Posted in

UANG SAKUKU HABIS KARENA MEMBELI TIKET KONSER, JADI AKU MEMINTA RP2 JUTA KEPADA KAKAKKU—KEESOKAN HARINYA, DOSEN PEMBIMBING BARUKU MEMPERMALUKANKU DI DEPAN SATU ANGKATAN DAN MENYEBUTKU “PELakor”, TANPA IA SADARI PRIA YANG DIPEREBUTKANNYA ADALAH KAKAK KANDUNGKU SENDIRI**

UANG SAKUKU HABIS KARENA MEMBELI TIKET KONSER, JADI AKU MEMINTA RP2 JUTA KEPADA KAKAKKU—KEESOKAN HARINYA, DOSEN PEMBIMBING BARUKU MEMPERMALUKANKU DI DEPAN SATU ANGKATAN DAN MENYEBUTKU “PELakor”, TANPA IA SADARI PRIA YANG DIPEREBUTKANNYA ADALAH KAKAK KANDUNGKU SENDIRI**

Uang sakuku untuk satu bulan habis bahkan sebelum bulan pertama kuliah berakhir, hanya karena aku nekat membeli tiket konser.

Karena takut dimarahi Ayah dan Ibu, aku memilih meminta bantuan kepada kakakku.

Namun keesokan harinya, dosen pembimbing akademik kami yang baru justru menyebarkan tangkapan layar pesan itu ke grup satu angkatan, lalu menuduhku sebagai perebut laki orang (pelakor) di depan seluruh kelas.

Yang lebih mengejutkan lagi…

Ternyata dia adalah pacar baru kakakku sendiri.

Aku mahasiswa tingkat pertama di sebuah universitas swasta di Jakarta.

Karena baru pertama kali tinggal jauh dari rumah, aku masih belum pandai mengatur uang untuk makan, transportasi, tugas kuliah, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Saat penjualan tiket grup K-Pop favoritku dibuka, aku benar-benar tidak mampu menahan godaan.

*”Sekali seumur hidup saja,”* pikirku.

Tanpa kusadari, hampir seluruh uang bulanan yang dikirim Ibu habis hanya untuk membeli tiket konser.

Tiga hari setelah konser selesai, isi dompetku tinggal beberapa lembar uang receh.

Akhirnya aku mengirim pesan kepada kakakku, Adrian.

> **Kak, transfer dong Rp2 juta. Darurat. Adik kesayanganmu sudah kelaparan nih.**

Sepuluh menit kemudian ia membalas.

> **Punya malu sedikit. Jangan sembarangan manggil “Kak” ke laki-laki yang sudah punya pacar.**

Aku hanya menatap layar ponsel.

Kupikir dia sedang bercanda.

Sejak kecil memang kami sering saling mengerjai.

Aku membalas dengan emoji tertawa sambil berkata akan mengembalikan uangnya setelah kiriman bulan depan datang.

Namun setelah itu ia tidak membalas lagi.

Keesokan paginya, dosen pembimbing akademik baru kami, **Clarisse Mendoza**, mengirim sebuah tangkapan layar ke grup angkatan.

Di atasnya tertulis:

**”Tolong bantu saya mencari perempuan ini. Ada hadiah bagi yang bisa memberikan informasi.”**

Nama dan foto profil pada tangkapan layar memang diburamkan, tetapi tidak sempurna.

Komentar langsung bermunculan.

*”Pelakor ya, Bu?”*

*”Jangan-jangan sugar baby.”*

Yang membuatku terkejut, Bu Clarisse memberikan tanda suka pada komentar yang menyebutku **pelakor**.

Saat kubuka tangkapan layar itu, napasku seakan berhenti.

Itu adalah percakapanku dengan Adrian.

Bahkan wallpaper chat kami pun sama persis.

Aku segera membuka profil media sosial Bu Clarisse.

Di sanalah kulihat foto dirinya bersama Adrian di sebuah kafe di Bandung.

Ternyata dialah wanita yang baru diperkenalkan Adrian sebagai pacarnya dua minggu sebelumnya.

Sayangnya saat makan malam keluarga itu aku tidak bisa datang karena sedang mengikuti orientasi mahasiswa.

Aku hanya menggeleng sambil tertawa pahit.

Kukirim tangkapan layar itu kepada Adrian.

> **Kak, sejak kapan adik kandungmu yang lahir dari ibu yang sama berubah jadi pelakor?**

Namun bukannya terkirim, yang muncul justru tanda seru merah.

Aku sudah diblokir.

Aku bahkan tidak tahu apakah harus marah atau justru tertawa.

