Orang yang paling dicintai Lucas menabrak seseorang saat mengemudi dalam keadaan mabuk, lalu dia segera membawanya menjauh dari lokasi kejadian.
Sebagai seorang pengacara, Lucas sangat memahami hukum.
Dia membantu Mia menyusun alibi—bahwa dia panik dan kabur karena ketakutan, lalu keesokan harinya, setelah efek alkohol hilang, dia akan menyerahkan diri dengan tenang. Ia juga menghubungi keluarga korban, berharap mendapatkan maaf mereka.
Yang tidak dia ketahui… orang yang meninggal itu adalah aku.
Dan aku adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki.
1
“Lucas, aku… aku menabrak seseorang. Apa yang harus kulakukan?”
Jam 01.30 dini hari, Mia menelepon Lucas dengan suara gemetar.
Lucas terdiam sesaat, lalu segera menenangkan dirinya.
“Jangan lakukan apa-apa dulu. Jangan hubungi polisi. Tunggu aku.”
“Baik… aku tunggu.”
Dua puluh menit kemudian, Lucas tiba di sebuah gang gelap di Intramuros, Manila, tempat kecelakaan itu terjadi.
Mia langsung memeluknya erat, menangis seolah dia korban.
Lucas mengernyit.
“Kamu minum alkohol?”
Bau alkohol tercium jelas dari tubuh Mia.
Sebagai pengacara, Lucas langsung sadar betapa serius kasus ini.
Drunk driving yang menyebabkan kematian bisa berakhir penjara bertahun-tahun.
Ia menatap tubuh korban yang tergeletak di jalan… sudah tidak berbentuk.
Dan ia tidak mengenalinya.
Karena itu adalah aku—istrinya sendiri.
Lucas menatap sekitar. Tidak ada CCTV, tidak ada saksi, hanya kegelapan.
“Bawa aku pergi dari sini,” kata Mia.
Lucas mengangguk.
“Setelah alkoholmu hilang, kita akan menyerahkan diri.”
2
Sebelum pergi, Lucas menyuruh Mia menghancurkan memori dashcam.
Semua bukti harus hilang.
Tanpa sadar, dia sedang menghapus hidupku sendiri.
Aku berdiri di sana… melihat semuanya.
Tas kecil berisi makanan seafood lugaw dari Binondo yang kubelikan untuknya masih berserakan di samping tubuhku.
Aku datang karena lembur yang dia katakan.
Tapi dia bahkan tidak melihatku.
Lucas membawanya ke sebuah rumah dekat Roxas Boulevard.
Dia kembali ke rumah kami untuk mengambil pakaianku agar Mia bisa mengganti bau alkoholnya.
Tanpa ragu, dia mengambil gaunku.
Tanpa sekali pun masuk ke kamar untuk mencariku.
Karena dia tidak pernah menyadari aku sudah mati.
3
Keesokan harinya, pukul 10 pagi, Lucas mengantar Mia ke kantor polisi.
Mereka berlatih skenario.
“Katanya kamu panik. Katakan kamu lari ke pantai dan baru pagi ini menyerahkan diri. Aku sudah mengatur saksi untukmu,” kata Lucas.
Mia menangis.
“Lucas… terima kasih.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Aku tertawa dari dunia yang tak terlihat.
Tawa yang penuh rasa sakit.
Sepuluh tahun mencintainya… ternyata tidak ada artinya dibanding satu cinta lamanya: Mia.
FLASHBACK
Lucas dan Mia dulu adalah pasangan sempurna.
Tapi kehidupan memisahkan mereka.
Aku datang kemudian… mencintainya diam-diam selama bertahun-tahun.
Dan ketika dia akhirnya memilihku, aku pikir itu adalah akhir bahagia.
Aku salah.
Lanjutan – SEBUAH KEBENARAN TERUNGKAP
Saat Lucas meninggalkan kantor polisi, teleponnya bergetar.
“Pak Lucas… korban kecelakaan itu sudah teridentifikasi.”
Lucas berhenti berjalan.
“Ada kesalahan…?”
“Tidak. Korban adalah… istri Anda sendiri.”
Sunyi.
Dunia berhenti.
