenapa anak saya masih hidup!”

Aku menatapnya.

“Dan karena itu, apakah dia juga berhak tidur di ranjang pengantin kami?”

Ia langsung terdiam.

Jari-jarinya memutar rosario yang dipegangnya dengan gugup.

Tepat saat itu, sahabatku Danielle masuk.

Sekali melihat jubah yang dikenakan Bianca saja sudah cukup.

“Wow, Adrian,” katanya dingin.

“Resepsinya bahkan belum selesai, tapi kamu sudah mengadakan after party.”

“Pelayananmu kepada para tamu benar-benar kelas dunia.”

“Danielle, jangan ikut campur,” jawab Adrian dingin.

Danielle tersenyum.

“Waktu kamu mengirim undangan, kamu tidak pernah bilang aku dilarang bicara.”

Sebelum Adrian sempat membalas, Bianca tiba-tiba memegangi kedua matanya.

“Sakit…”

“Adrian…”

Adrian langsung memeluknya.

“Tenang.”

“Kamu tahu kamu tidak boleh stres.”

Lalu ia menoleh kepadaku.

Dan mengucapkan kalimat yang benar-benar membunuh sisa cintaku kepadanya.

“Sofia.”

“Minta maaflah kepada Bianca.”

Kupikir aku salah dengar.

“Aku?”

“Kamu membuatnya ketakutan.”

Aku tertawa sinis.

“Dia masuk ke kamarku.”

“Dia berbaring di ranjangku.”

“Dia memakai pakaianmu.”

“Dan kamu ingin aku yang meminta maaf?”

Ibu Adrian ikut mengangguk.

“Kamu akan menjadi Nyonya Castillo.”

“Kamu harus belajar mengalah.”

Tanpa berkata apa-apa, aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku.

Lalu meletakkannya di atas meja samping tempat tidur.

Semua mata langsung tertuju pada cincin itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat Adrian benar-benar panik.

“Sofia…”

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Kalau begitu…”

“Kalau kalian menginginkan seorang Nyonya Castillo yang selalu mengalah…”

“Terima kasih.”

“Jabatan itu aku serahkan saja.”

Wajahnya langsung pucat.

“Kamu keterlaluan.”

“Belum.”

Perlahan aku mengeluarkan ponselku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, wajah Bianca benar-benar berubah.

Karena aku tidak akan menelepon pengacaraku.

Aku juga tidak akan memanggil media.

Bukan pula keluargaku.

Orang yang akan kuhubungi adalah kepala keamanan hotel.

Dan perintah pertamaku sangat sederhana.

“Kunci semua pintu keluar hotel.”

“Jangan biarkan siapa pun pergi.”

“Karena malam ini…”

“Aku ingin melihat rekaman CCTV mulai pukul sepuluh malam sampai sekarang.”

Adrian langsung menahan napas.

Dan di belakangnya—

untuk pertama kalinya malam itu—

aku melihat kedua mata Bianca perlahan terbuka.

Dia menatapku lurus….

Keheningan yang mencekam menyelimuti bridal suite Shangri-La Fort.

Tatapanku dan tatapan Bianca beradu di udara. Tidak ada lagi sorot mata sayu, kosong, atau meraba-raba tanpa arah. Kedua bola matanya kini terbuka lebar, menatapku dengan fokus yang tajam, dingin, dan dipenuhi kepanikan yang luar biasa.

Di depan mata suamiku, ibu mertuaku, dan sahabatku Danielle, sandiwara kebutaan yang dipeliharanya selama tiga tahun runtuh begitu saja hanya karena satu ancaman sederhana: CCTV.

“Sofia… kamu tidak perlu melakukan ini,” suara Adrian bergetar, namun kini nadanya tidak lagi menuntut, melainkan memohon. Dia mencoba melangkah mendekatiku, tetapi tatapanku membuatnya terpaku di tempat.

“Kenapa, Adrian? Kamu takut?” tanyaku dengan nada yang teramat tenang. “Takut melihat bagaimana ‘penyelamat nyawamu’ ini berjalan dengan sangat tegap di sepanjang lorong hotel tanpa bantuan siapa pun? Atau kamu takut melihat kenyataan bahwa istrimu tidak sebodoh yang kalian kira?”

