Aku Hamil Tujuh Bulan Saat Menemukan Bahwa Suamiku Diam-Diam Menyembunyikan Seorang Wanita Berbobot 54 Kilogram—Namun yang Lebih Menyakitkan Adalah Alasan Mengapa Ibuku Sendiri Ikut Berbohong Demi Melindunginya**
Aku hamil tujuh bulan ketika menyadari bahwa setiap dini hari selalu ada seorang wanita yang masuk ke kamar mandi rumah kami.
Aku tidak pernah melihat wajahnya.
Aku tidak pernah mendengar suaranya.
Namun **smart weighing scale** di kamar mandi mencatat keberadaannya sebanyak lima kali—berat badannya selalu **54 kilogram**, dan selalu muncul sekitar pukul **01.00 dini hari**.
Sementara aku…
Karena kehamilan dan pembengkakan di tubuhku, berat badanku sudah hampir **72 kilogram**, bahkan cincin pernikahanku sudah tidak bisa lagi dilepas dari jari.
Saat catatan pertama muncul, asisten rumah tangga kami, **Tess**, mengaku bahwa itu dirinya.
Saat catatan kedua, sekretaris suamiku, **Marco**, berkata bahwa ia sempat menggunakan kamar mandi ketika mengantar dokumen.
Saat catatan ketiga, ibu mertuaku mengaku datang tengah malam hanya untuk memastikan aku tidur dengan nyaman.
Saat catatan keempat, justru ibuku sendiri yang menelepon.
*”Isabella, itu tadi Ibu,”* katanya. *”Ibu mengantarkan sup ayam. Jangan terus mencurigai Marco. Setiap hari dia merawatmu dengan baik.”*
Tapi…
Ada yang tidak masuk akal.
Timbangan pintar itu bukan hanya mencatat berat badan.
Ia juga merekam **persentase lemak tubuh** dan komposisi tubuh secara lengkap.
Empat kali data wanita berbobot 54 kilogram itu muncul dengan hasil analisis tubuh yang sempurna….Komentari “ya” untuk membaca bagian 2 di bawah!
Untuk menguji semuanya, aku menaruh sekotak susu dan dua dumbbell tua di atas timbangan hingga totalnya tepat **54 kilogram**.
Angka berat badan memang muncul.
Namun…
Kolom persentase lemak tubuh kosong.
Artinya…
Empat data sebelumnya benar-benar berasal dari manusia.
Dan semuanya telah berbohong kepadaku.
Saat catatan kelima muncul, aku meletakkan ponsel di atas meja makan.
*”Sekarang siapa lagi?”* tanyaku. *”Tess? Sekretarismu? Atau jangan-jangan ada bidadari yang kau sembunyikan di kamar mandi kita?”*
Wajah Marco langsung menegang.
Ia menyalakan pengeras suara lalu menelepon ibuku.
*”Bu, tolong jelaskan kepada Isabella siapa yang naik timbangan tadi malam.”*
Ibuku menghela napas panjang.
*”Itu Ibu, Nak. Ibu mengantarkan sup. Kasihan Marco. Kamu memang sedang hamil, tapi jangan sampai suamimu diperlakukan seperti penjahat.”*
Marco menatapku seolah-olah akulah yang mempermalukan keluarga.
*”Bahkan ibumu sendiri sudah lelah menghadapi kecurigaanmu.”*
Aku mengusap perutku perlahan.
*”Baiklah. Kalau aku memang gila… mari kita akhiri semuanya.”*
*”Apa maksudmu?”*
*”Lusa sore. Di rumah sakit bersalin. Bukankah waktu itu kamu bilang kalau aku terus begini, lebih baik aku menggugurkan kandungan lalu kita bercerai?”*
Jari Marco yang sedang mengupas telur rebus langsung berhenti.
*”Aku cuma sedang emosi waktu mengatakannya.”*
*”Jadi saat kamu menyuruhku menggugurkan anak kita, itu hanya karena marah. Tapi saat aku bertanya siapa wanita yang masuk ke kamar mandi kita, aku langsung disebut gila?”*
Ia diam.
