Berikut adalah kelanjutan dari kisah Emiliano dan Ximena dalam BAGIAN 2 (TAMAT):
BAGIAN 2: PENGKHIANATAN DI BALIK PINTU JATI
Emiliano tetap memejamkan mata, mematung di bawah selimut yang baru saja diletakkan Ximena. Namun, suasana hangat itu seketika sirna saat langkah kaki yang berat dan angkuh bergema masuk ke dalam ruangan.

Itu adalah suara Adrian, adik kandung Emiliano, dan Ibu Matilde, kepala pelayan yang selama ini dipercayanya.
“Apa yang terjadi di sini?” suara Adrian terdengar dingin, tanpa ada nada cemas melihat kakaknya terkapar.
“Tuan Emiliano pingsan lagi, Tuan Adrian,” lapor Matilde dengan nada datar, jauh dari kesan hormat yang biasanya ia tunjukkan. “Gadis baru ini yang menemukannya.”
Ximena berdiri tegak, sedikit gemetar. “Saya akan memanggil dokter sekarang.”
“Tidak perlu,” potong Adrian cepat. “Keluar kau, Ximena. Biarkan kepala pelayan yang mengurusnya. Kembali ke dapur dan lupakan apa yang kau lihat.”
Ximena ragu, namun tatapan tajam Matilde memaksanya melangkah keluar. Namun, Ximena tidak benar-benar pergi. Ia hanya menutup pintu sedikit, lalu berdiri di celah gelap koridor, tepat saat Emiliano mulai mendengar percakapan yang membekukan darahnya.
Rahasia yang Terkubur
“Berapa lama lagi dia bisa bertahan, Matilde?” tanya Adrian. Emiliano bisa mendengar suara gelas berdenting—Adiknya sedang menuang tequila miliknya sendiri.
“Dosis obat tidur yang saya campurkan ke kopinya setiap pagi sudah mulai merusak sarafnya, Tuan,” jawab Matilde tanpa beban. “Dia pikir itu hanya antidepresan biasa dari dokternya. Dia tidak akan curiga.”
Emiliano merasa jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap memaksa tubuhnya untuk diam. Jadi, selama ini kelelahannya, depresinya, dan rasa pening yang tak kunjung hilang bukan hanya karena duka… melainkan racun yang diberikan orang rumahnya sendiri.
“Bagus,” gumam Adrian. “Suryo Tower harus jatuh ke tanganku sebelum akhir tahun. Aku tidak bisa membiarkan si ‘Batu’ ini terus memegang kendali. Dia seharusnya mati di Puncak tiga tahun lalu, bersama istri dan anaknya.”
“Tapi Tuan…” suara Matilde merendah, “apakah Tuan yakin dia tidak akan pernah tahu soal… kecelakaan itu?”
Adrian tertawa kecil, suara yang membuat Emiliano merasa mual.
“Rem yang blong itu tidak akan pernah bisa dilacak, Matilde. Semua orang mengira itu murni kecelakaan karena hujan badai. Tak ada yang tahu kalau akulah yang menyabotase mobil Mariana. Sayang sekali, Emiliano justru selamat.”
Kebekuan yang Menghancurkan
Di balik kelopak matanya yang tertutup, dunia Emiliano runtuh. Bukan karena harta, bukan karena kekuasaan. Tapi karena kenyataan bahwa kematian istri dan anaknya adalah sebuah pembunuhan berencana oleh darah dagingnya sendiri.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Matilde berdiri tepat di atas Emiliano.
“Haruskah kita memberinya dosis tambahan sekarang agar dia tidak bangun sampai besok?”
“Lakukan saja. Pastikan dia tampak seperti orang yang overdosis karena depresi,” perintah Adrian dingin.
Saat Matilde merogoh saku celemeknya untuk mengambil botol kecil, sebuah suara memecah ketegangan.
“BERHENTI!”
Ximena menerjang masuk. Ia tidak lari ketakutan; ia justru berdiri di depan tubuh Emiliano yang seolah tak berdaya, melindungi pria itu. Di tangannya, ia memegang ponsel yang menyala—layar itu menunjukkan durasi rekaman suara yang sedang berjalan.
“Saya sudah merekam semuanya,” ucap Ximena dengan suara bergetar namun tegas. “Tiap kata, tiap rencana busuk kalian.”
Adrian tertawa terbahak-bahak. “Kau pikir polisi akan percaya pada pelayan miskin sepertimu? Berikan ponsel itu atau kau tidak akan pernah melihat nenekmu lagi!”
Kebangkitan Sang Hiu
Saat Adrian melangkah maju untuk merebut ponsel Ximena, sebuah tangan yang kuat dan dingin mencengkeram pergelangan tangan Adrian.
Emiliano membuka matanya.
Matanya tidak lagi kuyu atau mengantuk. Mata itu adalah mata “Hiu Sudirman”—tajam, mematikan, dan penuh amarah yang murni. Ia bangkit dari sofa dengan kewibawaan yang membuat Adrian mundur teratur hingga menabrak meja.
“E-Emiliano? Kau… kau bangun?” gagap Adrian. Wajahnya pucat pasi.
“Aku bangun sudah cukup lama untuk mendengar bagaimana kau membunuh anak dan istriku, Adrian,” suara Emiliano rendah, seperti guntur sebelum badai.
Ia melirik ke arah pintu. Dua pria berbadan tegap—tim keamanan pribadi yang diam-diam telah dihubungi Ximena melalui tombol darurat di bawah meja kerja (yang ia bersihkan setiap hari)—masuk dan langsung meringkus Adrian serta Matilde.
Akhir dari Badai
Malam itu, mansion mewah tersebut dikepung lampu biru merah kepolisian. Adrian dan Matilde digelandang keluar dalam borgol.
Emiliano berdiri di balkon, memandangi langit Jakarta. Ia merasa kosong, namun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak lagi merasa gila. Ia tahu musuhnya sekarang. Ia tahu kebenarannya.
Ia menoleh ke arah Ximena yang sedang duduk di ruang tamu, tampak kelelahan dan masih memegang ponselnya dengan erat.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Emiliano lembut. “Kau bisa saja mengambil uang di dompetku dan lari saat aku pingsan. Kau butuh uang untuk nenekmu, bukan?”
Ximena menatap Emiliano. “Nenek saya selalu bilang, uang bisa dicari dengan memeras keringat, Tuan. Tapi ketenangan jiwa tidak bisa dibeli dengan mencuri hak orang lain. Bapak kehilangan keluarga… saya tidak ingin Bapak kehilangan nyawa juga.”
Emiliano terdiam. Selama ini ia menguji sebelas asisten dengan harta, dan mereka semua gagal. Tapi Ximena… dia bukan lulus ujian karena kejujurannya pada uang, tapi karena kemanusiaannya pada sesama.
Epilog
Emiliano tidak lagi menjadi “Si Batu”. Ia mulai menjual sebagian saham di Suryo Tower untuk membangun yayasan bagi korban kecelakaan.
Dan di sebuah rumah sakit terbaik di Jakarta, Nenek Lupita mendapatkan perawatan jantung kelas satu, biaya sepenuhnya ditanggung oleh seorang pria yang kini sering datang berkunjung hanya untuk membawakan kopi—pria yang akhirnya belajar bahwa untuk tetap berdiri tegak, seseorang tidak harus selalu menjadi batu.
Kadang, ia hanya perlu membiarkan seseorang membantunya memikul beban tersebut.