Aku sebenarnya ingin menelepon Ayah dan Ibu, tetapi mereka sedang berada di Yogyakarta menghadiri reuni kuliah.

Selain itu, aku juga belum berani mengaku kalau uang sakuku sudah habis.

Besoknya kami memiliki mata kuliah wajib.

Begitu Bu Clarisse masuk kelas, ia membawa laptop dan sebuah map tebal.

Bahkan sebelum kuliah dimulai, ia sudah menyalakan proyektor.

Tangkapan layar percakapanku langsung muncul di layar besar.

“Sebelum kita mulai pelajaran,” katanya dingin, “ada masalah pribadi yang ingin saya bahas.”

Aku langsung merasakan semua teman sekelas menoleh ke arahku.

“Ada mahasiswa yang tidak fokus belajar,” lanjutnya. “Sebaliknya, dia memilih meminta uang dari laki-laki yang sudah memiliki hubungan dengan perempuan lain.”

Aku berdiri.

“Bu, Adrian itu kakak kandung saya.”

Ia langsung tersenyum sinis.

“Memangnya ada kakak kandung yang membalas, ‘Jangan sembarangan panggil Kak ke laki-laki yang sudah punya pacar’?”

“Itu hanya candaan kami. Mungkin waktu itu Bapak Adrian sedang bersama Ibu.”

“Alasan.”

Beberapa mahasiswa tertawa dari belakang.

“Data keluarga kami ada di catatan administrasi. Saya bisa membuktikannya.”

“Mana buktinya?”

Aku terdiam.

Tentu saja aku tidak membawa akta kelahiran ke ruang kuliah.

Ia mengangkat alis semakin tinggi.

“Kalau tidak bisa membuktikan, jangan mengarang cerita. Setelah kelas selesai, buat esai refleksi sepuluh halaman tentang moralitas.”

Ia bahkan tidak mematikan proyektor.

Sepanjang kuliah, tangkapan layar pesanku terus terpampang di samping papan tulis.

Tak lama kemudian seseorang salah mengirim pesan ke grup kelas.

*”Parah… Bianca ternyata pelakor.”*

Pesan itu memang langsung dihapus.

Tetapi semua orang sudah sempat membacanya.

Setelah kuliah selesai, tanganku gemetar saat keluar dari kampus.

Belum jauh aku berjalan, Bu Clarisse kembali mengirim pengumuman ke grup.

> **Karena perilaku mahasiswa ini sudah mencoreng nama baik kampus, saya akan mengunjungi rumahnya untuk berbicara langsung dengan keluarganya dan melihat bagaimana ia dibesarkan.**

Aku ingin membalas.

Tetapi aku sudah dibisukan di grup.

Aku pulang ke apartemen yang dibelikan Ayah dan Ibu tidak jauh dari kampus.

Sesekali Adrian juga menginap di sana jika harus lembur.

Belum sempat berganti pakaian, bel apartemen berbunyi.

Saat kubuka pintu, Bu Clarisse sudah berdiri di sana bersama ketua kelas kami, Trisha, dan perwakilan angkatan, Noel.

“Kamu tidak mengundang kami masuk?” tanyanya.

Sebenarnya aku ingin menolak.

Namun aku ingin semua kesalahpahaman ini segera selesai.

Begitu masuk, matanya langsung menyapu seluruh ruang tamu.

“Sewa apartemen seperti ini pasti mahal,” katanya. “Bagaimana mahasiswa baru bisa sanggup membayarnya?”

“Ini bukan sewa. Apartemen ini milik keluarga kami.”

Ia tersenyum mengejek sambil melirik Trisha dan Noel.

“Begini jadinya kalau dibiayai laki-laki.”

Tanpa izin, ia membuka rak sepatu.

Di sana tersimpan tiga pasang sepatu edisi terbatas milik Adrian.

Wajahnya langsung pucat.

“Itu sepatu Adrian.”

“Iya. Karena dia kakak saya.”

“Pembohong!”

Ia mulai mengobrak-abrik ruang tamu.

Laci dan lemari dibukanya satu per satu, sementara Trisha diam-diam memotret semuanya.

Saat melihat tiket konserku, Bu Clarisse langsung merampasnya lalu menyobeknya menjadi dua.

“Adrian yang membelikan ini, kan? Harganya hampir Rp5 juta!”

“Saya yang membelinya sendiri!”

“Dengan uang dari pacar saya!”

Aku akhirnya kehilangan kesabaran.

