Posted in

KETIKA AKU MENYADARI BAHWA DOKTER DINGIN DI GEDUNG SEBERANG SELALU MANDI DENGAN TIRAI YANG TERPASANG TERBALIK, SEJAK SAAT ITULAH JANTUNGKU BERDEBAR KENCANG SETIAP MALAM

KETIKA AKU MENYADARI BAHWA DOKTER DINGIN DI GEDUNG SEBERANG SELALU MANDI DENGAN TIRAI YANG TERPASANG TERBALIK, SEJAK SAAT ITULAH JANTUNGKU BERDEBAR KENCANG SETIAP MALAM

Terkutuklah hatiku yang begitu rapuh, dan terkutuk pula kontraktor yang memasang tirai di unit seberang.

Sebelumnya, perkenalkan. Namaku Luna. Usia dua puluh delapan tahun, masih lajang sejak lahir, dan bekerja sebagai marketing events manager di kawasan SCBD, Jakarta. Sudah enam bulan aku tinggal sendirian di apartemen lantai 24. Hidupku tenang—kerja, pulang ke rumah, Netflix, lalu sesekali bergosip di grup WhatsApp bersama dua sahabat gilaku.

Sampai akhirnya seorang tetangga baru pindah ke gedung di seberang, tepat satu lantai di bawahku (Unit 2308).

Suatu malam, karena stres pekerjaan, aku tidak bisa tidur. Pukul dua dini hari, aku mengambil bantal lalu duduk di dekat jendela besar sambil menikmati pemandangan lampu kota yang mulai redup.

Namun ketika tanpa sengaja pandanganku jatuh ke unit seberang…

Duniaku seolah berhenti berputar.

Aku bahkan hampir tersedak air liurku sendiri.

Gedung apartemen kami cukup privat dan tidak terlalu ramai. Kamar mandi setiap unit menghadap ke sisi bangunan, dan hampir semua penghuni memasang kaca buram atau tirai tebal demi menjaga privasi.

Tapi pria yang tinggal di seberang?

Sepertinya pemasang blind di unitnya melakukan kesalahan besar. Sudut bilah blind terpasang terbalik. Bukannya menghalangi pandangan dari atas, justru membuka pemandangan bagi penghuni yang tinggal di lantai lebih tinggi.

Seperti aku.

Malam itu angin terasa sejuk. Uap air hangat memenuhi kamar mandinya dan meninggalkan embun tipis di kaca. Di bawah cahaya kuning lampu pemanas, pria itu perlahan melepas kemeja polo abu-abunya.

Ya Tuhan… ampuni aku.

Aku benar-benar tidak mampu mengalihkan pandangan.

Bahu lebarnya terlihat jelas. Garis punggungnya yang tegas serta lengan berototnya tampak seperti pahatan seorang seniman. Perlahan ia berbalik menghadap cermin sambil melepas celananya.

Aku menelan ludah.

Tenggorokanku mendadak kering.

Selama dua puluh delapan tahun hidup, baru kali itu aku melihat tubuh sebagus itu secara langsung. Otot perutnya begitu tegas, seolah bisa dipakai untuk memarut keju. Tanpa sadar aku mulai menghitung…

Satu… dua… tiga…

Delapan!

Delapan kotak otot perut yang sempurna.

Ia mengambil sabun mandi. Kedua tangannya yang besar dan dipenuhi busa perlahan mengusap dadanya, turun ke arah perut. Setiap gerakannya tenang, seakan sama sekali tidak menyadari ada seseorang di gedung seberang yang hampir pingsan karena gugup.

Saat tangannya mulai bergerak semakin ke bawah…

Barulah aku tersadar.

Dengan panik aku langsung menarik tirai kamarku dan bersandar ke dinding. Napasku memburu seperti habis berlari maraton. Wajahku terasa begitu panas hingga rasanya bisa dipakai menggoreng telur.

Malamku benar-benar berantakan.

Sepanjang malam aku gelisah dan sama sekali tidak bisa tidur.

Kata teman-temanku, kalau perempuan sudah melewati usia dua puluh lima tahun, hormon memang mulai “berulah”.

Dulu aku tidak percaya.

