Pada hari ketika akulah yang meminta putus, aku pikir aku telah kehilangan segalanya.**
Aku tidak pernah menyangka bahwa yang menungguku justru sebuah warisan senilai lebih dari **Rp9,6 triliun**.
Tepat tiga tahun sejak kami bersama, aku hanya mengirim satu pesan kepada Adrian Villanueva.
**”Kita akhiri sampai di sini.”**
Tidak ada alasan yang rumit.
Dia sudah memiliki wanita lain.
Seorang influencer media sosial terkenal dari BGC bernama Bianca Salazar.
Dia cantik.
Kulitnya putih, rambutnya panjang, tubuhnya sempurna, dan senyumnya mampu meluluhkan hati pria mana pun.
Aku duduk diam di apartemen mungil sewaanku di Quezon City sambil memegang ponsel, menatap foto yang sedang viral di media sosial.
Dalam foto itu, Adrian sendiri sedang memakaikan Bianca sebuah kalung berlian mewah senilai hampir **Rp12 miliar**.
Anehnya, aku tidak menangis.
Aku bahkan tidak marah.
Selama tiga tahun, sejak tahun pertamaku di University of the Philippines hingga menjelang kelulusan, Adrian selalu mengirimiku **Rp150 juta** setiap bulan.
Sebagai gantinya, aku harus menemaninya menghadiri gala bisnis, acara amal, dan berbagai pertemuan sosial keluarga-keluarga terkaya di Metro Manila.
Aku harus tersenyum.
Aku harus terlihat bahagia.
Aku harus memainkan peran sebagai kekasihnya yang lembut dan pendiam.
Semua orang iri kepadaku.
“Beruntung sekali Maya.”
“Hanya mahasiswi penerima beasiswa biasa, tapi berhasil mendapatkan pewaris Villanueva Group.”
“Kalau Adrian meninggalkannya, dia pasti kembali miskin.”
Aku mendengar kalimat-kalimat itu selama tiga tahun.
Aku hanya tersenyum.
Membiarkan mereka terus berbicara.
Sampai kemarin.
Di sebuah butik perhiasan mewah di Greenbelt, aku melihat Adrian bersama Bianca.
Lengan Bianca melingkar erat di lengan Adrian sambil memandangi sebuah cincin pertunangan.
“Sayang, cincin ini cocok nggak buat aku?” tanya Bianca sambil tersenyum.
Adrian bahkan tidak ragu.
“Kalau kamu suka, kita ambil.”
Jadi beginilah rupa cinta.
Beginilah rupa janji yang tidak pernah dia berikan kepadaku.
Aku berdiri di balik etalase kaca sambil memperhatikan mereka dalam diam.
Dan untuk pertama kalinya selama tiga tahun…
Aku tertawa.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena tiba-tiba aku sadar—
Ternyata aku tidak pernah menjadi kekasihnya.
Aku hanyalah pengganti sementara, sampai wanita yang benar-benar ingin dinikahinya kembali.
Ponselku bergetar.
Adrian menelepon.
“Maya, apa maksud pesan putusmu itu?”
Nada suaranya terdengar kesal.
Di balik telepon terdengar dentuman musik klub malam di BGC.
“Itu memang artinya.”
Jawabku tenang.
“Kita sudah selesai, Adrian.”
Dia terdiam beberapa detik.
“Apa kamu melihat sesuatu?”
Nada suaranya mendadak serius.
“Bianca cuma temanku. Jangan mengarang cerita.”
Aku hampir tertawa.
Mereka sedang memilih cincin pertunangan.
Masih disebut teman?
“Aku tidak mengarang.”
“Aku hanya lelah.”
“Maya, jangan drama.”
“Besok kamu ikut aku ke acara lelang di Makati. Ada investor penting yang ingin bertemu denganmu.”
Nada bicaranya kembali seperti biasa.
Nada seseorang yang terbiasa memberi perintah.
“Kamu tahu siapa dirimu.”
“Kalau meninggalkanku, kamu mau hidup dari apa?”
Aku memandang lampu-lampu kota di luar jendela.
Aneh sekali, hatiku begitu tenang.
“Adrian.”
