Posted in

DI SUATU MALAM YANG HUJAN, AKU MENEMUKAN RAHASIA DUA ORANG YANG PALING AKU CINTAI—DAN DALAM SEKEJAP, DUNIA YANG KUPIKIR MILIKKU RUNTUH SAAT AKU HANYA BERDIRI, TAK BERDAYA SELAIN MENONTON

DI SUATU MALAM YANG HUJAN, AKU MENEMUKAN RAHASIA DUA ORANG YANG PALING AKU CINTAI—DAN DALAM SEKEJAP, DUNIA YANG KUPIKIR MILIKKU RUNTUH SAAT AKU HANYA BERDIRI, TAK BERDAYA SELAIN MENONTON

Aku tidak menyangka bahwa di dalam loker gym kecil, semua kehidupan yang kuimpikan akan berakhir.

Itu hanya sepotong pakaian—celana pendek pria—tapi rasanya seperti pisau yang perlahan-lahan menusuk dadaku.

“Lia, sabun mandinya ada di dalam tas ya,” kata Camille dengan ceria di ujung telepon. “Maaf banget, aku nggak bisa ikut nge-gym malam ini, badanku nggak enak.”

Panggilan terputus, tapi aku tidak menyadarinya.

Aku berdiri di sana, jari-jariku gemetar, memegang celana pendek itu. Bahannya terasa familier. Jahitannya familier. Dan ketika aku melihat robekan kecil di sisi pinggangnya, rasanya seperti ada yang meledak di otakku.

Aku yang merobeknya.

Suatu kali, saat aku sedang mencuci baju, kain itu tersangkut di kukuku.

Padahal baru beberapa jam yang lalu, aku dan pacarku—Adrian—merayakan anniversary kami.

Dia tersenyum tenang padaku di bawah cahaya lilin. Lembut. Perhatian. Sempurna.

Setelah makan malam, dia bilang dia harus lembur.

Dan aku, percaya padanya.

Karena aku mencintainya.

Karena aku pikir, dia juga mencintaiku.

Tapi sekarang… celana pendeknya… ada di loker sahabatku sendiri.

Camille.

Wanita yang aku bantu. Yang aku percayai. Yang aku lindungi.

Tiba-tiba aku berlari keluar, seolah dikejar oleh sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Hujan deras turun saat aku mengemudikan mobilku menuju apartemen Camille.

Aku tidak percaya pada takdir.

Tapi malam itu, aku berdoa.

Semoga… aku salah.

Semoga… ada penjelasan di baliknya.

Namun sesampainya di sana, aku langsung melihat mobil Adrian—terparkir tepat di depan.

Hanya beberapa detik kemudian, Camille keluar membawa payung, berlari di tengah hujan.

Pintu mobil terbuka.

Adrian keluar.

Dan di depan mataku sendiri, dia memeluk Camille.

Erat.

Seolah dunia lain tidak ada.

Seolah aku… tidak pernah ada.

Dia membelai wajah Camille dengan lembut… dan menciumnya.

Seolah Camille-lah yang dia cintai.

Seolah Camille-lah pilihannya.

Seolah Camille… adalah yang sebenarnya.

Aku ternganga, tidak bisa bernapas. Rasanya setiap tetes hujan menghujam langsung ke jantungku.

Aku menelepon Adrian.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Semuanya ditolak.

Sampai akhirnya dia mengirim pesan teks:

“Babe, aku lagi meeting sama klien luar negeri.”

Pada saat itu, rasanya ada ribuan jarum yang menusuk hatiku.

Aku tidak langsung menangis.

Aku tidak berteriak.

Aku hanya diam-diam turun dari mobil, berjalan menuju kendaraannya.

Aku punya kunci duplikat.

Karena seharusnya aku yang akan menjadi istrinya.

Begitu pintu kubuka, aroma yang sangat kukenal menyeruak—bau cedarwood yang selalu dia gunakan.

Dan di sana… aku melihatnya.

Sebuah buku kecil berwarna merah.

Surat Nikah.

Atas nama:

Adrian Cruz dan Camille Reyes.

Tanggalnya?

