Posted in

AKU MEMBAWA MENANTU DAN CUCUKU YANG SELAMA DELAPAN TAHUN TAK PERNAH DIJEMPUT ANAKKU KE JAKARTA—NAMUN DI BANDARA SOEKARNO-HATTA, KAMI DISAMBUT OLEH ANAKKU YANG SEDANG MERANGKUL ASISTEN EKSEKUTIFNYA. SAAT IA MENYEBUT ISTRINYA SENDIRI SEBAGAI “PEREMPUAN KAMPUNG YANG JADI BEBAN”, AKU LANGSUNG MENGHENTIKAN SEMUA UANG YANG SELAMA INI MEMBESARKAN KESOMBONGANNYA**

AKU MEMBAWA MENANTU DAN CUCUKU YANG SELAMA DELAPAN TAHUN TAK PERNAH DIJEMPUT ANAKKU KE JAKARTA—NAMUN DI BANDARA SOEKARNO-HATTA, KAMI DISAMBUT OLEH ANAKKU YANG SEDANG MERANGKUL ASISTEN EKSEKUTIFNYA. SAAT IA MENYEBUT ISTRINYA SENDIRI SEBAGAI “PEREMPUAN KAMPUNG YANG JADI BEBAN”, AKU LANGSUNG MENGHENTIKAN SEMUA UANG YANG SELAMA INI MEMBESARKAN KESOMBONGANNYA**

Bagian 1

Di Aula Kedatangan, Anakku Membela Wanita yang Bersamanya—Saat Itulah Aku Memutuskan Ia Tak Lagi Pantas Pulang ke Rumah Kami

Tepat pukul 16.30, kami keluar dari area kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 2.

Namaku **Celina Robles**.

Di tangan kananku, aku menarik sebuah koper berukuran sedang.

Di tangan kiriku, cucuku yang berusia delapan tahun, **Tala**, menggenggam erat jemariku.

Di belakang kami berjalan dengan tenang menantuku, **Amihan**.

Kami baru tiba dari **Surabaya**.

Aku sengaja tidak memberi tahu anakku, **Marco**, bahwa kami akan datang.

Yang ia tahu, aku akan kembali ke Jakarta sendirian setelah menghadiri pemakaman neneknya.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa aku membawa istri dan anaknya—dua orang yang selama delapan tahun terus ia janjikan akan diboyong ke Jakarta “kalau semuanya sudah siap.”

Aku sendiri tidak tahu apa yang akan menanti kami.

Sampai akhirnya aku melihatnya.

Marco berdiri di sisi lain aula kedatangan.

Ia mengenakan setelan jas biru tua.

Di tangannya tergenggam tas kerja kulit.

Di sampingnya berdiri asisten eksekutifnya, **Clarisse Molina**.

Wanita itu memakai blazer krem, celana panjang yang pas di badan, dan sepatu hak tinggi.

Mereka sama sekali tidak terlihat seperti dua rekan kerja yang baru pulang dari konferensi pemasok.

Tangan mereka saling menggenggam.

Saat seorang penumpang lewat sambil mendorong troli besar, Marco meraih pinggang Clarisse dan menariknya mendekat ke tubuhnya.

Seperti pasangan suami istri.

Seperti sepasang kekasih.

Seolah-olah tidak ada seorang wanita yang sudah delapan tahun menunggunya di Surabaya.

“Nenek,” bisik Tala, “itu Papa ya?”

Tenggorokanku terasa tercekat.

Amihan tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap pria yang selama ini selalu ia tunggu.

Ia tidak menangis.

Ia juga tidak menghampiri.

Ia hanya menggenggam erat tali tas selempang lusuhnya.

Marco baru menyadari keberadaan kami ketika jarak kami tinggal sekitar sepuluh langkah.

Pertama ia melihatku.

Lalu Tala.

Terakhir, Amihan.

Senyumnya langsung menghilang.

