
Victor tidak pernah membuat keputusan berdasarkan belas kasihan. Di dunia bawah Manila, belas kasihan adalah penyakit yang mematikan. Namun, saat ia menatap bekas luka kecil di punggung tangan Hazel—bekas luka yang tampak seperti sisa sundutan rokok—amarah yang tadi sempat meredup kini kembali berkobar. Kali ini, amarah itu memiliki arah yang jelas.
“Kalian tidak akan pergi ke mana-mana,” ucap Victor datar. Suaranya berat, memotong isak tangis Hazel yang perlahan mereda.
Hazel mendongak, matanya yang sembab menyiratkan kebingungan. “Tuan… saya tidak ingin merepotkan. Jika mereka tahu saya di sini, mereka akan—”
“Mereka tidak akan berani menyentuh gerbang Forbes Park,” potong Victor. Ia berbalik dari jendela, bayangannya yang besar menyelimuti ranjang tempat Theo berbaring. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu tinggal di sini sebagai pelayan. Mulai malam ini, kau adalah ‘tamu’ pribadiku. Dan di rumah ini, tamu dilindungi dengan nyawa.”
Sebuah Perjanjian di Bawah Cahaya Bulan
Victor memanggil Silas kembali. Tangan kanannya itu muncul dalam hitungan menit, matanya sedikit membelalak melihat seorang wanita pelayan dan bayinya berada di kamar tamu utama—wilayah yang biasanya terlarang bagi siapa pun kecuali Victor.
“Siapkan kamar di sebelah kamarku untuk mereka,” perintah Victor. “Hapus semua data Hazel Reyes dari daftar staf domestik. Jika ada yang bertanya, dia tidak pernah bekerja di sini.”
“Dan mengenai Falcone Syndicate, Bos?” tanya Silas dengan suara rendah. “Mereka sedang menyisir area Makati. Mereka mencari ‘aset’ yang hilang.”
Victor melirik Theo yang kini tertidur pulas berkat obat dari dokter. Jari mungil bayi itu masih menyentuh ujung lengan baju Victor yang bernoda darah.
“Beri tahu Falcone,” Victor berucap sambil menarik pelan lengannya, “bahwa aset yang mereka cari sekarang berada di bawah perlindungan Salazar. Jika mereka ingin mengambilnya, mereka harus melewati tumpukan mayat anak buahku—dan mereka tahu aku punya banyak sekali mayat.”
Perubahan di Mansion Salazar
Hari-hari berikutnya, suasana di mansion yang dingin itu berubah drastis. Keheningan yang diagungkan Victor kini pecah oleh suara tawa bayi atau gemerincing botol susu. Para penjaga yang biasanya sangar kini tampak kikuk saat harus berpapasan dengan Hazel yang mulai berani berjalan di koridor utama.
Namun, Hazel tetaplah Hazel. Ia merasa berutang nyawa. Suatu malam, ia membawakan kopi ke ruang kerja Victor. Pria itu sedang mempelajari peta distribusi di wilayah pelabuhan, wajahnya nampak lelah.
“Tuan Victor,” panggilnya lembut. “Mengapa Anda melakukan ini? Anda tidak mengenal kami.”
Victor menyesap kopinya tanpa mengalihkan pandangan dari peta. “Ayahku dulu seorang pemabuk yang menjual ibuku demi melunasi utang judi. Aku melihat ibuku memohon pada pria seperti Arthur Mendoza, dan tak ada satu pun orang yang membuka pintu untuknya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Hazel dengan tatapan tajam namun jujur. “Aku tidak bisa menyelamatkan ibuku. Tapi aku punya cukup peluru untuk memastikan tidak ada lagi ibu yang kehilangan anaknya di kota ini hanya karena utang seorang pria brengsek.”
Konfrontasi Berdarah
Keamanan Forbes Park memang ketat, tapi Falcone Syndicate cukup nekat. Seminggu kemudian, saat hujan badai mengguyur Manila, alarm mansion berbunyi.
Tiga mobil hitam menerjang gerbang samping. Pria-pria bertato kalajengking keluar dengan senjata otomatis. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk mengirim pesan bahwa tidak ada yang bisa mencuri dari Falcone.
“Hazel, masuk ke ruang bawah tanah! Sekarang!” teriak Victor sambil mengokang senjatanya.
Pertempuran itu singkat namun brutal. Victor bertarung seperti iblis yang haus darah. Setiap peluru yang ia lepaskan adalah balasan untuk ketakutan yang ia lihat di mata Hazel malam itu. Di tengah kekacauan, ia melihat sosok pria yang ia kenali dari foto: Arthur Mendoza, mantan suami Hazel, bersembunyi di balik salah satu mobil musuh.
Victor tidak menembaknya. Ia mendekat, memukul Arthur hingga tersungkur di atas aspal yang basah, lalu menempelkan moncong pistol panasnya ke dahi pria itu.
“Dia bukan milikmu lagi,” desis Victor di telinga Arthur. “Dia dan anak itu adalah urusanku sekarang. Jika aku melihat bayanganmu lagi di Manila, aku akan memastikan kau memohon untuk mati.”
Fajar Baru
Saat matahari terbit di atas langit Manila yang abu-abu, Victor kembali ke dalam rumah. Ia membersihkan tangannya, namun kali ini ia tidak membiarkan amarah menelannya.
Ia menemukan Hazel di kamar Theo, sedang mendekap bayi itu erat-erat. Begitu melihat Victor masuk, Hazel berdiri dan berlari memeluknya—sebuah tindakan berani yang biasanya akan membuat seseorang kehilangan nyawa jika dilakukan pada bos mafia.
Tapi Victor tidak bergerak. Ia membiarkan Hazel menangis di dadanya.
“Semua sudah berakhir,” bisik Victor.
“Apakah kami harus pergi sekarang?” tanya Hazel lirih, takut akan jawaban yang akan ia terima.
Victor melepaskan pelukannya, menatap mata cokelat Hazel yang kini tak lagi menyimpan ketakutan, melainkan harapan. Ia mengusap pipi wanita itu dengan ibu jarinya yang kasar.
“Tidak,” jawab Victor dengan nada yang hampir menyerupai sebuah janji. “Manila mungkin luas, tapi di sini… di dalam rumah ini… kalian adalah satu-satunya alasan mengapa tempat ini akhirnya terasa seperti rumah.”
Di bawah bayang-bayang kekuasaan Salazar, sebuah kehidupan baru dimulai. Bukan sebagai majikan dan pelayan, melainkan sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi musuh-musuh mereka: sebuah keluarga.