Posted in

Aku terbangun tepat pukul dua belas malam karena mendengar seorang wanita menangis di garasi rumah kami… tetapi saat membuka CCTV, ponselku hampir terjatuh ketika melihat siapa yang sedang dipeluk suamiku, yang kukira masih lembur di Jakarta.**

Aku terbangun tepat pukul dua belas malam karena mendengar seorang wanita menangis di garasi rumah kami… tetapi saat membuka CCTV, ponselku hampir terjatuh ketika melihat siapa yang sedang dipeluk suamiku, yang kukira masih lembur di Jakarta.**

Di seluruh kompleks Greenfields di Bekasi, Celina dan Marco dikenal sebagai pasangan yang seolah keluar dari sinetron. Celina adalah seorang content creator yang gemar membuat video tentang rutinitas keluarga sehat, sementara Marco bekerja sebagai arsitek senior di sebuah perusahaan ternama di kawasan Sudirman, Jakarta.

Setiap hari, Facebook mereka dipenuhi foto-foto mesra. Ada kejutan bunga. Ada kiriman bubble tea tengah malam. Ada pakaian serasi setiap hari Minggu. Dan di kolom komentar, orang-orang selalu menulis hal yang sama.

“Semoga aku juga punya pasangan seperti ini.”

“Ya Tuhan, ternyata Engkau sebaik ini kepada orang lain.”

“Marco benar-benar suami idaman.”

Dan sejujurnya, Celina juga mempercayai semua itu.

Bahkan ketika suaminya mulai berubah.

Dulu, Marco selalu mengajaknya menonton Netflix sebelum tidur. Ia juga sering memeluk Celina dari belakang saat istrinya sedang memasak di dapur. Namun dalam beberapa bulan terakhir, seolah ada bagian dari dirinya yang perlahan menjauh, meski mereka masih tinggal serumah.

Ia semakin sering pulang larut malam.

Semakin sering menatap layar ponselnya.

Dan yang paling terasa…

Ia semakin pendiam.

“Hanya sedang banyak tekanan di kantor,” kata Marco suatu malam sambil memijat pelipisnya.

Karena sangat mencintai suaminya, Celina memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.

Namun ada beberapa hal yang, sekeras apa pun kita berusaha mengabaikannya…

Tetap akan diteriakkan oleh firasat kita sendiri.

Terutama pada malam itu.

Pukul 00.30, Celina terbangun karena menerima notifikasi dari aplikasi CCTV rumah.

**Gerakan terdeteksi: Area Garasi.**



Dengan sedikit kesal ia meraih ponselnya. Ia mengira hanya kucing liar yang kembali masuk ke halaman.

Namun saat membuka tayangan langsung dari kamera CCTV…

tangannya seketika membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan ponsel di genggamannya hampir saja merosot jatuh ke lantai.

Layar ponselnya yang terang menampilkan area garasi yang remang-remang. Di sana, berdiri seorang pria berjas yang sangat ia kenali—Marco. Suaminya, yang tiga jam lalu mengirimkan pesan WhatsApp bahwa ia masih terjebak deadline proyek di kawasan Sudirman dan memutuskan untuk menginap di hotel dekat kantor.

Namun, bukan kepulangan diam-diam Marco yang membuat dada Celina sesak luar biasa.

Melainkan wanita yang sedang berada di dalam pelukan suaminya. Wanita itu menangkupkan wajahnya di dada Marco, bahunya terisak hebat, menyuarakan tangisan pilu yang terdengar samar-samar menembus dinding kamar. Dan Marco… suaminya membalas pelukan itu dengan begitu erat, merengkuh kepalanya, mengusap punggungnya dengan kehangatan dan rasa bersalah yang tak pernah Celina lihat sebelumnya.

Wanita itu bukan pelakor. Bukan teman kantor. Bukan pula sosok asing yang ada di bayangan buruk Celina.

Wanita itu adalah Livia—sahabat karib Celina sendiri, yang dua minggu lalu membatalkan pernikahan dan tiba-tiba “menghilang” tanpa kabar dari media sosial.

Celina terpaku di tepi ranjang. Seluruh pujian tetangga, citra “suami idaman”, dan konten romantis yang biasa ia unggah terasa bagai tamparan keras yang meremukkan harga dirinya. Dunia sempurnanya runtuh detik itu juga dalam keheningan pukul dua belas malam.

Dengan kaki yang bergetar, Celina melangkah turun. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia hanya berjalan pelan menuju pintu depan, membuka kuncinya dengan denting logam yang nyaring di tengah malam yang sepi.

Suara engsel pintu membuat dua orang di garasi itu terperanjat.

Marco menoleh patah-patah. Wajahnya seketika pucat pasi saat melihat Celina berdiri di ambang pintu, memegang ponsel yang layarnya masih menyala—menampilkan rekaman CCTV yang baru saja mengabadikan pengkhianatan mereka.

“Celina…” suara Marco tercekat, suaranya gemetar hebat. Ia refleks melepas pelukannya pada Livia dan maju satu langkah, tetapi Celina mengangkat tangannya, menghentikan langkah itu.

Livia mengusap air matanya yang tersisa, menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata sahabatnya.

Celina menatap suami dan sahabatnya secara bergantian. Tak ada amarah yang meledak-ledak. Yang tersisa di matanya hanyalah kekecewaan yang sangat dingin. Ia menyunggingkan senyum tipis—senyuman paling pahit yang pernah ia buat dalam hidupnya.

“Pantas saja kamu selalu pendiam belakangan ini, Marco,” kata Celina, suaranya tenang namun menusuk hingga ke tulang. “Dan kamu, Liv… aku mengkhawatirkanmu tiap hari.”

Celina mengarahkan layar ponselnya ke arah mereka, memperlihatkan sudut kamera CCTV yang merekam segalanya.

“Rupanya, sinetron yang dicintai penontonku di internet… malam ini resmi tamat.”

Tanpa menunggu penjelasan atau tangisan penyesalan yang mulai keluar dari mulut Marco, Celina berbalik arah, melangkah masuk, dan menutup pintu garasi itu rapat-rapat—mengunci rapat-rapat pula kisah cintanya yang selama ini hanya menjadi panggung kepalsuan.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.