Pelan-pelan ia meletakkan telur ke mangkukku.
*”Makan dulu. Gula darahmu pasti turun lagi. Kalau nanti perutmu sakit, aku juga yang akan membawamu ke rumah sakit.”*
Aku terdiam.
Ia masih mengingat semuanya.
Ia tahu aku tidak pernah mau makan kuning telur saat sedang sedih.
Saat melihat kakiku yang bengkak, ia berlutut lalu membetulkan kaus kakiku yang mulai longgar.
*”Kamu makan makanan asin lagi ya?”*
Dulu pun begitu.
Saat kami dua kali gagal menjalani program kehamilan.
Setiap kali aku menangis di malam hari, ia memijat kakiku sambil menggodaku karena terlalu manja.
Namun ia tidak pernah pergi sebelum aku tertidur.
Hatiku hampir luluh.
Sampai…
Ponselnya berdering.
Dua kata muncul di layar.
**Mia Baby.**
Tangannya langsung berhenti memegang pergelangan kakiku.
Ia buru-buru mengangkat telepon lalu keluar ke balkon.
Dari balik pintu kaca aku melihat wajahnya perlahan berubah lembut.
*”Jangan menangis.”*
*”Aku segera datang.”*
*”Dia baik-baik saja. Dia hanya sedang berlebihan.”*
Kaus kakiku masih belum selesai dipakaikan.
Telur rebus di mangkukku mulai dingin.
Sepuluh menit kemudian, Marco mengambil kunci mobil.
*”Ada keadaan darurat di kantor.”*
*”Sejak kapan rumah bersalin menjadi bagian dari kantor?”*
Matanya langsung membelalak.
*”Kamu mengikutiku?”*
*”Kalau kamu tidak berbohong, kenapa takut aku tahu ke mana kamu pergi?”*
Ia memakaikan kardigan ke bahuku.
Gerakannya lembut.
Namun suaranya dingin.
*”Isabella, jangan mempermalukan dirimu sendiri. Aku sudah ada di sisimu, merawatmu. Apa lagi yang kamu inginkan?”*
*”Kalau kamu benar-benar marah… apa yang akan kamu lakukan?”*
Ia menundukkan kepala.
*”Kamu tidak ingin tahu jawabannya.”*
Setelah pintu tertutup, aku duduk terpaku cukup lama.
Lalu kubuka **pelacak lokasi** yang dulu ia bagikan sendiri kepadaku.
Titik merah itu berhenti di sebuah **residensi bersalin mewah di Alam Sutera**.
Empat puluh menit kemudian…
Aku sudah berada di sana.
Lobi dipenuhi balon berwarna krem dan merah muda.
Di tengah ruangan berdiri dekorasi besar bertuliskan:
**Seven Months of Blessings for Mia**
Dulu aku pernah berkata ingin mengadakan sesi foto kehamilan sederhana.
Marco malah menertawakanku.
*”Jangan jadikan kehamilan sebagai ajang pamer.”*
Namun hari ini…
Ia mengadakan pesta lengkap untuk wanita lain.
Yang lebih menyakitkan lagi…
Warna dekorasinya sama persis dengan palet warna yang kusimpan di catatan ponselku untuk acara **baby shower** impianku.

Saat aku masuk…
Seluruh ruangan langsung hening.
Di tengah aula…
Marco sedang berlutut di depan seorang wanita hamil.
Wanita itu mengenakan gaun hamil mahal.
Sambil memegang pinggangnya, ia mengeluh sepatunya membuat kakinya sakit.
Dengan sangat hati-hati, Marco melepaskan sepatu wanita itu lalu menggantinya dengan sandal rumah yang empuk.
Seolah-olah wanita itu terbuat dari porselen yang mudah pecah.
Begitu melihatku…
Senyumnya langsung menghilang.
