Posted in

LIMA TAHUN AKU MEMPERBUDAK DIRI DI NEGERI ORANG DEMI MEMBERIKAN KEHIDUPAN YANG LAYAK BAGI ISTRI DAN IBUKU. AKU PULANG TANPA MEMBERITAHU MEREKA UNTUK MEMBERIKAN KEJUTAN, NAMUN SAAT AKU MEMBUKA PINTU, AKU MELIHAT IBUKU YANG SUDAH TUA DAN SAKIT-SAKITAN SEDANG BERLUTUT MENYIKAT LANTAI, SEMENTARA ISTRIKU DAN IBUNYA SEDANG MINUM KOPI DI SOFA SEPERTI RATU. APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH ITU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN KEANGKUHAN MEREKA.

LIMA TAHUN AKU MEMPERBUDAK DIRI DI NEGERI ORANG DEMI MEMBERIKAN KEHIDUPAN YANG LAYAK BAGI ISTRI DAN IBUKU. AKU PULANG TANPA MEMBERITAHU MEREKA UNTUK MEMBERIKAN KEJUTAN, NAMUN SAAT AKU MEMBUKA PINTU, AKU MELIHAT IBUKU YANG SUDAH TUA DAN SAKIT-SAKITAN SEDANG BERLUTUT MENYIKAT LANTAI, SEMENTARA ISTRIKU DAN IBUNYA SEDANG MINUM KOPI DI SOFA SEPERTI RATU. APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH ITU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN KEANGKUHAN MEREKA.

Impian di Seberang Lautan

Nama saya Marco, usia tiga puluh lima tahun. Selama lima tahun saya bekerja sebagai Chief Engineer di Dubai. Saya mengambil pekerjaan yang sangat berat dan melelahkan ini karena saya ingin memberikan kehidupan yang nyaman bagi dua wanita terpenting dalam hidup saya: istri saya, Cindy, dan ibu saya yang sudah janda, Ibu Lita.

Sebelum sayaBagian 1 sudah selesai. Beri komentar “YA” di bawah untuk membaca Bagian 2! berangkat, saya membelikan mereka sebuah rumah besar dan indah di sebuah kompleks perumahan. Cindy berjanji kepada saya bahwa dia akan merawat ibu saya yang menderita rematik dan sering merasa lemas.

“Jangan khawatir, Sayang. Aku akan merawatnya seperti ibuku sendiri. Kamu fokus saja bekerja di sana,” janji manis Cindy sambil menangis di bandara.

Karena kepercayaan saya, hampir seluruh gaji saya—yang mencapai tiga ratus ribu peso (sekitar 85 juta rupiah) setiap bulannya—saya kirimkan ke rekening bank Cindy. Saya rela bertahan hidup dengan makan makanan kaleng dan tidur di kamar yang panas di Dubai, demi memberikan mereka kehidupan layaknya ratu.

Kejutan yang Berujung Luka

Setelah lima tahun kontrak tanpa henti, saya mendapat kesempatan untuk pulang lebih awal karena sebuah proyek besar telah selesai. Saya tidak memberitahu Cindy. Saya ingin memberikan kejutan. Saya membeli kalung emas mahal untuk Cindy, serta obat-obatan baru dan kursi pijat empuk untuk Ibu Lita.

Saat berada di dalam taksi menuju rumah, saya tidak bisa berhenti tersenyum. Dalam pikiran saya, saya membayangkan akan disambut dengan pelukan hangat dari istri saya dan senyum bahagia dari ibu saya yang sedang beristirahat di kamarnya.

Namun, saat saya membuka pintu depan rumah mewah kami dengan kunci sendiri, pemandangan yang menyambut saya menghancurkan hati dan mengguncang seluruh jiwa saya.

Para Ratu dan Sang Budak

Tidak ada yang menyadari kedatangan saya karena ada musik keras yang berdentum dari TV besar di ruang tamu.

Di atas sofa mahal yang saya beli, duduklah Cindy dan ibunya, Ibu Susan. Mereka mengenakan jubah sutra mahal, sedang melakukan manicure oleh dua orang perias panggilan, dan menyeruput kopi mahal dari cangkir porselen.

Namun, yang membuat dunia saya seolah berhenti berputar adalah sosok yang berada di lantai..

Sosok yang bergetar di atas lantai dingin itu adalah ibu kandungku.

Beliau yang berusia hampir tujuh puluh tahun, dengan lutut membengkak akibat rematik kronis, sedang berlutut memegang sikat dan ember sabun. Punggungnya yang makin membongkok tampak gemetar menahan sakit saat menggosok noda di bawah meja kaca.

“Gosok yang bersih, Bu!” bentak Ibu Susan sambil menjejakkan kakinya yang bersandal mahal tepat di dekat tangan ibuku. “Kalau lantai ini masih kusam, Ibu tidak usah makan siang hari ini!”

Cindy hanya terkekeh pelan sambil mengagumi cat kukunya yang baru. “Iya nih, lagian Ibu ini kerjaan dari pagi cuma menyikat lantai saja lambat sekali. Mending cepat diselesaikan daripada cuma bikin sempit ruang tamu!”

Ibuku hanya menunduk dalam, mengusap peluh di dahinya dengan lengan bajunya yang kusam dan robek di bagian bahu. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan—hanya ada penderitaan mendalam di mata tuanya.

Darahku mendidih hebat. Rasa lelah terbang dari Dubai selama belasan jam berganti menjadi amarah luar biasa yang membakar seluruh dadaku. Kunci rumah di genggamanku sampai berderit karena tumpuan emosi.

PRANG!!

Aku menendang koper besarku hingga membentur dinding dengan suara memekakkan telinga.

