Tala Sudah Berusia Dua Belas Tahun dan Sejak Lama Tidur Sendiri. Tak Ada Seorang Pun yang Menganggapnya Aneh Lagi. Ia Terbiasa dengan Kamar Berdinding Kuning Pucat Itu, dengan Tempat Tidur Berukuran Dua Meter yang Begitu Luas hingga Ia Bisa Berguling Berkali-kali Tanpa Menyentuh Tepi. Namun Suatu Pagi, Ia Memeluk Pinggangku dan Berbisik, “Bu… Tempat Tidurku Semakin Sempit.” Aku Tertawa… Sampai Tengah Malam Itu, Saat Kamera di Kamarnya Menunjukkan Sesuatu yang Membuat Darahku Membeku.**
Tala sudah berusia dua belas tahun dan sudah lama tidur sendirian. Tidak ada lagi yang menganggap hal itu aneh. Ia terbiasa dengan kamar berdinding kuning pucat itu, juga dengan tempat tidurnya yang begitu besar hingga ia bisa berguling beberapa kali tanpa menyentuh sisi ranjang.
Dulu aku sering bercanda bahwa tempat tidurnya bahkan lebih nyaman daripada kamar hotel.
Itu hanya gurauan.
Setiap malam aku tetap membacakan dongeng selama sepuluh menit, mengecup keningnya sebentar, lalu mematikan lampu, seolah semuanya berjalan sesuai naskah seorang ibu yang sempurna.
Lalu suatu pagi, ia berlari ke dapur dengan rambut masih berantakan. Ia memeluk pinggangku erat, seperti anak kecil yang sedang mencari seseorang yang mampu memahami perasaannya.
Sebelum kompor sempat menyala, ia berkata pelan,
*”Bu… tempat tidurku mulai terasa sempit.”*
Sempit?
Padahal ranjang itu panjangnya dua meter!
Aku tertawa kecil, tidak ingin membuatnya takut. Kupikir mungkin ia tertidur di atas buku atau boneka beruangnya.
Namun ternyata bukan itu.
Keesokan harinya ia mengeluh lagi.
Lalu keesokan harinya lagi.
Tiga hari.
Lima hari.
Selama seminggu penuh, ia terus mengucapkan kalimat yang hampir sama, tetapi jika didengarkan baik-baik, maknanya berbeda.
*”Tadi malam terasa lebih sempit.”*
*”Seperti ada yang mendorongku ke pinggir.”*
*”Bu… tadi malam Ibu masuk ke kamarku?”*
Saat ia menanyakan itu untuk terakhir kalinya, aku sedang melipat handuk.
Ketika aku mengangkat kepala, kulihat matanya memerah—bukan karena kurang tidur, melainkan karena ia sedang berusaha mengatakan sesuatu yang bahkan ia sendiri takut untuk mengakuinya.
“Tidak, Nak. Ibu tidak masuk ke kamarmu.”
Itulah jawabanku.
Namun sejak saat itu pikiranku mulai dipenuhi kegelisahan.
Aku menceritakan semuanya kepada suamiku, Rafael.
Ia tipe orang yang sangat rasional hingga terkadang terasa menjengkelkan.
*”Anak-anak memang punya imajinasi yang terlalu liar. Jangan terlalu dipikirkan.”*
Mungkin benar.
Mungkin hanya imajinasi.
Tetapi malam itu, diam-diam aku memasang kamera kecil di sudut langit-langit kamar Tala.
Bukan untuk mencari sesuatu.
Hanya agar kalau memang ada sesuatu, aku bisa melihatnya sendiri.
Malam itu Tala tidur sangat nyenyak, meringkuk seperti anak kucing yang kenyang.
Rekaman kamera memperlihatkan kamar yang rapi, tempat tidur yang bersih, bantal yang tersusun dengan baik.
Tidak ada apa pun yang tampak aneh.
Aku hampir yakin bahwa semua ini hanyalah kecemasan seorang ibu.
Lalu sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena haus.