“Terima kasih untuk tiga tahun ini.”
Setelah itu, aku langsung menutup telepon.
Dia menelepon berkali-kali lagi.
Aku mematikan ponselku.
Keesokan harinya, aku mengemasi beberapa barang.
Aku sudah siap meninggalkan apartemen yang selama ini dibayar Adrian.
Tiba-tiba bel berbunyi.
Kupikir Adrian yang datang.
Ternyata bukan.
Di depan pintu berdiri seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan setelan jas mahal.
“Apakah Anda Maya Reyes?”
tanyanya dengan sopan.
“Iya.”
“Saya Roberto Castillo.”
“Pengacara yang mewakili Alcantara Holdings.”
Aku terdiam.
Alcantara Holdings.
Salah satu perusahaan terbesar di bidang perhiasan dan retail mewah di Filipina.
Nama mereka selalu muncul dalam daftar orang terkaya versi Forbes.
“Anda yakin tidak salah orang?”
tanyaku pelan.
“Saya hanya anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan di Davao.”
Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan sebuah map.
“Dua puluh empat tahun lalu, putri tunggal keluarga Monteverde menghilang.”
Tanganku langsung terasa dingin.
Monteverde.
Dulu merupakan keluarga paling berpengaruh di industri perhiasan Filipina.
Sebelum lenyap setelah sebuah insiden misterius pada dekade 1990-an.
“Setelah bertahun-tahun mencari…”
“Hasil tes DNA akhirnya keluar.”
Perlahan ia meletakkan dokumen itu di hadapanku.
“Dugaan kami benar.”
“Anda adalah Amara Monteverde.”
“Satu-satunya pewaris keluarga Monteverde.”
Duniaku seakan berhenti.
Aku tidak bisa bernapas.
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Tiba-tiba semua terasa masuk akal.
Mengapa sejak kecil aku begitu mudah memahami desain perhiasan.
Mengapa aku mampu menilai harga sebuah perhiasan antik hanya dengan sekali lihat.
Mengapa dunia yang belum pernah kujalani terasa begitu akrab bagiku.
Pengacara Castillo melanjutkan,
“Sesuai wasiat kedua orang tua Anda, seluruh aset keluarga Monteverde akan diwariskan kepada Anda.”
“Perusahaan.”
“Gedung.”
“Resor.”
“Saham.”
“Dan koleksi pribadi Monteverde Jewels.”
Ia berhenti sejenak.
“Total nilai aset diperkirakan mencapai **Rp10,24 triliun**.”
Aku langsung terduduk di sofa.
Rasanya seluruh ruangan berputar.
Namun ternyata belum selesai.
“Masih ada satu hal lagi.”
Ia menatapku.
“Anda memiliki seorang tunangan.”
Aku berkedip.
“Apa?”
“Saat Anda lahir, keluarga Monteverde dan keluarga Alcantara membuat sebuah perjanjian.”
“Sebuah aliansi pernikahan demi kepentingan bisnis dan politik.”
Aku menelan ludah.
“Dan pria yang telah ditakdirkan menjadi suami Anda…”
Ia tersenyum tipis.
“Adalah Lucas Alcantara.”
CEO muda Alcantara Holdings.
Berusia tiga puluh satu tahun.
Salah satu miliarder termuda di Asia Tenggara.
Terkenal dingin.
Jenius.
Dan nyaris tak pernah terseret skandal.
Semuanya terasa seperti mimpi.
Baru kemarin…
Aku hanyalah mahasiswi yang hidup dari uang pemberian pacarnya.
Hari ini…
Ternyata aku adalah pewaris yang hilang dari salah satu keluarga paling berkuasa di negeri ini.
Aku tertawa pelan.
Bahkan sinetron pun mungkin terasa kurang berlebihan dibanding kenyataan ini.
Pengacara Castillo tersenyum.
“Nona Monteverde…”
“Ada satu hal lagi yang belum saya sampaikan.”
Ia menatapku lurus.
“Tuan Lucas Alcantara sedang berada di bawah sekarang.”
“Beliau menunggu Anda di lobi.”
