AKU DITUKAR MASA DEPANKU DEMI MENIKAHKANKU DENGAN SEORANG MILIARDER YANG DUDUK DI KURSI RODA… NAMUN PADA MALAM PERTAMA PERNIKAHAN KAMI, DIA BERDIRI DAN BERBISIK, “TIDAK SEMUA YANG KAMU LIHAT ITU NYATA—AKU MENYIMPAN RAHASIA.”
Ibuku mengatakan seolah-olah ia “menyerahkanku” pada seorang pria di kursi roda pada hari pernikahanku.
Begitulah rasanya—seperti aku hanyalah sebuah perjanjian yang ditandatangani dengan tangan gemetar dan hati yang hampir tak mampu bernapas.
Namaku Isabela Santos. Aku berusia dua puluh lima tahun, tinggal di sebuah apartemen kecil di Quezon City, tempat yang selalu kebanjiran saat musim hujan dan uang selalu habis sebelum akhir bulan.
Aling Rosa bukan ibu kandungku.
Ia menemukanku di panti asuhan saat aku masih kecil—tanpa keluarga, tanpa nama belakang, tanpa siapa pun yang menungguku.
Ia memberiku makan saat kami tak punya lauk.
Memberiku selimut saat malam dingin.
Hidup kami sulit, ya, tapi penuh cinta.
Cinta yang nyata.
Sampai ia jatuh sakit.
Awalnya batuk.
Lalu kelelahan.
Pemeriksaan demi pemeriksaan.
Hingga dokter di Philippine General Hospital mengucapkan satu kata yang menghancurkan segalanya.
Kanker.
Aku tak mampu membayar pengobatannya. Penghasilanku jauh dari cukup. Aku bekerja dua kali lipat, menjual apa saja, berutang ke mana-mana—tapi biaya itu seperti tak ada habisnya.
Suatu hari, saat aku menyuapinya bubur, ia menggenggam tanganku. Tubuhnya sudah sangat kurus.
“Mija…” bisiknya, “ada keluarga yang datang…”
“Keluarga siapa?” tanyaku.
“Keluarga Del Rosario.”
Darahku seakan membeku.
Del Rosario—salah satu keluarga terkaya di negeri ini.
“Apa yang mereka inginkan?” tanyaku.
Air matanya jatuh sebelum ia menjawab.
“Mereka ingin kamu menikah dengan anak bungsu mereka.”
“Dengan siapa?”
“Dengan Santiago Del Rosario.”
Aku pernah mendengar namanya—pria yang mengalami kecelakaan, yang katanya akan duduk di kursi roda seumur hidup.
“Kenapa aku?” tanyaku lirih.
“Mereka akan membayar semua biaya pengobatanku…”
Duniaku seakan berhenti.
Bukan sunyi karena marah.
Tapi sunyi karena sesuatu di dalam dadaku perlahan retak.
Ia tidak memaksaku.
Tapi terkadang, kau tak perlu dipaksa.
Ketika orang yang kau cintai terbaring di hadapanmu, keadaanlah yang memaksamu.
Dan aku… setuju.
Satu minggu kemudian, aku berdiri di dalam gereja megah di Manila Cathedral, mengenakan gaun yang bukan pilihanku.
Tak satu pun di sana milikku.
Bunga-bunga itu bukan milikku.
Musiknya bukan milikku.
Bahkan hari itu—aku tak yakin apakah itu milikku.
Di ujung lorong, Santiago Del Rosario duduk di kursi roda hitam.
Ia tampan. Lebih muda dari yang kubayangkan.
Tapi matanya… dingin. Seperti pintu yang tertutup rapat.
Saat aku berdiri di depannya, ia bahkan tidak tersenyum.

“Ini akan lebih mudah,” katanya, “kalau kamu tidak berharap aku mencintaimu.”
Sesuatu terasa pecah di dalam dadaku.
Tapi aku melihat ibuku di depan.
Kurus. Lemah. Penuh harapan.
Jadi aku diam.
Dan aku menikah dengannya.
Resepsinya bahkan lebih dingin dari upacaranya.
Dentingan gelas.
Anggur mahal.
Senyum palsu.
Dan tatapan orang-orang yang membuatku merasa tidak pantas berada di sana.
Rodrigo Del Rosario, kakaknya, jelas tidak menyukaiku.
Tanya, sepupunya, tersenyum seperti menyimpan racun.
“Selamat,” katanya. “Ada wanita yang memang miskin, tapi setidaknya bisa naik kelas.”
“Ada juga yang kaya,” jawabku, “tapi tidak punya sopan santun.”
Senyumnya menghilang.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan sedikit kekuatan.
Saat kami tiba di penthouse di Bonifacio Global City, aku tidak merasa seperti istri—melainkan seperti barang yang dibeli.
Rumah itu luas.
Dinding kaca.
Lantai marmer.
Pemandangan kota yang terasa bukan milikku.
Ia memberiku sebuah kartu hitam.
“Untuk pengeluaranmu.”
Hanya Rp500.000 sebagai batas.
Lima ratus ribu.
Untuk pernikahan yang pasti bernilai miliaran.
Aku tersenyum pahit.
“Kalau kamu ingin mempermalukanku, lakukan saja secara langsung.”
“Tidak semua yang tidak kamu pahami adalah penghinaan,” jawabnya.
“Kalau begitu, jelaskan.”
“Tidak.”
Malam pertama kami sunyi.
Tanpa kehangatan.
Tanpa romantisme.
Tanpa apa pun.
