Posted in

Seorang wanita hamil yang diusir dari desa… memberanikan diri menyelamatkan seorang pria asing di hutan—tanpa ia tahu bahwa pria itu adalah pewaris sebuah perusahaan raksasa bernilai triliunan rupiah.

Seorang wanita hamil yang diusir dari desa… memberanikan diri menyelamatkan seorang pria asing di hutan—tanpa ia tahu bahwa pria itu adalah pewaris sebuah perusahaan raksasa bernilai triliunan rupiah.

Di tepi hutan lebat dekat Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berdiri sebuah gubuk kecil dari bambu dan seng tua.

Di sanalah tinggal Lira.

Usianya baru dua puluh satu tahun. Perutnya sudah besar—tinggal beberapa minggu lagi ia akan melahirkan.

Namun beban terberat yang ia pikul… bukanlah rasa sakit kehamilan.

Melainkan kenyataan bahwa seluruh desa menganggapnya pembawa sial.

Tiga tahun lalu, kedua orang tuanya meninggal karena penyakit misterius.

Tak seorang pun memahami penyebabnya… maka orang-orang menyebutnya sebagai “kutukan”.

Bisik-bisik mulai terdengar.

Tatapan berubah menjadi menjauh.

Dan akhirnya… ia diusir.

Rumahnya bahkan terbakar pada malam pemakaman—dan penduduk desa berkata itu pertanda bahwa “roh-roh menolak keluarga itu”.

Sejak saat itu, Lira hidup sendirian di pinggir hutan.

Kekasihnya dulu—Arga—pernah berjanji akan menikahinya dan melindunginya dari siapa pun.

Namun suatu hari…

— “Maaf… aku tidak sanggup melawan semua orang…”

Ia pergi.

Meninggalkan semua mimpi yang pernah mereka bangun bersama.

Kini hidup Lira berputar pada mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya di pasar kecil, ditukar dengan beberapa ribu rupiah untuk membeli ikan asin dan beras.

Ia lelah.

Sendirian.

Namun ia terus bertahan… demi anak yang tumbuh dalam rahimnya.

Sore itu, langit Banyuwangi cerah setelah hujan ringan. Tanah masih basah dan aroma daun bercampur lumpur memenuhi udara.

Dengan keranjang di tangan, ia masuk ke dalam hutan.

Tiba-tiba perutnya bergerak.

Ia mengusapnya dan berbisik,

— “Jangan takut, Nak… Ibu akan melindungimu… bahkan jika harus melawan seluruh dunia.”

Ia menunduk mengambil ranting kering.

Tiba-tiba—

Ia mendengar suara.

Pelan… namun penuh ketakutan.

Ia membeku.

Itu bukan suara binatang.

Itu suara manusia.

Jantungnya berdetak cepat.

Sunyi.

Lalu terdengar lagi—

Lebih jelas. Lebih putus asa.

— “Tolong aku…”

Ia menggigit bibirnya.

Pikirannya berteriak: Jangan mendekat. Itu berbahaya.

Namun hatinya… menolak pergi.

Perlahan ia melangkah, menyibak semak-semak tebal.

Dan ketika ia melihatnya—

Matanya membesar.

Seorang pria… terikat pada pohon.

Pakaiannya robek.

Wajahnya penuh luka.

Hampir tak mampu berdiri karena lemah.

Saat melihat Lira, harapan berkilat di matanya.

— “Tolong… selamatkan aku…”

Lira mendekat.

— “Siapa yang melakukan ini padamu?”

— “Aku… tidak melihat… mereka menutup mataku… lalu meninggalkanku di sini…”

Belum sempat ia bergerak—

Terdengar geraman keras menggema di seluruh hutan.

Rendah.

Dalam.

Menggetarkan tulang.

Lira menoleh.

Dari balik rerumputan, seekor macan tutul besar melangkah perlahan keluar.

Tatapannya lurus pada pria yang terikat.

Hanya beberapa meter jaraknya.

Tubuh Lira gemetar.

Naluri berteriak: Lari. Selamatkan dirimu. Selamatkan anakmu.

Namun ketika ia melihat mata pria itu—

Ketakutan.

Menunggu kematian.

Ia mengepalkan tangan.

— “Tidak… aku tidak akan meninggalkanmu…”

Ia meraih sebatang kayu tebal.

Tangannya gemetar.

Namun matanya… menjadi tegas.

Ia melangkah maju.

Berdiri di antara pria itu… dan macan tutul.

— “Hei! Pergi!”

Teriaknya sambil menghantam tanah dengan kayu.

Macan itu berhenti.

Menatapnya.

Udara terasa berat.

Seorang ibu…

Melawan maut.

Ia berteriak lebih keras,

— “PERGI!!!”

