Posted in

“AYAH, BESOK JANGAN JEMPUT AKU LAGI YA. MALU.”

“AYAH, BESOK JANGAN JEMPUT AKU LAGI YA. MALU.”

Seperti ada sesuatu yang perlahan meledak di dada Pak Rahman, tapi ia tetap tersenyum. Tangannya menggenggam setang becak motornya—telapak menghitam oleh oli dan keringat—sementara di jok belakang duduk gadis yang selama ini jadi kebanggaannya: Nadia.

“Iya… nggak apa-apa,” jawabnya pelan. “Mungkin kamu capek. Naik ojek online aja.”

Nadia tak menyadari getar tipis di suara ayahnya. Ia sibuk menatap ponsel—melihat foto teman-temannya yang dijemput mobil, berpakaian rapi, orang tuanya berdasi dan blazer.

Kenapa hidupku begini? batinnya. Kenapa ayahku cuma tukang becak?
Sejak ibunya pergi tanpa kabar—tanpa surat, tanpa pamit—Pak Rahman adalah seluruh dunia Nadia. Dialah yang bangun pagi, menanak nasi meski lauk cuma garam, dan tetap mengantar-jemput sekolah meski hujan atau demam.

Tapi seiring Nadia tumbuh, rasa terima kasih perlahan berubah jadi malu.

“Kenapa Ayah nggak cari kerja yang lebih layak?” pernah Nadia ucapkan, marah dan lelah.

“Ayah lakukan yang Ayah bisa, Nak,” jawab Pak Rahman sambil menunduk, lalu mengayuh lebih kencang.

Hari wisuda pun tiba.

Nadia mengenakan toga, medali menggantung di leher. Di luar gedung olahraga, Pak Rahman menunggu—berpolo lama tapi disetrika rapi, membawa buket kecil bunga pinggir jalan.

“Nak!” serunya gembira. “Kamu cantik sekali!”

Nadia tersenyum tipis. “Makasih.”
Hanya itu. Tak ada pelukan. Tak ada “terima kasih, Yah.” Tak ada tatapan balik saat ia naik becak.

Dalam perjalanan pulang, Pak Rahman menekan dadanya. Sedikit lagi… bisiknya. Sedikit lagi… selesai perjuanganku.

Malam itu, ia tak pernah sampai rumah.

Sebuah telepon membangunkan Nadia—dari RT setempat.
“Mb… maaf,” suara di seberang bergetar. “Ayah kamu… kena serangan jantung saat narik.”

Ponsel terjatuh ke lantai.

Di rumah duka, Nadia terdiam. Hingga seorang lelaki tua—sesama penarik becak—mendekat.

“Nak,” katanya, “ayahmu selalu cerita tentang kamu. Meski demam, tetap narik. Katanya… semua ini buat masa depan Nadia.”

Seakan dinding di dadanya runtuh…

Lelaki tua itu kemudian menyodorkan sebuah amplop cokelat kusam yang sudah lecek di pinggirannya. “Ini dititipkan ke saya dua hari lalu. Katanya, kalau dia ‘istirahat’ agak lama, tolong kasih ke kamu.”

Dengan tangan gemetar, Nadia membuka amplop itu. Di dalamnya bukan hanya tumpukan uang receh dan ribuan yang diikat rapi, tapi juga sebuah buku tabungan atas namanya dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang miring-miring.

“Nadia, anak Ayah yang paling cantik. Maaf ya, Ayah cuma bisa kasih ini. Tabungan ini hasil narik selama lima tahun terakhir. Ayah tahu kamu malu punya ayah tukang becak. Ayah juga malu, Nak, karena nggak bisa kasih kamu mobil seperti teman-temanmu. Tapi Ayah janji, setelah ini, kamu nggak perlu malu lagi. Besok Ayah nggak akan jemput kamu lagi. Ayah akan istirahat. Pakai uang ini untuk cari kerja yang bagus, biar kamu bisa jalan tegak di depan semua orang.”

Tangis yang sedari tadi tertahan akhirnya pecah. Nadia meraung, memeluk kain jarik yang menutupi jenazah ayahnya. Wangi oli, keringat, dan matahari yang selama ini ia benci—wangi yang ia anggap sebagai aroma kemiskinan—kini menjadi aroma yang paling ia rindukan di dunia.

Ia teringat kalimat terakhirnya tempo hari. “Ayah, besok jangan jemput aku lagi ya. Malu.”

Kalimat itu kini terasa seperti pisau yang mengiris jantungnya berkali-kali. Ayahnya benar-benar menepati janji. Ayahnya tidak akan menjemputnya lagi. Bukan karena marah, tapi karena tugasnya menjaga permata hatinya telah usai.

Di sudut ruangan, becak motor tua itu terparkir membisu di bawah lampu jalan yang temaram. Ban depannya sudah halus, joknya sudah robek di sana-sini, tapi mesinnya masih hangat oleh sisa perjuangan terakhir seorang ayah yang memberikan seluruh napasnya, hanya agar anaknya bisa terbang lebih tinggi darinya.

Nadia memeluk toga wisudanya erat-erat, menyadari satu kebenaran yang terlambat ia pahami: Kebanggaan sejati bukanlah pada apa pekerjaan orang tuanya, melainkan pada seberapa besar cinta yang dikorbankan untuknya.

Dan ayahnya, sang tukang becak itu, adalah pria paling terhormat yang pernah ia miliki.