BAGAIMANA AKU MENARIK KEMBALI DANA AMANAH TUNANGANKU SEBESAR Rp150 MILIAR TEPAT DI HARI PESTA TUNANGAN KAMI**
Pesta pertunangan kami diadakan di sebuah vila mewah di kawasan perbukitan **Puncak, Bogor**. Lampu kristal berkilauan di setiap sudut, sampanye premium mengalir tanpa henti, dan seluruh ruangan dipenuhi para pengusaha, pejabat, serta keluarga elite paling berpengaruh di Indonesia.
Aku berdiri di balkon lantai dua sambil memegang segelas anggur, diam memperhatikan para tamu yang bercengkerama di bawah. Namaku **Rafael**, seorang miliarder berusia tiga puluh tahun.
Di mata keluarga calon istriku, **Cassandra**, aku hanyalah seorang pebisnis yang sempurna, pendiam, dan “terlalu baik”, sehingga mudah mereka kendalikan. Mereka mengira karena aku kini hidup bergelimang harta, aku hanyalah pria lembut yang akan selalu menuruti keinginan seorang wanita cantik dari keluarga terpandang di Jakarta Selatan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah mereka ketahui.
Kerajaan bisnisku bukanlah warisan keluarga. Aku membangunnya dari nol, dari kehidupan paling keras di kawasan kumuh Jakarta Utara. Sebelum menjadi miliarder, aku pernah tidur dalam keadaan lapar, bertarung demi bertahan hidup, dan belajar mengenali wajah asli manusia. Aku tahu bagaimana memberikan segalanya kepada seseorang, tetapi aku juga tahu bagaimana merebut kembali hal paling berharga yang mereka miliki hanya dalam sekejap.
Saat mataku menyapu halaman belakang, sebuah pemandangan membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
### Penghinaan Terhadap Ibuku
Aku melihat Cassandra bersama teman-teman sosialitanya yang kaya raya.
Mereka mengerumuni seorang wanita tua yang mengenakan daster bermotif bunga sederhana tanpa merek terkenal, dipadukan dengan sepasang sepatu yang bersih dan rapi.
Wanita itu adalah ibuku, **Bu Lita**.
Ibukulah alasan aku bisa berdiri di sini hari ini. Beliau bertahun-tahun mencuci pakaian milik orang lain dan berjualan kain lap di pinggir jalan Jakarta hanya agar aku bisa bersekolah. Awalnya beliau tidak ingin datang ke pesta karena merasa minder berada di tengah “orang-orang besar”, tetapi aku memaksanya hadir karena hari istimewa ini juga miliknya.
Aku melihat bagaimana Cassandra memandang Bu Lita dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan penuh jijik. Meski berada jauh di balkon, aku bisa membaca gerak bibirnya dan seolah mendengar setiap kata tajam yang keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba, tanpa sedikit pun ragu…
Cassandra mendorong ibuku.
Bu Lita kehilangan keseimbangan lalu terjatuh telentang ke kolam air mancur besar di tengah taman.
Air dingin menyiram seluruh tubuhnya. Pakaiannya basah kuyup, dan jelas terlihat punggungnya membentur keras.
Bukannya menolong, Cassandra dan teman-temannya justru tertawa terbahak-bahak.
Aku melihat Cassandra menyeringai sambil berkata dengan suara keras,
> “Ya ampun! Malu banget! Baju murahanmu itu merusak estetika pestaku! Pergi sana! Bau tanah!”
### Keheningan Seorang Monster
Seandainya aku pria biasa, mungkin saat itu juga aku sudah berteriak dari balkon, mengamuk, dan membuat keributan besar.
Namun aku dibesarkan di jalanan Jakarta.
Aku belajar bahwa kemarahan yang diteriakkan akan cepat menghilang, sedangkan kemarahan yang disimpan dalam diam bisa menghancurkan segalanya.
Aku tidak berteriak.
Seluruh tubuhku justru menjadi sangat dingin.
Tatapanku membeku.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku jas.
Lalu menelepon pengacara pengelola asetku, **Atty. Castillo**, yang saat itu juga berada di dalam pesta.
“Ya, Pak Rafael?” jawabnya.
Dengan suara tenang dan sedingin es, aku berkata,
“Pak Castillo, dana amanah senilai **Rp150 miliar** yang kemarin kita tanda tangani sebagai hadiah pernikahanku untuk Cassandra…”
“Batalkan.”
“Sekarang juga.”

“Hancurkan semua dokumennya.”
“T-Tapi Pak… prosesnya sudah berjalan di bank—”
“Prosesnya baru saja selesai lima menit yang lalu,” potongku tenang, memotong kekagetannya. “Dan sebagai pemilik tunggal dana tersebut, aku punya hak mutlak untuk membatalkannya kapan saja sebelum janji suci diucapkan. Gunakan klausul darurat. Eksekusi sekarang.”
“Baik, Pak Rafael. Dilaksanakan dalam hitungan detik.”
Aku menutup telepon, meneguk habis sisa anggur di gelasku, dan melangkah turun menuju area taman utama.
Langkah kakiku mantap. Wajahku tetap tenang, memamerkan senyum sopan yang biasa mereka lihat—senyum yang mereka kira adalah simbol kelemahan.
Saat aku sampai di taman, Cassandra sedang mengeringkan gaun mewahnya yang terkena sedikit cipratan air. Ibuku masih berusaha berdiri di dalam kolam, gemetar ketakutan dan kedinginan, dikelilingi bisik-bisik menghina dari para tamu undangan.
