SAAT AKU MENANDATANGANI SURAT CERAI TANPA MENANGIS, SUAMIKU MENGIRA AKU HANYA BERPURA-PURA—HINGGA SEBUAH PESAN DATANG DAN MENGHANCURKAN WANITA YANG TELAH MEREBUTNYA DARIKU
Kami sudah menikah selama lima tahun ketika Adrian Monteverde kembali meletakkan surat pembatalan pernikahan di hadapanku.
“Sienna hamil,” ucapnya dingin. “Dia butuh nama. Dia butuh status hukum dalam hidupku.”
Dulu, setiap kali dia menyebut kata perpisahan, aku merasa seperti kertas yang terbakar—mengamuk, menangis, memohon.
Namun hari ini, aku hanya mengambil pulpen.
Dan dengan tenang, aku membubuhkan tanda tanganku.
Tangannya yang sedang memegang rokok terhenti. Selama beberapa detik, dia menatap tanda tanganku, seolah dia tidak mengenali wanita yang ada di depannya.
“Tumben sekali kamu menurut, Mara,” katanya sambil menyeringai. “Tanpa drama? Tanpa tangis? Atau ini gaya barumu agar aku merasa kasihan?”
Aku melepas cincin dari jariku dan meletakkannya di atas meja.
“Aku sudah lelah, Adrian.”
Dia mengerutkan kening.
“Lelah?”
“Ya. Lelah memperjuangkan seseorang yang sudah lama membuangku.”
Ekspresi wajahnya berubah. Tatapan percaya diri itu berganti menjadi kekesalan dan keterkejutan.
“Tidak perlu terburu-buru,” katanya. “Asalkan kau tidak mengganggu Sienna lagi. Kita masih bisa membicarakan ini.”
Aku hampir tertawa.
Dialah yang meminta cerai.
Dialah yang membawa wanita lain ke tempat tidur pernikahan kami.
Dialah yang berkali-kali memilih wanita itu.
Tapi saat aku tidak lagi berlutut, justru dia yang merasa tidak tenang.
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,” jawabku.
Lima tahun aku menjadi istri Adrian. Sepuluh tahun aku mencintainya—dari saat dia hanya seorang karyawan biasa hingga menjadi pengusaha ternama di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD).

Akulah yang menjual perhiasan warisan ibuku untuk menambah modal usahanya.
Akulah yang bangun jam lima setiap pagi untuk memasak bubur karena perutnya sensitif.
Akulah yang membatalkan beasiswaku ke Singapura karena dia bilang, “Jika kamu pergi, siapa yang akan percaya padaku saat aku baru memulai ini?”
Aku percaya padanya.
Sampai datanglah Sienna Valez—seorang beauty influencer terkenal dengan jutaan pengikut, selalu tersenyum di depan kamera, selalu tampak tidak berdosa.
Enam bulan sebelum hari ini, aku pulang lebih awal ke apartemen kami di kawasan Jakarta Selatan.
Aku mendengar tawa dari kamar utama.
Tawa seorang wanita.
Saat aku membuka pintu, aku melihat mereka.
Adrian.
Dan Sienna.
Sienna memakai baju tidur sutra milikku.
Di atas tempat tidur pernikahan kami.
Dia tidak takut saat melihatku. Dia tidak malu. Dia malah tersenyum, tipis tapi tajam, seolah dia sudah lama menunggu adegan ini.
Aku merasa seperti kehilangan akal sehat.
Aku menariknya turun dari tempat tidur.
“Ini rumahku!” teriakku. “Ini suamiku! Ini bajuku! Apa hakmu masuk ke sini?”
“Adrian!” dia langsung menangis. “Aku takut!”
Sebuah dorongan kuat menjadi jawaban bagiku.
Aku jatuh tersungkur di lantai.
Adrian yang mendorongku.
Sambil aku gemetar menahan sakit, dia menyelimuti Sienna dan membelai rambutnya.
“Jangan takut,” bisiknya. “Aku di sini.”
Saat dia menatapku, kelembutan di matanya hilang.
“Kau terlihat menjijikkan, Mara. Seperti orang tidak berpendidikan.”
