PENGHASILAN SUAMIKU BESAR SETIAP BULAN—TAPI UANG YANG DIA BERIKAN SANGAT SEDIKIT, HARUS KUPAKAI UNTUK SEMUA KEBUTUHAN RUMAH TANGGA DAN OBAT IBU MERTUANYA YANG SAKIT. DAN KETIKA AKHIRNYA DIA MENCOBA MENCUCI PAKAIANKU SETELAH BERTAHUN-TAHUN—DIA TERDIAM SAAT MENEMUKAN SESUATU DI DASAR LEMARIKU…
Sudah tujuh tahun aku menikah dengan Rina, dan kami memiliki dua anak laki-laki yang aktif. Karena pekerjaanku di proyek konstruksi, aku sering berpindah-pindah kota—hari ini di Surabaya, besok di Bandung—kadang sebulan penuh baru bisa pulang sebentar.
Semua tanggung jawab—rumah, anak-anak, dan ibuku yang menderita rematik serta sering sakit—jatuh ke pundak Rina.
Awalnya, aku sempat berpikir untuk menyewa asisten rumah tangga agar bisa membantunya. Tapi beberapa rekan di proyek berbisik:
“Bro, jangan bodoh. Istrimu masih muda, masih cantik. Kalau dia nggak sibuk di rumah, bisa macam-macam pikirannya. Biar dia sibuk, agak kekurangan—supaya lebih menghargai kamu, nggak sempat macam-macam.”
Perlahan, kata-kata itu masuk ke pikiranku.
Aku memandang Rina—dia masih cantik, meskipun sudah melahirkan dua kali. Dan sejak saat itu, keraguan mulai tumbuh dalam diriku—ketakutan seorang pria yang selalu jauh dari rumah.
Akhirnya aku membuat keputusan.
Mengetatkan uang.
Meski gajiku hampir mencapai 8 juta rupiah per bulan, aku berbohong. Aku bilang perusahaan sedang rugi, gaji sering terlambat, tidak ada bonus.
Setiap bulan, aku hanya mengirim tepat 1,6 juta rupiah.
“Cukupkan saja ya,” selalu kataku. “Untuk sekolah anak, obat Ibu, makan, listrik, air. Aku di proyek saja makan mie instan setiap hari.”
Aku menghitung semuanya dengan cermat:
600 ribu untuk uang sekolah anak-anak.
400 ribu untuk obat ibuku.
200 ribu untuk listrik dan air.
Dan 400 ribu untuk makan selama sebulan.
Pas-pasan.
Bahkan kurang.
Aku tahu Rina pasti terpaksa hidup sangat hemat. Dia tidak punya waktu untuk merawat diri. Tidak punya kesempatan untuk keluar. Dan kalau dia butuh tambahan, dia harus menjelaskan—dan dari situ aku bisa tahu segalanya.
Selama lima tahun—
dia tidak pernah mengeluh.
Sekali pun tidak.
Dia mempercayai semua kebohonganku.
Setiap kali aku menelepon, justru dia yang khawatir.
“Hati-hati di sana ya,” katanya. “Makan yang teratur. Aku di sini baik-baik saja.”
Setiap kali mendengar itu—
ada sedikit rasa bersalah.
Tapi setiap kali melihat tabunganku yang semakin bertambah di rekening pribadiku—
aku mengabaikannya.
Aku berpikir—

aku hanya pintar.
Praktis.
Aku tidak tahu…
ternyata ada kebenaran yang jauh lebih dalam yang selama ini dia sembunyikan.
Rasa bersalah itu baru benar-benar menghantamku saat aku pulang tanpa memberi kabar. Aku ingin memberi kejutan, tapi justru aku yang terkejut. Rumah tampak kosong, sunyi, hanya ada ibuku yang tertidur di kamar dengan aroma minyak kayu putih yang menyengat.
Rina tidak ada. Anak-anak juga tidak ada.
