Aku segera masuk ke kamar, tidak memedulikan makian Ibu mertua yang masih menggema di ruang tamu. Dengan gerakan cepat namun pasti, aku mengeluarkan koper besar dari atas lemari. Semua baju Raka dan baju-bajuku dimasukkan tanpa sisa.

“Raka sayang, bantu Ibu ambil mainan yang paling Raka suka ya? Kita mau ke rumah Nenek selamanya,” bisikku pada Raka. Anak itu, meski matanya masih sembab, mengangguk patuh seolah mengerti bahwa atmosfir rumah ini memang sudah tidak sehat untuknya.
Saat aku keluar menyeret koper, Mas Bayu masih berdiri di sana, berkacak pinggang dengan senyum meremehkan. Di sampingnya, Ibu mertua dan Laras melipat tangan di dada, menontonku seolah aku sedang melakukan pertunjukan konyol.
“Silakan pergi! Jangan harap kamu bisa bawa satu sen pun harta dari rumah ini!” bentak Mas Bayu.
Aku berhenti tepat di depan pintu, menoleh sedikit padanya. “Harta? Rumah ini masih kontrak, Mas. Motor itu cicilannya aku yang bantu bayar bulan lalu. Kursi yang kamu duduki itu hasil tabunganku. Tapi ambil saja semuanya. Anggap saja itu upahku karena sudah jadi pembantu gratis kalian selama bertahun-tahun.”
“Ratih! Kamu benar-benar keterlaluan!” teriak Laras. “Terus siapa yang masak buat lebaran besok?”
Aku tertawa renyah, tawa paling lepas yang pernah kurasakan. “Oh, jadi itu masalah utamanya? Belajarlah pegang sutil sendiri, Laras. Ibu juga, jangan cuma bisa nyuruh. Aku bukan lagi ‘keset’ di rumah ini.”
Tanpa menoleh lagi, aku menggandeng tangan Raka. Aku menelepon taksi online yang sudah kupesan lewat aplikasi. Saat mobil itu datang, aku menaikkan koper ke bagasi dengan kekuatan yang entah datang dari mana.
“Mas, mulai detik ini, hubungan kita selesai. Surat cerai akan sampai ke tanganmu segera setelah aku tenang di kampung,” ucapku tegas sebelum menutup pintu mobil.
Di dalam taksi, Raka menyandarkan kepalanya di pangkuanku. Suasana hening, hanya suara deru mesin dan klakson jalanan. Hatiku yang tadinya mendidih perlahan mulai mendingin, berganti dengan rasa lega yang luar biasa.
Aku merogoh ponsel, melihat saldo di rekeningku. Hasil berjualan kue secara sembunyi-sembunyi selama setahun terakhir ternyata cukup untuk modal awal hidup di kampung. Aku tidak sekaya mereka, tapi aku merdeka.
Dua hari kemudian, aku menginjakkan kaki di depan rumah kayu Ibu. Udara desa yang sejuk menyambutku. Ibu sedang duduk di teras, batuk kecil sambil memegang cangkir teh. Saat melihatku dan Raka, matanya membelalak, lalu air mata jatuh membasahi pipinya yang mulai keriput.
“Ratih? Raka? Kok nggak bilang-bilang mau pulang?” tanya Ibu gemetar.
Aku memeluk Ibu erat, menghirup aroma tubuhnya yang selalu menenangkan. “Ratih pulang, Bu. Ratih nggak akan pergi lagi. Ratih mau jagain Ibu.”
Ibu tidak bertanya di mana suamiku. Sepertinya insting seorang ibu tahu bahwa kepulanganku bukan sekadar mudik biasa, melainkan sebuah pelarian menuju kedamaian.
Lebaran tiba. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak sibuk di dapur orang lain untuk melayani keluarga besar yang tidak menghargaiku. Aku memasak opor ayam sederhana hanya untuk Ibu dan Raka. Kami makan dengan tenang, penuh tawa, tanpa ada teriakan atau perintah kasar.
Ponselku sempat bergetar berkali-kali. Pesan dari Mas Bayu masuk bertubi-tubi.
- “Ratih, Ibu marah-marah terus karena dapur berantakan.”
- “Laras nggak bisa masak, semua masakan Lebaran gagal.”
- “Ratih, kamu di mana? Tolong pulang, aku maafkan kesalahan kamu kemarin.”
Aku tersenyum tipis, lalu mematikan ponsel itu selamanya. Dia tidak minta maaf karena menyesal telah menyakitiku, dia hanya menyesal karena kehilangan pelayan setianya.
Di teras rumah Ibu, sambil menatap langit desa yang cerah, aku tahu bahwa keputusanku benar. Menjadi janda mungkin berat di mata orang, tapi menjadi budak dalam pernikahan adalah kematian yang perlahan. Kini, aku siap memulai hidup baru, demi aku, demi Raka, dan demi Ibu.