Ia melepaskan tangan Clarisse.

“Ma?”

Aku tidak menjawab.

Ia melangkah mendekat, tetapi Clarisse justru berdiri di depannya, seolah harus melindunginya dari kami.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya.

Bukan, “Apa kabar?”

Bukan, “Tala, kamu sudah besar.”

Bukan pula, “Amihan, akhirnya kamu datang.”

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru mempertanyakan mengapa kami berada di sana.

“Aku membawa keluargamu,” jawabku singkat.

Ia melirik orang-orang yang lalu-lalang.

“Ma, ini bukan tempat yang tepat.”

“Tepat untuk apa?”

“Untuk membuat keributan.”

Aku menoleh kepada Clarisse.

“Jadi kehadiran istri dan anakmu dianggap keributan?”

Wajah Marco memerah.

Bukan karena malu.

Melainkan karena kesal.

Tala melangkah sedikit ke depan.

“Papa…”

Marco menatap putrinya.

Sesaat wajahnya terlihat melunak.

Namun sebelum ia sempat mendekat, Clarisse memegang lengannya.

“Marco, nanti kita ketinggalan mobil yang sudah menunggu.”

Ia kembali menatapku.

“Ma, seharusnya Mama memberi tahu dulu sebelum membawa mereka.”

“Supaya kamu sempat menyembunyikan perempuan yang bersamamu?”

“Clarisse cuma asistenku.”

“Begitukah cara seorang direktur memegang pinggang asistennya?”

“Aku tidak mau membuat keributan.”



“Belum ada keributan. Aku baru bertanya.”

Clarisse ikut menyela.

“Bu Celina, kami baru pulang dari acara perusahaan di Bali. Banyak eksekutif yang ikut.”

“Bu?”

Ia sedikit tersentak.

“Panggil saya Ibu Celina.”

“Baik… Ibu Celina.”

Amihan akhirnya melangkah maju.

Suaranya tetap lembut.

“Marco, kami hanya ingin tahu… kami akan tinggal di mana.”

Marco memandangnya seolah sedang melihat seseorang yang asing.

Tatapan itu tak akan pernah kulupakan.

Matanya menelusuri Amihan dari ujung kepala hingga kaki.

Blus motif bunga yang sederhana.

Rok lama pemberian almarhum ibunya.

Sandal murah.

Rambut yang hanya diikat seadanya.

Lalu ia menghela napas panjang.

“Amihan, kenapa kamu tidak tetap menunggu di Surabaya saja?”

“Sudah delapan tahun aku menunggu.”

Nada suaranya tidak meninggi.

Namun kalimat itu menghantamku seperti tamparan.

Beberapa orang mulai memperhatikan kami.

Marco menggenggam erat pegangan kopernya.

“Kondonya belum siap.”

“Kondo yang mana?” tanyaku.

“Unit yang sedang kusiapkan untuk mereka.”

“Sudah tiga tahun kamu bilang sedang mencari unit.”

“Masih ada masalah serah terima.”

“Tapi kamu sudah punya apartemen untuk Clarisse?”

Wajahnya langsung membeku.

Amihan belum mengetahui hal itu.

Aku pun sebenarnya baru mengetahuinya dua minggu sebelum berangkat ke Surabaya.

Saat memeriksa laporan pengeluaran perusahaan, aku menemukan tunjangan tempat tinggal atas nama kantor eksekutif Marco.

Ada dua unit apartemen.

Satu yang selama ini kukenal berada di Jakarta Selatan.

Satu lagi berada di kawasan SCBD.

Penghuninya tercatat sebagai **”Executive Support Staff.”**

Dan satu-satunya penghuni tetap yang terdaftar di sana adalah **Clarisse Molina**.

Saat itu aku belum menanyakannya.

Aku ingin melihat sendiri bukti-buktinya.

Dan kini, jawabannya terpampang jelas di wajah anakku.

