Tepat dua hari setelah aku menerima surat resmi perceraian, aku langsung menghentikan transfer tunjangan bulanan sebesar Rp500 juta yang selama ini kuberikan kepada mantan ibu mertuaku.

Tepat dua hari setelah aku menerima surat resmi perceraian, aku langsung menghentikan transfer tunjangan bulanan sebesar Rp500 juta yang selama ini kuberikan kepada mantan ibu mertuaku.

Kartu ATM, buku tabungan, bahkan PIN—semuanya dulu kuserahkan sendiri kepadanya.
Namun dalam perjanjian perceraian, tidak ada satu pun klausul yang mewajibkanku terus menanggung hidupnya.

Satu panggilan ke bank sudah cukup untuk menghentikan semua transfer.
Bersih.
Cepat.
Tanpa drama.

Mantan suamiku, Gerardo Pratama, sedang sibuk menemani Vanessa di sebuah klinik bersalin mewah di Jakarta Selatan. Hanya karena selingkuhannya hamil, ia mengikuti ke mana pun wanita itu pergi seperti anjing setia, takut terjadi sesuatu pada kandungannya.

Keluarga?
Ibunya sendiri?
Tanggung jawab?

Kata-kata itu sudah lama hilang dari kamus moral pria itu.


Sore itu juga, Messenger-ku dibanjiri pesan.

Voice note bertubi-tubi, seperti tembakan tanpa jeda:

— Regina, kamu kenapa sih?
— Mana transfer buat Mama? Bukannya Rp500 juta tiap bulan?
— Kamu tega biarin dia nggak punya uang makan? Kamu nggak punya hati!

Aku tertawa kecil melihat layar ponselku.

Di atas meja, map merah berisi dokumen perceraian berkilau di bawah lampu. Jawabannya lebih jelas daripada penjelasan apa pun.

Tidak punya hati?

Aku sudah tidak punya hubungan apa pun dengan keluarganya.

Aku menggeser layar, tidak membalas, lalu meletakkan ponsel.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dadaku terasa ringan.

Lebih ringan daripada hari pernikahanku dulu.


Kedatangan Ibu Elvira

Malamnya, ia menelepon.

Pukul 22.41.

Butuh hampir satu menit sebelum akhirnya kuangkat.

Nada suaranya bergetar menahan amarah.

“Regina, kamu sudah gila? Itu soal kemanusiaan! Kalau kamu nggak kirim uang, Mama mau hidup bagaimana?”

Aku menjawab tenang.

“Bukankah kamu anaknya?”

Hening.

Aku tahu ia sedang berdiri di samping tempat tidur Vanessa, tidak berani berbicara keras agar “cinta sejatinya” tidak terbangun.

Aku memutuskan panggilan tanpa penyesalan.


Namun keesokan paginya, bukan Gerardo yang datang.

Melainkan ibunya.

Pagi-pagi sekali, Ibu Elvira sudah berdiri di depan apartemen baruku di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Rambutnya kusut.
Pakaiannya tidak rapi.

Begitu melihatku, ia langsung berlutut di lorong.

“Regina… tolonglah, Nak…”

“Jangan ambil satu-satunya sumber hidupku…”

“Aku harus bagaimana sekarang? Aku malu pada orang-orang!”

Beberapa tetangga mulai mengintip.

Bisik-bisik terdengar jelas.

“Bukannya anaknya pengusaha sukses?”
“Kenapa masih bergantung pada mantan menantu?”
“Katanya sih lagi di klinik sama selingkuhan yang hamil…”

Wajah Ibu Elvira memucat.

Namun ia tetap memegang kakiku erat-erat.

Aku menatapnya dari atas.

Tenang. Tegas.

“Ibu salah orang.”

“Aku sudah tidak ada hubungan apa pun dengan Gerardo. Mulai sekarang, yang harus Ibu cari adalah anak Ibu sendiri.”

Matanya berkedip, ketakutan sempat melintas.

Namun hanya sesaat.

Kemudian digantikan amarah.

“Walaupun sudah cerai, kamu tetap punya kewajiban merawatku!”

“Atau selama ini cintaku padamu palsu?!”

Aku tertawa.

“Cinta?”

“Ibu yang menyebarkan gosip bahwa aku mandul dan tidak pantas untuk anak Ibu.”

“Ibu yang menyuruhnya mengontrol bahkan gajiku sendiri.”

“Setiap kali Ibu mengulurkan tangan meminta uang, pernahkah Ibu benar-benar menganggapku sebagai anak?”

Setiap kata seperti tamparan.

Ia gemetar, tapi tak mampu membantah.


Ledakan Kebenaran

Tepat saat itu, Gerardo datang.

Satu tangan memegang koper.
Tangan lainnya membawa tas berisi buah impor dan suplemen mahal.

Di sampingnya, Vanessa bersandar manja di lengannya.

“Mama? Regina? Ada apa ini?”

Ibu Elvira berlari ke arahnya.