Lalu dengan tenang ia berkata,
*”Nona Isabella?”*
Ibu mertuaku, **Doña Carmen**, segera menghampiri sambil membawa semangkuk sup sarang burung.
*”Kenapa kamu datang ke sini? Tidak baik bagi ibu hamil kalau terlalu emosional.”*
Selama aku hamil…
Ia hanya dua kali datang menjengukku.
Dua kali pula ia berkata bahwa melahirkan adalah kewajiban seorang wanita, jadi aku tidak boleh terlalu manja.
Namun sekarang…
Ia meniup setiap sendok sup sebelum menyuapkannya kepada wanita itu.
Wanita tersebut memegang lengan Marco.
*”Jangan bentak dia. Dia juga sedang hamil. Mungkin dia hanya terlalu sensitif.”*
Aku menatapnya lurus.
*”Apa tadi kamu memanggilku?”*
Ia pura-pura gugup.
*”Maaf. Saya tidak tahu harus memanggil Anda apa. Kata Marco, Anda tidak suka dipanggil Nyonya Villareal.”*
Aku justru tertawa.
*”Apa lagi yang dia ceritakan tentangku?”*
Wanita itu mengusap perutnya perlahan.
*”Katanya kondisi tubuh Anda lemah dan tidak sanggup menghadapi tekanan. Jadi kami semua harus memaklumi Anda.”*
**Memaklumi.**
Kata itu menggantung di udara seperti tamparan yang amat keras. “Memaklumi.” Seolah-olah aku adalah sebuah beban, anomali yang cacat, sementara wanita di depan suamiku ini adalah pusat dari semesta mereka.
Aku melangkah maju, mengabaikan tatapan sinis Doña Carmen. Mataku lurus menatap Marco. Pria itu berdiri, memosisikan dirinya di depan wanita bernama Mia tersebut, seolah bersiap melindunginya dari amukan singa betina.
“Marco,” suaraku luar biasa tenang, ketenangan yang bahkan membuat diriku sendiri ngeri. “Jadi ini alasan timbangan pintar di rumah kita selalu merekam bobot 54 kilogram? Dia menginap di rumah kita saat aku tertidur di bawah pengaruh obat penenang yang selalu kamu berikan setiap malam?”
Marco tidak menjawab. Wajahnya mengeras, namun ada kilat kepanikan di matanya.
“Isabella, pulanglah. Kita bicarakan ini di rumah,” desis Marco berbisik, mencoba meraih lenganku.
Aku menepis tangannya dengan kasar. “Jangan sentuh aku! Jawab pertanyaanku, siapa wanita ini?!”
“Dia istriku, Isabella!”
Bukan Marco yang menjawab. Suara itu terdengar dari arah pintu masuk aula. Aku berbalik, dan jantungku rasanya berhenti berdetak saat melihat siapa yang melangkah masuk ke dalam ruangan.
Ibuku.
Beliau berjalan dengan anggun, mengenakan kebaya mewah sewarna dengan dekorasi pesta ini. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Hanya ada tatapan dingin penuh penghakiman yang diarahkan kepadaku.
“Ibu…?” tenggorokanku mendadak kering. “Apa yang Ibu katakan? Istri? Marco suamiku!”
Ibuku berjalan mendekati Mia, lalu dengan lembut mengusap pundak wanita itu, tindakan yang bahkan tidak pernah beliau lakukan kepadaku sejak aku mengandung.
“Dia istri sah Marco, Isabella. Secara hukum dan agama,” kata Ibuku dengan suara lantang, memastikan seluruh tamu di aula mendengar. “Kamu yang merupakan sebuah kesalahan. Kamu yang merebut posisi Mia lima tahun lalu.”
Kepalaku mendadak pening. Rahasia yang terkubur rapat selama bertahun-tahun mendadak pecah di depanku.
“Lima tahun lalu, sebelum Marco menikahimu, perusahaan keluarga kita hampir bangkrut,” Ibuku melanjutkan tanpa belas kasihan. “Ayahmu berutang ratusan miliar. Keluarga Marco, Doña Carmen, bersedia melunasi seluruh utang itu dengan satu syarat: Marco harus menikahimu agar keluarga kita tidak menuntut hak atas tanah warisan leluhur yang secara tidak sengaja dibeli oleh perusahaan mereka.”