“Ma,” katanya pelan, “Mama tidak tahu pengaturannya.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

“Bukan di sini.”

“Kenapa? Kamu malu?”

Nada suaranya berubah.

“Bukan aku yang seharusnya malu.”

Ia menoleh kepada Amihan.

“Dia yang tiba-tiba muncul di sini seolah semuanya akan baik-baik saja hanya karena Mama membawanya.”

Wajah menantuku perlahan memucat.

“Aku ini istrimu,” katanya lirih.

“Di atas kertas saja.”

Seisi kepalaku mendadak sunyi.

“Marco,” tegurku keras.

Namun ia tetap melanjutkan.

“Sudah delapan tahun kita hampir tidak pernah hidup bersama. Kita cuma bertemu beberapa kali. Kamu sama sekali tidak tahu kehidupanku di Jakarta.”

Batas Kesabaran Seorang Ibu

“Kehidupanmu di Jakarta?” suara Amihan bergetar, namun ia tetap berdiri tegak demi putri mereka yang berada di sampingnya. “Aku memang tidak tahu, Marco. Karena setiap kali aku bertanya kapan kami bisa menyusul, kamu selalu berkata bisnis sedang sulit, biaya hidup di Jakarta terlalu mahal, dan kamu harus berhemat.”

Amihan menatap koper mewah bermerek internasional yang dibawa Marco, lalu beralih ke jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangan suaminya.

“Ternyata, biaya hidupmu yang mahal itu bukan untuk kami,” lanjut Amihan, setitik air mata akhirnya lolos ke pipinya. “Tapi untuk membiayai kemewahan asistenmu.”

Clarisse berdehem, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh. “Mbak Amihan, tolong berkaca. Marco sekarang adalah Direktur Utama di salah satu perusahaan logistik terbesar di Jakarta. Rekan-rekan bisnisnya adalah pejabat dan ekspatriat. Bagaimana mungkin Marco membawa istri… maaf, yang berpenampilan seperti ibu rumah tangga dari desa ke acara-acara penting? Itu hanya akan menghancurkan reputasinya.”

Marco tidak menegur Clarisse. Ia justru diam, membenarkan setiap perkataan kejam wanita di sampingnya itu melalui tatapan matanya yang dingin.

“Dengar, Ma,” Marco menoleh kembali kepadaku, mencoba menggunakan otoritasnya. “Aku akan memesankan taksi untuk mereka agar mereka bisa kembali ke Surabaya malam ini juga. Nanti ongkosnya aku yang bayar. Tolong jangan merusak sisa hariku. Aku ada pertemuan penting malam ini.”

“Pertemuan penting? Atau makan malam romantis di apartemen SCBD?” tanyaku dengan nada sedingin es.

Marco tersentak. Wajahnya berganti pucat pasi saat menyadari aku telah mengetahui rahasia terdalamnya.

Runtuhnya Kesombongan Sang Direktur

Aku melepaskan pegangan tangan Tala, lalu melangkah maju hingga jarakku hanya sejengkal di depan anak kandungku sendiri. Aku menatapnya dengan rasa kecewa yang teramat dalam. Pria di depanku ini bukan lagi anak laki-laki yang kudidik untuk menjadi pria terhormat. Ia telah berubah menjadi monster yang mabuk harta dan kekuasaan.

“Kamu lupa satu hal yang sangat krusial, Marco,” bisikku, cukup keras untuk didengar oleh Clarisse yang mulai tampak gelisah.

“A-Apa maksud Mama?”

“Kamu merasa malu membawa Amihan karena dia berpenampilan sederhana? Kamu merasa posisimu sebagai Direktur Utama terlalu tinggi untuk seorang ‘perempuan kampung’?” Aku tersenyum sinis. “Kamu lupa siapa yang menempatkanmu di kursi empuk itu.”

