Posted in

“Ate, minggu depan aku akan terbang ke Jakarta untuk operasi. Boleh nggak aku numpang tinggal di rumahmu beberapa hari?”

“Ate, minggu depan aku akan terbang ke Jakarta untuk operasi. Boleh nggak aku numpang tinggal di rumahmu beberapa hari?”
“Numpang tinggal apa? Kamu nggak tahu aku punya mysophobia (sangat sensitif soal kebersihan)? Bagaimana kalau kamu bawa kuman dari rumah sakit ke dalam rumah? Pesan hotel sendiri saja!”
Di seberang telepon adalah kakak kandungku sendiri, Janine. Orang yang selama tiga tahun kubantu membayar cicilan rumahnya setiap bulan.

Aku tersenyum tipis. Bayangkan saja, aku memberinya Rp30.000.000 setiap bulan, tapi yang kudapat hanya rasa jijik darinya.

“Baiklah, terserah kamu.” Aku menutup telepon dengan tenang. Lalu kubuka aplikasi mobile banking di ponselku dan menghentikan semua auto-transfer ke rekeningnya.
Aku ingin lihat bulan depan, saat bank mulai menagih cicilan rumahnya, apakah “kebersihan” itu bisa menyembuhkan rasa pahit jadi orang tanpa uang.

1
“Ate, minggu depan aku akan terbang ke Jakarta untuk operasi…”
“Apa maksudmu numpang tinggal?” bentak Janine. “Kamu nggak tahu aku benci kotoran? Nanti kamu bawa penyakit ke sini. Menginap saja di hotel!”

Janine adalah kakakku yang selama tiga tahun kubantu menyelamatkan rumahnya. Aku hanya bisa tertawa pahit. Bantuan Rp30.000.000 per bulan yang kuberikan ternyata tak berarti apa-apa baginya.

“Baik.” Aku menutup panggilan.

Di layar ponsel yang terang, wajahku tanpa ekspresi. Aku membuka aplikasi bank.

Scan sidik jari. Masuk ke Scheduled Transfers.
Penerima: Janine

Jumlah: Rp30.000.000

Keterangan: Cicilan Rumah

Sudah berjalan 36 bulan. Hujan atau panas, selalu tepat waktu.
Aku menekan “Hentikan Transfer Otomatis”.

“Apakah Anda yakin ingin membatalkan transfer terjadwal ini?”
Aku menekan Konfirmasi. Selesai.

Aku belum berhenti. Aku membuka menu kartu tambahan. Aku adalah pemegang utama, dan Janine memiliki kartu tambahan dengan limit Rp45.000.000 per bulan—yang selalu dia habiskan.
Hapus.

Aku bersandar di sofa. Rasanya seperti ada sesuatu yang pecah di dalam diriku bersamaan dengan tombol “Konfirmasi” itu.

Tiga tahun lalu, Janine menemukan sebuah apartemen di Jakarta. Semua tabungan Ayah dan Ibu habis untuk uang muka. Dia bilang ingin punya pijakan sendiri di kota besar. Tapi gajinya tidak cukup untuk membayar cicilan bulanan.

Dia berkata, “Jane, tolong bantu aku tiga tahun saja. Kalau aku sudah dipromosikan, aku yang lanjut.”

Aku percaya.

Setiap tanggal satu, uang selalu masuk ke rekeningnya.
Dulu dia penuh rasa terima kasih. Sekarang? Sepertinya itu sudah menjadi kewajibanku di matanya.

Sekarang, aku didiagnosis tumor otak. Memang jinak, tapi dokter bilang harus dioperasi di rumah sakit besar di Jakarta karena posisinya sensitif.

Kupikir ini kesempatan untuk beristirahat di rumah besar dan nyaman yang ikut kubayar.

Tapi yang kudapat? Rasa jijik.