Kayu itu menghantam tanah sekali lagi.

Suara bergema di seluruh hutan.

Macan itu menggeram keras…

Lalu menerjang ke arahnya—

👉 Ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya?

Baca bagian berikutnya di kolom komentar. Pilih LIHAT SEMUA KOMENTAR untuk menemukan kelanjutan kisahnya… 👇

Macan itu meloncat—

Namun tepat sebelum cakarnya menyentuh tubuh Lira, terdengar suara tembakan memecah udara.

Dor!

Macan itu terhuyung, lalu kabur kembali ke dalam hutan.

Lira jatuh terduduk, napasnya memburu. Tangannya masih menggenggam kayu, tubuhnya gemetar hebat.

Dari balik pepohonan muncul dua pria berseragam lapangan, membawa senapan pembius.

— “Untung kami menemukannya tepat waktu!” salah satu dari mereka berteriak.

Mereka segera berlari ke arah pria yang terikat.

Lira menoleh, kebingungan.

Beberapa menit kemudian, terdengar deru helikopter mendekat dari atas pepohonan.

Angin dari baling-balingnya membuat dedaunan beterbangan.

Beberapa pria berpakaian formal turun dengan tergesa-gesa.

Salah satunya, pria paruh baya dengan wajah tegas namun cemas, langsung berlutut di depan lelaki yang tadi terikat.

— “Tuan Arsen! Syukurlah Anda selamat!”

Lira membeku.

Tuan… Arsen?

Pria yang ia lindungi perlahan membuka mata dan menatap Lira.

Tatapan itu kini berbeda—bukan lagi hanya penuh ketakutan, tapi juga rasa tak percaya.

— “Dia… yang menyelamatkanku…” suaranya lemah namun jelas.

Pria paruh baya itu menoleh ke arah Lira.

— “Nona, Anda baru saja menyelamatkan pewaris utama Pratama Global Group, perusahaan bernilai lebih dari tiga triliun rupiah.”

Tiga… triliun?

Kata itu terasa asing di telinga Lira.

Ia bahkan sering kesulitan menghitung lembaran dua ribuan di sakunya.

Arsen berusaha duduk, menahan sakit.

— “Aku diculik oleh pesaing bisnis ayahku. Mereka membuangku di hutan agar terlihat seperti kecelakaan.”

Ia menatap Lira lama.

— “Kamu bisa saja lari. Kamu sedang hamil. Tapi kamu tetap berdiri di depanku.”

Lira menunduk.

— “Saya hanya tidak ingin melihat seseorang mati di depan saya.”

Tak ada nada meminta imbalan.

Tak ada harapan tersembunyi.

Hanya kejujuran sederhana.

Beberapa hari kemudian—

Sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gubuk bambu milik Lira.

Seluruh desa gempar.

Orang-orang yang dulu mengusirnya kini berdiri berbisik di pinggir jalan.

Arsen turun dari mobil, masih dengan perban tipis di dahinya.

Ia berjalan perlahan menuju Lira yang berdiri kaku di depan gubuk.

— “Aku datang untuk menepati janjiku.”

Ia memberi isyarat pada asistennya.

Dokumen-dokumen resmi dikeluarkan.

— “Tanah ini sekarang milikmu secara sah. Dan aku sudah menyiapkan rumah yang layak untukmu dan anakmu di kota.”

Seluruh desa terdiam.

Arsen melanjutkan, suaranya cukup keras agar semua mendengar:

— “Dan mulai hari ini, perusahaan kami akan membuka proyek perkebunan dan pusat pelatihan kerja di desa ini. Tidak ada lagi pengusiran. Tidak ada lagi takhayul.”

Tatapan warga berubah—kali ini bukan hinaan, melainkan rasa malu.

Namun Lira hanya menatap Arsen.

— “Saya tidak butuh balas budi,” katanya pelan.

Arsen tersenyum tipis.

— “Ini bukan balas budi. Ini rasa hormat.”

Beberapa minggu kemudian, Lira melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat di rumah sakit terbaik di Surabaya.

Arsen berdiri di luar ruang bersalin, menunggu dengan cemas seperti seorang ayah.

Ketika tangisan bayi itu terdengar, Lira menitikkan air mata.

Bukan karena sakit.

Bukan karena takut.

Tapi karena untuk pertama kalinya, masa depan tidak lagi tampak gelap.

Ia memeluk bayinya dan berbisik,

— “Kita tidak pernah dikutuk, Nak. Dunia hanya belum mengenal nilai kita.”

Di luar jendela, matahari terbit perlahan.

Dan gadis yang dulu diusir sebagai pembawa sial…

Kini berdiri sebagai perempuan yang mengubah takdirnya sendiri.