Mata masih berat, tangan masih gemetar, tetapi entah mengapa aku langsung meraih ponsel dan membuka siaran langsung dari kamera di kamar Tala.
Kebiasaan kecil seorang ibu yang selalu khawatir, meski tak pernah mengakuinya.
Gambar itu muncul.
Dalam setengah detik pertama, aku tidak mengerti apa yang kulihat.
Satu detik berikutnya, tubuhku membeku, seolah seluruh tenaga dicabut dari dalam diriku.
Tempat tidur itu…
Tempat tidur yang sangat luas itu…
Tidak lagi terlihat luas.
Aku terus menatap layar hingga telingaku mulai berdenging.
Dan tepat pada saat itu—
—sebuah bayangan hitam yang terbaring tepat di samping Tala perlahan-lahan mulai bergerak.
Bukan, itu bukan sekadar bayangan. Itu adalah sesosok tubuh manusia yang kurus kering dan sangat panjang, terbaring terlentang di bawah selimut yang sama dengan Tala. Kepala sosok itu menempel di dinding, sementara kakinya tertekuk ganjil karena ukurannya yang melebihi panjang ranjang dua meter itu.
Tubuhku gemetar hebat. Napasku tertahan di tenggorokan saat kulihat sosok itu perlahan memiringkan badannya menghadap Tala. Dengan gerakan yang sangat pelan dan janggal, tangannya yang panjang dan pucat mengelus rambut anakku, lalu menyusupkan lengannya di bawah kepala Tala—menjadikan tangannya sendiri sebagai bantal untuk Tala.
Setiap kali sosok itu menggeser tubuhnya lebih rapat, posisi Tala semakin terdesak ke ujung ranjang.
Itulah sebabnya ranjang itu terasa makin sempit.
Bukan karena imajinasi. Bukan karena mimpi buruk. Tapi karena setiap malam, ada sesuatu yang tidur bersamanya, membagikan selimutnya, dan merampas ruang tidurnya inci demi inci.
Dan yang membuat darahku benar-benar membeku… sosok itu perlahan mendongakkan kepalanya ke arah sudut langit-langit. Tepat ke arah kamera.

Di bawah remang lampu tidur kuning pucat itu, kulihat wajahnya yang sangat tirus dengan mata hitam yang lebar tanpa kelopak. Wajah itu tersenyum melengkung sangat lebar hingga merobek pipinya, lalu meletakkan satu jari telanjurnya yang panjang di depan bibir.
Isyarat agar aku diam.
Tanpa berpikir panjang, aku melempar ponselku ke kasur, meraih pisau dapur di meja dekat tangga, dan berlari sekencang-kencangnya menuju kamar Tala di lantai dua. Aku menendang pintu kamar itu hingga terbuka lebar dengan dentuman keras dan menyalakan lampu utama.
CEKLEK!
Cahaya putih terang langsung membanjiri ruangan.
Tempat tidur itu… kosong. Hanya ada Tala yang terbangun kaget dan ketakutan, terduduk di pinggir ranjang sambil menangis histeris.
“Bu! Ibu kenapa?!” jerit Tala ketakutan melihatku berdiri di ambang pintu dengan pisau di tangan dan napas memburu.
Aku berlari memeluknya erat-erat, meraba tubuhnya, memastikan anakku utuh dan selamat. Selimutnya masih hangat. Namun saat mataku melirik ke arah seprai kuning pucat itu, jantungku berhenti berdetak.
Di sisi ranjang yang kosong—tempat di mana sosok itu terbaring beberapa detik lalu—terdapat lekukan tubuh manusia yang sangat dalam pada kasur, meninggalkan jejak tanah basah dan bau busuk menyerupai bangkai yang menyengat.
Dan dari balik pintu lemari pakaian Tala yang sedikit terbuka di sudut ruangan yang gelap… aku mendengar suara bisikan halus, parau, dan dingin merayap keluar:
“Terima kasih… malam ini tempat tidurnya jadi milikku sepenuhnya…”
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.