“Rafael! Akhirnya kamu turun juga!” Cassandra tersenyum manis, berlari kecil menghampiriku tanpa rasa bersalah. “Kamu lihat kan? Ibumu bikin kekacauan! Dia jatuh ke kolam dan merusak suasana pesta kita. Mending kamu suruh dia pulang naik taksi sekarang, malu-maluin banget!”
Aku tidak menjawabnya. Aku melewatinya begitu saja.
Aku berjalan masuk ke dalam kolam air mancur yang dingin itu, melepaskan jas Tom Ford seharga ratusan juta yang kupakai, lalu membalutkannya ke tubuh ibuku yang gemetar. Aku berlutut di dalam air, membantunya berdiri dengan penuh rasa hormat.
“Maafkan Rafael, Bu,” bisikku lembut di telinganya. “Rafael yang salah karena membawa Ibu ke tempat iblis-iblis ini.”
“Rafael… tidak apa-apa, Nak. Ibu cuma terpeleset…” bisik ibuku pelan, masih berusaha melindungiku dari rasa malu.
Aku memeluknya sebentar, menyerahkannya kepada dua pengawal pribadiku yang paling kupercaya untuk diantar ke mobil limosin dan dipastikan mendapat perawatan medis terbaik.
Setelah mobil berlalu, aku berbalik menghadapi Cassandra, keluarganya, dan seluruh tamu undangan. Suasana taman mendadak hening.
“Rafael, kamu apa-apaan sih?!” bentak Cassandra dengan wajah merah padam. “Kamu rela membasahi jas mahalmu hanya demi wanita tua itu?! Dan kenapa kamu menyuruh pengawalmu membawa dia naik limosin utama?!”
Ibunya Cassandra, seorang wanita sosialita dengan perhiasan berlapis-lapis, ikut melangkah maju. “Rafael! Jaga sikapmu! Jangan permalukan putriku di depan relasi bisnis kami! Kamu harus minta maaf pada Cassandra sekarang!”
Aku terkekeh pelan. Sebuah kekehan dingin yang membuat aura di taman itu berubah mencekam.
“Minta maaf?” tanyaku pelan.
Saat itu juga, Pak Castillo berjalan terburu-buru menghampiriku sambil membawa iPad dan menyerahkan sebuah dokumen yang baru saja dicetak. Ia membungkuk hormat padaku.
“Sudah selesai, Pak Rafael. Seluruh dana amanah sebesar Rp150 miliar telah resmi ditarik kembali ke rekening utama Anda. Akses kartu kredit tak terbatas milik Miss Cassandra juga telah dibekukan detik ini.”
Pernyataan itu bergema di seluruh halaman taman.
Wajah Cassandra seketika pucat pasi. “A-Apa maksudnya ini?! Rafael! Dana amanah itu kan hadiah tunangan untukku! Kamu tidak bisa membatalkannya!”
Ayah Cassandra, yang selama ini mengincar dana tersebut untuk menyelamatkan perusahaan keluarganya yang nyaris bangkrut, langsung berlari mendekat dengan mata membelalak. “Rafael! Apa-apaan ini?! Ini pelanggaran kesepakatan keluarga kita!”
“Kesepakatan?” Aku melangkah mendekati Cassandra. Tatapanku menghujam tepat ke matanya. “Kalian pikir aku pria bodoh dari Jakarta Selatan yang bisa kalian manfaatkan?”
Aku mencengkeram dagunya pelan, cukup kuat untuk membuatnya sadar siapa yang memegang kendali.
“Wanita tua yang kamu dorong ke kolam tadi adalah alasan aku punya uang Rp150 miliar itu. Tanpa doa dan tetesan keringatnya, aku bukan siapa-siapa. Kamu merendahkan bajunya yang murah? Baju itu dibeli dari uang halal. Sedangkan gaun mewah yang kamu pakai sekarang… dibeli dengan uangku.”
Aku melepaskan cengkeramanku hingga ia tersandung ke belakang.
BZZZ… BZZZ…
Ponsel ayah Cassandra berdering kencang. Dengan tangan gemetar, pria tua itu mengangkatnya. Wajahnya yang tadinya marah berubah menjadi histeris dan memucat bagai mayat.
“A-Apa?! Semua investasi ditarik?! Bank membekukan semua aset kita?!” ayahnya berteriak histeris ke telepon, lalu menatapku dengan mata penuh ketakutan. “R-Rafael… kamu yang melakukan ini?!”
“Bukan cuma itu,” jawabku santai. “Besok pagi, seluruh auditor keuangan dan tim hukumku akan menyita vila ini dan seluruh aset keluarga kalian yang sudah kalian jaminkan padaku bulan lalu.”
“Rafael! Jangan! Aku mohon!” Cassandra tiba-tiba bersimpuh di depanku, menangis histeris. Ia mencoba memegang ujung celanaku yang basah. “Aku minta maaf! Aku tidak tahu! Aku janji akan bersujud di depan ibumu! Tolong jangan lakukan ini pada keluargaku!”
Aku mundur satu langkah, membiarkan tangannya menggapai angin hampa.
“Terlambat, Cassandra,” bisikku dingin. “Kamu suka melihat orang tenggelam di kolam ini, kan? Sekarang, nikmati caramu tenggelam dalam kemiskinan.”
Aku berbalik dan berjalan meninggalkan pesta yang hancur berantakan itu. Di belakangku, suara jeritan histeris Cassandra dan makian panik keluarganya saling bersahutan, memecah kesunyian malam di perbukitan Puncak.
Hari ini, mereka belajar satu pelajaran berharga:
Jangan pernah menyentuh satu-satunya malaikat dalam hidup seorang monster.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.