Lucas menjatuhkan ponselnya.
Tangannya gemetar.
“Tidak mungkin…”
Dia berlari kembali ke rumah.
Membuka pintu.
Kosong.
Lampu yang biasanya selalu aku nyalakan… mati.
Dia masuk ke kamar.
Kosong.
Lalu dia melihat meja makan.
Seafood lugaw yang kubawa… masih belum disentuh.
Di sampingnya ada catatan kecil:
“Lucas, aku pulang lebih awal hari ini. Aku ingin menunggumu makan bersama.”
Tangan Lucas bergetar hebat.
Dan di luar jendela… aku hanya bisa menatapnya.
Aku ingin berteriak.
Tapi sudah terlambat.
AKHIR
Lucas akhirnya mengerti semuanya.
Orang yang dia lindungi… adalah pembunuh istrinya sendiri.
Dan Mia… adalah orang yang telah menghancurkan hidupnya tanpa dia sadari.
Kalimat terakhir yang terdengar di hatinya hanya satu:
“Aku menolong orang yang membunuh orang yang paling mencintaiku.”

ENDING – KEBENARAN YANG TIDAK BISA DISEMBUNYIKAN
Lucas berdiri terpaku di tengah ruang tamu.
Telepon di tangannya bergetar hebat.
“Pak Lucas… hasil identifikasi final sudah keluar.”
“Korban kecelakaan malam itu adalah… istri Anda sendiri.”
Sunyi.
Tidak ada suara.
Tidak ada napas.
Dunia seolah berhenti.
“Tidak… itu tidak mungkin…” suara Lucas pecah untuk pertama kalinya.
Dia berlari keluar rumah.
Mobil melaju kencang menuju lokasi kejadian.
Di gang gelap itu… semuanya masih sama.
Tanda ban.
Noda darah yang sudah mengering.
Dan di sudut jalan… tas kecil berisi makanan Binondo yang belum tersentuh.
Lucas jatuh berlutut.
Tangannya gemetar saat menyentuh bungkus makanan itu.
“Ini… ini untuk aku?”
Ingatan datang seperti badai.
Pesan terakhir.
Lampu rumah yang biasanya selalu menyala… kini mati.
Kamar yang kosong.
Dan dia… tidak pernah mencariku.
Di rumah sakit, Mia sedang duduk tenang.
Tidak ada rasa bersalah di wajahnya.
Hanya ketenangan dingin.
Seolah semua baik-baik saja.
Namun di sisi lain kota, seorang jaksa mulai membuka kembali file kasus.
Dan satu bukti yang tidak sempat dihapus akhirnya muncul kembali:
rekaman CCTV lama dari kamera sudut jalan yang rusak sebagian.
Gambar buram.
Tapi cukup jelas untuk melihat satu hal:
Wanita yang tertabrak itu… berjalan menuju mobil dengan membawa makanan.
Dan dia tersenyum.
Lucas melihat rekaman itu.
Tangannya jatuh.
“Dia… masih hidup saat itu…”
Air mata pertama jatuh.
“Dia datang mencariku…”
PENUTUP
Malam itu, Lucas akhirnya mengerti.
Ia tidak hanya kehilangan istrinya.
Ia sendiri yang membiarkan orang yang paling mencintainya mati… demi melindungi orang yang membunuhnya.
Dan Mia…
tidak pernah mengatakan kebenaran sejak awal.
Di ruang interogasi, untuk pertama kalinya Mia tidak bisa lagi tersenyum.
“Lucas… aku tidak bermaksud—”
Tapi Lucas memotongnya dengan suara dingin:
“Diam.”
Satu kata.
Tapi cukup untuk menghancurkan segalanya.
Beberapa bulan kemudian…
Pengadilan dibuka kembali.
Nama Lucas tidak lagi disebut sebagai pengacara hebat.
Tapi sebagai:
“orang yang menghapus jejak pembunuhan istrinya sendiri.”
Dan setiap malam…
Lucas selalu kembali ke gang itu.
Duduk di tempat yang sama.
Memegang bungkus makanan yang sudah kering.
Dan berbisik pelan:
“Maaf… aku salah orang untuk diselamatkan.”