Sebelum sempat menjawab, televisi di ruang tamu tiba-tiba menyala karena notifikasi breaking news.
Wajah Lucas Alcantara muncul dalam siaran langsung konferensi pers di Bonifacio Global City.
Dan kalimat berikutnya membuat napasku benar-benar terhenti.
“Hari ini…”
“Saya secara resmi mengumumkan pembatalan pertunangan saya dengan Bianca Salazar.”
Duniaku seakan berhenti.
Bianca Salazar.
Wanita yang kemarin bersama Adrian.
Sebelum aku sempat berpikir lebih jauh…
Lucas kembali berbicara sambil menatap lurus ke arah kamera.
“Karena saya akhirnya telah menemukan wanita yang selama dua puluh empat tahun dicari keluarga saya.”
Saat itu juga ponselku berbunyi.
Nomor tak dikenal.
Hanya ada satu pesan.
**”Saya ada di lobi.”**

**”Dan saya rasa…”**
**”Sudah waktunya Anda pulang, Amara.”**
Di bawah pesan itu tertera nama pengirimnya.
**Lucas Alcantara.**..
Aku memandangi layar ponselku, membiarkan nama “Lucas Alcantara” terpatri di mataku. Di luar jendela apartemen mungilku, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam dengan plat nomor satu angka berjarak beberapa belas lantai di bawah, menunggu dengan sabar.
Dua puluh empat jam lalu, aku adalah Maya Reyes. Mahasiswi biasa yang dianggap parasit oleh lingkaran sosial kelas atas Manila. Hari ini, aku adalah Amara Monteverde.
Aku menarik napas dalam-dalam, menatap cermin di lorong apartemen. Senyum tipis yang biasa kupakai untuk berpura-pura bahagia di samping Adrian kini lenyap, digantikan oleh sorot mata tajam yang selama ini kukubur dalam-dalam.
“Mari kita selesaikan ini, Pengacara Castillo,” kataku dengan nada suara yang kini terdengar penuh otoritas.
Pertemuan di Lobi Quezon City
Saat pintu lift terbuka di lobi, pemandangan di depanku tampak surealis. Beberapa petugas keamanan apartemen berdiri kaku di sudut, sementara di tengah ruangan, seorang pria dengan setelan jas bespoke arang gelap sedang berdiri membelakangiku.
Mendengar langkah kakiku, ia berbalik.
Lucas Alcantara. Garis rahangnya tegas, dan sepasang mata elangnya langsung mengunci pergerakanku. Ketampanannya yang dingin, yang biasanya hanya kulihat di majalah bisnis finansial, kini berada tepat tiga langkah di hadapanku.
Ia tidak tersenyum, namun ada kilatan intens yang tak bisa disembunyikan dari tatapannya.
“Dua puluh empat tahun adalah waktu yang lama untuk tersesat, Amara,” suaranya berat, bariton, dan berwibawa.
“Aku lebih terbiasa dipanggil Maya,” jawabku tenang, menantang tatapannya. “Dan kurasa, kamu baru saja melempar bom di stasiun televisi nasional. Bianca Salazar pasti sedang histeris sekarang.”
Lucas melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. Bau parfum sandalwood dan maskulin yang mahal menguar dari tubuhnya.
“Bianca Salazar hanyalah bidak catur yang dipasang keluarganya untuk mendekati Alcantara Holdings. Dia mengira dengan mendekati Adrian Villanueva, dia bisa membuatku cemburu. Dia tidak tahu, bahwa bagiku, dia tidak pernah ada.”
Lucas mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke arahku. “Mobil sudah siap. Rumahmu di Forbes Park telah menunggu, Nona Monteverde.”
Aku menatap tangannya sejenak, lalu menyambutnya. Genggamannya hangat dan protektif. Detik itu juga, statusku sebagai ‘gadis simpanan’ yang rapuh runtuh, digantikan oleh aliansi baru yang akan mengguncang seluruh Metro Manila.
Panggung Lelang di Makati
Tiga jam kemudian, drama yang sesungguhnya dimulai.
