Lalu aku menekan tombol terakhir.
“Laporkan perangkat sebagai dicuri dan aktifkan alarm jarak jauh.”
Layar menampilkan konfirmasi singkat:
Are you sure?
Aku tidak ragu.
Yes.
—
Di dalam livestream, suasana yang tadinya penuh tawa berubah dalam hitungan detik.
Tiba-tiba terdengar bunyi alarm nyaring dari pergelangan tangan Marissa.
Bukan sekadar notifikasi.
Tapi suara sirene tajam yang memekakkan telinga.
Semua orang di sekitarnya terlonjak.
Lampu klub masih berkedip-kedip, tapi kini perhatian tertuju sepenuhnya padanya.
Marissa panik.
Ia mencoba melepas jam itu.
Tidak bisa.
Strap otomatis terkunci ketika mode anti-theft aktif.
Komentar di livestream meledak.
“Apa itu?!”
“Kenapa bunyi?”
“Katanya hadiah pacar?”
“DICURI???”
Di layar muncul pesan kedua, lebih jelas dari sebelumnya:
Perangkat ini dilaporkan hilang oleh pemilik terdaftar. Sistem keamanan telah diaktifkan. Lokasi telah dicatat.
Wajah Marissa yang tadi penuh percaya diri berubah pucat.
Ia menutup kamera dengan tangannya.
Terlambat.
Lebih dari dua ribu orang sudah melihat.
—
Ponselku langsung bergetar.

Panggilan masuk.
Marissa.
Aku mengangkatnya dengan tenang.
Di seberang sana, suara musik sudah hilang. Hanya terdengar napasnya yang terengah.
“Kamu gila?! Matikan itu sekarang!”
Aku bersandar di kursi.
“Bukankah itu hadiah dari pacarmu?”
Ia terdiam.
“Aku cuma pinjam! Kenapa harus sampai begini?!”
“Karena kamu tidak minta izin.”
“Kita keluarga!”
Aku tertawa pelan.
“Keluarga tidak mengambil barang dari dalam safe tanpa izin.”
Suara di belakangnya mulai gaduh.
Sepertinya manajemen klub mulai mendekat.
Beberapa orang bertanya.
Seseorang bahkan berkata, “Kalau itu barang curian, kami harus lapor.”
Marissa mulai menangis.
“Tolong matikan… semua orang melihat…”
Aku membuka family group chat.
Sudah kacau.
Video rekaman livestream tersebar.
Tanteku yang tadi membanggakan anaknya kini menulis panik:
“Apa yang terjadi?!”
Sepupuku yang lain mulai menghapus komentar lama.
Satu per satu pesan pribadi masuk ke ponselku.
“Kita bisa bicarakan baik-baik…”
“Jangan diperpanjang…”
“Masih saudara…”
Aku membaca semuanya tanpa ekspresi.
Tiga bulan lalu ketika aku lembur siang malam demi proyek tambahan untuk membeli jam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang peduli.
Tapi malam ini?
Mereka semua peduli.
—
Panggilan dari Marissa kembali masuk.
Suaranya sudah tidak lagi tinggi.
Hanya tersisa gemetar.
“Aku salah… maaf… aku cuma ingin terlihat berhasil…”
Aku menatap layar lokasi perangkat.
Masih di klub.
“Apa kamu tahu,” kataku pelan, “yang paling mahal dari jam itu bukan harganya?”
Ia terdiam.
“Kepercayaan.”
Hening beberapa detik.
Lalu aku menekan satu tombol lagi.
Alarm berhenti.
Mode kunci tetap aktif.
“Besok pagi,” kataku dingin, “kirim jam itu kembali ke alamatku. Dengan asuransi penuh. Kalau tidak…”
Aku tidak perlu melanjutkan.
Ia mengerti.
—
Keesokan harinya, sebelum jam sembilan pagi, seorang kurir datang.
Di dalam kotak hitam berlapis busa itu, jamku kembali.
Tanpa goresan.
Tanpa cacat.
Tapi anehnya, rasanya berbeda.
Bukan karena disentuh orang lain.
Melainkan karena malam itu, aku akhirnya melihat jelas siapa yang benar-benar keluargaku… dan siapa yang hanya memakai kata itu saat butuh.
Sejak hari itu, tak ada lagi yang berani menyentuh barangku.
Tak ada lagi yang berani menyindirku soal “pelit”.
Dan Marissa?
Akun media sosialnya sepi selama berbulan-bulan.
Karena di dunia high society yang ia banggakan…
Sekali reputasi retak di depan publik,
Tidak ada filter yang bisa memperbaikinya.
Aku menatap jam di pergelangan tanganku.
Untuk pertama kalinya, aku memakainya keluar rumah.
Bukan untuk pamer.
Tapi sebagai pengingat.
Bahwa harga diri,
tidak pernah boleh dipinjamkan.