Aku memesan tiket pesawat ke Jakarta hari Senin. Sekalian memesan hotel bintang lima dekat rumah sakit. Sebuah Business Suite. Tenang, pelayanan bagus—sempurna untuk pemulihan.
Saat menerima email konfirmasi, hatiku terasa lebih ringan.
Pada akhirnya, hanya diri sendiri yang bisa diandalkan.
Ponselku berbunyi. Ibu menelepon.

“Jane, sudah bicara dengan kakakmu? Dia izinkan kamu tinggal di sana?”

“Iya, Bu,” jawabku mantap. “Katanya dia sedang sibuk kerja, takut tidak bisa merawatku dengan baik.”

“Ibu sudah bilang, kamu seharusnya di rumah saja… tapi kamu keras kepala.”

“Tidak apa-apa, Bu. Aku sudah pesan hotel dekat rumah sakit, lebih praktis.”

“Kamu ini selalu begitu, tidak mau kami khawatir. Ibu tahu sifat kakakmu, pasti dia lagi macam-macam—”

“Bu,” potongku pelan, “aku capek. Aku mau istirahat.”
“Ya sudah. Tidur yang cukup. Kabari Ibu saat kamu sampai di Jakarta.”
Aku menatap lampu-lampu di luar jendela.

Ribuan cahaya… tapi tak satu pun milikku.

Mulai sekarang, aku akan menyalakan cahayaku sendiri.
Kita lihat bulan depan, apakah “mysophobia”-nya bisa melawan lapar.

2
Saat pesawat mendarat di Jakarta, udara panas langsung terasa.
Aku tidak memberi tahu Janine. Aku langsung naik Grab menuju hotel.

Kamarku berada di lantai atas, dengan pemandangan skyline kota.
Saat sedang beristirahat, ponselku berbunyi. Bea, sahabatku sejak kuliah yang sekarang bekerja di Jakarta.

“Jane! Kamu sudah sampai?”

“Aku sudah di hotel,” balasku. Dia langsung menelepon video.
“Kenapa di hotel? Bukannya kamu mau tinggal di apartemen kakakmu?” tanyanya khawatir.

“Katanya dia sibuk.”
“Sibuk apanya! Kemarin aku lihat Instagram Story-nya, dia lagi spa di BGC!” kesal Bea. “Dia menyakitimu lagi, ya?”

“Tidak kok.”

“Jangan bohong, Jane. Kamu selalu memendam semuanya. Kirim alamat hotelmu, aku akan ke sana setelah shift.”

Aku belum sempat membalas, tiba-tiba Janine mengirim pesan—seolah ada telepati.

“Kamu sudah sampai di Jakarta? Kenapa tidak kasih tahu nomor penerbanganmu? Aku mau jemput tadi.”

Seolah dia tidak pernah mengatakan hal menyakitkan sebelumnya.
“Tidak usah, aku sudah naik taksi.”

“Kamu menginap di hotel mana? Nanti malam aku mau ke sana

“Hotel mana? Kamu buang-buang uang saja,” lanjut Janine di pesan berikutnya. “Harusnya kamu menginap di hotel murah dekat rumah sakit kalau memang tidak mau kotor-kotoran di rumahku. Jangan harap aku mau menjenguk kalau hotelmu jauh.”

Aku tidak membalas. Aku mematikan notifikasi dan menikmati layanan room service. Udang panggang dan sup asparagus hangat terasa jauh lebih nikmat daripada perdebatan dengannya.

Malam itu, Bea datang dengan sekantong besar buah-buahan dan vitamin. Dia menatap kemewahan kamarku, lalu menatapku dengan iba.

“Kamu pantas mendapatkan ini, Jane. Setelah semua yang kamu lakukan untuknya,” bisik Bea. “Tapi kamu tahu kan? Besok adalah tanggal satu.”

Aku tersenyum tipis. “Aku tahu.”


Tanggal Satu: Hari Penghakiman

Pagi harinya, aku terbangun oleh getaran ponsel yang tak henti-henti. Pukul 09.00 WIB. Waktunya sistem perbankan bekerja.