Aku menatap Bianca yang kini perlahan mundur, tangannya yang tadi memegangi mata kini terkulai lemas di sisi tubuhnya.

“Tiga tahun lalu, kecelakaan di South Coastal Road itu memang nyata,” kataku, memecah kesunyian malam. “Tapi kebohongan tentang kebutaanmu adalah sebuah mahakarya. Kamu sengaja memelihara kebohongan ini agar bisa terus hidup mewah di Quezon City, dilayani bagai ratu, dan perlahan-lahan merangkak naik ke ranjang pria yang seharusnya menjadi suamiku.”

“I-itu tidak benar…” Bianca mencoba membela diri, namun suaranya mencicit lirih. Matanya yang kini terbuka lebar justru mengkhianati setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Topeng yang Terlepas

Ibu Adrian, yang sejak tadi menggenggam rosarionya dengan angkuh, melangkah maju. Wajahnya yang tertutup riasan tebal kini tampak pucat pasi saat menyadari tatapan Bianca yang begitu awas tertuju pada ponsel di tanganku.

“Bianca…” bisik ibu Adrian, suaranya tercekat. “Kamu… kamu bisa melihat?”

Bianca tidak bisa menjawab. Dia menunduk, namun kali ini bukan karena penglihatannya yang terbatas, melainkan karena dia tahu bahwa rekaman CCTV hotel bintang lima ini tidak akan pernah bisa dimanipulasi. Semua langkah kakinya, caranya menghindari rintangan, hingga caranya menyelinap masuk ke kamar ini akan terpampang jelas dalam hitungan menit.

“Dia bisa melihat, Tante,” sahut Danielle dengan senyum kemenangan yang lebar. “Dan hebatnya, dia hanya ‘buta’ saat berada di sekitar Adrian. Sungguh mukjizat medis yang luar biasa.”

Adrian menatap Bianca dengan pandangan yang kosong, seolah seluruh dunianya baru saja jungkir balik. Rasa bersalah yang selama tiga tahun ini mengikat hidupnya, mendikte setiap keputusannya, dan membuatnya rela mengabaikan perasaanku… ternyata hanyalah sebuah alat manipulasi murahan.

“Bianca… kamu membohongiku?” tanya Adrian, suaranya serak dan pecah. “Selama ini… kamu memperalatku?”

Bianca menatap Adrian dengan tatapan yang kini berubah dingin dan penuh kebencian. “Memperalatmu? Kamu yang membiarkan dirimu diperalat, Adrian! Kamu merasa bersalah, dan aku hanya memanfaatkan rasa bersalahmu untuk mendapatkan kehidupan yang layak!”

Akhir dari Dinasti Castillo

Aku mengalihkan pandanganku dari drama menyedihkan di hadapanku. Aku melangkah menuju pintu keluar, tidak lagi memedulikan gaun pengantin peninggalan ibuku yang menyapu lantai. Gaun ini terlalu suci untuk berada di ruangan yang penuh dengan kebohongan ini.

Di ambang pintu, aku berbalik dan menatap Adrian untuk terakhir kalinya.

“Pernikahan ini tidak akan pernah dicatatkan secara hukum. Besok pagi, pengacaraku akan memastikan bahwa seluruh investasi keluarga kami di proyek real estat Castillo Group ditarik sepenuhnya,” kataku tegas.

“Sofia, kumohon! Jangan lakukan ini pada keluargaku!” Adrian berlutut di lantai, memohon di hadapan para tamu yang kini mulai berbisik-bisik di sepanjang koridor.

“Kamu yang melakukan ini pada dirimu sendiri, Adrian,” jawabku datar. “Kamu memilih untuk melindungi kebohongan daripada menghargai kebenaran. Sekarang, nikmatilah sisa hidupmu bersama wanita yang telah kamu pilih.”

Aku melangkah keluar dari kamar, menggandeng lengan Danielle yang tersenyum bangga di sampingku. Di belakang kami, suara pertengkaran hebat antara Adrian, ibunya, dan Bianca mulai pecah, memenuhi lorong Shangri-La Fort yang megah.

Malam pertamaku sebagai pengantin baru memang hancur, namun aku berjalan keluar dengan kepala tegak. Aku tidak kehilangan apa pun malam ini, melainkan baru saja menyelamatkan sisa hidupku dari sebuah kebohongan yang nyaris mengurungku selamanya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.