Sesuai jadwal yang sempat dikatakan Adrian sebelum kami putus, malam ini adalah acara lelang amal eksklusif di Ballroom Shangri-La Makati. Adrian mengira aku akan datang memohon maaf dan berlutut di kakinya agar diizinkan masuk sebagai gandengannya.
Ketika pintu aula lelang terbuka, seluruh atensi ruangan yang berisi para taipan, senator, dan sosialita langsung tersedot ke arah pintu masuk.
Aku berjalan di atas karpet merah, mengenakan gaun sutra emerald rancangan desainer ternama, dengan kalung berlian The Monteverde Star seharga puluhan miliar rupiah yang melingkar di leherku—koleksi pribadi yang langsung diantarkan dari brankas utama Alcantara. Dan di sampingku, lengan Lucas Alcantara melingkar protektif di pinggangku.
Di sudut ruangan, aku melihat Adrian Villanueva. Wajahnya langsung mengeras, matanya melebar penuh syok melihatku berjalan berdampingan dengan pria paling berkuasa di industri retail Asia Tenggara. Di sampingnya, Bianca Salazar berdiri dengan wajah pucat pasi setelah pengumuman pembatalan pertunangannya di televisi tadi siang.
Adrian langsung melangkah memotong jalur jalan kami, napasnya memburu penuh amarah yang tertahan.
“Maya?! Apa-apaan ini?!” desis Adrian, mengabaikan tatapan mata puluhan orang di sekitar kami. “Kamu menolak teleponku semalaman hanya untuk menjadi pemanis pria lain? Dari mana kamu mendapatkan perhiasan palsu itu?!”
Aku menghentikan langkahku. Aku bahkan tidak perlu berbicara, karena Lucas langsung bergeser satu langkah ke depan, menghalangi pandangan Adrian dariku dengan tubuh tegapnya.
“Jaga bahasamu, Adrian Villanueva,” suara Lucas terdengar bagai es yang membeku di udara.
“Wanita di hadapanmu ini bukan lagi mainan yang bisa kamu beli dengan uang bulanan Rp150 juta. Dia adalah Amara Monteverde, pemilik sah dari Alcantara Holdings dan Monteverde Jewels. Dan mulai besok pagi, seluruh kontrak pasokan perhiasan mewah dari Villanueva Group ke retail kami… resmi dibatalkan.”
Akhir dari Sebuah Lelucon
Kalimat Lucas berdentang keras di kepala Adrian. Wajah pewaris Villanueva Group itu kehilangan seluruh warnanya dalam sekejap. Dia menatapku, mencoba mencari celah kebohongan di mataku, namun yang ditemukannya hanyalah tatapan dingin seorang wanita yang kini berada jauh di atas kastanya.
Bianca Salazar mencoba mendekati Lucas dengan mata berkaca-kaca. “Lucas… kamu tidak bisa melakukan ini padaku… hanya karena perempuan panti asuhan ini—”
“Tutup mulutmu, Bianca,” potongku tenang, berbicara untuk pertama kalinya. Aku menatap Bianca, lalu beralih pada Adrian.
“Adrian, kemarin kamu bertanya, jika aku meninggalkanmu, aku mau hidup dari apa?” Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat murni tanpa beban.
“Sekarang aku berikan jawabannya. Aku akan hidup dengan membeli seluruh saham perusahaanmu yang akan anjlok besok pagi. Terima kasih untuk tiga tahun ini, tapi lelucon di antara kita… sudah resmi berakhir.”
Aku menoleh ke arah Lucas, memberi isyarat bahwa tempat ini sudah terlalu membosankan untuk kami. Lucas tersenyum tipis—sebuah ekspresi langka yang membuat seluruh fotografer di ruangan itu berebut mengambil gambar kami.
Kami berjalan melewati Adrian yang berdiri mematung layaknya orang mati, sementara Bianca menjerit frustrasi di belakangnya karena menyadari bahwa pria yang dia rebut dari tanganku kemarin, kini hanyalah pria yang berada di ambang kehancuran finansial.
Malam itu, di bawah kerlip lampu kota Makati, aku akhirnya pulang ke tempat yang seharusnya. Bukan lagi sebagai bayangan pria lain, melainkan sebagai sang ratu yang memegang kendali atas takdirnya sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.