Posted in

AKU MENGUSIR ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL DEMI MENIKAHI CINTA PERTAMAKU YANG SEORANG JANDA. AKU MENGIRA HIDUPNYA AKAN HANCUR, TAPI AKU TERKEJUT SAAT AKHIRNYA BERLUTUT MENYAKSIKAN KESUKSESANNYA.

AKU MENGUSIR ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL DEMI MENIKAHI CINTA PERTAMAKU YANG SEORANG JANDA. AKU MENGIRA HIDUPNYA AKAN HANCUR, TAPI AKU TERKEJUT SAAT AKHIRNYA BERLUTUT MENYAKSIKAN KESUKSESANNYA.

“Mulai hari ini, kita resmi bercerai, Luna Marquez. Hubungan kita sudah berakhir. Kamu bukan istriku lagi.”

Aku sedang hamil sembilan bulan.

Tinggal satu minggu lagi sebelum hari persalinanku.

Namun bukannya mendapat pelukan hangat, perhatian, dan kasih sayang ketika suamiku pulang dari apa yang ia sebut sebagai “perjalanan bisnis”, yang menungguku justru selembar surat cerai dan senyum penuh penghinaan.

“Arman…” seluruh tubuhku gemetar. Aku memegangi perutku yang besar, hampir tak sanggup berdiri. “Aku sedang mengandung anak kita. Dokter bilang beberapa hari lagi aku akan melahirkan. Tapi kamu masih tega membawa perempuan itu masuk ke rumah kita?”

Arman hanya tertawa sinis.

“Bianca adalah cinta pertamaku, Luna. Dia kenangan terindah masa SMA-ku. Kamu tidak akan pernah bisa menandinginya,” katanya dengan suara penuh kesombongan dan hinaan.

Aku menatap dua orang yang berdiri di hadapanku.

Tanpa hati.

Tanpa belas kasihan.

Awalnya Arman hanya pamit dua minggu untuk perjalanan bisnis sebagai manajer di sebuah perusahaan properti ternama.

Namun ia menghilang selama tiga bulan.

Tak pernah mengangkat telepon.

Tak pernah membalas pesanku.

Ia membiarkanku menghadapi masa-masa tersulit kehamilan seorang diri.

Dan sekarang ia kembali…

Bukan untuk meminta maaf.

Melainkan untuk memperkenalkan istri barunya.

Bianca.

Ia mengenakan gaun krem elegan, rambutnya ditata sempurna, dengan senyum tipis layaknya seorang ratu yang baru memenangkan peperangan.

Ia memang seorang janda dengan dua anak.

Namun di mata Arman, dialah perempuan paling sempurna.

“Aku sudah memutuskan,” lanjut Arman dingin. “Aku dan Bianca sudah menikah di luar negeri. Dialah perempuan yang pantas mendampingiku. Cantik, berasal dari keluarga kaya, dan punya banyak bisnis. Tidak seperti kamu yang hidup dari uang pemberianku. Anak yatim yang tidak punya apa-apa selain menjadi beban.”

Aku menoleh kepada Bianca.

Berharap masih ada sedikit rasa iba dari sesama perempuan.

Namun yang kulihat hanyalah kesombongan dan kemenangan.

“Suatu hari nanti kamu akan menyesal, Arman,” kataku tegas meski hatiku hancur demi bayi yang sedang kukandung.

Dari sudut ruang tamu terdengar suara mendengus.

Ibu mertuaku, Doña Teresa, keluar sambil mengipas dirinya.

Wajahnya dipenuhi rasa jijik.

“Berani sekali kamu bicara begitu,” katanya sinis. “Bianca berasal dari keluarga terhormat dan kaya. Masa depan anakku cerah bersamanya! Sedangkan kamu? Besar di panti asuhan. Anak terlantar yang kami kasihi karena belas kasihan. Seharusnya kamu berterima kasih karena kami sudah membiarkanmu tinggal di rumah ini selama bertahun-tahun!”

Aku meletakkan tangan di atas perutku.

Dari sanalah aku memperoleh sisa kekuatanku.

Aku menatap Doña Teresa dan Arman tanpa rasa takut.

“Mungkin aku memang dibesarkan di panti asuhan,” jawabku mantap. “Tapi aku tidak pernah merebut kebahagiaan milik orang lain. Dan aku tidak akan pernah menjual harga diriku demi uang.”