Bahkan saat ulang tahunku kemarin, mereka menghadiahiku berbagai mainan dewasa dan memenuhi Google Drive-ku dengan berbagai “materi edukasi” berlabel khusus. Waktu itu aku jijik.

“Ngapain sih? Mending aku tidur,” kataku pada mereka.

Tapi sekarang?

Sudah tiga hari diam-diam aku membuka semua video itu.

Dan kenyataannya…

Semuanya kalah jauh dibanding pria di seberang.

Setampan apa pun para aktor di layar, tetap terasa biasa dibanding karisma alami pria itu.

Yang menyebalkan, setelah malam tersebut, lampu kamar mandinya tak pernah lagi menyala dini hari.

Mungkin memang begitulah manusia.

Kita justru menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita miliki.

Setiap hari aku merasa ada yang kurang.

Hingga suatu malam.

Aku baru saja menyelesaikan proposal marketing untuk acara kantor keesokan harinya. Begitu menutup laptop, jam tepat menunjukkan pukul dua dini hari.

Dan saat itu…

Lampu kamar mandi Unit 2308 tiba-tiba menyala.

*”Kenapa baru mandi sekarang? Besok tidak kerja?”* gumamku dalam hati.

Sebenarnya, sebagai warga yang baik, aku sempat berpikir melaporkan masalah ini ke pengelola apartemen atau mencari nomor pemilik Unit 2308 di grup penghuni.

Tapi nama unit itu belum ada di sana.

Mungkin ia memang baru pindah.

Lagipula, bagaimana mungkin aku menjelaskan kepada pengelola?

*”Permisi, tolong bilang ke penghuni Unit 2308 kalau saya bisa melihat dia mandi setiap malam karena blind-nya terpasang terbalik.”*

Astaga.

Aku pasti malah dikira penguntit.

Apalagi hanya aku yang tinggal di lantai paling atas sehingga memiliki sudut pandang yang pas.

Akhirnya aku memutuskan…

Biarkan saja dulu.

Aku akan menikmati pemandangan itu sampai bosan, baru setelah itu memberitahunya.

Masalahnya…

Aku tidak pernah bosan.

Malam ini embun di kacanya lebih tipis.

Wajahnya terlihat semakin jelas.

Rambutnya dipotong cepak, hidungnya mancung, dan matanya teduh.

Semakin kulihat, semakin sulit bagiku mengalihkan pandangan.

Malam itu aku bermimpi.

Mimpi yang terasa begitu nyata.

Dalam mimpiku, sebuah tangan besar yang hangat perlahan menyelinap ke balik selimutku. Tangan itu mengusap pinggangku lalu berhenti di tengkukku sebelum perlahan mengangkat wajahku.

Di tengah kegelapan…

Wajah pria tetanggaku semakin mendekat.

Aku bisa merasakan napas hangatnya.

Hidung kami hampir bersentuhan.

Dan tepat saat ia hendak menciumku…

**BEEP! BEEP! BEEP!**

Alarm berbunyi keras.

Ya ampun!

Kenapa harus tepat di saat seperti itu?

Kesal bukan main, aku buru-buru bangun untuk mematikan alarm, berharap masih bisa tidur lima menit lagi agar mimpinya berlanjut.

Namun karena bangun terlalu cepat…

**KREK!**

Rasa sakit luar biasa menjalar dari bahuku hingga ke leher.

Leherku kaku.

Aku bahkan tidak bisa menoleh ke kanan sedikit pun.

Benar saja.

Kalau sampai membawa pria ke dalam mimpi, biasanya setelah itu selalu ada sialnya.

Aku akhirnya mengambil cuti dan pergi ke sebuah klinik di kawasan SCBD untuk memeriksakan diri.

Dengan kepala yang miring seperti robot rusak, aku masuk ke ruang konsultasi.

“Silakan masuk, Bu Luna. Dokter Rafael yang akan memeriksa Anda,” kata perawat.

Aku perlahan masuk sambil memutar seluruh tubuh agar bisa melihat dokter yang duduk di balik meja.

Saat ia mengangkat wajah…

Seluruh tubuhku membeku.

Rahang tegas.

Hidung mancung.

Rambut cepak.

Dan mata teduh itu.

Tidak mungkin salah.

Dia.

Pria dari Unit 2308.