“Anda tidak berhak masuk ke sini lalu merusak barang saya! Anda seorang dosen, tapi bahkan tidak punya bukti! Anda tidak pernah mau mendengar penjelasan saya sebelum mempermalukan saya!”

Ia justru tertawa.

“Bahkan kalau rektor datang sekalipun, kamu tetap pelakor.”

Trisha ikut menimpali.

“Bu, sebaiknya dia juga dicabut dari beasiswanya. Fasilitas kampus tidak pantas diberikan kepada perempuan yang merusak hubungan orang lain.”

Saat itulah aku sadar.

Ternyata Trisha adalah pesaing terbesarku dalam seleksi beasiswa mahasiswa berprestasi.

Aku menarik napas panjang lalu membuka laci di bawah meja TV.

Di sana tersimpan amplop yang ditinggalkan Ibu sebelum berangkat—berisi fotokopi akta kelahiran kami, foto keluarga, dan dokumen kepemilikan apartemen.

Aku mengeluarkan akta kelahiran milikku dan Adrian lalu meletakkannya di atas meja.

“Silakan baca. Kami memiliki ayah dan ibu yang sama. Kami kakak beradik kandung.”

Bu Clarisse terdiam sesaat.

Namun begitu mengambil dokumen itu, ia langsung menyobek fotokopinya menjadi dua lalu melemparkannya ke wajahku.

“PALSU!”

Ia menunjuk nama Adrian.

“Adrian bilang padaku dia anak tunggal! Dia tidak punya adik perempuan!”

Aku mundur selangkah.

Belum sempat aku berkata apa-apa, pintu apartemen tiba-tiba terbuka.

Sebuah suara yang sangat kukenal terdengar dari arah pintu masuk.

“Clarisse… kenapa kamu ada di sini?”

Kami semua menoleh.

Di sana berdiri Adrian sambil menggenggam ponselnya dengan wajah pucat.

Di belakangnya, Ayah dan Ibu baru saja tiba dari Yogyakarta.

Topeng yang Runtuh dalam Semalam

Suasana apartemen seketika menjadi sunyi senyap, hingga detak jarum jam di dinding terdengar begitu nyaring. Kehadiran Ayah dan Ibu yang mendadak, lengkap dengan koper-koper mereka, membuat Bu Clarisse terpaku di tempatnya berdiri.

“Adrian, Sayang!” Clarisse langsung mengubah ekspresi wajahnya, mencoba memegang lengan kakakku dengan manja. “Untung kamu datang. Lihat perempuan ini, dia memalsukan dokumen dan mengaku sebagai adik kandungmu demi memeras uang dari kita! Dia bahkan menyimpan sepatu-sepatumu di sini!”

Adrian tidak menyambut pelukan Clarisse. Ia justru melepaskan cengkeraman tangan Clarisse dengan kasar hingga dosen itu terhuyung ke belakang.

“Cukup, Clarisse!” bentak Adrian, suaranya bergetar hebat karena menahan amarah dan ketakutan. Ia menatap potongan-potongan kertas akta kelahiran yang berserakan di lantai, lalu menatapku dengan mata penuh penyesalan. “Bianca… maafkan Kakak. Maafkan Kakak…”

“Adrian? Kenapa kamu meminta maaf pada pelakor ini?!” teriak Clarisse, masih mencoba mempertahankan harga dirinya di depan Trisha dan Noel.

Sebelum Adrian sempat menjawab, Ayah melangkah maju. Aura wibawa Ayah yang dingin langsung menyelimuti ruangan. Ayah memungut sobekan dokumen kepemilikan apartemen di lantai, lalu membaca nama yang tertera di sana.

“Siapa yang memberikan Anda izin untuk masuk ke properti milik keluarga saya, merusak barang-barang putri saya, dan menghinanya di rumahnya sendiri?” suara Ayah berat dan tenang, namun mampu membuat Trisha dan Noel ketakutan hingga menyembunyikan ponsel mereka.

Kebohongan yang Terbongkar

Clarisse menatap Ayah dengan bingung. “Keluarga Anda? Bapak ini siapa? Ini apartemen yang disewa jalang ini dari uang—”

“Saya adalah pemilik sah apartemen ini, dan saya adalah ayah kandung dari Bianca dan Adrian!” potong Ayah dengan tegas.

Ibu langsung berlari memelukku yang masih gemetar di sudut ruangan. Ibu mengusap rambutku, mencoba menenangkanku.

Clarisse menoleh ke arah Adrian dengan mata membelalak. “A-Adrian… apa maksudnya ini? Kamu bilang kamu anak tunggal kaya raya yang memiliki perusahaan konstruksi di Jakarta? Kamu bilang kamu tidak punya keluarga lagi?!”