“Tapi Marco dan Mia sudah saling mencintai sejak kuliah,” sela Doña Carmen, ikut memojokkanku. “Mereka terpaksa berpisah karena pernikahan kontrak denganmu. Selama lima tahun ini, Marco berbakti padamu hanya untuk melunasi ‘perjanjian’ bisnis itu. Dan sekarang, setelah kontrak itu selesai, Marco berhak kembali pada kebahagiaannya. Mia sedang mengandung penerus sah keluarga Villareal.”
Aku menatap Marco, berharap ada bantahan. Namun pria itu hanya menunduk, memegang jemari Mia dengan erat.
“Lalu… bagaimana dengan anak ini?” aku menyentuh perutku yang berusia tujuh bulan. “Anak di dalam rahimku ini juga darah dagingmu, Marco!”
Ibuku melangkah mendekat, berbisik tepat di telingaku dengan suara yang meremukkan seluruh harga diriku sebagai seorang anak. “Anak itu… akan dirawat oleh Mia dan Marco setelah kamu melahirkan, Isabella. Ibu sudah menandatangani surat kesepakatan penyerahan hak asuh atas namamu sejak bulan lalu. Itu satu-satunya cara agar Ibu bisa mempertahankan rumah kita. Lagipula, dengan kondisi mentalmu yang tidak stabil, kamu tidak akan sanggup membesarkannya.”
Dunia di sekelilingku mendadak berputar. Pengkhianatan ini terlalu besar, terlalu rapi, dan dilakukan oleh orang-orang yang paling kupercayai. Suamiku, ibu mertuaku, bahkan ibu kandungku sendiri, menjadikanku mesin pencetak anak dan jaminan utang, sebelum bersiap membuangku seperti sampah.
Rasa sakit yang hebat mendadak menjalar di perut bagian bawahku. Cairan hangat mulai mengalir membasahi kakiku yang bengkak. Aku ketuban pecah dini.
“Isabella!” Marco refleks melangkah maju saat melihatku limbung, namun Mia menahan lengannya sambil merintih pura-pura sakit. Marco beralih memeluk Mia, membiarkanku jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin sendirian.
Aku menatap mereka semua dari lantai—wajah-wajah tanpa jiwa yang menyaksikanku kesakitan. Di tengah rasa sakit yang mendera rahimku, sebuah kekuatan baru muncul dari dalam dadaku. Air mataku mengering, digantikan oleh kobaran api amarah yang murni.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku menekan tombol darurat di ponselku yang terhubung langsung dengan pengacara pribadiku—satu-satunya orang yang diam-diam kusewa sejak timbangan pintar itu memunculkan kejanggalan.
“P-pak Anwar…” bisikku ke arah ponsel, sambil menahan kontraksi yang hebat. “Lakukan sekarang. Sita seluruh aset perusahaan Marco atas nama harta gono-gini… dan batalkan surat hak asuh palsu yang ditandatangani ibuku. Aku akan melahirkan anakku sendiri… tanpa iblis-iblis ini.”
Aku memandang Marco, Doña Carmen, dan Ibuku yang wajahnya mendadak berubah panik saat mendengar nama pengacara top itu disebut.
“Kalian pikir aku lemah?” aku tersenyum di tengah rasa sakit, darah dan air ketuban menggenang di sekitarku. “Pesta kalian selesai hari ini. Aku tidak akan membiarkan sepeser pun dari harta atau anakku menyentuh tangan kalian.”
Petugas medis dari residensi bersalin segera berlari masuk membawa tandu. Saat tubuhku diangkat, aku bersumpah demi nyawa anak yang ada di dalam rahimku: hari ini mereka menghancurkanku, namun esok hari, aku yang akan memastikan mereka semua merangkak di bawah kakiku.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.