Pria dengan delapan kotak otot perut yang diam-diam kulihat mandi hampir setiap malam.

Ia menatapku dari ujung kepala hingga kaki, lalu perlahan tersenyum tipis.

“Leher kaku?” tanyanya dengan suara rendah yang terdengar sedikit menggoda.

“Sepertinya akhir-akhir ini kamu terlalu sering menoleh ke arah tertentu, ya, Luna.”

Sebelum aku sempat menjawab, ia menambahkan satu kalimat yang membuat duniaku seolah runtuh.

“Jadi… kamu mau aku obati dulu… atau mau melanjutkan mimpimu?”

Darahku seakan berhenti mengalir detik itu juga. Wajahku membakar sampai ke ujung telinga, jauh lebih panas dibanding saus cabai di restoran mewah mana pun.

“A-apa… dokter bicara apa?” suaraku mencicit, hilang sudah wibawaku sebagai marketing manager ternama. Aku berniat pura-pura gila, pura-pura salah dengar, atau kalau perlu pura-pura pingsan di atas ranjang periksa.

Dokter Rafael berdiri dari kursinya. Tingginya luar biasa menekan—terlebih dari jarak dekat seperti ini. Ia berjalan perlahan mengitari mejanya, mengikis jarak di antara kami dengan langkah tenang yang teratur.

“Luna,” panggilnya, menyebut namaku dengan nada rendah yang gila sekali efeknya pada detak jantungku. Ia berhenti persis di depanku, lalu perlahan menunduk hingga wajahnya sejajar denganku. “Kamu pikir aku tidak tahu?”

Aku menelan ludah dengan susah payah, tidak berani menatap matanya.

“Ruang kamar mandiku memang menggunakan bilah blind yang terbalik,” lanjutnya santai, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. “Awalnya aku berniat membetulkannya di hari pertama pindah. Tapi malam itu… aku melihat bayangan seseorang di lantai 24. Setiap kali lampu kamar mandiku menyala, gorden kamarmu selalu bergerak sedikit.”

Ia tertawa kecil—suara tawa yang renyah dan begitu renyah di telinga.

“Jadi aku sengaja membiarkannya. Aku bahkan sengaja mandi di jam-jam tertentu… cuma untuk memastikan apakah gadis penonton setiaku masih setia menunggu.”

Ya Tuhan. Bumi, tolong telan aku sekarang juga.

Ternyata selama ini bukan aku yang diam-diam ‘menikmati pemandangan’, melainkan aku yang sengaja dipancing! Pria dingin ini tidak polos sama sekali; dia serigala berbulu domba berjas dokter!

“Kamu…” suaraku tertahan di tenggorokan. “Kamu sengaja?”

“Tentu saja,” jawabnya tanpa rasa dosa. Tangannya yang besar dan hangat—tangan yang persis ada di dalam mimpiku tadi pagi—perlahan terangkat. Jari-jarinya yang panjang menyentuh tengkukku dengan sangat hati-hati. Usahanya membuat rasa tegang di leherku sedikit mengendur, tapi malah membuat seluruh tubuhku merinding hebat.

“Lalu kenapa tadi malam baru menyala jam dua pagi?” tanyaku spontan, memukul mulutku sendiri dalam hati begitu kalimat itu terlepas. Bagus, Luna, makin kelihatan kalau kamu menghitung jalannya waktu!

Mata teduh Dokter Rafael berkilat jenaka. “Karena aku baru selesai shift malam jam satu. Dan aku tahu, gadis di seberangku pasti belum tidur karena sedang dikejar deadline proposal.”

Peut être un dessin de une personne ou plus

Ia menatap tepat di mataku, menyalurkan kehangatan dari sentuhan jarinya di leherku yang kaku.

“Aku membiarkanmu menontonku selama sebulan, Luna. Sekarang… kurasa sudah adil kalau aku minta ganti ruginya.”

“Ganti rugi apa?” tanyaku gugup, napas terkunci.

Dokter Rafael memiringkan kepalanya, memperjelas garis rahangnya yang sempurna.

“Malam ini, jam delapan. Pintu Unit 2308 tidak dikunci. Kita lanjutkan obrolannya di sana… dan kurasa, kali ini kamu tidak perlu melihatnya dari balik jendela seberang.”

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.