Saat itulah dia pertama kali berkata, “Aku ingin cerai.”
Aku tidak bisa bernapas.
Sepuluh tahun.
Ternyata hanya butuh satu kalimat untuk menghancurkannya.
Aku berlutut di lantai, memegang celananya, dan memohon.
“Adrian, tolong. Jangan. Aku bisa berubah. Aku tidak akan marah lagi. Aku tidak akan bicara lagi. Asalkan jangan tinggalkan aku.”
Dia menatapku dari atas.
“Kau terlalu kuat, Mara. Sienna… dia membutuhkanku.”
Lucu sekali.
Karena aku terlalu pengertian, akulah yang ditinggalkan.
Keesokan harinya, karena saking marahnya, aku mengunggah foto buku nikah kami ke media sosial. Aku memberi tahu dunia bahwa Sienna telah masuk ke dalam pernikahan yang bukan miliknya.
Aku pikir, jika dunia tahu, dia akan malu.
Tapi aku tidak mengenal pria yang kunikahi.
Adrian menuntutku atas pencemaran nama baik menggunakan pengacara perusahaannya.
Setelah itu, dia datang ke rumah sakit tempat ibuku dirawat di Jakarta Pusat.
Dia menarikku keluar dari bangsal dan menyudutkanku di lorong.
“Hapus semua postinganmu,” bisiknya. “Minta maaf pada Sienna.”
“Tidak,” ucapku gemetar.
Dia tersenyum.
“Jika tidak, mungkin tiba-tiba aku tidak bisa lagi membiayai cuci darah ibumu.”
Rasanya seperti ada tangan beku yang mencekik tenggorokanku.
“Itu ibuku, Adrian.”
“Tepat sekali,” katanya. “Jadi pikirkan siapa yang sebenarnya akan sakit jika kau tetap keras kepala.”
Malam itu, di tangga darurat rumah sakit, aku menulis kebohongan terpanjang dalam hidupku.
Aku meminta maaf pada Sienna.
Aku bilang akulah wanita yang putus asa.
Aku bilang aku hanya iri pada “cinta sejati” mereka.
Dan ketika postingan itu viral, seluruh internet menghujatku.
Mereka memanggilku pembohong.
Wanita iri.
Benalu.
Aku tidak menangis keras. Ibuku ada di balik pintu itu.
Keesokan harinya, ibu memegang tanganku.
“Nak,” ucapnya lemah, “kamu sudah lelah.”
Aku tersenyum meski dadaku hancur.
“Tidak, Bu. Aku masih kuat.”
Tapi aku berbohong.
Karena pada hari aku menandatangani surat cerai tanpa air mata, itu bukan karena aku berani.
Itu karena tidak ada lagi yang tersisa dariku untuk dihancurkan.
Adrian baru saja akan pergi saat ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari nomor privat yang tidak kukenal.
Aku membukanya.
Sebuah video.
Dan pada frame pertama, aku melihat Sienna—tidak hamil, tidak menangis, tidak polos—melainkan tertawa sambil berbicara dengan seorang pria di parkiran bawah tanah sebuah hotel.
Di akhir pesan, ada satu kalimat yang membuat seluruh tubuhku mati rasa:
“Anak yang dia gunakan untuk menghancurkanmu itu bukan anak Adrian.”…
Suasana di ruang tamu yang mewah itu mendadak terasa dingin. Adrian sudah berdiri di dekat pintu, menggenggam map berisi surat cerai yang baru saja kutandatangani dengan tangan gemetar yang ia sembunyikan di balik saku jasnya.
Ia melihatku menatap layar ponsel dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Apa lagi sekarang, Mara?” tanyanya dengan nada meremehkan. “Drama apa lagi yang ingin kau tunjukkan?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya memutar video itu dengan volume penuh.
Suara Sienna terdengar sangat jernih. Di video itu, ia sedang bersandar di mobil mewah milik pria lain—seorang pria yang kukenali sebagai rival bisnis Adrian sendiri.
“Adrian itu bodoh,” suara Sienna di video itu terdengar renyah, diikuti tawa kecil. “Dia percaya aku hamil anaknya. Padahal, tes kehamilan palsu itu cuma tiketku untuk masuk ke hartanya. Begitu aku resmi menjadi istrinya, aku akan memastikan semua aset Monteverde pindah ke tanganmu.”