Ada 15 panggilan tak terjawab dari Janine. Dan puluhan pesan singkat.

Janine: Jane, kok uang cicilannya belum masuk? Bank sudah kirim email peringatan. Janine: Jane? Kamu lupa ya? Segera transfer, aku nggak mau namaku cacat di BI Checking! Janine: JANE! Kenapa kartu kreditku nggak bisa dipakai?! Aku lagi di kasir butik, malu-maluin aja! Angkat teleponku!

Aku menunggu sampai pukul 11.00, tepat setelah aku selesai sarapan, baru aku mengangkat teleponnya yang ke-20.

“JANE! APA-APAAN INI?!” teriaknya histeris sampai suaranya pecah. “Uang cicilan rumah mana? Terus kartu kreditku kenapa diblokir? Aku hampir ditangkap satpam karena nggak bisa bayar belanjaan!”

“Oh,” jawabku tenang sambil mengaduk teh. “Aku pikir karena kamu menderita mysophobia yang sangat parah, kamu juga sensitif terhadap ‘uang kotor’ dariku.”

“Jangan bercanda! Ini soal rumah! Kalau nggak dibayar, bank bakal sita!”

“Bukankah kamu bilang aku pembawa kuman? Kurasa uang yang kukirim selama 36 bulan ini juga sudah ‘terkontaminasi’ kuman tumor otakku. Jadi, demi menjaga kebersihan rumahmu yang suci itu, aku berhenti mengirimkannya.”

Hening sejenak di seberang sana. Aku bisa mendengar deru napasnya yang tidak teratur.

“Kamu… kamu sengaja ya? Hanya karena aku nggak kasih kamu numpang?” suaranya mulai gemetar. “Kita ini keluarga, Jane! Tega-teganya kamu membalas dendam saat aku sedang merintis karier!”

“Keluarga?” aku tertawa kecil. “Keluarga itu saling menjaga, bukan memeras. Kamu punya gaji, kan? Pakai saja gajimu untuk bayar rumahmu sendiri. Aku mau fokus bayar biaya operasiku yang mahal ini.”

“Tapi gajiku nggak cukup, Jane! Kamu tahu itu! Aku bisa kehilangan segalanya!”

“Itu bukan urusanku lagi, Ate,” kataku, menggunakan panggilan kakak yang kini terasa hambar. “Lagipula, hotel bintang lima ini sangat bersih. Tidak ada kuman, dan yang paling penting… tidak ada orang sombong yang lupa daratan di sini.”


Akhir dari Sebuah Parasit

Aku menutup telepon tepat saat perawat masuk untuk pemeriksaan pra-operasi. Janine mencoba menelepon lagi, namun aku langsung memblokir nomornya—selamanya.

Dua minggu kemudian, saat aku dalam masa pemulihan setelah operasi yang sukses, Bea membawakanku kabar terbaru.

“Apartemen Janine sudah dipasang papan ‘Dijual Cepat’,” kata Bea sambil mengupas apel. “Dia tidak sanggup bayar denda dan cicilan bulan ini. Dia harus pindah ke kos-kosan kecil di pinggiran kota. Katanya, dia menangis tiap hari menyalahkanmu di media sosial.”

Aku menarik napas dalam, merasakan udara segar di paru-paruku. “Biarkan saja. Semoga kos-kosannya cukup bersih untuk penderita mysophobia sepertinya.”

Dulu aku takut kehilangan kakakku. Tapi saat aku hampir kehilangan nyawaku karena tumor ini, aku menyadari bahwa satu-satunya kuman yang benar-benar berbahaya dalam hidupku bukanlah virus atau bakteri—melainkan orang-orang yang hanya mencintaiku saat tanganku terbuka memberikan uang.

Sekarang, rumahku mungkin hanya sebuah kamar hotel, tapi setidaknya, hatiku jauh lebih bersih dari sebelumnya.