Cindy dan ibunya tersentak kaget. Cangkir porselen di tangan Ibu Susan terlepas dan pecah berkeping-keping di lantai.

“S-Sayang…?” wajah Cindy mendadak pucat pasi bagai mayat saat menatapku berdiri di depan pintu dengan mata memerah.

“Marco?!” pekik Ibu Susan gagap, buru-buru menyembunyikan kakinya.

Ibuku perlahan mendongak. Begitu matanya menatapku, air mata yang ditahannya sekian lama akhirnya pecah. “M-Marco… anakku… kamu sudah pulang?” bisiknya dengan suara gemetar dan serak.

Aku tidak memedulikan Cindy maupun ibunya. Aku langsung berlari menghampiri ibuku, berlutut di lantai basah itu, dan memeluk tubuhnya yang kini terasa begitu kurus dan ringkih. Air mataku menetes membasahi bahunya.

“Maafkan Marco, Bu… Maafkan Marco…” bisikku menahan tangis yang pecah.

“Marco, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!” Cindy melompat berdiri dari sofa, mendekatiku dengan wajah panik. “Ibumu yang mau menyikat lantai sendiri! Kami sudah melarangnya, tapi dia yang keras kepala!”

“DIAM!” teriakku hingga gema suaraku menggetarkan seluruh ruangan. Dua tukang manicure yang ketakutan langsung mengemas alat-alat mereka dan berlari keluar rumah.

Aku berdiri perlahan, membimbing ibuku untuk duduk di sofa terempuk—sofa yang sebelumnya diduduki oleh Cindy.

“85 juta rupiah setiap bulan…” ucapku dingin, menatap Cindy dan Ibu Susan satu per satu. “Selama lima tahun aku mengirimkan seluruh keringatku ke rekeningmu. Mana uang itu?!”

Cindy menelan ludah, tidak bisa menjawab.

“Kalian menjadikan ibuku seperti budak di rumah yang Kubeli dengan uangku sendiri?!” geramku. “Kalian berpesta di atas penderitaan wanita yang melahirkanku?!”

“Marco, kamu tidak bisa membentak anakku seperti itu!” sergah Ibu Susan, mencoba membela diri meski tubuhnya gemetar. “Cindy ini istri sahmu! Wajar kalau dia menikmati hasil kerjamu! Lagi pula ibumu cuma menumpang di sini!”

“Menumpang?!” Aku tertawa keras. Tawa dingin yang penuh dendam.

Aku merogoh tas selempangku, mengeluarkan ponsel, lalu langsung menekan nomor pengacaraku dan kepala cabang bank tempatku menabung.

“Selamat siang, Pak David. Tolong siapkan dokumen perceraian atas nama saya dan Cindy sekarang juga. Dan pastikan seluruh aset atas nama saya dibekukan,” perintahku tegas lewat telepon. “Satu lagi, laporkan Cindy dan ibunya atas tuduhan penggelapan dana dan penganiayaan orang tua.”

“Marco! Kamu gila?!” jerit Cindy histeris. Ia berlutut di depanku, mencoba memegang kakiku sambil menangis. “Jangan lakukan ini, Marco! Aku minta maaf! Aku janji akan berubah! Tolong kasihanilah aku!”

“Kasihan?” Aku menepis tangannya tanpa ragu. “Apakah kamu kasihan pada ibuku saat melihat lututnya yang sakit menyikat lantai untukmu? Apakah kamu kasihan saat membiarkannya kelaparan?”

Aku tidak berhenti di situ. Selama lima tahun, atas saran pengacaraku, seluruh bukti transfer, kepemilikan rumah, dan aset mobil mewah yang dibeli atas namaku tersimpan rapi dalam dokumen hukum yang tak bisa disanggah.

“Dalam waktu dua jam, seluruh rekening yang kupercayakan padamu akan diblokir,” ucapku dingin di depan wajah Cindy yang memucat. “Dan rumah ini atas namaku sepenuhnya. Kalian berdua punya waktu lima belas menit untuk mengangkat kaki dari sini. Bawa baju yang kalian pakai saja, karena seluruh barang mewah di rumah ini dibeli pakai uangku!”

“Marco! Kamu tidak bisa mengusir kami begitu saja! Ini rumah anakku juga!” amuk Ibu Susan hysteris.

“Kalau tidak mau keluar,” kataku sambil menatap mereka tanpa ampun, “polisi yang akan menyeret kalian keluar dari sini atas kasus penganiayaan.”

Mendengar kata ‘polisi’, Ibu Susan langsung bungkam dan panik. Dalam waktu sepuluh menit, dengan Isak tangis dan penyesalan yang tak lagi berharga, Cindy dan ibunya diusir keluar dari kompleks perumahan mewah itu tanpa membawa apa pun—menjadi tontonan hina bagi para tetangga. Uang ratusan juta yang biasa mereka nikmati lenyap dalam sekejap, digantikan ancaman penjara dan kemelaratan.

Aku menutup pintu rapat-rapat, mengunci rapat masa lalu yang kelam itu.

Aku kembali berlutut di hadapan ibuku, mengambil jemarinya yang kasar, lalu mengusapnya lembut.

“Mulai hari ini, Bu… tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti Ibu,” ucapku tulus. “Semua kerja keras Marco selama ini, hanya untuk membahagiakan Ibu.”

Ibuku tersenyum lembut sambil mengusap kepalaku dengan tangan yang gemetar. Di rumah itu, tidak ada lagi ratu palsu—hanya ada seorang anak yang akhirnya bisa melayani ibu kandungnya dengan layak dan penuh kehormatan.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.