Saat aku sedang menjahit luka di bahu Kapten Gabriel Reyes di ruang gawat darurat St. Matthew Medical Center, kawasan Bonifacio Global City, tiba-tiba dia mengenaliku.**
Aku tidak mengatakan apa pun.
Lima tahun sudah berlalu sejak kami benar-benar berpisah.
Detik berikutnya, seorang pria yang mengamuk di rumah sakit menerobos masuk setelah merebut sebilah pisau dari petugas keamanan di lobi.
Dia langsung menusukkan pisau itu ke arahku.
Gabriel segera menerjang pria itu dan mendorongnya menjauh, lalu berteriak panik,
“Elena! Lenganmu!”
Dengan refleks, dia berdiri di depanku, seolah-olah telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun.
Namun aku hanya menatapnya dengan dingin.
Lalu perlahan kutepis tangannya.
“Kapten Reyes,” kataku datar, “orang yang Anda selamatkan salah.”
Tangannya membeku di udara.
Dia menatapku, seakan tidak mengerti maksud ucapanku.
Lalu—
Di depan para dokter, perawat, dan pasien yang bersembunyi di sudut ruang IGD, aku mengangkat tangan kiriku dan memegang lengan kiriku yang baru saja terkena tusukan.
Kugenggam erat.
Kemudian perlahan…
aku memutarnya hingga terlepas.
Di tengah jeritan dan tarikan napas kaget orang-orang di sekelilingku, aku mengangkat tinggi lengan prostetikku yang masih tertancap pisau.
Wajah Gabriel langsung pucat pasi.
Dia tidak berkedip.
Bahkan nyaris tidak bernapas.
Tatapannya terpaku pada lengan buatanku, seolah melihat hantu dari masa lalu.
Bibirnya bergetar pelan.
Namun tak satu kata pun keluar.
Tubuhnya yang biasanya begitu tegap pun tampak sedikit limbung.
“Ya Tuhan…”
bisik perawat muda bernama Mae sambil membantuku masuk ke ruang perawatan.
“Dokter Elena… biar saya yang menangani Anda.”
Saat ia membersihkan lecet di dahiku, ia tak bisa menahan diri untuk melirik ke arah pintu.
Gabriel masih berdiri di sana.
Tidak bergerak sedikit pun.
Seperti patung yang ditinggalkan waktu.
“Dok…”
ucap Mae lirih.
“Tadi… wajah Kapten Reyes benar-benar menakutkan.”
Ia berhenti sejenak.
“Matanya sampai memerah.”
Ia tampak ragu sebelum melanjutkan,
“Mungkin… karena dia masih menyimpan luka dari masa lalu.”
“Semua orang di Markas Besar Kepolisian Nasional tahu kisahnya.”
“Lima tahun lalu katanya beliau adalah seorang negosiator penyanderaan.”
“Karena satu keputusan yang salah, istrinya kehilangan lengan kiri.”
“Hampir saja istrinya meninggal.”
Cairan antiseptik yang dingin menyentuh kulitku.
Diam-diam kusentuh sambungan logam di balik lengan bajuku.
Lalu aku bertanya dengan nada datar,
“Begitukah?”
Mae menatapku.
Seolah merasa telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
“Sejak saat itu beliau berubah.”
“Beliau sendiri yang meminta dipindahkan ke Special Operations Group.”
“Sepertinya… beliau menghukum dirinya sendiri setiap hari.”
“Sejak itu juga beliau tidak sanggup lagi melihat orang terluka di depan matanya.”
“Terutama kalau yang terluka adalah tangan atau lengan.”
Aku menatap lengan prostetikku.
Jari-jariku berulang kali menyentuh logam dingin di bagian pergelangan.
Lalu perlahan aku berkata,
“Apakah dia juga pernah mengatakan kepada kalian…”
Mae tiba-tiba menahan napas.
“…bahwa aku adalah istri yang dia maksud?”
Kapas yang dipegangnya jatuh ke lantai.
“Apa?”
ucapnya hampir berbisik.
“Anda… Nyonya Reyes?”
“Jadi Anda adalah…”
Kalimatnya terhenti.
Karena kini ia sedang menatap lengan logamku.
Aku memejamkan mata.
Dan malam itu kembali memenuhi ingatanku.
Lantai dingin sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan Jakarta.
Ujung pistol yang menempel di pelipisku.
Lalu teriakan pria bersenjata itu.
“Kau cuma boleh menyelamatkan satu orang!”
“Istrimu… atau Angela!”
Di sisi lain gudang, Angela Villanueva menangis sambil berlutut di lantai.
Murid terbaik Gabriel.
Anak didik kesayangannya.
Perempuan yang selalu dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Aku memandang Gabriel.
Saat itu, aku benar-benar yakin dia akan memilihku.
Aku adalah istrinya.
Aku adalah keluarganya.
Orang yang telah membangun mimpi bersamanya selama tujuh tahun.
Namun kulihat tatapannya beralih dariku…
menuju Angela.
Dengan suara bergetar, dia berkata,
“Lepaskan dia.”
“Lepaskan Angela.”
Aku tak lagi mendengar teriakan setelahnya.
Yang kudengar hanya suara tembakan.
Dan bunyi logam yang menghantam daging.
Lalu rasa sakit yang luar biasa.
Secara naluriah, kuangkat lengan kiriku untuk melindungi diri.
Dalam sekejap—
lengan itu hilang.
Saat tubuhku bersimbah darah, kulihat Gabriel memeluk Angela yang menangis di dadanya.
Erat.
Terlindungi.
Aman.
Berulang kali dia berkata,
“Aku sudah di sini.”
