Posted in

Setelah tahu suamiku pura-pura gugur dalam tugas demi berseling kuh dengan wanita lain, aku segera mendatangi kantornya supaya dia tidak hanya pura-pura ma ti, tapi data kependudukan menunjukkan bahwa Mas Randy benar sudah ma ti.

Kapten Ardan, atasan Mas Randy sekaligus teman masa kecilku tergesa bangkit dari kursinya begitu melihatku. Wajahnya yang tegas tampak terlihat lelah, mungkin karena tumpukan berkas di mejanya, atau mungkin karena tugas yang dipikul satu tahun terakhir terlalu berat untuknya.

Ya, kecela kaan kapal yang menimpa Mas Randy satu tahun lalu, tengah berada di bawah komandonya. Mungkin karena alasan itulah Ardan merasa dirinya lah yang paling bertanggungjawab dan bekerja lebih keras mencari kabar Mas Randy.

“Din? Kapan kembali dari Surabaya?” tanya Ardan cepat, lalu mempersilakanku duduk.

“Baru saja tiba, dan aku langsung ke sini,” jawabku, lalu tanpa basa-basi aku merogoh ponsel, membuka galeri, dan menyodorkan foto Mas Randy, Clarissa, dan bayi mereka di ruang rawat inap.

Ardan menerimanya dengan kening berkerut. “Ini siapa, Din? Kenapa mirip sekali dengan Randy?”

“Itu Mas Randy,” jawabku singkat. “Bukan mirip. Itu memang dia, Dan.”

“APA? Ini Randy?” Ardan tampak syok.

Lalu, aku menceritakan semuanya. Diawali pertemuan Tania dengan Mas Randy, lalu tentang mertuaku yang tidak yakin jika pria yang dilihat Tania itu anak mereka dan memintaku untuk tidak memberitahu institusi, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyelidikinya sendiri dan pindah ke Surabaya.

Rahang Ardan mengeras. Tangannya yang tengah memegang pulpen di atas meja meremas benda itu kuat-kuat. Ada kilat kecewa yang luar biasa di matanya, kekecewaan seorang prajurit yang dikhia nati oleh rekannya sendiri. Saudara seperjuangannya.

“Breng sek!” desis Ardan. Suaranya rendah, tapi penuh amarah. “Aku jungkir balik mencari dia, hampir mabti kedinginan menyisir pantai, sedang dia ternyata tengah berbahagia dengan kehidupan barunya.”

Ardan melempar pulpen di tangannya dengan kasar. Napasnya memburu. “Aku akan lapor komandan. Ini desersi. Ini pelanggaran berat. Dia bisa dipecat secara tidak hormat dan dipenja ra.”

“Jangan, Dan. Aku mohon!” cegahku tenang.

Ardan menatapku tak percaya. “Kenapa? Apa kamu masih mau melindungi dia?”

“Bukan,” aku menggeleng. “Kalau kamu lapor sekarang, dia hanya akan dihukum militer. Itu tidak cukup sakit. Aku mau dia kehilangan semuanya pelan-pelan dan merasakan sakit yang aku rasakan.”

“Lalu apa rencanamu, Din?”

Aku menatap mata Ardan lekat-lekat,”Aku butuh bantuanmu, Dan.”

“Bantuan apa?”

“Tutup kasus pencarian Mas Randy, dan segera buatkan surat kematian resminya!”

Ardan ternganga, menatapku tak percaya.

“Kamu sadar dengan apa yang kamu bicarakan, Din? Itu pemalsuan dokumen negara. Dan kalau surat itu keluar, Randy resmi dianggap tiada. Hak-haknya sebagai warga negara atas nama itu akan hilang. Dia tidak akan bisa balik lagi jadi Randy yang dulu.”

Aku mengangguk yakin.

“Memang itu tujuannya, Dan. Dia sendiri yang bilang tidak mau jadi Randy, karena merasa itu bukan dirinya. Dia hanya mau jadi Banyu, suami Clarissa. Dan aku hanya mau mengabulkan keinginannya. Walau aku tahu Mas Randy tidak benar-benar ingin melepas status yang sudah mati-matian dicapainya.”

“Tapi Din, apa kamu sudah memikirkan semua konsekuensinya?” Ardan tampak masih ragu dengan keputusanku.

Aku mencondongkan tubuh ke depan.

“Dia sudah membu n uh sosok Randy demi hidup barunya. Aku hanya membantu menguburkannya secara administratif. Aku mohon bantu aku, Dan. Aku butuh surat itu untuk memancing reaksi keluarganya. Aku butuh surat itu untuk melepaskan diri dari mereka.”

Ardan terdiam lama. Ia menatapku, mencari keraguan di wajahku. Tapi ia tidak akan menemukannya.