Aku membuka tas kerjaku, mengeluarkan ponsel, dan langsung menekan tombol panggilan cepat ke pengacara keluarga sekaligus kepala dewan komisaris perusahaan.

“Halo, Pak Hendra? Aktifkan pasal darurat pembatalan hak waris dan kelola aset. Mulai detik ini, cabut seluruh fasilitas jabatan atas nama Marco Robles. Blokir semua kartu kredit korporasi, sita mobil dinas, dan batalkan hak kepemilikannya atas apartemen di Jakarta Selatan maupun SCBD.”

Mendengar instruksi itu, ponsel di saku jas Marco bergetar hebat. Sebuah notifikasi pemblokiran akun dan penonaktifan akses sistem perusahaan langsung muncul di layarnya.

“Ma! Apa-apaan ini?!” Marco berteriak panik, menjatuhkan tas kerja kulitnya ke lantai bandara. “Mama tidak bisa melakukan ini! Aku yang memimpin perusahaan itu selama lima tahun terakhir!”

“Perusahaan itu adalah milik mendiang ayahmu, dan saham mayoritasnya 100% masih atas namaku!” tegasku, suaranya menggelegar di aula kedatangan hingga beberapa petugas bandara menoleh. “Aku memberikanmu jabatan itu karena mengira kamu bekerja keras demi menafkahi anak dan istrimu di Surabaya. Tapi ternyata, uang dari perusahaanku hanya membesarkan kesombonganmu dan memberi makan selingkihanmu!”

Akhir dari Sebuah Topeng

Clarisse yang menyadari situasi telah berbalik seratus delapan puluh derajat perlahan mundur, mencoba melepaskan pegangan tangannya dari lengan Marco. Namun, dua orang pria berjas hitam—pengawal pribadi yang sengaja kupanggil sebelumnya—tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang Clarisse.

“Nona Clarisse Molina,” salah satu pengawal berbicara dengan tegas. “Mulai besok pagi, tim audit internal akan memeriksa seluruh laporan keuangan Anda terkait penyalahgunaan dana fasilitas perusahaan untuk apartemen SCBD. Silakan bersiap menghadapi jalur hukum.”

Clarisse seketika lemas, wajah cantiknya dipenuhi ketakutan. Tanpa memedulikan Marco lagi, ia berbalik dan berlari meninggalkan aula kedatangan dengan tergesa-gesa.

Kini tinggal Marco yang berdiri sendirian. Setelan jas birunya yang mahal mendadak terlihat sangat menyedihkan. Ia berlutut di lantai bandara, mencoba meraih ujung pakaianku.

“Ma… maafkan aku. Aku khilaf. Amihan, tolong aku… katakan sesuatu pada Mama. Tala, ini Papa, Nak…” Marco memohon dengan air mata yang mulai mengalir.

Amihan memandang suaminya untuk terakhir kali. Tidak ada lagi cinta di matanya, hanya ada sisa rasa hormat yang telah habis tak bersisa. Ia menarik Tala ke belakang tubuhnya.

“Delapan tahun aku menunggumu dengan sabar di Surabaya, menerima semua alasan palsumu tanpa pernah mengeluh, Marco,” ucap Amihan dengan suara yang tenang namun berwibawa. “Hari ini aku datang ke Jakarta bukan untuk memintamu kembali, tapi untuk menyaksikan sendiri bahwa pria yang kunikahi dulu memang sudah mati.”

Aku membalikkan badan, menggandeng erat tangan menantu dan cucuku yang berharga.

“Ayo kita pulang, Amihan, Tala. Rumah besar kita di Jakarta sudah merindukan pemilik aslinya,” kataku sambil berjalan pergi, meninggalkan Marco yang meraung penyesalan di tengah keramaian Bandara Soekarno-Hatta.

Ia mengira telah membuang beban, tanpa menyadari bahwa ia baru saja membuang satu-satunya tiket yang menjamin seluruh kemewahan dalam hidupnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.