Suamiku Tiba-Tiba Mengajak Seluruh Keluarganya Datang ke Jakarta untuk Libur Panjang Hari Kemerdekaan, Tinggal dan Makan Seenaknya di Rumah Kami. Akhirnya Aku Membuang Semua Persediaan Makanan dan Memesan Tiket Pesawat untuk Berlibur Sendirian.**
Mara dan Daniel dikenal banyak orang sebagai pasangan yang tampak sempurna. Namun di balik rumah tangga mereka yang terlihat harmonis, perlahan muncul retakan-retakan yang selama ini selalu ditutupi Mara dengan kesabaran dan pengorbanan.
Tahun ini, Hari Kemerdekaan bertepatan dengan libur panjang. Dengan wajah penuh semangat, Daniel berkata,
“Sayang, aku sudah mengundang seluruh keluargaku ke Jakarta. Mama, Papa, adik-adikku, bahkan para keponakan juga ikut. Sudah lama kita tidak berkumpul. Ini momen yang pas.”
Dada Mara langsung terasa sesak.
Keluarga Daniel sangat besar. Setiap kali mereka datang, jumlahnya bisa lebih dari sepuluh orang. Rumah yang biasanya tenang berubah menjadi ramai dan berantakan. Makan harus disiapkan berkali-kali dalam sehari, dan sejak pagi hingga malam, Mara-lah yang mengurus semuanya seorang diri.
Ia teringat libur Natal tahun lalu.
Saat itu ia hampir tidak sanggup berdiri karena kelelahan setelah memasak, mencuci piring, dan membersihkan rumah tanpa henti. Bukannya mendapat ucapan terima kasih, kakak iparnya malah berkomentar,
“Masakanmu kurang berbumbu. Nggak senikmat masakan kampung.”
Daniel hanya tersenyum lalu berkata,
“Maklumi saja, memang begitu sifat mereka.”
Mara mencoba berbicara dengan tenang.
“Boleh nggak kali ini kita liburan berdua saja? Aku benar-benar ingin istirahat. Setiap ada acara keluarga, rumah kita rasanya seperti pasar.”
Daniel menggeleng.
“Kamu egois sekali. Mereka itu keluargaku. Mereka juga jarang bisa datang ke Jakarta. Aku sudah telanjur berjanji, mana mungkin kubatalkan.”
Mara terdiam.
Ini bukan pertama kalinya ia merasa dirinya selalu menjadi pihak yang harus mengalah dan mengerti.
Namun kali ini…

Ada sesuatu di dalam dirinya yang akhirnya berubah….
Dua hari kemudian, riuh suara klakson dan tawa membahana memenuhi halaman rumah. Rombongan keluarga Daniel tiba membawa belasan koper, kantong plastik berisi oleh-oleh kampung, dan anak-anak yang langsung berlarian menaikkan kaki ke atas sofa kulit kesayangan Mara.
“Mara! Tolong ambilkan es teh manis ya, kami kehausan,” panggil ibu mertuanya tanpa menyapa terlebih dahulu, sembari meluruskan kaki di meja tamu.
“Mbanya tolong sprei kamar atas diganti ya, keponakan mau tidur siang,” sahut adik iparnya santai dari arah dapur, menganggap Mara tak ubahnya seperti asisten rumah tangga.
Daniel tersenyum puas, merasa bangga bisa menjadi “pahlawan keluarga” yang menyediakan tempat bernaung dan pelayanan mewah secara gratis di Jakarta. Ia menepuk bahu Mara seraya berbisik, “Nanti malam bikin nasi liwet lengkap ya, buat 14 orang. Daging sama ayamnya ada di kulkas, kan?”
Mara menatap suaminya datar, lalu tersenyum sangat tipis. “Ada.”
Langkah Pilihan Mara
Pukul sembilan malam, saat seluruh anggota keluarga Daniel berkumpul di ruang keluarga sambil menonton TV dan menagih makan malam, Mara berjalan santai menuju dapur.
Ia tidak menyalakan kompor. Sebaliknya, Mara membuka kulkas berukuran dua pintu miliknya. Semua daging impor, ayam segar, buah-buahan, sayuran, hingga persediaan makanan olahan yang kemarin sempat dibeli Daniel dengan uang belanja mereka, dipindahkannya ke dalam kantong-kantong sampah hitam besar.
Ia juga mengosongkan rak bumbu dan menumpahkan galon air minum terakhir ke dalam bak cuci piring. Semuanya bersih, kosong melompong.
Setelah itu, Mara membawa tiga kantong sampah besar itu ke luar rumah dan membuangnya ke tempat penampungan sampah di ujung gang.
Ia lalu kembali ke kamar utama, mengunci pintu dari dalam, mengemas koper kecil miliknya, dan membuka aplikasi pemesanan tiket di ponsel. Sebuah tiket pesawat first class ke Bali untuk jadwal penerbangan esok pagi pukul 06.00 WIB resmi terpesan—menggunakan kartu kredit atas namanya sendiri yang selama ini ia hemat-hemat penggunaannya.
Pagi yang Gempar
Pukul 05.00 WIB, rumah sudah gempar. Suara perut keroncongan dan rengetan anak-anak memenuhi ruang tengah. Ibu mertua Mara menggedor-gedor pintu kamar dengan kencang.
“Mara! Kenapa belum bangun?! Anak-anak mau sarapan! Dapur kenapa kosong tidak ada makanan sama sekali?!”
Mara membuka pintu kamar. Ia sudah tampil anggun dengan gaun musim panas berwarna putih, kaca mata hitam terpasang di atas kepala, dan koper kabin di sampingnya.
Daniel yang baru bangun tidur menghampirinya dengan wajah merah padam. “Mara! Apa-apaan ini?! Mana semua bahan makanan? Ibu sama adik-adikku kelaparan dari semalam!”
Mara menatap Daniel dengan tatapan dingin dan tenang, tatapan yang belum pernah dilihat Daniel selama lima tahun pernikahan mereka.
“Bahan makanannya sudah kubuang ke tempat sampah,” jawab Mara santai.
“Kamu gila?!” bentak Daniel histeris. “Keluargaku mau makan apa?!”
“Kan kamu yang mengundang mereka,” balas Mara halus. “Kamu pahlawannya, kamu pemilik rumahnya, dan kamu yang ingin menjadi tuan rumah yang baik. Jadi, urus sendiri makanan untuk empat belas orang keluargamu.”
Ibu mertua dan adik iparnya ternganga di belakang Daniel.
“Kamu ini istri macam apa?!” jerit ibu mertuanya. “Nggak punya sopan santun sama mertua!”
Mara menoleh ke arah wanita tua itu. “Saya istri yang sudah cukup sabar selama lima tahun dibayar dengan celaan dan rasa lelah. Liburan kali ini, saya memilih untuk menghargai diri saya sendiri.”
Ia lalu menatap Daniel yang membeku.
“Aku sudah pesan tiket ke Bali untuk seminggu ke depan. Jangan telepon aku, jangan cari aku. Kalau kamu merasa tindakanku ini salah, silakan siapkan berkas perceraian kita begitu aku pulang nanti.”
Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Mara melangkah anggun melintasi ruang tamu yang berantakan, mengabaikan seruan histeris mertuanya dan teriakan panik Daniel yang baru menyadari bahwa ia tidak tahu cara memasak maupun mengurus belasan orang sendirian tanpa uang tunai berlebih.
Saat taksi online membawanya menuju Bandara Soekarno-Hatta, Mara menghirup udara pagi Jakarta dengan lega. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa benar-benar merdeka di Hari Kemerdekaan ini.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.