Akhirnya, Ardan menghela napas panjang. Bahunya turun, lemas. Menyandar lelah di kursinya, menatap iba padaku.

“Baiklah,” ucap Ardan pelan. “Aku bantu kamu, Din. Demi kamu dan Ellea.”

***

Begitu urusanku dan Ardan selesai, aku putuskan untuk segera kembali ke Surabaya.

Ya, meski hati teri ris perih karena harus menyaksikan pengkhia natan yang terang-terangan Mas Randy dan wanita itu pertontonkan di hadapanku, aku harus tetap terlihat biasa saja, agar mereka tetap mengira jika aku masih percaya dengan sandiwara bubsuk yang tengah keduanya mainkan.

Ragu, aku memutar gagang pintu.

Dan begitu pintu terbuka, aku menyaksikan mereka tengah melakukan adegan menji jikan tanpa canggung.”Maaf, saya mengganggu!”

Aku buru-buru berbalik. Seketika aku merasa mual yang luar biasa.

“Maaf, Dok. Saya hanya menenangkan istri saya, karena tadi dia sempat mengeluh sakit di dadanya.”

Mas Randy sedikit mengambil jarak dari wanita itu.

“Tidak perlu minta maaf. Kalian berdua kan suami istri,” ucapku, kembali berbalik dan mendekat pada Clarissa.“Bagaimana Bu, apa sudah merasa jauh lebih baik?” tanyaku kemudian, sambil memeriksa cairan infus yang sudah hampir habis.

“Seperti yang bisa Dokter lihat, saya merasa sudah jauh lebih sehat. Jadi sebenarnya tidak perlu lagi berlama-lama di sini. Iya kan, Mas?” Clarissa menoleh pada Mas Randy yang berdiri di sampingnya.

Aku tersenyum.“Kita periksa dulu ya, Bu.”

Clarissa mendengus pelan.”Dokter sengaja menahan saya di rumah sakit ini supaya punya kesempatan lebih banyak untuk bertemu dengan Mas Banyu, ‘kan?” tanyanya, menuduhku.

Aku menatap lurus padanya dengan hati bergemuruh.

Dia benar. Aku memang yang meminta pihak rumah sakit agar memberikan kewenangan menjadi Dokter yang menangani kehamilanya. Dan itu semua aku lakukan demi bisa lebih dekat dengan Mas Randy dan membuatnya kembali mengingatku dan kehidupan dia sebelumnya.

Tapi setelah tahu yang aku lakukan hanya upaya yang sia-sia, tujuanku berubah.

Aku memilih tetap berada di antara mereka meski sudah tahu sandiwara yang tangah keduanya mainkan hanya untuk satu tujuan, yakni membuat Mas Randy dan Clarissa membayar apa yang sudah dilakukannya padaku.

“Pada saat persalinan, Bu Clarissa banyak kehilangan darah. Tensi Ibu juga sangat tinggi. Jadi Ibu memerlukan waktu lebih lama untuk pemulihan.” Aku mengutarakan alasan kenapa Clarissa memerlukan penanganan lebih dibandingkan ibu lainnya yang kebetulan melahirkan di waktu yang sama dengannya

Clarissa membuang muka.

“Jika Bu Clarissa keberatan saya tangani, saya akan minta pihak rumah sakit untuk menggantikan saya dengan Dokter yang lain,” ucapku kemudian, berusaha untuk tetap bersikap seprofesional mungkin meski sudah sangat muak melihatnya.

Clarissa terdiam sejenak, lalu menoleh pada Mas Randy.”Bagaimana menurutmu, Mas? Apa sebaiknya kita minta ganti Dokter saja? Jujur, aku merasa tidak nyaman ditangani Dokter Dinda,” ucapnya, melirikku dengan ujung matanya.

Kulihat Mas Randy seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu, lalu menoleh sekilas padaku.”Tapi pihak rumah sakit bilang Dokter Dinda adalah Dokter Obgyn terbaik di sini, kamu yakin ingin berganti Dokter lain?” tanyanya kemudian, menatap lekat pada istrinya.

Dulu tatapan itu milikku, tapi sekarang sudah jadi milik wanita lain.

Clarissa menghadap ke arahku.”Kalau bukan rujukan dari pihak rumah sakit, saya tidak mau Dokter Dinda yang menangani saya,” ucapnya, sambil menyodorkan satu tangannya untuk aku periksa.

Aku menahan napas, meredam amarah agar tidak naik ke permukaan.’Sekarang kalian berdua boleh bersenang-senang karena merasa menang dariku. Tapi tidak lama lagi, aku pastikan kalian berdua menyesal karena telah mempermainkanku!’