Posted in

MEREKA PIKIR AKU HANYA KARYAWAN BARU—SAMPAI PACAR CEO MENAMPARKU

MEREKA PIKIR AKU HANYA KARYAWAN BARU—SAMPAI PACAR CEO MENAMPARKU

Aku pikir ini hanya pertemuan biasa.

Aku masuk ke pantry sebuah perusahaan besar di Makati untuk menunggu jadwal pertemuanku sebagai perwakilan keluarga kami.

Tapi sebelum aku sempat meminum tehku, seorang wanita masuk, menilaiku dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan berkata:

“Kamu anak baru? Hari pertama kerja sudah malas-malasan?”

Namaku Sofia Reyes, putri dari pemilik Reyes Holdings.

Dan perusahaan yang kudatangi hari itu—Montevista Group—adalah salah satu calon mitra bisnis kami.

Tidak hanya itu.

CEO mereka, Adrian Montevista, adalah pria yang sudah lama ingin dikenalkan ayahku kepadaku.

Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya di jamuan makan malam bisnis, tapi aku tidak pernah mengungkapkan identitas asliku sepenuhnya. Aku ingin melihat siapa dia sebenarnya saat dia tidak perlu bersikap formal.

Pagi itu, aku datang lebih awal.

Resepsionis bilang aku bisa menunggu di pantry sementara ruang rapat disiapkan.

Aku duduk tenang mengenakan blazer gelap sederhana dan rok pensil.

Sampai Celine Alcantara, sekretaris pribadi Adrian, masuk.

“Siapa namamu?” tanyanya dingin.

Sebelum aku sempat menjawab, dia menyeringai.

“Tidak penting. Saat long weekend Hari Buruh nanti, departemen kami akan mengadakan team building. Perlu ada yang berjaga. Kamu yang akan masuk selama lima hari.”

Aku menatapnya heran.

“Maaf, sepertinya ada kesalahpahaman—”

“Tidak ada kesalahpahaman,” potongnya. “Kamu masih muda. Belajarlah menderita sedikit. Tugas ini tidak dibayar, tapi anggap saja pengalaman. Banyak orang yang menginginkan kesempatan ini.”

Suasana pantry seketika hening.

Beberapa karyawan di sudut mulai berbisik-bisik.

“Mati dia… berurusan dengan Ma’am Celine.”

“Katanya dia pacar Sir Adrian.”

“Bahkan manajer pun takut padanya.”

Pacar?

Aku sempat tertegun mendengarnya.

Pantas saja.

Dalam pertemuan makan malam kami sebelumnya, Adrian tidak pernah menyebutkan bahwa dia punya kekasih.

Dan sekarang, wanita itu berdiri di depanku, merendahkanku seolah aku karyawan sampah.

“Aku bukan karyawan di sini,” kataku tenang.

Celine tertawa.

“Alasan klasik. Malas piket makanya pura-pura bukan karyawan.”

Dia mendekat, hampir menempelkan jarinya ke wajahku.

“Dengar. Di perusahaan ini, aku yang dipatuhi. Kalau aku bilang kamu masuk, kamu harus masuk.”

“Kamu tidak berhak memerintahku,” jawabku.

Kilat amarah muncul di matanya.

“Kurang ajar sekali kamu.”

Dia memanggil seorang manajer paruh baya bernama Pak Roberto, kepala departemen admin.

Begitu datang, pria itu langsung membungkuk hormat pada Celine.

“Ma’am Celine, ada masalah apa?”

“Lihat bawahan baru kalian ini. Tidak mau piket. Malas bekerja. Dan sepertinya bajunya terlalu bagus untuk pekerjaannya.”

Pak Roberto menoleh padaku seolah-olah aku yang bersalah.

“Nona, minta maaf sekarang pada Ma’am Celine.”

“Aku bukan staf kalian,” ulangku.

“Siapa pun yang masuk ke sini adalah staf selama Ma’am Celine yang mengatakannya,” bentak Pak Roberto.

Aku tersenyum dingin.

Jadi sistem seperti ini yang ada di dalam Montevista Group.

Seorang sekretaris membuat hukumnya sendiri.

Dan semua orang tunduk karena dia punya hubungan khusus dengan CEO.

Celine meletakkan map tebal di lenganku.

“Satu jam. Rapikan semua file ini. Masukkan namaku di laporannya.”

Aku melihat isinya.

Ini pekerjaan tiga hari bahkan bagi orang yang ahli.

“Aku tidak akan melakukan ini.”

Hening mencekam.

Wajah Celine memerah padam.

“Apa katamu?”

“Kukatakan aku tidak akan melakukannya. Dan aku juga tidak akan masuk saat Hari Buruh untuk kepentinganmu.”

Dia tertawa, tapi bibirnya bergetar karena emosi.

“Memangnya kamu siapa? Kamu punya koneksi dengan Sir Adrian? Itu sebabnya kamu berlagak seperti ini?”

Aku mengambil ponselku.

“Lebih baik aku telepon saja Mr. Montevista.”

Belum sempat aku menekan nomor, Pak Roberto merampas ponselku.

“Menelepon CEO? Kamu?!”

Dia membanting ponsel itu ke lantai.

Layarnya retak berkeping-keping.

Napas kusempat tertahan.

Mata Celine membelalak, lalu menyipit penuh kebencian.

“Kamu punya nomor Adrian?”

Dia mendekat, setiap langkahnya penuh rasa cemburu.

“Pantas saja. Kamu bukan karyawan. Kamu salah satu wanita yang mencoba mendekati pacarku.”

“Celine, kamu salah—”

“Diam kamu!”