Pria di video itu mencium kening Sienna. “Dan bayinya?”
Sienna tertawa lebih keras. “Bayi? Tidak ada bayi. Aku hanya butuh alasan agar dia segera menyingkirkan ‘wanita suci’ itu.”
Kehancuran Sang Penguasa
Wajah Adrian berubah dari sombong menjadi pucat pasi, lalu berubah merah padam. Ia menyambar ponselku dari meja, menonton video itu berulang-ulang dengan mata yang seolah ingin keluar.
“Ini… ini tidak mungkin,” bisiknya, suaranya pecah. “Sienna tidak mungkin…”
Tepat saat itu, pintu apartemen terbuka. Sienna masuk dengan gaya anggunnya, menenteng tas belanja bermerek. “Sayang, aku baru saja membeli baju bayi yang sangat—”
Kalimatnya terhenti. Ia melihat ponselku di tangan Adrian. Ia melihat raut wajah Adrian yang seperti iblis yang sedang murka.
“Adrian… ada apa?” tanya Sienna, suaranya mulai gemetar.
Tanpa sepatah kata pun, Adrian melemparkan ponsel itu ke arah kaki Sienna. Video itu masih terputar di bagian di mana Sienna menyebut Adrian “pria bodoh yang mudah dimanipulasi.”
“Keluar,” ucap Adrian rendah. Suaranya mengandung ancaman yang mengerikan.
“Adrian, itu fitnah! Itu AI! Itu rekayasa Mara!” teriak Sienna sambil berlutut, mencoba memeluk kaki Adrian—persis seperti yang kulakukan beberapa bulan lalu.
Saatnya Memilih Diriku Sendiri
Aku berdiri dengan tenang. Aku merapikan pakaianku, mengambil tas tanganku, dan berjalan menuju pintu.
“Mara! Tunggu!” Adrian menahan lenganku. Matanya penuh dengan penyesalan, ketakutan, dan sisa-sisa harga diri yang hancur. “Maafkan aku. Aku salah. Surat itu… surat itu bisa kita batalkan sekarang juga. Aku akan menghancurkan wanita ini. Aku akan membayar semua pengobatan ibumu. Mari kita mulai dari awal.”
Aku menepis tangannya dengan perlahan. Bukan dengan amarah, tapi dengan rasa hambar yang luar biasa.
“Kau ingat saat kau bilang aku menjijikkan karena aku memohon padamu?” tanyaku sambil menatap matanya dalam-dalam. “Hari ini, kaulah yang terlihat menjijikkan, Adrian.”
“Aku akan memberimu segalanya, Mara! Apartemen ini, saham perusahaan—”
“Aku sudah memiliki apa yang kubutuhkan,” aku memotong kalimatnya. “Pesan video itu dikirim oleh asisten pribadimu yang kau pecat bulan lalu tanpa pesangon. Ternyata, bukan hanya aku yang kau sakiti, tapi semua orang di sekitarmu.”
Aku melangkah melewati Sienna yang masih menangis tersedu-sedu di lantai. Dia menatapku, memohon perlindungan, tapi aku hanya menatapnya dengan rasa kasihan yang dingin.
Saat aku berjalan keluar dari gedung apartemen itu, aku melihat matahari terbenam di antara gedung-gedung tinggi Jakarta. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, napas kuterasa ringan.
Aku tidak lagi memiliki Adrian. Aku tidak lagi memiliki gaya hidup mewah.
Tapi saat aku masuk ke taksi untuk menuju rumah sakit tempat ibuku menunggu, aku menyadari satu hal:
Adrian telah kehilangan wanita yang mencintainya dengan tulus, sementara aku hanya kehilangan seorang pengkhianat. Dan dalam perpisahan ini, akulah pemenang yang sesungguhnya.
Aku mengeluarkan kartu beasiswa Singapura yang sempat kupendam selama setahun. Aku mengambil ponsel baru, dan mengetik satu kalimat untuk admin kampus:
“Saya siap berangkat semester ini.”