Posted in

HARI SAAT AKU TAHU DIRIKU HAMIL JUGA HARI SAAT IBU PACARKU MEMBAWA 2 MILIAR RUPIAH DAN MEMINTAKU MENJAUHI PUTRANYA. AKU MENERIMA UANG ITU DAN PERGI TANPA SEPATAH KATA. PADA HARI MELAHIRKAN, AKU TERKEJUT SAAT SEBUAH SURAT DISERAHKAN PADAKU…

HARI SAAT AKU TAHU DIRIKU HAMIL JUGA HARI SAAT IBU PACARKU MEMBAWA 2 MILIAR RUPIAH DAN MEMINTAKU MENJAUHI PUTRANYA. AKU MENERIMA UANG ITU DAN PERGI TANPA SEPATAH KATA. PADA HARI MELAHIRKAN, AKU TERKEJUT SAAT SEBUAH SURAT DISERAHKAN PADAKU…

Aku masih ingat jelas hari takdir itu. Pagi hari, test pack menunjukkan dua garis tebal. Jantungku seperti berhenti berdetak. Bahagia, takut, panik—semuanya bercampur jadi satu. Aku belum sempat memberi kabar pada Rizky, kekasihku, ketika bel pintu berbunyi. Di depanku berdiri ibunya—Bu Ratna—dengan tatapan dingin dan sebuah tas kulit hitam mengilap.

Tanpa basa-basi, ia berkata, “Ambil dua miliar ini dan jauhi anak saya.”
Tas itu diletakkan di meja, dibuka—tampak ikatan-ikatan uang tersusun rapi. Aku terpaku. Aku dan Rizky sudah pacaran tiga tahun, saling menguatkan melewati banyak kesulitan. Tapi keluarganya selalu menolak karena aku hanya gadis perantau biasa, tak sepadan dengan mereka. Aku mencoba menjelaskan, namun Bu Ratna memotong dingin:
“Kamu tidak pantas. Jangan paksa saya pakai cara yang lebih keras.”

Aku mengambil tas itu. Tanpa sepatah kata. Lalu pergi.
Aku tidak menemui Rizky. Tidak meninggalkan surat. Aku menghilang dari hidupnya begitu saja.

Aku pindah ke kota kecil di Jawa Tengah, menyewa kamar kos sederhana. Dua miliar cukup untuk memulai ulang—membayar sewa, periksa kehamilan, dan bertahan hidup. Aku hidup tenang, menunggu hari kelahiran anakku, menyimpan rindu dan rasa bersalah yang tak pernah selesai.

Hari persalinan datang tiba-tiba. Kontraksi membuatku hampir pingsan di perjalanan menuju rumah sakit. Pandanganku mengabur. Dalam setengah sadar, aku mendengar perawat berkata,
“Bu, ini ada surat untuk Anda…”
lalu semuanya gelap.

Saat siuman, aku sudah di ruang perawatan. Bayiku tidur di sisiku. Perawat menyerahkan selembar amplop cokelat. Tanganku gemetar saat membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas, tulisan tangan yang kukenal:

“Aku mencari kamu selama ini. Ibuku berbohong—uang itu bukan untuk ‘memutuskan’ kita, tapi untuk memaksamu pergi agar aku menikah dengan pilihan keluarga. Aku menolak. Aku keluar dari rumah. Jika kamu membaca ini, artinya aku masih terlambat… tapi aku tidak akan berhenti mencari.
— Rizky”

Air mataku jatuh tanpa suara.
Di balik surat itu, terselip satu catatan kecil dari rumah sakit: uang 2 miliar telah dipindahkan ke rekening atas namaku kembali—dengan keterangan pengirim: Rizky….

Aku terpaku menatap baris terakhir catatan itu. Jantungku berdegup kencang saat menyadari sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Uang itu bukan sekadar modal untuk “membeliku”, melainkan aset yang Rizky ambil paksa dari tabungan masa depannya sendiri sebelum ia memutuskan hubungan dengan keluarganya.

Tiba-tiba, pintu kamar perawatan berderit terbuka pelan.

Seorang pria dengan kemeja yang sudah sangat kusut, wajah yang tampak jauh lebih tirus, dan mata yang sembap berdiri di sana. Ia membeku saat melihatku. Ia tidak mengenakan jam tangan mewah atau sepatu mahal lagi—hanya ransel tua yang biasa ia pakai saat kami masih kuliah dulu.

“Rizky?” suaraku serak.

Ia melangkah mendekat, lututnya seolah lemas hingga ia jatuh berlutut di samping tempat tidurku. Ia tidak melihat ke arah bayi itu terlebih dahulu, melainkan menggenggam tanganku erat-erat, menempelkan dahinya di punggung tanganku.

“Maafkan aku,” bisiknya terisak. “Aku tahu Ibu mendatangimu. Aku tahu dia mengancammu. Aku tidak sanggup melindungimu saat itu, jadi aku mengambil semua yang menjadi hak warisku secara paksa, memberikannya padamu lewat perantara Ibu agar kamu punya bekal untuk lari… sementara aku menyelesaikan urusanku dengan mereka.”

Aku tertegun. Jadi, Bu Ratna tidak datang atas kemauannya sendiri?

“Ibu setuju mengantarkan uang itu karena dia pikir itu adalah cara tercepat membuatmu muak padaku dan pergi,” lanjut Rizky. “Tapi dia tidak tahu kalau aku sudah melepaskan statusku sebagai anaknya. Aku sudah mencari ke tiap sudut kota selama sembilan bulan ini, menunggumu di setiap rumah sakit bersalin yang mungkin kamu datangi.”

Ia kemudian menoleh, menatap sosok kecil yang menggeliat pelan di sampingku. Air matanya jatuh makin deras.

“Dia mirip denganku ya?” Rizky tersenyum getir di sela tangisnya.

Aku menyentuh rambutnya yang berantakan. Rasa marah dan kecewa yang kupendam selama sembilan bulan ini runtuh seketika. Uang dua miliar itu kini tak lagi terasa seperti beban penghinaan, melainkan jembatan yang ia bangun dengan nekat agar kami tetap bisa bertahan hidup meski tanpa restu dunianya yang dulu.

“Rizky,” panggilku pelan. “Besok, jangan pergi lagi. Kita tidak butuh dua miliar untuk menjadi keluarga. Kita hanya butuh… pulang.”

Rizky mengecup keningku lama. “Aku sudah pulang, Sayang. Rumahku ada di sini, bersamamu dan anak kita.”

Di luar jendela rumah sakit, matahari mulai terbit, menyinari awal baru yang tidak lagi dibeli dengan uang, melainkan ditebus dengan keberanian untuk memilih cinta di atas segalanya.