“Kamu sudah aman.”
Dia bahkan tidak menoleh kepadaku.
Tidak sekali pun.
Seolah perempuan yang tergeletak bersimbah darah di lantai gudang yang dingin…
hanyalah orang asing.
Aku kembali ke kenyataan.
Ruang perawatan sunyi.
Mae sudah tak mampu berkata apa-apa.
Dan di luar pintu…
Gabriel masih terus menatapku.
Setelah keheningan yang panjang, aku tersenyum pelan.
Senyum tanpa sedikit pun kehangatan.
“Dia tidak salah.”
“Dia hanya memilih siapa yang lebih penting baginya.”
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa di lorong.
Sesaat kemudian terdengar suara seorang wanita yang sangat kukenal.
“Gabriel!”
Kami semua menoleh.
Angela Villanueva berdiri di ujung koridor.
Wajahnya lebih pucat daripada dulu.
Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun.
Mata anak itu…
persis seperti mata Gabriel.
Anak itu menggenggam erat tangan Angela, lalu menatap ke arah kami dengan polos.

Kemudian ia tersenyum kepada Gabriel dan berseru riang,
“Papa!”
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun…
aku melihat seluruh warna di wajah Gabriel Reyes benar-benar menghilang….
Panggilan “Papa” itu memantul di dinding koridor yang sunyi, memecah keheningan malam bagai hantaman palu pada kaca yang retak.
Empat tahun.
Sebagai seorang dokter, otakku secara refleks melakukan kalkulasi medis dan matematis yang sederhana. Kami berpisah lima tahun lalu. Dan kini, anak laki-laki dengan mata yang begitu mirip dengan pria di hadapanku ini telah berusia empat tahun.
Artinya, Gabriel tidak butuh waktu lama untuk berpaling. Atau mungkin… ketertarikan itu memang sudah ada jauh sebelum malam berdarah di pelabuhan Jakarta tersebut.
Semua cerita Mae tentang penderitaan Gabriel, tentang bagaimana dia menghukum dirinya sendiri setiap hari, dan tentang trauma mendalam yang dideritanya… mendadak menguap, berubah menjadi sebuah lelucon yang sangat murahan. Dia tidak sedang menghukum dirinya sendiri. Dia hanya sedang membangun sebuah narasi kepahlawanan tragis untuk menutupi rasa bersalahnya, sementara dia menikmati hidup baru yang dia pilih secara sadar.
“Gabriel?” suara Angela terdengar ragu, langkah kakinya melambat saat dia menyadari ketegangan di area IGD. Tatapannya beralih dari Gabriel, menyapu kerumunan perawat, hingga akhirnya terkunci padaku.
Wajah Angela seketika menegang. Matanya melebar penuh rasa bersalah yang teramat sangat, persis seperti lima tahun lalu.
Gabriel perlahan membalikkan badannya. Bahunya yang tegap kini tampak bungkuk, seolah seluruh beban kebohongannya selama bertahun-tahun runtuh menimpa punggungnya seketika. Dia menatap Angela, lalu menatap putranya, sebelum akhirnya memandangku dengan mata yang bergetar hebat.
“Elena…” suaranya serak, nyaris tak terdengar. “Aku… ini tidak seperti…”
Dia tidak sanggup melanjutkan kalimat klasik itu. Di hadapan begitu banyak saksi mata, kebohongannya telah telanjang bulat.
Aku tidak menangis. Aku bahkan tidak merasa marah. Rasa sakit yang kurasakan lima tahun lalu telah membunuh semua emosi mentah di dalam diriku, menyisakan ruang kosong yang dingin namun sangat tenang.
Dengan gerakan perlahan yang sengaja kubuat sejelas mungkin, aku mengambil lengan prostetikku dari atas meja instrumen medis. Di depan mata Gabriel yang membelalak ngeri, aku memasang kembali sambungan logam itu ke pangkal lengan kiriku.
Klik.
Suara mekanisme logam yang mengunci itu terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi.
Aku merapikan lengan jas putih dokterku, menutupi sambungan dingin itu dari pandangan orang-orang. Aku berdiri, lalu menatap Mae yang masih mematung dengan kapas di tangannya.
“Terima kasih, Mae. Tolong bersihkan sisa kapas di lantai,” kataku dengan suara yang sangat stabil.
Aku melangkah keluar dari bilik perawatan. Langkah kakiku terdengar mantap di atas lantai granit rumah sakit. Saat aku melewati Gabriel yang berdiri kaku layaknya mayat hidup, aku menghentikan langkahku sejenak. Aku tidak menatapnya, melainkan menatap Angela yang kini menggenggam erat bahu putranya dengan tangan gemetar.
Aku tersenyum tipis—sebuah senyum yang murni tulus, karena akhirnya aku terbebas sepenuhnya dari sisa-sisa bayang-bayang masa lalu yang sempat mengusikku malam ini.
“Selamat, Kapten Reyes,” bisikku pelan, cukup untuk didengar olehnya dan Angela. “Pilihan Anda lima tahun lalu… ternyata memang sangat tepat. Anda mendapatkan semua yang Anda inginkan.”
Gabriel mencoba meraih ujung jas putihku dengan tangan kanannya yang gemetar. “Elena, kumohon…”
Namun sebelum jemarinya sempat menyentuh kain jasku, aku sudah melangkah pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Malam itu, di bawah temaram lampu Bonifacio Global City, aku berjalan pulang dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan. Aku kehilangan satu lengan fisikku lima tahun lalu, namun malam ini, aku menyadari bahwa aku telah menyelamatkan seluruh sisa hidupku dari seorang pria yang tidak pernah layak mendapatkannya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.