DI HADAPAN SELURUH KELUARGA, AKU DIPANGGIL PEMBANTU—TAPI SEBUAH TELEPON DARI KAMPUS TERBAIK MENGUNGKAP KENYATAAN: AKULAH LULUSAN TERBAIK YANG MEREKA SEMBUNYIKAN, DAN DI SANA AKU MEMILIH UNTUK MENINGGALKAN SEMUANYA DEMI MEMILIH DIRIKU SENDIRI
Adik laki-lakiku memanggilku “pembantu” di depan kepala sekolahnya.
Seluruh keluarga tertawa terbahak-bahak.
Dan saat Mama menyuruhku masuk ke dapur untuk mencuci piring, ponselku terus-menerus bergetar karena panggilan dari kantor administrasi Universitas Indonesia.
Mereka tidak tahu…
Akulah alasan sebenarnya mengapa sebuah berita besar akan meledak malam itu.
Saat hasil ujian masuk perguruan tinggi keluar, rumah kami hampir gila karena kegembiraan.
Nico, bungsu kesayangan keluarga, duduk di depan laptop tua Papa. Di sekelilingnya ada Mama, Papa, bahkan dua tetangga penggosip yang ikut menonton seolah mereka juga ikut ujian.
Saat skornya muncul: 635.
“Ya Tuhan! Anakku!” teriak Mama, sambil memeluk Nico seolah dia baru saja memenangkan lotre nasional.
Papa, yang jarang tersenyum di rumah, bahkan sampai meneteskan air mata. Dia menepuk bahu Nico dengan keras.
“Itulah anakku yang sebenarnya. Dia akan jadi orang sukses.”
Aku hanya berdiri diam di sudut ruang tamu.
Namaku Mara.
Anak sulung.
Anak yang selalu dibilang “hanya menghabiskan nasi.”
Anak yang dipaksa berhenti sekolah selama hampir setahun karena Mama tidak mau membayar ongkos bus dan uang sakuku di SMA unggulan.
Katanya waktu itu, “Pura-pura saja kamu kena gangguan kecemasan. Cuti dulu. Kalau tidak mau, kerja saja di pabrik.”
Jadi, aku diam.
Aku menabung diam-diam.
Aku belajar sendirian di malam hari saat mereka semua sudah tidur.
Dan pada hari itu, aku juga ikut ujian yang sama.
“Sudah cek skormu belum?” tanya Nico sambil menyeringai sinis.

Mama menatapku seolah aku adalah pengganggu di tengah perayaan mereka.
“Untuk apa? Masuk kelas saja jarang. Mungkin dia cuma mengisi lembar jawaban dengan coretan kosong.”
“Sudahlah,” kata Papa. “Biar dia cepat selesai.”
Aku duduk di depan laptop. Jariku gemetar saat memasukkan nomor kartu ujian.
Klik.
Layar memuat.
Lalu…
Tidak ada skor yang muncul.
Hanya ada tulisan:
RESULT TEMPORARILY WITHHELD
(Hasil Ditunda Sementara)
Belum sempat aku bicara, Mama sudah berteriak.
“Kosong? Artinya kamu tidak lulus!”
“Ma, bukan begitu. Kalau ditunda, biasanya itu berarti—”
Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku.
Tamparan Mama mendarat di pipiku.
Keras.
Panas.
Memekakkan telinga.
“Jangan banyak alasan!” teriaknya. “Kamu mempermalukanku lagi!”
Nico tertawa.
“Gila, Kak. Nol? Kamu memang pemecah rekor.”
Aku ingin menjelaskan.
Aku ingin bilang bahwa beberapa peserta dengan skor tertinggi hasilnya tidak langsung keluar karena harus dihubungi terlebih dahulu oleh kantor pusat.
Tapi tidak ada yang mendengarkan.
Keesokan harinya, Mama mengumumkan bahwa kami akan mengadakan pesta besar di sebuah restoran di Sentul.
“Untuk Nico,” katanya. “Calon insinyur keluarga kita.”
Ada dua belas meja.
Bahkan ada spanduk besar.
Selamat, Nico! Kebanggaan Keluarga!
Aku?
Mama memberiku celemek kusam.
“Kamu yang melayani tamu. Sewa pelayan itu mahal. Sayang uangnya.”
“Ma, bagaimana kalau ada yang mengenalku?”
Tatapannya mendingin.
“Bilang saja kamu staf restoran. Jangan pernah bilang kamu anakku. Memalukan.”
Di sanalah aku menyadari bahwa aku tidak hanya gagal sebagai anak di mata mereka.
Mereka sudah menghapusku dari daftar keluarga.
Pada malam perayaan itu, Nico mengenakan setelan jas biru tua yang dibeli Mama menggunakan uang tabunganku—hasil dari kerja sampinganku mengajar les anak-anak SD.
Sedangkan aku, bersimbah keringat di balik pintu dapur, mengangkat nampan berisi sup, nasi, lechon, bakmi, dan gelas-gelas yang terus-menerus kosong.
Wali kelas Nico datang.
Kepala sekolah datang.
Kerabat-kerabat yang dulu tidak pernah menyapa kami pun datang.
Semuanya tersenyum pada Nico.
“Pintar sekali!”
“Mirip ayahnya!”
“Dia akan jadi miliarder suatu hari nanti!”
Saat aku membawa nampan es teh melewati belakang kursinya, Nico tiba-tiba berdiri.
“Aduh, Bu,” katanya pada wali kelasnya sambil menunjukku. “Ini asisten rumah tangga kami. Dia tidak sempat tamat sekolah.”
