“Mbak Arin… kok diam saja?”
Teguran Bu Lastri memecah keheningan yang sempat membeku di antara mereka. Arini tersentak, jemarinya yang semula meremas sapu bergerak gelisah. Ia mengerjapkan mata, berusaha mengusir kabut yang mendadak menutupi fokusnya.
“Eh… iya, Bu Lastri. Maaf,” sahut Arini pelan, suaranya sedikit serak. “Saya… saya hanya sedikit shock saja mendengar ceritanya.”
Bu Lastri menghela napas panjang, wajahnya menyiratkan simpati sekaligus kekesalan yang tertahan. Ia menggeser duduknya lebih dekat ke arah Arini.
“Jujur ya, Mbak, menurut saya ini justru keberuntungan. Untung saja Mbak sudah lepas dari pria nggak jelas kayak Mas Arka,” cetus Bu Lastri tanpa tedeng aling-aling. “Mana ada suami yang lebih memprioritaskan mantan daripada istri sendiri? Benar-benar nggak habis pikir saya, kok ada laki-laki model begitu.”
Arini hanya mampu menyunggingkan senyum kaku. Ada rasa nyeri yang sempat berdenyut di dadanya saat nama itu disebut, namun rasa itu kini mulai hambar, tertutup oleh rasa lelah yang teramat sangat.

“Mungkin ini sudah takdir saya, Bu,” jawab Arini dengan nada bicara yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia menarik napas dalam, seolah menghirup udara kebebasan yang baru. “Alhamdulillah, saya bersyukur pintu kesadaran itu segera dibukakan untuk saya. Sebelum semuanya terlambat.”
“Mbak Arini ini cantik, baik, sabar pula. Saya yakin, Gusti Allah nggak tidur. Semoga Mbak cepat mendapatkan pasangan yang setara ya, Mbak. Yang tahu cara menghargai wanita sehebat Mbak.”
“Aamiin, Bu. Terima kasih doanya,” sahut Arini tulus.
Namun, tepat setelah ucapan itu mengalir, sebuah bayangan tiba-tiba melintas di benaknya. Sosok pria dengan tatapan tajam namun menenangkan, yang belakangan ini kerap hadir tanpa permisi dalam pikirannya.
Evan.
Nama itu berbisik pelan di hatinya, membuat debar jantung Arini sedikit berpacu di luar kendali. Ia menunduk, menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya dari penglihatan Bu Lastri yang tajam.
“Saya rasa, Mas Dokter itu cocok dan serasi lho sama Mbak Arin. Sudah tampan, kelihatan orangnya baik dan sopan lagi.”
Bu Lastri menggoda dengan kerlingan mata yang jenaka, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi sedikit lebih cair. Arini tertegun sejenak. Pujian Bu Lastri tentang sosok Evan barusan mau tidak mau membuat dadanya kembali berdesir, namun ia segera menepis perasaan itu dengan logika yang masih ia genggam erat.
“Saya masih dalam masa iddah, Bu,” jawab Arini lembut sembari merapikan sisa-sisa lamunannya. “Belum terpikir untuk melangkah ke sana, apalagi soal nikah lagi. Luka kemarin pun rasanya masih basah.”
Ia terdiam sejenak, menatap ke arah jalanan di depan rumahnya dengan pandangan menerawang. “Nggak tahu nanti bagaimana ke depannya. Untuk sekarang, saya jalani saja dulu apa yang ada, mengikuti alur yang sudah digariskan Tuhan.”
Bu Lastri mengangguk-angguk paham. Ia bisa merasakan ada beban berat yang sedang berusaha dilepaskan oleh wanita muda di hadapannya itu.
“Hmm… iya, Mbak. Saya mengerti. Pelan-pelan saja yang penting hati Mbak tenang,” sahut Bu Lastri sambil menepuk lututnya sendiri, bersiap untuk beranjak. “Ya sudah kalau begitu, Mbak. Saya masuk dulu ya, mau lanjut nyuci baju. Cucian sudah numpuk di belakang.”
“Silakan, Bu. Terima kasih sudah mau mengobrol,” ucap Arini dengan senyum yang jauh lebih lepas.”