Adrian menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya. Kebenaran yang memuakkan akhirnya terungkap. Demi mendapatkan hati Clarisse yang materialistis, Adrian berpura-pura menjadi eksekutif muda bergelimang harta yang sebatang kara. Faktanya, perusahaan yang dipimpin Adrian adalah milik Ayah, dan apartemen tempatnya tinggal selama ini adalah fasilitas keluarga.

Malam ketika aku meminta uang Rp2 juta, Adrian sedang bersama Clarisse. Karena gengsi dan takut rahasianya terbongkar bahwa ia memiliki adik yang hidup sebagai mahasiswa biasa, Adrian sengaja membalas pesanku dengan ketus, lalu memblokir nomor ponselku demi menyenangkan Clarisse yang cemburu buta. Ia tidak pernah menyangka bahwa pacar barunya itu adalah dosen di kampusku, dan ketidakpeduliannya telah menyulut badai yang menghancurkan adiknya sendiri.

Pembalasan yang Setimpal

Aku melepaskan pelukan Ibu, lalu melangkah ke depan Clarisse. Aku menatap Trisha dan Noel yang kini tertunduk pucat.

“Bu Clarisse, atau harus kupanggil calon kakak ipar?” ucapku dengan senyum sinis. “Anda ingin melihat bagaimana aku dibesarkan, bukan? Beginilah cara orang tuaku membesarkanku—dengan kejujuran, bukan dengan kebohongan seperti pria yang Anda puja-puja ini.”

Aku menoleh ke arah Trisha. “Dan untukmu, Trisha… foto-foto yang kamu ambil tadi, silakan simpan. Karena besok pagi, foto-foto itu akan menjadi bukti pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi di persidangan.”

Ayah mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Rektor Universitas yang kebetulan adalah rekan bisnis senior Ayah.

“Halo, Prof. Wirawan? Ini saya, Baskoro. Saya ingin melaporkan tindakan tidak terpuji dan perundungan yang dilakukan oleh salah satu dosen pembimbing baru bernama Clarisse Mendoza terhadap putri saya. Saya memegang semua bukti digital dan saksi mata di dalam apartemen putri saya saat ini. Saya minta sanksi pemecatan tidak terhormat dan pencabutan izin mengajar malam ini juga.”

Clarisse seketika lemas. Ia bersimpuh di lantai, mencoba meraih kaki Ayah. “Pak… maafkan saya, Pak Baskoro! Saya tidak tahu kalau Bianca adalah putri Anda! Saya hanya membela hubungan saya dengan Adrian… Tolong jangan pecat saya!”

“Keluar dari apartemen anak saya,” jawab Ayah tanpa belas kasihan. “Sebelum saya memanggil pihak keamanan untuk menyeret Anda dan dua mahasiswa ini ke kantor polisi.”

Trisha dan Noel langsung berlari keluar dari pintu apartemen tanpa memedulikan Clarisse lagi. Tragis bagi Trisha, impiannya mendapatkan beasiswa berprestasi kini berganti dengan ancaman drop out (DO) karena ikut serta dalam aksi perundungan. Dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur, Clarisse bangkit dan melangkah keluar sambil menangis histeris, menyadari bahwa karier akademis dan pria “kaya” yang diimpikannya telah lenyap dalam sekejap mata.

Akhir dari Sebuah Pelajaran

Pintu apartemen tertutup rapat. Adrian perlahan berlutut di hadapanku dan orang tua kami, menangis tersedu-sedu meminta maaf atas kebodohan dan kegengsiannya yang berujung petaka.

Ayah menatap Adrian dengan dingin. “Kamu kehilangan jabatanmu di perusahaan Ayah mulai besok, Adrian. Fasilitas kartumu diblokir. Kamu harus belajar hidup mandiri dari bawah tanpa nama besar keluarga, agar kamu tahu bagaimana rasanya menghargai orang lain.”

Ibu mendekatiku, lalu menyerahkan selembar uang Rp2 juta yang sejak awal ingin kuminta. Ibu tersenyum hangat, “Ini untuk uang sakumu yang habis karena konser. Lain kali, jujur pada Ibu dan Ayah, ya?”

Aku mengangguk sambil memeluk Ibu erat. Malam itu, aku tidak hanya mendapatkan uang sakuku kembali, tetapi aku juga menyaksikan bagaimana sebuah kesombongan, fitnah, dan kebohongan runtuh dengan begitu mudahnya di hadapan sebuah kebenaran yang mutlak.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.