“Luna! Keluar dari rumahku sekarang juga!” bentak Arman sambil melempar tas lusuh berisi beberapa potong pakaianku yang ternyata sudah mereka kemas di dekat pintu.

Tak ada air mata yang jatuh di depan mereka.

Aku tak ingin memberi mereka kepuasan melihatku hancur.

“Arman,” ucapku tenang sambil perlahan melangkah keluar membawa tas dan memegangi perutku.

“Aku hanya berharap… perempuan yang kamu pilih benar-benar sebanding dengan semua yang telah kamu hancurkan hari ini.”

Begitu keluar dari gerbang kompleks perumahan mewah itu, gerimis dingin langsung menyambutku.

Seolah langit ikut merasakan beban di hatiku.

Aku mengambil ponsel lamaku dan memesan taksi online.

Tujuanku hanya satu:

**Hope Children’s Home**, panti asuhan yang telah merawat, membesarkan, dan mengajariku menjadi manusia.

Mobil datang.

Dengan susah payah aku naik ke kursi belakang.

Namun belum lama perjalanan dimulai, rasa nyeri hebat menjalar dari pinggang hingga ke perut.

Cairan hangat mengalir di kedua kakiku dan membasahi jok mobil.

Air ketubanku pecah.

“Pak…” kataku dengan napas tersengal sambil menahan rasa sakit. “Tolong… ke rumah sakit terdekat… saya akan melahirkan.”

Mata sang sopir langsung membesar melalui kaca spion.

“Tenang ya, Bu! Kita langsung ke rumah sakit. Bertahan sedikit lagi!”

Di tengah rasa sakit yang seolah merobek tubuhku, aku menghubungi satu-satunya nomor yang masih kuingat di luar kepala.

“Ibu Sari…” suaraku lirih namun tegar. “Saya di Medika Hospital… air ketuban saya sudah pecah… saya butuh Ibu.”

“Luna, Nak! Ibu langsung ke sana! Jangan takut, Allah selalu bersamamu!” jawab suara yang penuh kasih sayang.

Suara perempuan yang selama ini menjadi ibu bagiku.

Sesampainya di ruang gawat darurat Medika Hospital, para perawat segera mendorongku dengan kursi roda.

Belum sampai tiga puluh menit kemudian, Ibu Sari datang tergesa-gesa mengenakan hijab sederhananya.

“Luna…” panggilnya sambil menangis dan menggenggam tanganku yang dingin. “Anakku…”

Aku tersenyum di tengah rasa sakit.

“Maaf ya, Bu… saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Jangan pernah berkata begitu.” Ia menggenggam tanganku semakin erat.

“Kamu kuat. Sejak kecil, kamu selalu menjadi anak paling pemberani yang pernah Ibu kenal.”

Saat kursi rodaku didorong menuju ruang bersalin, sebuah kursi roda lain melaju dari arah berlawanan.

Di sampingnya berjalan seorang pria tinggi bertubuh tegap dengan seragam loreng militer.

Di dada seragamnya tertera nama:

**REYES**.

“Sedikit lagi, Kak. Kamu pasti bisa. Tarik napas yang dalam,” katanya lembut namun tegas sambil mendampingi kakak perempuannya yang juga hendak melahirkan.

Ketika kedua kursi roda kami berpapasan tepat di depan pintu ruang bersalin…

Pandangan kami tak sengaja bertemu.

Pria itu menatap wajahku yang pucat.

Ekspresinya langsung berubah.

Mata yang tadi dipenuhi kekhawatiran untuk sang kakak kini membelalak karena terkejut.

Ia berhenti melangkah.

Menatapku seolah melihat seseorang yang telah lama hilang.

“Luna?”

“Luna Marquez?”

“Benarkah… itu kamu?” tanyanya dengan suara yang bergetar.

Satu kata dari mulutnya seolah menarikku kembali ke belasan tahun yang lalu.

Dia adalah Mateo Reyes. Anak laki-laki jangkung yang dulu sering menjagaku di panti asuhan sebelum ia diangkat anak oleh keluarga perwira tinggi militer. Cinta masa kecilku yang hilang tanpa kabar sejak ia pindah ke ibu kota.

“Mateo…?” bisikku lirih sebelum gelombang kontraksi hebat kembali menyerang, membuatku menjerit menahan sakit.