Tanganku terhenti di udara.
Beberapa tamu tertawa.
Mama mendekatiku dan berbisik tajam:
“Masuk ke dapur. Jangan dekat-dekat tamu.”
Lalu kepala sekolah Nico, pria dengan kacamata tebal, menatapku seolah aku adalah contoh nyata dari kegagalan.
“Nak,” katanya, “itulah mengapa pendidikan itu penting. Kalau kamu tidak sekolah, selamanya kamu akan berada di pekerjaan rendah seperti ini. Lihat adikmu. Belajarlah bermimpi.”
Aku tersenyum.
Bukan karena aku senang.
Tapi karena di dalam saku celemekku, ponselku bergetar lagi.
Panggilan tidak terjawab yang ke-11.
ID Penelepon:
ADMISI UNIVERSITAS INDONESIA
Dan sebelum aku sempat meletakkan nampan, seorang wanita berpakaian formal masuk ke dalam restoran, memegang sebuah map dan mencari namaku.
Suaranya lantang saat dia bertanya:
“Permisi… siapa di sini yang bernama Mara Villanueva? Lulusan terbaik tingkat provinsi yang sedang dicari oleh Universitas Indonesia?”.
Suasana di dalam restoran itu mendadak hening, seolah-olah seseorang baru saja menekan tombol mute pada kerumunan yang riuh tersebut.
Mama dan Papa saling pandang dengan ekspresi bingung. Nico, yang tadi sedang memegang gelas tinggi dengan angkuh, perlahan menurunkannya.
“Mara Villanueva?” ulang wanita itu, matanya menyapu ruangan hingga tertuju padaku—yang masih berdiri kaku dengan celemek kusam dan nampan berisi gelas kotor. “Pihak universitas sudah mencoba menghubungi Anda seharian. Kami khawatir terjadi sesuatu karena skor Anda tidak hanya tertinggi di sekolah, tapi tertinggi di tingkat nasional tahun ini.”
Kepala sekolah Nico berdiri, kacamatanya hampir merosot. “Nasional? Maaf, Bu, Anda pasti salah ruangan. Ini pesta untuk Nico. Kakaknya ini… dia hanya membantu di sini.”
Wanita itu, yang ternyata adalah Dekan Admisi, menatap kepala sekolah itu dengan dingin. Dia membuka mapnya dan membacakan data dengan lantang.
“Mara Villanueva. Nomor peserta 001-92-X. Skor rata-rata: 998 dari 1000. Dia bukan hanya lulus, tapi dia adalah penerima beasiswa penuh Presidency Award yang mencakup biaya hidup dan studi ke luar negeri di tahun ketiga.”
Keheningan yang Menyakitkan
Mama melangkah maju, wajahnya yang tadi merah karena marah kini memucat. “Mara? Kamu… kamu benar-benar ikut ujian itu?”
Papa mencoba mendekat, suaranya tiba-tiba melembut, jenis kelembutan palsu yang paling aku benci. “Mara, Nak… kenapa kamu tidak bilang pada Papa? Kita bisa merayakan ini bersama-sama. Lepaskan celemek itu, ayo duduk di kursi depan.”
Nico tampak gemetar. Spanduk besar di belakangnya yang bertuliskan “Kebanggaan Keluarga” kini terasa seperti sebuah lelucon yang sangat buruk. Skor 635 miliknya, yang tadi diagung-agungkan, kini tenggelam di bawah bayang-bayang angka 998-ku.
“Mara,” panggil Mama dengan suara gemetar, “Ayo, Nak. Sapa tamu-tamu ini. Beritahu mereka kalau kamu anak sulungku. Maafkan Mama soal tadi, Mama hanya… Mama hanya terbawa suasana.”
Pilihan yang Menentukan
Aku menatap mereka semua. Aku melihat wajah-wajah kerabat yang tadi menertawakanku. Aku melihat kepala sekolah yang meremehkanku. Dan aku melihat kedua orang tuaku yang baru menganggapku ada setelah aku memiliki “nilai” di mata dunia.
Aku meletakkan nampan es teh itu di atas meja dengan perlahan. Suara denting gelasnya terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
“Mara?” Papa memanggil lagi, tangannya hendak meraih bahuku.
Aku melangkah mundur.
“Nama saya Mara,” kataku, suaranya tenang namun bergema ke seluruh penjuru restoran. “Tapi seperti yang kalian katakan tadi… saya hanya seorang pembantu di sini. Dan hari ini, saya memutuskan untuk berhenti.”
Aku menatap wanita dari universitas itu dan tersenyum tulus untuk pertama kalinya. “Terima kasih sudah datang menjemput saya, Bu. Saya siap berangkat sekarang.”
“Mara! Kamu mau ke mana?” teriak Mama panik. “Ini pestamu juga! Kita harus bicara!”
Aku melepas celemek kusam itu dan membiarkannya jatuh ke lantai, tepat di bawah kaki Nico.
“Pesta ini untuk Nico, Ma. Tetaplah di sini bersamanya,” kataku sambil berjalan menuju pintu keluar tanpa sekalipun menoleh ke belakang. “Uang tabungan yang kalian pakai untuk jas Nico? Anggap saja itu biaya perpisahan dariku. Mulai malam ini, aku bukan lagi ‘pengabis nasi’ di rumah kalian. Aku adalah Mara Villanueva, dan aku memilih diriku sendiri.”
Aku melangkah keluar ke udara malam yang dingin, meninggalkan kebisingan penyesalan mereka di belakang. Di depan sana, lampu kota bersinar terang, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, jalan di hadapanku terasa begitu lapang dan bebas.