Aku berjalan menuju kamar kami. Di sana, tumpukan pakaian kotor sudah menggunung di sudut. Entah apa yang merasuki pikiranku, mungkin rasa ingin menebus dosa, aku memutuskan untuk membantu mencuci. Selama tujuh tahun, aku bahkan tidak tahu di mana Rina menyimpan deterjen.
Aku mulai memindahkan pakaian satu per satu. Saat aku mencapai dasar lemari pakaian untuk mengambil keranjang cucian yang tersembunyi, tanganku menyentuh sesuatu yang keras. Sebuah kotak kaleng bekas biskuit yang sudah berkarat.
Rasa penasaran mengalahkanku. Aku membukanya.
Jantungku seolah berhenti berdetak.
Di dalamnya bukan perhiasan emas atau uang simpanan. Isinya adalah tumpukan nota pegadaian dan puluhan lembar bukti donor darah.
Ada sebuah buku catatan kecil di sana. Dengan tangan gemetar, aku membuka halaman pertamanya. Itu adalah catatan keuangan Rina selama lima tahun terakhir.
12 Maret: Jual kalung pernikahan. Untuk bayar SPP Kakak yang kurang dan obat Ibu.
5 Juni: Pinjam ke Bu RT. Beras habis. Rian di proyek lagi susah, jangan sampai dia kepikiran di sana.
20 Agustus: Donor darah lagi. Lumayan dapat uang transportasi dan susu gratis buat anak-anak. Badan agak lemas tapi yang penting mereka makan daging hari ini.
Air mataku jatuh tanpa permisi. Lembar demi lembar catatan itu berisi rincian bagaimana dia memutar uang 1,6 juta yang kuberikan. Ternyata, biaya obat Ibu yang sebenarnya adalah 700 ribu, bukan 400 ribu seperti dugaanku. Listrik naik, harga beras melonjak, tapi dia tidak pernah memintaku menambah kiriman karena dia percaya aku sedang berjuang makan mie instan di proyek.
Di lembar terakhir, ada sebuah foto kecil. Foto diriku yang sedang tertawa bersama teman-teman proyek saat acara makan besar—foto yang pernah kukirim padanya setahun lalu untuk menunjukkan “kebersamaan tim,” padahal saat itu kami sedang merayakan bonus besar.
Di belakang foto itu, Rina menulis: “Sabar ya, Pa. Meskipun di sana cuma makan mie, Papa tetap pahlawan kami. Aku akan jaga Ibu dan anak-anak sebisa mungkin supaya Papa nggak perlu cemas.”
Aku terdengar suara pintu depan terbuka. Suara tawa anak-anak dan sapaan lembut Rina yang pulang dari pasar. Aku berdiri membeku di kamar, memegang kotak kaleng itu seolah sedang memegang bom yang baru saja meledak.
Rina muncul di ambang pintu, membawa kantong plastik berisi kangkung dan tempe. Saat dia melihat kotak itu di tanganku, wajahnya memucat. Dia tidak marah. Dia justru mendekat dengan cemas.
“Pa… Papa sudah pulang? Maaf, kotak itu… itu cuma barang lama. Jangan dipikirkan ya, aku nggak apa-apa kok…”
Aku langsung berlutut di depannya, memeluk kakinya sambil menangis sejadi-jadinya. Aku, pria yang merasa “pintar” karena menabung jutaan rupiah, ternyata adalah orang termiskin di dunia. Di depanku berdiri seorang wanita yang memberikan darah dan harga dirinya agar kebohonganku tetap terlihat seperti kebenaran.
Hari itu, aku tidak hanya mencuci pakaian. Aku mencuci seluruh noda kesombongan dan kecurigaanku. Aku langsung mentransfer seluruh isi tabungan rahasia itu ke rekeningnya—namun aku tahu, uang puluhan juta pun tidak akan pernah cukup untuk membayar satu tetes darah yang dia keluarkan demi menutupi kekuranganku.