“Gerardo! Dia hentikan uang bulanan! Dia bahkan jual rumah kita!”

Aku tetap berdiri dengan tangan terlipat.

“Aku punya hak menjual rumah itu.”

“Uang pembeliannya dari orang tuaku.”

“Kalian terlalu lama hidup nyaman sampai lupa satu hal penting — tidak pernah sekali pun kalian cek atas nama siapa sertifikatnya.”

Wajah Gerardo berubah pucat.

Seperti kertas kosong.

Vanessa yang tadi berpura-pura lemah kini berdiri tegak, menatapku dengan mata menyipit.

“Apa maksudmu?”

Aku tersenyum tipis.

“Sertifikatnya atas namaku.”

“Dan rumah itu sudah resmi terjual minggu lalu.”

Keheningan jatuh.

Angin pagi terasa lebih dingin dari biasanya.

Gerardo membuka mulut, tapi tak ada suara keluar.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…
ia terlihat kecil.

Benar-benar kecil.

Vanessa tiba-tiba mencengkeram lengan Gerardo.

“Kita masih punya apartemen di Sudirman, kan?” bisiknya panik.

Aku tersenyum tipis.

“Yang itu juga atas namaku.”

Wajah Gerardo benar-benar kehilangan warna.

“Apa?” suaranya serak.

Aku membuka tas dan mengeluarkan satu map tipis berwarna hitam.

“Apartemen Sudirman, vila di Puncak, bahkan saham di perusahaan logistik itu — semuanya didaftarkan atas namaku sejak awal. Kamu terlalu sibuk menjadi ‘direktur hebat’ sampai lupa membaca detail kontrak yang kamu tanda tangani.”

Vanessa mundur satu langkah.

“Jadi… kita tidak punya apa-apa?”

Aku menggeleng pelan.

“Kalian punya satu sama lain. Bukankah itu yang disebut cinta sejati?”

Beberapa tetangga tidak lagi berbisik.
Mereka menatap terang-terangan sekarang.

Gerardo mencoba meraih tanganku.

“Regina, kita bisa bicara baik-baik. Kamu tidak perlu sejauh ini.”

Aku menepis tangannya.

“Sejauh ini?”

“Kamu yang membawaku sejauh ini saat kamu membawa wanita lain ke klinik mewah dengan uang yang sebagian besar kuhasilkan.”

Ia terdiam.

Untuk pertama kalinya, tidak ada pembelaan.


Pukulan Terakhir

Aku melangkah mendekat, cukup dekat agar hanya mereka yang bisa mendengar.

“Oh ya, satu hal lagi.”

“Perusahaan itu sedang diaudit.”

Mata Gerardo membelalak.

“Kamu… kamu melaporkanku?”

“Aku hanya menyerahkan dokumen yang memang menjadi hak pemegang saham utama.”

“Aku.”

Tubuhnya goyah.

Selama ini, ia mengira aku hanya istri yang sibuk di belakang layar.
Padahal akulah investor terbesar dalam bisnisnya.

Dan sekarang, dewan komisaris sudah membekukan jabatannya.

Tanpa aset.
Tanpa jabatan.
Tanpa perlindungan.

Vanessa perlahan melepaskan lengannya.

“Gerardo… kamu bilang semuanya aman…”

Tidak ada lagi nada manja.
Hanya ketakutan.


Kejatuhan

Sebulan kemudian, berita tentang dugaan penggelapan dana perusahaan tersebar di media.

Nama Gerardo Pratama tidak lagi disebut sebagai “pengusaha muda sukses”, melainkan “mantan direktur yang sedang diperiksa.”

Vanessa menghilang lebih cepat daripada bayangan sore hari.

Kabarnya ia pindah ke kota lain.

Ibu Elvira?
Kini tinggal di rumah kontrakan kecil di Bekasi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia harus mengandalkan anaknya sendiri.


Awal yang Baru

Suatu sore, aku berdiri di balkon apartemen baruku yang menghadap langit Jakarta.

Angin membawa aroma hujan.

Ponselku bergetar.

Pesan singkat dari nomor tak dikenal:

“Aku salah. Bisakah kita mulai lagi?”

Aku menatap layar beberapa detik.

Lalu tersenyum.

Beberapa cerita tidak perlu bab kedua.

Aku memblokir nomor itu.

Di meja ruang tamu, kontrak kerja sama baru dengan investor Singapura tergeletak rapi.
Perusahaanku kini sepenuhnya di bawah kendaliku.

Tanpa bayangan siapa pun.

Aku akhirnya mengerti satu hal:

Bukan aku yang meninggalkan mereka tanpa apa-apa.

Mereka sendirilah yang terbiasa hidup di atas sesuatu yang bukan milik mereka.

Dan ketika fondasinya ditarik…

mereka runtuh.

Sementara aku?

Aku tidak pernah runtuh.

Aku hanya berhenti menanggung beban yang bukan milikku.

Dan untuk pertama kalinya,

aku benar-benar bebas.