Saat aku keluar kamar, aku melihatnya berusaha bangkit dari kursi roda.
Lengannya gemetar.
Wajahnya pucat.
“Biar aku bantu,” kataku.
“Jangan dekati aku,” jawabnya dingin.
Tapi tangannya terlepas.
Ia jatuh.
Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, aku menangkapnya.
Kami terjatuh bersama di karpet.
Untuk sesaat, kami saling menatap.
Dekat.
Terlalu dekat.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu selain dingin di matanya.
Ketakutan.
“Aku bilang jangan sentuh aku,” katanya lagi.
Aku berdiri, menahan air mata.
“Kalau begitu… tidak akan lagi.”
Menjelang dini hari, aku terbangun.
Ada selimut di tubuhku.
Bukan aku yang menaruhnya.
Ada air di meja.
Dan charger ponselku.
Rumah itu sunyi.
Aku tidak mengerti pria itu.
Dingin… lalu tiba-tiba peduli.
Kejam… lalu seperti menyimpan perhatian.
Aku berkata pada diriku sendiri untuk tidak percaya.
Tapi pukul tiga pagi, aku mendengar suara.
Langkah kaki.
Langkah nyata.
Di atas lantai marmer.
Dan aku melihatnya.
Santiago.
Berdiri.
Bukan duduk.
Bukan jatuh.
Berdiri.
Tubuhku membeku.
Di depan sebuah brankas tersembunyi di balik lukisan.
Saat ia menyadari aku terbangun, ia berhenti.
“Kamu… tidak di kursi roda,” bisikku.
“Isabela…” katanya pelan.
“Kamu berdiri.”
Wajahnya menegang.
“Aku punya rahasia,” katanya.
Tubuhku terasa dingin.
Lalu ia menambahkan, dengan suara yang menghancurkan keheningan malam:
“Sekarang kamu sudah menjadi istriku… mereka akan membunuhmu jika mengetahui ini.”
Keheningan di dalam penthouse itu mendadak terasa mencekam, lebih dingin daripada AC yang menderu halus di langit-langit. Santiago melangkah mendekat—langkahnya tegap, mantap, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan yang selama ini dipamerkan di depan publik.
“Kenapa?” suaraku bergetar, hampir hilang. “Kenapa kau membohongi semua orang? Termasuk ibuku?”
Santiago mencengkeram bahuku, tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuatku tidak bisa lari. “Ibumu tidak tahu apa-apa, Isabela. Dia hanya ingin kau selamat, dan keluarga Del Rosario menginginkan ‘ahli waris’ yang tidak bisa melawan agar mereka bisa terus mengendalikan asetku.”
Ia menarikku menuju brankas yang terbuka. Di dalamnya bukan tumpukan uang, melainkan tumpukan berkas perkara, foto-foto kecelakaan mobilnya yang hancur, dan sebuah botol kecil berisi racun.
“Kecelakaan itu disengaja,” bisiknya tepat di telingaku. “Kakakku, Rodrigo, pelakunya. Dia pikir dia telah melumpuhkanku secara fisik dan mental. Aku berpura-pura duduk di kursi roda selama dua tahun ini hanya untuk tetap hidup sementara aku mengumpulkan bukti untuk menjatuhkannya.”
Aku menatap matanya. Ketakutan yang kulihat sebelumnya kini berubah menjadi api dendam yang murni.
“Lalu kenapa menikahiku?” tanyaku. “Aku hanya gadis miskin dari Quezon City. Aku tidak punya apa-apa untuk membantumu.”
“Justru karena itu,” jawabnya, suaranya melembut namun tetap tegas. “Kau adalah satu-satunya variabel yang tidak mereka perhitungkan. Mereka pikir kau mudah disuap atau diintimidasi. Mereka pikir kau hanya ‘barang’ yang akan diam.”
Ia mengambil sebuah pistol kecil dari balik jas yang tergantung di dekatnya dan meletakkannya di tanganku. Logam dingin itu membuat seluruh sarafku menegang.
“Malam ini, Rodrigo akan mengirim orang untuk memastikan aku tidak ‘bangkit’ lagi. Dia tahu aku mulai bergerak. Dan karena kau sekarang adalah istriku, kau dianggap sebagai sekutuku.”
Tiba-tiba, suara klik pelan terdengar dari arah pintu depan. Sensor keamanan rumah menyala merah. Santiago mematikan lampu seluruh ruangan dalam satu gerakan cepat.
“Kartu hitam dengan batas Rp500.000 itu bukan penghinaan, Isabela,” bisiknya di tengah kegelapan, saat kami bersembunyi di balik dinding marmer. “Itu adalah kode. Jika kau memasukkan kartu itu ke mesin ATM mana pun, tim keamananku yang sebenarnya akan menjemputmu dan ibumu untuk dibawa ke tempat aman.”
Ia menggenggam jemariku yang memegang senjata.
“Tapi sekarang sudah terlambat untuk lari. Pilihannya hanya dua: kau menjadi korbanku, atau kau menjadi ratu yang membantuku menghancurkan mereka.”
Di luar pintu, langkah kaki berat mulai terdengar. Pernikahan yang kupikir adalah pengabdian demi nyawa ibuku, ternyata adalah gerbang menuju medan perang yang sesungguhnya. Aku menarik napas panjang, menatap siluet pria yang baru saja “sembuh” di depanku.
“Berapa peluru yang ada di dalam ini?” tanyaku dingin.
Santiago tersenyum tipis di kegelapan—senyum pertama yang terasa nyata.
“Cukup untuk membuat mereka menyesal telah membelimu untukku.”