Dokter dan suster segera mendorong pintu ruang bersalin. Mateo tak tinggal diam. Melihat keadaanku yang berjuang sendirian, ia langsung berlari menyusul, menggenggam erat tangan kiriku bersama Ibu Sari yang memegang tangan kananku.

“Aku di sini, Luna. Kamu tidak sendiri lagi,” tegas Mateo dengan tatapan penuh janji.

Dua jam bertaruh nyawa di dalam ruangan itu berakhir dengan suara tangisan bayi laki-laki yang melengking nyaring. Anakku lahir dengan selamat, sehat, dan tampan. Tangisku pecah memeluk buah hatiku, sementara Mateo berdiri di sudut ruangan dengan mata berkaca-kaca, berjanji dalam hati untuk melindungi kami selamanya.

LIMA TAHUN KEMUDIAN

Dunia Arman hancur berkeping-keping.

Ternyata, Bianca bukanlah janda kaya raya. Wanita itu adalah penipu ulung yang terlilit utang judi ratusan miliar. Rumah mewah Arman disita, tabungannya dikuras habis, dan Doña Teresa kini harus hidup melarat di rumah kontrakan sempit. Untuk menyambung hidup, Arman kini bekerja sebagai sales properti tingkat bawah yang harus mengemis klien setiap hari.

Hari itu, Arman dan Doña Teresa diundang untuk menghadiri acara peluncuran megaproyek resort paling mewah di ibu kota. Mereka berharap bisa membagikan kartu nama dan mencari kasihan dari para investor papan atas.

Saat acara puncak dimulai, pembawa acara mengumumkan kedatangan pemilik utama dari konglomerasi properti terbesar di negara ini.

“Mari kita sambut, Ibu CEO Luna Marquez, didampingi oleh sang suami, Jenderal Mateo Reyes!”

Arman dan Doña Teresa membeku.

Dari panggung utama, sosok wanita yang lima tahun lalu mereka usir dengan tas lusuh kini berdiri anggun dengan gaun malam mahakarya desainer dunia. Kalung berlian melingkari lehernya, dipadu aura kecantikan dan kekuasaan yang luar biasa. Di sampingnya berdiri Mateo Reyes dengan seragam dinas militer berhias bintang di pundak, merangkul mesra pinggang Luna. Seorang anak laki-laki tampan berusia lima tahun berlari kecil menghampiri mereka sambil memanggil, “Mama! Papa!”

Aucune description de photo disponible.

Ternyata, selama lima tahun ini, dengan bantuan dana peninggalan panti asuhan yang dikelola bersama Mateo dan kecerdasannya sendiri, Luna mendirikan bisnis properti raksasa yang berhasil menguasai pasar nasional.

Lutut Arman mendadak lemas.

“L-Luna…?” bisik Doña Teresa dengan bibir gemetar, wajahnya pucat pasi memikirkan betapa hancurnya hidup mereka akibat menyia-nyiakan wanita sekelas Luna.

Ketika Luna berjalan melewati kerumunan tamu VIP, matanya sempat berselisih dengan Arman yang berdiri gemetar di barisan belakang. Arman yang kalap dan penuh rasa penyesalan mendadak jatuh berlutut di lantai dingin, meneteskan air mata di depan ratusan pasang mata.

“Luna… maafkan aku! Aku salah… tolong berikan aku kesempatan kedua!” ratap Arman memohon.

Luna menghentikan langkahnya. Ia menatap mantan suaminya dari atas ke bawah tanpa sedikit pun dendam atau rasa kasihan—hanya ada tatapan dingin seorang pemenang.

“Dulu aku menumpang di rumahmu karena menghargai pernikahan kita, Arman,” ucap Luna dengan suara tenang namun menggema di seluruh ruangan. “Sekarang, kamu bahkan tidak punya cukup uang untuk sekadar berdiri di atas tanah milik perusahaan saya.”

Mateo merangkul pundak Luna dengan protektif, menatap Arman dengan dingin sebelum berbisik lembut pada istrinya, “Ayo sayang, tamu-tamu penting sudah menunggu kita.”

Luna tersenyum manis menatap Mateo, membalikkan badan, dan melangkah pergi menyongsong masa depannya yang berkilau—meninggalkan Arman dan ibunya yang terus berlutut meratapi kebodohan terbesar dalam hidup mereka.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.