Satu hari setelah dia melamarku.

Rasanya seperti ada kilat yang menyambar di dalam kepalanya.

Tidak berhenti di situ.

Aku membuka rekaman dashcam.

Dan di dalam layar… aku melihat sosok Adrian yang kukira aku kenal—telanjang bulat secara karakter, tanpa kendali, bersama Camille di kursi belakang mobil.

Aku tidak kuat lagi.

Aku keluar, berlutut di pinggir jalan, dan memuntahkan segalanya—bukan hanya apa yang kumakan, tapi semua keyakinanku.

Di tengah hujan, ponselku berbunyi.

“Apakah benar, Nona Lia? Sudahkah Anda memilih lagu pernikahan? Karena pernikahannya tinggal dua minggu lagi.”

Pandanganku kabur.

Pernikahan.

Oh, benar juga.

Pernikahan kami.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Dan akhirnya, aku berkata:

“Tidak perlu lagi. Batalkan saja.”

Sesampainya di rumah, meski masih basah kuyup, aku langsung membuka email.

Sebuah tawaran dari perusahaan di Singapura.

Sudah dua hari aku berpikir bagaimana cara menolaknya.

Tapi sekarang…

Tidak perlu lagi.

Aku mengetik:

“Saya menerima tawaran tersebut. Saya akan berada di sana dalam dua minggu.”

Keesokan harinya, aku melihat postingan Camille.

“Kalau lagi nggak enak badan, butuh yang manis-manis.”

Lengkap dengan foto kue blueberry.

Kue yang sama yang dibawa Adrian tadi malam.

Kue yang aku pikir… untuk kami.

Sedikit demi sedikit, semua kenangan kembali.

Saat-saat ketika rasanya ada yang kurang.

Saat-saat ketika rasanya ada rahasia.

Saat-saat yang selama ini aku abaikan.

Sampai ada yang mengetuk pintu.

Begitu aku membukanya—

Tamparan keras menyambutku.

“Apa yang kamu lakukan?!” teriak ibuku. “Kamu membatalkan pernikahan?!”

Aku memegang pipiku, gemetar.

“Dia mencintai orang lain…”

Ibu tertawa.

“Cinta? Apa-apaan kamu, Lia. Lelaki seperti itu, wajar kalau punya selingan.”

Aku terpaku lemas.

“Dan bagaimanapun juga, kamu yang akan dia nikahi. Kamu mengerti?”

Aku tidak menjawab.

Aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.

Karena aku tahu meskipun aku mengatakannya… aku akan tetap dianggap salah.

Sebelum pergi, dia memperingatiku:

“Di pameran perhiasan besok, pastikan kamu bersama Adrian.”

Aku ditinggal sendirian.

Sunyi.

Hancur.

Malam harinya, Adrian datang.

Dia tersenyum.

Memelukku dari belakang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku kangen kamu,” bisiknya.

Dan di saat itu…

Aku mendengar detak jantungku lagi—bukan karena cinta…

Tapi karena kemarahan yang mulai membara.

Dan saat dia membelaiku, aku menyadari—aku bukan lagi wanita yang dia cintai… melainkan wanita yang akan menghancurkan mereka.

Aku tidak melepaskan pelukannya. Sebaliknya, aku bersandar pada dadanya, membiarkan dia merasa bahwa dia masih memegang kendali. Namun, mataku menatap dingin ke arah pantulan kami di cermin. Di sana, aku tidak lagi melihat tunangan yang rapuh, melainkan seorang wanita yang sedang menghitung waktu mundur menuju kehancuran pria di belakangnya.

“Aku juga kangen kamu, Adrian,” bisikku pelan, sebuah kebohongan yang rasanya sepahit empedu. “Aku hanya stres memikirkan pernikahan kita.”

Dia mencium puncak kepalaku, aroma cedarwood yang dulu kupuja kini tercium seperti bau bangkai. “Tenang saja, semuanya akan sempurna,” katanya.

Ya, batin kupikir, semuanya akan sangat sempurna.