Sebelum aku sempat mengangkat tangan untuk membela diri—

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipiku.

Telingaku berdenging.

Semua orang terdiam membatu.

Perlahan, aku menyentuh pipiku yang mulai memanas.

Untuk pertama kalinya sepanjang pagi ini, kesabaranku benar-benar habis.

Celine mengangkat tangannya lagi untuk memukulku.

Tapi sebelum dia sempat menyentuhku, aku menangkap pergelangan tangannya dan mendorongnya menjauh.

Dia terhuyung, terpeleset sepatu hak tingginya, dan jatuh terduduk di lantai.

“AAAHHH!”

Bersamaan dengan teriakannya, pintu kaca di lorong terbuka.

Adrian Montevista masuk, diikuti oleh jajaran dewan direksi dan ayahku.

Dan kata pertama yang keluar dari mulut Ayah jatuh seperti es yang membekukan seluruh ruangan:

“Sofia… siapa yang berani menyakiti putriku?”

Suasana di pantry yang tadinya bising oleh makian Celine seketika berubah menjadi sesunyi kuburan.

Adrian Montevista membeku di ambang pintu. Matanya beralih dari Celine yang terduduk di lantai, ke arah ponsel yang hancur, lalu berakhir pada pipiku yang memerah dan membiru. Di sampingnya, ayahku, Tuan Reyes, melangkah maju dengan aura yang sangat mengintimidasi.

“Sofia? Apa yang terjadi di sini?” suara Ayah rendah, namun bergetar karena amarah yang tertahan.

Celine, yang belum menyadari siapa pria tua di samping bosnya, segera merangkak bangun dan berteriak histeris. “Adrian! Lihat! Wanita jalang ini menyerangku! Dia mencoba mencuri nomor ponselmu dan sekarang dia mendorongku!”

Pak Roberto ikut menimpali dengan suara gemetar, “Benar, Sir Adrian. Dia karyawan baru yang membangkang dan tidak sopan pada Ma’am Celine. Saya hanya mencoba menertibkannya.”

Adrian tidak menjawab mereka. Wajahnya pucat pasi. Ia menatap Ayahku, lalu menatapku dengan tatapan penuh kengerian. “Tuan Reyes… saya… saya bisa jelaskan.”

Kebenaran yang Menghantam

Aku maju selangkah, menepis tangan Pak Roberto yang masih mencoba memegang lenganku. Aku menatap Adrian dengan dingin.

“Adrian, jadi ini ‘pacarmu’?” tanyaku sambil menunjuk Celine. “Wanita yang memaksa orang bekerja tanpa bayaran di hari libur agar dia bisa bersantai? Dan ini manajermu? Pria yang membanting ponsel tamu karena dia pikir tamu itu hanya ‘karyawan rendah’?”

Celine tertegun. “Tamu? Apa maksudmu?”

Ayahku melangkah maju, berdiri tepat di depanku sebagai tameng. “Perkenalkan,” suara Ayah menggema kuat. “Ini adalah Sofia Reyes. Pewaris tunggal Reyes Holdings. Dan alasan kenapa perusahaanmu hari ini belum bangkrut adalah karena kami berencana menanamkan investasi besar di sini.”

Wajah Celine seketika berubah dari merah padam menjadi seputih kertas. Ia menatap Adrian, mencari pembelaan, namun Adrian justru menatapnya dengan pandangan jijik.

“Adrian, sayang… aku tidak tahu…” Celine mencoba menyentuh lengan Adrian, tapi Adrian mengibaskannya dengan kasar.

“Diam, Celine! Kau dipecat!” bentak Adrian. “Dan kau, Roberto, kemasi barang-barangmu sekarang juga! Kau menghancurkan negosiasi paling penting dalam sejarah perusahaan ini dengan kebodohanmu!”

Akhir dari Kekuasaan Palsu

Celine jatuh terduduk kembali, kali ini karena lemas. Air mata mulai mengalir, tapi tidak ada satu pun orang di pantry yang merasa kasihan. Karyawan-karyawan yang tadi berbisik kini menatapnya dengan puas.

Aku memungut ponselku yang hancur dari lantai. Adrian mendekatiku, membungkuk hampir sembilan puluh derajat. “Sofia, maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu dia bertingkah seperti diktator di belakang saya. Saya akan mengganti segalanya, tolong jangan batalkan kerja sama kita.”

Aku menatap Adrian, lalu beralih pada Ayah. “Ayah, aku pikir Montevista Group butuh pembersihan total sebelum kita menanam modal. Jika budaya perusahaannya membiarkan sekretaris menampar orang, aku tidak yakin uang kita aman di sini.”

Ayah mengangguk setuju. “Kita batalkan pertemuan hari ini. Cari pengacara, Sofia. Kita akan menuntut wanita ini atas penganiayaan dan pria itu atas perusakan properti.”

Adrian mengejar kami sampai ke lobi, memohon-mohon, namun aku bahkan tidak menoleh.

Saat aku melewati Celine yang sedang digiring keluar oleh petugas keamanan, aku berhenti sejenak. Aku mendekatkan wajahku ke telinganya dan berbisik pelan:

“Lain kali jika kau ingin menderita, lakukan sendiri. Jangan ajari orang lain cara menderita jika kau sendiri tidak sanggup menanggung akibatnya.”

Aku masuk ke dalam mobil mewah Ayah, meninggalkan kekacauan yang mereka buat sendiri. Mereka pikir aku hanya karyawan baru yang bisa diinjak, tapi hari itu mereka belajar satu pelajaran mahal: jangan pernah menilai seseorang dari blazernya, karena kau tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali atas nasibmu.