Pameran Perhiasan: Panggung yang Disiapkan

Keesokan harinya di pameran perhiasan mewah, Adrian tampil sangat tampan dengan setelan jasnya, sementara aku mengenakan gaun merah yang mencolok. Ibuku berdiri di samping kami, tersenyum bangga kepada rekan-rekan sosialitanya, tidak tahu bahwa di balik gaun ini, aku membawa “bom” yang siap meledak.

Camille juga ada di sana. Dia datang sebagai “sahabat” pengantin, mengenakan gaun tipis yang terus-menerus ia sesuaikan agar mendapat perhatian Adrian.

“Lia, kamu cantik sekali,” puji Camille sambil memegang lenganku. “Aku sangat bahagia untukmu.”

Aku tersenyum manis. “Terima kasih, Camille. Oh ya, aku punya kejutan kecil untuk kalian berdua di layar utama pameran nanti. Sebagai tanda terima kasihku karena kalian selalu ada untukku.”

Wajah Camille dan Adrian sempat menegang, namun mereka segera tertawa kecil, mengira aku hanya menyiapkan video kenangan romantis.


Penayangan yang Menghancurkan

Tepat saat sambutan utama dimulai, semua mata tertuju pada layar LED raksasa di aula pameran. Ibuku, keluarga Adrian, dan para investor besar perusahaannya berdiri di barisan depan.

“Mari kita lihat perjalanan cinta Adrian dan Lia,” ucap pembawa acara.

Lampu redup. Video dimulai.

Bukannya foto pre-wedding kami, yang muncul adalah rekaman dashcam malam hujan itu. Suara erangan dan percakapan menjijikkan antara Adrian dan Camille menggema melalui pengeras suara ruangan yang canggih. Tidak berhenti di situ, layar menampilkan foto Surat Nikah mereka yang tersembunyi.

Aula yang tadinya megah seketika menjadi sunyi senyap, sebelum kemudian riuh dengan bisikan kaget dan pekikan ngeri.

Ibuku menjatuhkan gelas sampanyenya hingga pecah berkeping-keping. Adrian membeku, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Camille mencoba lari, namun langkahnya terhenti saat aku menarik mikrofon dari panggung.

“Itu adalah hadiah dariku,” suaraku bergema, tenang namun mematikan. “Adrian, kamu bilang kamu mencintaiku, tapi kamu menikahi sahabatku sehari setelah melamarku. Dan Camille… terima kasih telah menunjukkan bahwa ‘tidak enak badan’ versimu adalah menghabiskan malam di mobil tunanganku.”


Kebebasan yang Sebenarnya

Adrian mencoba memegang tanganku, “Lia, biarkan aku menjelaskan—”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan,” aku mengibaskan tangannya dengan jijik. “Seluruh investor perusahaanmu ada di ruangan ini, Adrian. Kurasa mereka tidak akan suka bekerja sama dengan pria yang bahkan tidak bisa memegang janji pada istrinya sendiri.”

Aku berbalik ke arah ibuku yang menatapku dengan amarah. “Dan Ibu? Ibu bilang lelaki wajar punya selingan? Sekarang Ibu bisa menjelaskan kepada semua teman Ibu mengapa pernikahan ‘sempurna’ ini batal total.”

Aku melemparkan cincin pertunangan itu ke dalam gelas anggur Adrian yang masih penuh.

Dua jam kemudian, aku sudah berada di bandara. Aku tidak membawa banyak barang, hanya paspor dan kontrak kerjaku di Singapura. Saat aku duduk di ruang tunggu, aku melihat berita lokal mulai meledak dengan skandal perselingkuhan dan penipuan pernikahan sang pengusaha muda, Adrian Cruz.

Ponselku berdering. Pesan dari Adrian: “Kamu menghancurkan hidupku!”

Aku tidak membalas. Aku hanya menekan tombol block dan mematikan ponselku. Saat pesawat lepas landas, aku melihat ke luar jendela ke arah lampu-lampu kota yang mengecil. Dunia yang kupikir milikku memang telah runtuh, tapi di atas reruntuhan itu, aku baru saja membangun fondasi untuk hidup yang benar-benar milikku.

Hujan telah berhenti, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku bisa bernapas dengan lega.